
"Seorang gadis?"
Arend terpaku pada penampilan gadis di hadapannya yang terkena panah emas milik Celine yang di lesatkan dari ketinggian.
Celine terkejut saat melihatnya dan ingin menghampiri gadis itu, tapi tangan Ryan menahan tubuh nya untuk mendekat.
"Dia Vampir."
Celine menjadi waspada saat itu juga. Tapi hal yang terjadi di depannya, tidak membuatnya takut sedikitpun. Dia merasa ... jika gadis di depannya berbeda dengan setiap Vampir yang ia temui.
"Ryan. Dia terluka. Dan kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Dia bukanlah Vampir yang selama ini kita lihat."
Gadis itu tiba-tiba menatap tajam ke arah Celine sedetik kemudian. Ryan merasakan tekanan luar biasa melalui tatapannya, membuat pemuda itu mengeluarkan keringat dingin.
Gadis Vampir itu tiba-tiba berdiri setelah terkena panah emas Celine begitu saja seolah panah itu hanya mainan dan tidak membuatnya sakit meskipun darah telah merembes membasahi pakaian yang ia kenakan.
Lalu, dengan cepat ia menarik panah emas itu membuat bibirnya meringis karena panah tersebut bukanlah panah biasa. Tapi panah seorang Pemburu Vampir, maka senjatanya tentu saja akan mengakibatkan Damage yang tidak biasa pada Vampir.
"Kenapa kalian melukaiku?"
Gadis itu bergumam, tapi hanya Ryan dan Arend yang dapat mendengar dengan jelas suaranya. Sedangkan Celine, ia masih terdiam. Saat di tatap dengan tatapan yang seolah menatap ingin membunuh, gadis itu merasa terpaku sejenak. Yang tadi itu ... bukanlah tatapan seseorang yang haus akan darah, tapi ... tatapan seseorang yang lelah akan semua penderitaan dan cobaan dalam hidup, juga ... kesedihan mendalam yang tertutupi dengan sangat baik sampai orang lain pun akan sulit untuk mengartikan arti sebenarnya dari tatapan tersebut.
Namun, lain hal nya dengan Celine. Gadis itu bukanlah gadis biasa. Sama seperti Ryan dan yang lainnya. Liyura pun juga menduga jika Celine adalah seseorang yang dapat mengerti perasaan orang lain melalui tatapan maupun ekspresinya, karena dirinya sendiri, memiliki empati tinggi pada orang lain melebihi dirinya sendiri.
Celine dengan berani menghampiri gadis Vampir tersebut yang terlihat lebih muda darinya satu tahun. Celine memeluk gadis Vampir itu tanpa rasa takut membuat Ryan dan Arend lah yang terkejut karena merasakan dan melihat dengan tatapan kepala mereka sendiri, jika Celine sama sekali tidak terlihat waspada dan curiga.
"Kau mengalami penderitaan apa sebenarnya? Sampai kau menatapku seperti itu. Jangan menyesal karena telah hidup, seseorang pasti ... memiliki alasan kenapa di ciptakan."
Gadis Vampir tersebut membulatkan mata hingga kedua matanya berkaca-kaca dan mengeluarkan cairan bening. Dengan gemetaran, entah di dorong oleh rasa kesedihannya atau nalurinya untuk membalas memeluk Celine dengan lebih erat.
"Kakakku ... lebih memilih para Vampir itu, daripada ikut bersamaku. Padahal ... Raja kami telah bersumpah setia pada Sang Dewa Kematian. Tapi dengan mudahnya mereka mengabaikan sumpah itu hanya karena Sang Dewa Kematian saat ini, telah tiada."
Celine tidak peduli pada perkataan gadis Vampir yang di peluknya dengan erat. Sedangkan Ryan dan Arend terlihat terkejut lagi.
"Apa? Ras Vampir pernah bersumpah setia pada Sang Dewa Kematian? "
Arend juga terlihat bertanya-tanya dalam kepalanya, meskipun ia sudah menyelidiki hal tentang Vampir, Ras yang telah mengobrak-abrik Ras Elang Harpanya, satu fakta yang terlewat mungkin adalah jika Ras Vampir tersebut pernah bersumpah setia pada Sang Dewa Kematian pada masanya.
Arend mengumpat dalam hati karena melewatkan detail yang menurutnya sangat penting itu.
"Jika itu benar, maka mereka pantas di hukum. Bahkan kematian adalah hukuman teringan untuk mereka. Siapa yang berani-beraninya melanggar sumpah setia pada seseorang apalagi Sang Dewa Kematian sendiri, maka itu sama saja menantang seluruh Ras yang ada di bawah kepemimpinan Empat Pendekar Kembar."
Ryan terkejut, baru kali ini Arend terlihat sangat serius. Dan tanpa Arend sadari sendiri, tangannya yang sekarang dalam wujud manusia, terlihat gemetar seolah takut.
Dan tepat saat itulah Liyura datang. Entah ia mendengar semuanya atau tidak.
