
Liyura melihat kedekatan Amon dan Aver membuat gadis itu tersenyum dalam sekejap. Liyura kemudian memutuskan untuk berdiri dari duduknya dan melangkah maju untuk membantu yang lain yang saat ini sedang menyerang dan mengurangi populasi ribuan Vampir yang ada di depan mereka.
Seiring berjalan, gadis itu menarik pedang emas Excalibur dari sarung pedang yang ada di pinggangnya, tanpa menyadari jika dirinya juga mengeluarkan Aura Pembunuh membuat para Vampir menatapnya dalam sekejap dan berbalik menyerang Liyura dengan agresif.
Liyura terlihat santai dan langsung menebas semua Vampir yang mengerumuninya dengan satu tebasan serangan hingga darah bercecer kemana-mana.
Liyura juga mengeluarkan pedang berwarna hijau yang pernah ia gunakan sebelumnya. Sebelum melanjutkan pertarungan, Liyura menghampiri posisi Fiona dan membuatnya masuk ke dalam Dunia Segelnya membuat keberadaan gadis ber-Ras Demi-Human itu menghilang.
Amon yang menyadarinya dengan indra penciuman Vampirnya, segera mencari-cari keberadaan Fiona namun ia gagal untuk menemukannya. Aver menatap dirinya yang dalam sekejap menjadi tidak tenang dan langsung menyadari kekhawatiran Amon.
"Kau mencari gadis Ras Demi-Human? Dia sekarang ada di dalam Dunia Segel."
Perkataan Aver membuatnya menghela nafas. Kali ini Amon menatap siluet emas yang sangat bersinar di kejauhan---yang juga sedang membunuh para Vampir dengan kedua pedang yang ada di kedua tangannya.
Jubah tempur emasnya tersiram darah kental para Vampir yang di bunuhnya. Dalam matanya, hanya ada hasrat untuk membunuh membuat mata itu menyala merah dalam pertarungan yang ia hadapi.
Amon mengetahui gadis itu, yang tidak lain adalah Liyura seorang. Rambut pirang emasnya yang sangat mirip dengan Ras Elf sangat khas membuat pemuda itu langsung saja tahu jika itu adalah sosok Liyura, sosok yang menyelamatkan dirinya dan Fiona di Tempat Pelelangan.
Aver juga menatap ke arah yang sama dengan Amon. Sekejap saat melihat Liyura, Undead itu tersenyum, seolah ia bernonstalgia memikirkan masa lalu, saat bersama ke-empat Tuannya.
Liyura berjalan ke arah mereka dengan menebas para Vampir yang mengerumininya dari segala arah agar memberi jalan.
Gadia itu mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Kenzie dan Vyone yang ternyata mereka berada jauh darinya beberapa meter dengan terhalang para Vampir yang berkerumun dan berdesakan.
Akhirnya Liyura memilih untuk ke arah Aver dan Amon yang saat ini berada paling dekat dengan posisinya. Saat setelah menebas para Vampir yang menghalangi jalannya, Liyura berhasil sampai ke tempat dimana Aver dan Amon berada.
"Kenapa kalian tidak lanjut untuk membunuh Vampir? Aku yakin saat Vampir Bulan lainnya berkumpul, pasti pertarungan akan menjadi semakin seru. Apalagi saat Raja Ras muncul. Aku ingin tahu bagaimana sosok Raja Ras Vampir yang memimpin para Vampir di Lantai ini. Dan secepatnya aku harus menyelamatkan para Jenderal Wisteria."
Aver mengangguk, "Ryan sudah kuperintahkan untuk mencari keberadaan Raja Ras Vampir. Kuharap saat ia menemukannya, ia tidak gegabah untuk menyerang, karena kekuatannya bukanlah hal yang bisa di lawan oleh Ryan saat ini."
Liyura terlihat setuju, "Kalau begitu, aku yang akan menghadapinya lebih dulu. Kalian selesaikan pertarungan ini dan jangan sisakan satupun Vampir untuk hidup."
Aver tersenyum, "Sesuai perintahmu."
***
Lalu, keberadaan Ryan, Celine, dan Arend saat ini, telah berada jauh dengan posisi Liyura dan yang lainnya.
Arend menatap sekitar area Lembah Wisteria dan tidak menemukan adanya tanda-tanda keberadaan Vampir lagi. Apalagi manusia yang mereka ambil untuk di jadikan persembahan pada Raja mereka.
"Menurutmu dimana keberadaan Raja Ras Vampir saat ini, Arend?"
Ryan mulai mencari di sekitar di bawah mereka yang sedang terbang saat ini. Namun, sama seperti Arend, ia tidak menemukan keberadaan apapun.
