Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 69 Ryan & Arend


Ryan tersenyum dan segera mengangguk, dia dan Elang Harpa mulai menyadari jika mulai tadi para Dobutsu lainnya sedang menunduk hormat pada keduanya.


"Apa maksudnya ini?"


Ryan terlihat bingung tapi Arend menghela nafas.


"Mereka menunduk hormat padaku karena aku memang bisa di kenal sebagai leluhur mereka. Karena aku bisa bicara dan tentunya aku juga bisa menjadi manusia sepertimu karena levelku dengan mereka semua jauh lebih tinggi."


"Kau bisa berubah menjadi manusia? Bagimana bisa?"


"Itu terjadi karena aku sudah hidup lama."


Ryan terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Ryan akhirnya menyuruh mereka berdiri.


"Ayo kita keluar dari sini, Arend."


"Hmm, bukankah kita sudah ada di luar?"


"Ini bukan ada di luar, ini hanyalah hutan palsu yang di ciptakan oleh para Jenderal Wisteria agar Dobutsu bisa tinggal tidak jauh dari Lembah."


"Jadi itu pusatnya, ya. Baik, bagaimana caranya keluar dari sini?"


"Biasanya kita akan langsung terkirim keluar, itulah yang di katakan oleh salah satu Jenderal."


"Apa mungkin ini ujian terakhirmu yang sebenarnya? Mungkin kita di berikan ujian untuk bekerja sama dengan Dobutsu yang kita miliki."


"Itu ada benarnya juga. Baiklah, apa yang harus kita lakukan?"


"Kau tadi bilang kau bisa membuat Pentagram, gunakan Pentagram itu untuk keluar dari sini."


"Jika seperti itu, aku hanya tahu membuat Pentagram Altar Sihir."


"Anak Adam sepertimu tahu hal seperti itu?! Kau tahu jika yang bisa membuat hal seperti itu hanyalah Penyihir Hitam atau Undead."


"Ya, kau benar, Guruku adalah seorang Undead, ah lebih tepatnya adalah Raja dari seluruh Undead."


"Apa?! Bukankah dia telah di kabarkan mati beberapa abad yang lalu sebelum aku di segel?"


"Iyakah? Tapi dia sekarang ada di dunia segel juga, dia sebenarnya juga di segel sepertimu yaitu tempatnya di Magic Forest. Tapi Nona Liyura membebaskannya dengan cara menobatkan Nona Liyura menjadi pemilik Magic Forest, itulah yang kutahu dari Guru."


"Terakhir kali aku mendengar kabarnya, Raja Undead itu adalah seorang Entrant (Pengikut) dari keempat Pangeran yang sangat kuat, bahkan aku saja kalah dari salah satu Pangeran itu. Tapi karena mereka menyinggung para Penyihir Agung, mereka di segel dan aku mendengar kematian Raja Undead itu. Tidak disangka ternyata dia hanya di segel."


"Apa? Kau tahu akan hal itu, aku harus membawamu kepada Nona Liyura karena Nona Liyura sangat ingin tahu dengan keempat orang yang akan menjadi pelindungnya di masa depan."


"Hah? Apakah dia adalah yang terpilih?"


"Terpilih? Terpilih untuk apa?"


"Baik, akan kujelaskan nanti, bawa aku padanya segera, Ryan."


Ryan terlihat penasaran namun dia segera mengangguk, Liyura sangat ingin tahu dengan keempat orang yang akan menjadi pelindungnya karena dia di beritahu oleh Aver.


Arend hanya menatap sekitar dan terlihat berpikir, 'Jika mungkin dia adalah benar-benar orang yang terpilih, takdir yang akan di tanggungnya pasti sangat besar. Aku tidak boleh menjadi musuhnya.'


Arend terlihat menatap sekitar lagi untuk melihat celah, jika mungkin yang di katakan Ryan benar jika Hutan ini hanya palsu maka pasti akan ada titik celahnya dari luar tapi dia juga tidak bisa sembarangan dalam melihat, Arend memiliki sebuah kemampuan yang di sebut Mata Naga.


Mata Naga adalah kemampuan untuk melihat apa yang tidak bisa di lihat oleh mata biasa. Dia mendapatkan mata itu karena dia mengalahkan salah satu anggota Ras Naga beberapa abad yang lalu dan mengambil matanya untuk mendapatkan kekuatan dari Ras itu.


Karena itulah, Elang Harpa dan Naga bermusuhan. Tapi mungkin karena sekarang Ras Elang Harpa hanya di anggap legenda dan di pikir telah musnah, maka para Ras Naga melupakan permusuhan mereka.


