
Sedangkan saat Liyura telah keluar dari Dunia Segelnya, dia merasa sangat lega namun bisa di bilang sedari tadi pikirannya masih berpikir keras mengenai keberadaan para Jenderal Wisteria.
Sebenarnya, ada di mana mereka sekarang? Memang wajar jika para Vampir itu menangkap mereka, tapi apa yang mereka inginkan saat mereka malah berubah wujud menjadi Jenderal Wisteria? Dan mereka juga ingin mengetahui sesuatu tentang Lembah Wisteria juga. Jika mereka berhasil dalam menyamar menjadi Jenderal, kenapa mereka masih tidak bisa mengetahui rahasianya?
Liyura sangat butuh sebuah jawaban. Karena dia tidak bisa menginterogasi Vampir yang menyamar menjadi Rachel, dia menyerahkan masalah itu pada Aver dan yang lainnya. Itu adalah karena Liyura harus menemukan petunjuk lain.
Dan mengenai isi dari karung yang di bawa Vampir tadi... adalah mayat dari salah satu pengikut dalam Ujian menjadi Pemburu Vampir. Yang menjadi pertanyaan, sejak kapan mereka mengalahkan para Jenderal?
Karena Rachel saja sudah di kalahkan, mungkin yang lainnya pun juga sudah jadi tawanan, tapi tidak termasuk Ketua dari Jenderal Wisteria... yaitu orang yang masih misterius sampai saat ini.
Liyura yakin jika hanya orang itulah yang masih belum di kalahkan oleh Vampir. Dan yang pasti, dia lah yang akan mengalahkan Nuzan Kyoro. Liyura menghela nafas dan menjadi tenang saat melihat Ryan yang menghampirinya.
"Nona Liyura, sepertinya Zayn yang kukenal bukanlah orang tadi. Aku merasa dia bukan Zayn. Apa yang harus kita lakukan? Para Jenderal lain tiba-tiba saja muncul dan malah berleha-leha tidak menjalankan misi."
Kali ini Liyura menjadi serius, "Tidak apa-apa, Ryan. Karena hanya kau yang kupercaya maka ayo ungkap semua hal ini bersama. Para Vampir yang menyamar menjadi Jenderal dan Zayn, tidak akan lolos lagi kali ini untuk di bantai olehku."
Liyura terlihat sangat kesal sebenarnya, apalagi mengingat kejadian dimana mereka---Ryan, Zayn, dan dirinya di tipu terus-terusan dengan trik murahan. Alhasil, mereka sama sekali tidak mendapatkan petunjuk apapun saat ada di Lembah Malam.
Liyura merasa dia harus menuntaskan masalah ini sampai ke akar-akarnya, dengan begitu dia bisa tenang dan mulai melakukan perjalanan menuju lantai baru.
Ryan hanya mengangguk membalas Liyura, "Benar sekali. Nona bisa mengandalkan diriku."
Liyura kemudian berjalan ke arah ruangan di dalam Lembah Wisteria di kediaman Rachel. Karena Rachel tidak ada sekarang, jadi mereka bebas melakukan apa saja. Tapi ada juga para Maid yang curiga karena Rachel biasanya selalu berada di kediamannya.
Liyura akhirnya berbohong saat Para Maid menanyakan keberadaan Rachel dengan mengatakan jika gadis tersebut sedang menjalankan misi sebagai Jenderal untuk membunuh para Vampir.
Tentang Uji kompetisi Pemburu Vampir yang diikuti Ryan, itu sudah lewat beberapa hari dan dia akan menajalankan misinya bersama Celine untuk pertama kalinya. Misi untuk membunuh dan memburu para Vampir serta menghilangkan keberadaan mereka dengan membunuhnya.
"Ryan, bersiap-siaplah menjalankan misimu. Aku yakin selain kita masih ada Celine dan Erza yang masih normal. Para Vampir memanglah bisa di bilang telah menguasai Lembah Wisteria untuk saat ini."
Ryan terlihat biasa saja. Mungkin dia sudah menyadari hal ini karena pikirannya yang cerdas juga. Ryan melihat karung yang di keluarkan oleh Liyura dari ruang hampa yaitu dari System Room.
"Apa ini, Nona?"
Liyura tersenyum, "Sebuah petunjuk yang kutemukan."
***
Hari pun pagi. Liyura dan Ryan terlihat masih berbincang-bincang dengan serius mengenai suatu hal yang Liyura alami tadi malam. Liyura mengatakan semuanya termasuk dirinya melawan para Vampir. Liyura hanya tidak memberitahukan soal kemampuan matanya, yang tiba-tiba saja berubah kembali menjadi warna hijau Zamrud dari mata berwarna merah darah.
"Aku harus menguburkannya. Aku yakin dia di siksa dengan keji oleh Vampir yang menyamar jadi Nona Rachel. Entah para Jenderal ada di mana sekarang ini namun saat mereka tidak ada, hanya kita yang bisa melindungi manusia lain di luar sana."
Yang di katakan Ryan benar. Namun tujuan Liyura bukanlah itu, meskipun dia masihlah manusia juga, namun rasa untuk melindungi dari dalam dirinya telah hilang, yang ada hanya perasaan untuk menang dan bertarung. Mirip seperti insting predator.
Liyura merasa mendapatkan tubuh yang baru saat dia telah menyelesaikan Ritual Pembatalan Pembangkitan, rasanya hal itu membuatnya jadi sosok Monster tanpa hati, yang tidak akan berkedip saat ada pembantaian sekalipun tepat di hadapan matanya, meskipun sejak awal memang dirinya sudah pernah menyaksikannya.