Sedangkan Celine, gadis itu hanya diam sedari tadi tanpa berniat mencari. Hatinya masih khawatir dengan Erza, saat mengingat kembali Elder Ras Burung Hantu, air matanya tidak kuasa untuk ia tahan agar tidak turun membasahi pipinya.
Ryan melirik ke balakang ke arah Celine, dia pikir, mungkin membiarkan gadis itu menangis akan membuatnya kembali tenang saat ia mengeluarkan semua hal yang membuat hatinya sesak, namun, rupanya keadaannya menjadi lebih buruk.
"Jangan menangis, jangan terlalu lama larut dalam kesedihan, semuanya tidak akan ada yang berubah hanya karena kita menyerah dan menunjukkan sisi lemah kita. Lain halnya jika kita bertekad untuk menjadi kuat dan merubah diri kita sendiri. Kau kan sudah menangis tadi, sekarang berhentilah, lebih baik kita mencari keberadaan Raja Ras Vampir daripada terus berpaku pada perasaan yang akan membuat semangat kita menurun."
Celine mengusap air matanya yang hampir jatuh membasahi pipinya. Dengan gemetar, tangannya mengambil Busur dan alat panah emas yang terkait di punggungnya.
Rasanya berat, jika ia memegang senjata dengan kondisi menyedihkan seperti sekarang. Jiwanya merasa belum siap untuk menanggung segala dosa untuk membunuh dan melukai setiap makhluk dengan panah emasnya itu.
Tapi, Celine juga tidak bisa mundur lagi sekarang. Dia tidak punya pilihan. Hanya ini jalan satu-satunya untuk membalaskan dendam kakaknya. Yaitu dia harus tenggelam dalam jurang dosa yang tidak bisa membuatnya kembali ke atas lagi---menjadi dirinya yang dulu, yang masih belum mengerti apa arti sesungguhnya hidup karena terlindungi oleh pelukan hangat kakak kandungnya, yang sangat ia sayangi melebihi apapun---yaitu keluarganya seorang yang berada di sisinya---mengalir darah yang sama dengannya.
Ryan akhirnya diam. Dia tidak terlalu pandai untuk menghibur di kala sedih, tapi keunggulannya sebagai kakak pada adiknya adalah, jika dia bisa di andalkan di kala susah maupun butuh pertolongan, tapi lain hal jika saat tragedi itu terjadi---dimana di hari itu, semuanya terenggut darinya. Keluarga kecil yang ia miliki satu-satunya---yang sesungguhnya menjadi impian dari setiap anak di dunia---hidup harmonis dengan keluarga sedarah ... selama-lamanya.
Arend merasakan Ryan yang tiba-tiba diam membuatnya ikut diam dan tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Kata-kata Ryan pada Celine, seolah bukan pemuda itu yang mengatakannya, bukan pemuda yang siap menanggung dosa dari semua makhluk yang ia bunuh---bahkan Vampir sekalipun. Tapi kata-kata Seorang Kakak pada Adiknya. Meskipun sehenarnya, Celine bukanlah adiknya tapi ia tidak bisa membiarkannya begitu saja, kan?
Arend tersadar dalam lamunannya saat ia melihat Vampir yang sedang bersama seorang wanita yang terlihat berumur 30 an tahun. Sekejap saja Raja Ras Elang Harpa itu turun tanpa perintah dari Ryan membuat pemuda itu menatap Arend dengan penuh tanda tanya.
Arend menunjukkan sesuatu yang di lihatnya ketika ia terbang. Ryan menatap ke arah yang di tunjuk Arend dan akhirnya turun dari punggung Arend setelah mendarat di tanah.
Celine juga ikut turun, namun Ryan menghentikannya dan menuruhnya untuk tetap berada di atas punggung Arend. Awalnya Celine menolak tapi Akhirnya Arend juga melarangnya untuk turun membuat gadis itu akhirnya diam.
"Aku akan ke sana. Jika kalian merasa aku dalam bahaya, kalian bisa membunuh Vampir itu, tapi jangan membunuh manusia."
Arend mengangguk, Celine menatap Ryan lama. Dia mengeratkan pegangan pada Busur yang saat ini ia pegang dengan tangan kanannya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi, Ryan berbalik pergi menghampiri Vampir dan wanita setengah baya yang ada di sekitar rumah tua.
"Ikut aku sekarang! Jika kau ingin aku hidup maka kau harus mempersembahkan dirimu pada Raja, dengan begitu, Raja dan Vampir Bulan Agung akan mengampuniku!"
"Aku tidak mau! Kenapa kau harus mengorbankanku?! Kau berjanji akan hidup bahagia bersamaku! Lalu kenapa kau menjadi Vampir?! Dimana Janji manis yang kau katakan padaku?! Kenapa?! Apa menjadi manusia membuatmu terlihat menyedihkan hingga kau memilih menjadi Vampir yang menjijikkan?!"