"Ryan, buatlah Pentagram Altar Sihir. Untuk pengorbanan yang akan di korbankan kita bisa pikirkan nanti asalkan kita dapat keluar dari sini terlebih dahulu. Tapi apa kau bisa membatalkan pengaktifan Altar sihir jika yang di minta oleh seseorang yang ingin kita di tolong sangat sulit?"


"Hmm... Aku bisa menonaktifkannya kembali, caranya cukup mudah, hanya dengan menutupnya dengan tanah dan melempari Pentagram dengan batu jika kita ingin menonaktifkan Pentagram."


"Bagus, lakukan sekarang!"


Ryan mengangguk dan segera menggambar Pentagram berbentuk sebuah bintang, dan pola rumit di sekitarnya.


"Noster, Velimus Vobis Vicem Tibi Aliquid Mali Tramite Superandae...!"


Ryan membacakan mantra dengan serius diiringi pola Pentagram yang bercahaya seperti api dan terbakar begitu saja.


"D-dia meminta salah satu benda berharga milikmu, Arend!"


"Cih, inilah yang tidak aku sukai pada Sihir Hitam! Baik, ambil ini, Ryan!"


Tiba-tiba saja di tangan Ryan terdapat sebuah botol kecil berbau herbal yang sangat kuat dan Ryan segera melemparkannya di tengah-tengah pola Pentagram.


Botol itu terserap dan tengelam begitu saja hingga mereka merasakan seperti masuk ke dalam ruang dan waktu hingga mereka sampai di sebuah tempat lain.


***


Ryan membuka mata saat setelah dia merasakan tubuhnya bagai terlempar. Ryan melihat Arend telah bertengger di pundaknya dengan wujud Elang yang normal.


"Kau jangan pernah memberitahu siapapun jika aku bisa berbicara kecuali pada seseorang yang kau percayai."


Ryan mengangguk dan bersikap seperti biasa seolah tidak ada yang terjadi. Ryan tersenyum saat setelah dia melihat kediaman para Jenderal Wisteria telah ada di depan matanya.


Ryan melihat ke arah sekitar dan melihat Liyura yang seperti biasa sedang berteduh di bawah Pohon Wisteria.


"Arend, lihat! Dia lah yang aku katakan. Magic Forest tersegel dalam dirinya."


Perhatian Arend beralih pada seorang gadis yang sangat cantik sedang tertidur di bawah pohon ungu yang teduh.


Arend melihat ke arah pedang emas yang terkait di pinggangnya, yang bercahaya ketika terkena cahaya matahari.


"Memang tidak salah lagi jika dia adalah orang yang terpilih. Aku yakin di suatu hari nanti dia akan mendapatkan hal luar biasa namun juga ancaman yang besar."


"Apa maksudmu, Arend?"


"Jika kau masih ingin hidup, kau harus meninggalkan gadis itu, Ryan. Takdir yang di pegang oleh gadis itu terlalu besar untuk kau berdiri di sampingnya. Dia bisa termasuk akan menjadi sebuah Legenda suatu hari nanti."


Ryan terdiam, dia menatap Liyura, "Kau benar, Arend. Nona Liyura sangat kuat, jadi tidak ada salahnya jika dia menjadi bagian dari Legenda nantinya. Tapi maaf saja Arend, aku tidak mau meninggalkannya. Aku sudah berjanji untuk menjadi pengikutnya."


"Kau sungguh bodoh. Memangnya kenapa kau masih ingin bersamanya? Bahkan apakah kau sungguh dapat mempertaruhkan nyawamu demi dirinya?"


"Ya, aku akan lakukan itu. Bisa di bilang itu sebagai bentuk balas budiku padanya karena telah menolongku dan adikku. Dia adalah orang yang sangat baik. Aku menganggap Nona Liyura seperti seorang kakak perempuan bagiku."


"Kakak? Kau berumur berapa?"


"Aku masih berumur 13 tahun dan Nona Liyura telah berumur 16 tahun. Aku akan selalu bersama dan berjuang dengannya sampai ajalku menjemput. Aku siap menjadi perisainya saat ada yang menyerang Nona Liyura."


Arend menatap serius ekspresi dari wajah Ryam yang terlihat berbinar, Arend menghela nafas dan mengangguk.


"Terserah padamu saja. Jika kau memutuskan seperti itu, aku juga tidak bisa menolak karena aku sudah terikat denganmu dan kau terikat denganku. Kita juga akan selalu bersama."


Ryan tersenyum dan mengangguk. Arend menatap langit dan terlihat tersenyum namun sesaat.