"Cepat kembali. Kita sudah menemukan keberadaan Raja Ras Vampir yaitu berada di perbatasan wilayah Lembah Malam dan Lembah Wisteria."
Arend tersadar dan terlihat menatap Liyura yang berekspresi datar. Jika memang Liyura mendengar apa yang ia katakan, maka itu juga tidak masalah, akan lebih baik jika orang yang akan menjadi kunci kebangkitan Sang Dewa Kematian mengetahui Penghianatan yang di lakukan Ras Vampir.
"Ayo bergegas."
Liyura melihat ke arah Celine dan seorang gadis Vampir. Dalam sekejap, ia memasukkan keduanya ke dalam Dunia Segel miliknya dan terlihat mengkode Ryan dan Arend untuk mengikuti dirinya.
Liyura mengaktifkan kembali Skill Angel Wings nya hingga sayap berwarna putih besar terlihat di punggungnya dan bersiap terbang.
Sekali lagi, Arend mengubah kembali wujudnya menjadi Burung Elang Harpa besar agar Ryan dapat menungganginya. Mereka berempat, terbang melesat secepat angin di atas langit hingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke tempat tujuan.
***
Sedangkan Aver dan yang lainnya, telah sampai di wilayah perbatasan antara Lembah Malam dan Lembah Wisteria dengan cepat menggunakan Teleportasi.
Aver terlihat santai dan lega melihat para Vampir Bulan di hadapannya kecuali Vampir Bulan Setengah Lingkaran Varam dan juga Erza.
Hanya tersisa 2 Vampir Bulan yang terlihat bersama para manusia yang terkurung di sebuah penjara hitam legam yang besar. Lalu, di belakang mereka, terdapat penjara berwarna emas yang di dalamnya terdapat orang-orang yang terborgol dengan kekuatan Sihir. Jenderal Wisteria yang mereka cari.
Aver melirik ke arah kirinya dan melihat senjata-senjata yang melayang dengan kekuatan Sihir yaitu senjata milik Jenderal Wisteria tersebut.
Amon menggeram dan menatap kesal pada Vampir Bulan di hadapannya. Tapi, ia menunggu aba-aba dari Aver untuk menyerang, sedangkan Vyone dan Kenzie terlihat diam seperti patung dan tidak bergerak lagi setelah tidak ada perintah, seperti Robot saja.
"Gawat, semuanya sudah berkumpul, tapi dimana Raja Ras?"
Amon menatap sekitar, ia penasaran dengan sosok misterius Raja Ras Vampir bernama Nuzan Kyoro.
Aver hanya diam. Dia menunggu kedatangan Liyura, muridnya, dan Arend yang tidak kunjung datang. Akan lebih seru jika menghadapinya bersama-sama.
Menit-menit berlalu, tapi Liyura dan dua orang lainnya tidak muncul juga. Itu menbuat Amon lelah hingga kakinya pegal karena berdiri terus-menerus. Saat ia memutuskan untuk duduk, Aver melangkah ke depan.
"Dimana Raja kalian?"
"Raja ... sedang dalam perjalanan. Mengurusi makhluk rendahan seperti kalian, kalian harus bersyukur, karena Raja akan meladeni kalian sampai puas nantinya. Kalian tidak boleh menjadi duri saat Raja kami melalukan Ritual Pembangkitan."
Vampir Bulan Gerhana yang menjawab, entah namanya siapa. Sedangkan Vampir Bulan Sabit, Rena di sampingnya, hanya terus diam dengan ekspresi kosongnya.
"Makhluk Rendahan katamu?"
Amon berdiri dari duduknya dan melesat dengan kecepatan Vampirnya hingga dalam sekejap telah berada di hadapan para Vampir Bulan dengan Amon berusaha menendangnya.
Berani menghina siapapun yang menjadi sekutu dan Gurunya sekarang, tidak akan ia biarkan!
Vampir Bulan Gerhana terlihat tersenyum mengerikan. Aura Pembunuh yang sangat kental dari tubuhnya menyeruak begitu saja membuat Amon tidak bisa bernafas dengan normal.
Vampir Bulan Gerhana tersebut hanya diam, sedangkan tendangan Amon terhenti sesaat seolah menabrak sesuatu yang tidak kasat mata.
Tapi, berbeda dengan Aver, saat melihatnya, Undead itu terkejut.
"Memiliki kemampuan Untouched. Pasti akan sulit untuk melawannya."
Aver bergumam, dan dia tersenyum miring.
"Amon, Kemarilah dulu."
Amon terlihat mundur dalam sekejap dan berada tepat di samping Aver dengan kecepatan Vampirnya.
"Kita sebut saja ini Latihan. Akan kuberitahu bagaimana menyerangnya, tapi setelah itu kau tidak boleh meminta bantuanku sedikitpun. Ini pertarungan bertahan hidupmu. Karena kau sendiri yang bilang, jika kau ingin kuat tanpa jalan pintas maka dengan melalui penderitaan, kau akan mendapatkannya."
Amon mengangguk dengan mantap tanpa ragu sekalipun.