Vampir itu menggeram dan menampar pipi wanita setengah baya di hadapannya dengan keras hingga terjatuh, namun dengan segera Ryan menolongnya untuk tidak tersungkur ke tanah dalam sekejap.
"Pengecut! Hadapi aku daripada kau melukai manusia tidak bersalah!"
Ryan menarik Katana dari sarungnya dan segera mengarahkannya pada Vampir itu. Sedangkan Vampir itu hanya tertawa.
"Rupanya masih ada anak Merpati yang tersisa! Jika aku membawamu untuk di jadikan persembahan pada Raja, maka Raja akan senang dan mengakui diriku! Jika bisa dia pasti akan membuatku menjadi Vampir Bulan Agung!"
Vampir itu tertawa seperti orang gila dan langsung menyerang Ryan tanpa memedulikan wanita setengah baya yang ada bersama pemuda itu.
Ryan segera membantu wanita setengah baya itu duduk dan menebas Vampir yang menyerang ke arahnya. Sebelum pedang mengenai Vampir itu, wanita setengah baya yang tidak Ryan ketahui namanya itu segera saja menggantikan Vampir yang menjadi target Ryan hingga pemuda itu tidak sengaja menebas wanita setengah baya yang merentangkan tangan untuk melindungi Vampir yang ada di belakangnya.
Pergerakannya begitu cepat, hingga kemampuan Sihir Ryan sekalipun belum tentu bisa melihat pergerakannya.
Hingga saat Ryan menyadarinya, pemuda itu terlambat menghentikan serangan pedangnya hingga Katananya berhasil menebas dan menusuk perut wanita setengah baya yang ada di hadapannya. Darah merembes membasahi tangan, jubah, dan Katananya dengan segera. Sedangkan Vampir yang menyadarinya segera saja terkejut.
Ryan membulatkan mata dan segera mencabut Katana nya ketika Katana itu salah menargetkan mangsa nya. Tanpa sadar, Ryan menjatuhkan Katana nya dengan pandangan kosong, mata biru nya menjadi kelabu, nafsu membunuh dan Aura Pembunuhnya menghilang dalam sekejap.
Wanita setengah baya itu tersenyum sambil menitikkan cairan bening di sudut matanya lalu ambruk seketika dengan darah yang berceceran dan akhirnya membasahi wajah Ryan.
Ryna menatap tangannya sendiri yang kental dengan bau amis darah yang menyengat di penciumannya, seiring dunianya runtuh saat itu juga.
Tubuhnya dalam sekejap, seperti bukan miliknya. Dia menatap Vampir yang ketakutan dengan pandangan mengerikan. Vampir itu gemetaran menatap Ryan, tapi ia tidak sanggup untuk kabur dari posisinya saat ini. Seakan ada sesuatu yang membuatnya terdiam dan tidak bisa bergerak.
Ryan kemudian tersadar saat wanita setengah baya yang di anggapnya sudah mati, terlihat memegangi tangannya.
"Jangan ... bunuh ... dia. Kumohon ... padamu."
Ryan menangis, meskipun wanita setengah baya di hadapannya bukanlah siapa-siapa baginya, tapi ia serasa bernonstalgia mengingat tragedi itu.
"Kenapa? Kenapa kau melindunginya? Padahal jika aku membunuhnya, kau bisa terbebas darinya. Bisa saja dia lah yang akan membunuhmu."
Ryan menggenggam tangan wanita itu yang terlihat telah sekarat.
Wanita itu menjawabnya dengan tersenyum dengan terpaksa, "Karena ... aku ... Mencintai ... di .. ri ... ny ... a..."
Wanita setengah baya itu akhirnya meninggal setelah mengatakan hal tersebut. Tangan yang di genggam Ryan terlihat jatuh menimpa tanah yang kotor dengan darah merah kentalnya sendiri.
Ryan melepas jubah yang di kenakannya dan terlihat hanya menggunakan Yukata berwarna putih. Jubah yang melambangkan indentitas dirinya adalah seorang Pemburu Vampir yang di punggungnya bertuliskan abjad Romanji Jepang.
Ryan menutupi tubuh wanita setengah baya itu dengan jubahnya dan kembali mmenatap Vampir yang masih berada di posisi yang sama.
"Katakan padaku, dengan apa kau akan membalas satu nyawa yang menggantikan dirimu terbunuh. Jika kau tidak menjawab sekarang juga, aku bersumpah demi Guru dan Adikku, kau tidak akan pernah mati dengan tenang dan hidupmu sebagai Vampir akan lebih menyakitkan daripada manusia yang kelaparan dan kehausan."