"Mohon Guru bimbing aku. Biarkan aku saja yang menyelesaikannya dengan melawan Vampir itu."
Aver terlihat mengangguk, sambil menunggu Liyura, ia punya waktu untuk melihat seberapa jauh kemampuan Amon saat melawan banyaknya Vampir di area Lembah Wisteria.
Dengan aba-aba Aver, Amon langsung saja menyerang dengan cepat yang ia bisa. Ia tidak boleh melewatkan kesempatan untuk Gurunya melihat perkembangan pesat dirinya dalam bertarung.
Lalu, saat itu juga, yang di nanti-nantikan Aver muncul. Liyura terlihat santai bersama Ryan dan Arend yang ada di belakang dirinya. Mereka tidak menunjukkan ekspresi terkejut sekalipun dan mendarat dengan sempurna diiringi Arend kembali ke wujud manusianya.
"Jadi, kalian bersenang-senang dulu tanpa kami."
Aver menggeleng, "Tidak. Aku hanya ingin mengetes kemampuan Amon saja. Jika kalian ingin memulai, tunggulah Raja Ras datang."
Liyura mengangguk dan memilih melihat pertarungan yang ada di hadapannya. Sangat kentara sekali jika Amon menyerang dengan blak-blakan tanpa melihat kemampuan musuh. Tapi, Aver terlihat tenang dan sangat yakin dengan kemampuan Amon. Padahal baru kemarin saja pemuda ber-Ras Vampir setengah Ras Turkien itu menjadi murid kedua Aver tanpa memberitahu pada Ryan.
Ryan hanya diam dan tidak peduli. Dia juga berpikiran sama dengan Liyura. Namun ia tidak meremehkan Amon, karena menurut Ryan kemampuannya juga lumayan meskipun Amon terlihat bertarung tanpa berpikir panjang seperti Binatang.
Lalu, yang membuat mereka terkejut sesaat kemudian ... Amon berhasil menjatuhkan Vampir Bulan Gerhana dengan cara yang di beritahu Aver padanya sebelum bertarung.
Melihat kemampuan tidak tersentuh nya, sebenarnya memang cukup sulit jika tidak di lawan menggunakan Sihir seperti Ryan. Namun dengan kemampuan bertarung Amon yang menggunakan senjata Sihir, itu juga berpengaruh dalam menekan kemampuan musuhnya saat ini.
Ada saatnya kita harus melawan dengan kemampuan yang sama dengan musuh yang kita hadapi. Sihir melawan dengan Sihir. Senjata melawan dengan Senjata.
Vampir Bulan Gerhana terlihat mundur sesaat tepat di samping Vampir Bulan Sabit, Rena. Ia terbatuk dan mengeluarkan darah segar begitu saja.
Amon juga mundur ke samping Aver dan menggusap luka di lengannya yang di sebabkan cakaran dari Vampir Bulan Gerhana tersebut.
"Sudah cukup main-mainnya. Bebaskan mereka sekarang."
Liyura tidak merespon apa-apa dan memilih untuk menghampiri para Vampir Bulan.
"Kuberikan kalian pilihan, bebaskan mereka atau Mati."
Liyura tidak takut sekalipun. Dia juga kesal karena masalah Vampir ini tidak kunjung selesai. ia sangat berharap jika Boss Monster di Lantai 2 ini adalah Raja Ras Vampir karena itulah yang menjadi alasan masuk akal karena Lantai ini sudah tidak terhitung berapa tahun di jajah oleh para Vampir.
"Tidak akan ku lepaskan. Kalian boleh memilih diantara keduanya. ingin melepaskan manusia, atau melepaskan Para Jenderal Wisteria. Karena melepaskan mereka akan lebih sulit dari yang kalian bayangkan. Raja kami yang memenjarakan mereka, dan hanya Raja kami lah yang dapat melepaskannya juga."
Liyura terlihat berbalik dan berjalan ke arah kurungan yang mengurung para manusia yang di tangkap oleh para Vampir. Mereka hanya bisa meminta pertolongan pada Liyura untuk di bebaskan. Tapi gadis itu tidak memiliki rasa empati sedikit pun.
Saat ia berada di hadapan kurungan emas yang di dalamnya terdapat para Jenderal Wisteria, Liyura mengeluarkan pedang Excalibur miliknya dan menebasnya dengan Skill terkuat yang ia miliki.
"Jika penjara ini tidak bisa di buka dengan pedang Sang Dewa Kematian, aku bersumpah jika ini hanya pedang palsu."
Aver yang mendengarnya terlihat kesal tapi ia hanya bisa berharap jika pedang Tuannya itu dapat membuka kurungan emas yang di dalamnya terdapat para Jenderal Wisteria.
Saat pedang itu hampir menebas dengan telak ke arah kurungan, Liyura melihat sesuatu datang, hingga ia menjadi terkejut. Raja Ras Vampir telah tiba.
***
Author infokan, jika setelah Chapter tentang Vampir ini selesai, maka S1 dari Chronicle Online telah berakhir dan akan HIATUS untuk sesaat.