Liyura tidak bisa berkata apa-apa pada Ryan. Ryan juga tidak begitu menantikan jawaban dari Liyura membuatnya segera undur diri sambil membawa karung itu dengan hati-hati.
Saat Ryan pergi, suasana hening. Liyura memutuskan keluar dari ruangan dan menuju ke pohon Bunga Wisteria, tempat dimana dirinya bertemu dengan Roh pohon tersebut. Rasanya masih dapat Liyura ingat saat dia bertemu dengan Roh itu beberapa hari yang lalu yang mungkin sudah hampir akan di lupakannya.
Liyura duduk dengan tenang di bawah pohon rindang dengan daun-daun berwarna ungu. Dia menyandarkan punggungnya ke arah batang pohon tinggi yang ada di belakangnya.
Saat dia merasa tidak tenang, dia sangat suka berada di sana. Liyura ingin sekali bertemu dengan Roh Bunga Wisteria itu lagi. Masih banyak hal yang ingin di tanyakannya pada sosok tersebut.
Rasanya terasa damai. Tapi Liyura tahu jika dia tidak pantas untuk bersantai, karena masih banyak hal yang harus di lakukannya mengenai masalah Vampir yang meraja-lela ini.
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat, dan Liyura tertidur di bawah pohon itu.
***
Dan di Dunia Segel tanpa Liyura ketahui, ketiganya---Aver, Ares dan Eden masih terlihat berbeda pendapat satu sama lainnya. Dua dari mereka tidak setuju jika ada yang menggunakan ramuan untuk membuat Vampir itu mengatakan semuanya.
"Aku tidak setuju! Bukankah Liyura sudah bilang kita tidak boleh menggunakan ramuan milikmu itu?"
Ares sangat kesal pada Aver yang ingin mengingkari ucapannya. Sedangkan Eden hanya tidur pulas dengan santai dan tidak merasakan adanya keberisikan yang di timbulkan Aver dan Ares.
Gadis Vampir yang masih berdiri merasa mulai bosan. Dia sebenarnya ingin sekali melawan mereka, tapi instingnya merasakan jika salah satu dari mereka saja akan dapat langsung mengalahkan ataupun membunuhnya dalam sekali serang. Gadis Vampir itu masih merasa takut menatap Evol dan Aver yang memang menunjukkan kekuatan Aura nya masing-masing secara tidak sadar maupun secara sadar.
"Sudahlah, Liyura tidak akan tahu. Aku akan memberikannya agar kita langsung dapat mengetahui keberadaan para Jenderal Wisteria."
Aver terlihat telah lelah untuk berdebat dengan Ares yang seakan tidak pernah berakhir jika tidak di hentikan. Ares juga menyadarinya tapi dia masih bersikukuh dalam pendapatnya.
Aver menatap gadis Vampir itu, "Kalau begitu, apa kau punya cara untuk membuat Vampir itu mengatakan segalanya?"
Kali ini Ares sedikit berpikir. Memang cara apa yang ampuh untuk membuat Vampir itu mengatakan keberadaan Para Jenderal? Ares mulai berpikir keras.
"Bagaimana? Apa kau menemukan caranya?"
Aver terlihat menunggu sambil duduk di sebuah tempat seperti sofa dan mulai membuka lembaran bukunya yang sudah menguning di makan waktu.
"Gunakan saja sihirmu itu, Aver. Jangan memakai ramuan. Karena Liyura tidak bilang jika kita tidak boleh menggunakan sihir maka lakukan saja. Asalkan jangan menggunakan ramuan milikmu. Lagipula bukankah ramuan itu sangat langka kenapa kau repot-repot menggunakannya pada Vampir itu."
Aver terlihat menutup bukunya kembali. Padahal tadinya dia ingin meluangkan waktu untuk membaca sambil menunggu jawaban dari Ares namun jawabannya malah terjawab dengan cepat.
Kelama-lamaan mereka malah terlihat saling memprovokasi membuat suasana semakin tambah tidak enak saja. Sampai-sampai, Eden terbangun kecuali Evol.
Sedangkan di ruangan itu jangan lupakan keberadaan adik Ryan yaitu Naomi yang memang masih belum bangun sejak lama. Dan gadis Vampir itu menyadari kehadarinnya membuat dirinya terkejut.
"Kenapa ada Vampir lain selain aku di sini?"
Perkataan gadis Vampir itu mengundang tatapan dari Aver dan Ares serta Eden yang langsung menatap ke arahnya juga. Suasana menjadi hening seketika.
"Dia bukan Vampir,"
Ares terlihat menatap Naomi dan bukannya gadis Vampir itu. Tatapannya penuh iba karena bagaimanapun juga kakak Naomi yaitu Ryan adalah muridnya. Memang sejak awal dia tidak mau memiliki seorang murid tapi ketika mengajari Ryan, dia merasa sangat senang dan membuatnya bersemangat. Padahal, dulunya yang Ia tahu hanyalah membunuh saja, dan merampas kehidupan makhluk lain.
"Kalian lah yang mengubahnya menjadi Vampir. Dan kakaknya saat ini berjuang mati-matian agar adiknya itu berubah menjadi manusia lagi."
Gadis Vampir itu terdiam. Dia menyadari tatapan yang di tunjukkan Ares sangat berbeda saat melihat Naomi. Seakan dirinya merasakan rasa sakit yang mendalam meskipun itu hanya berupa empati.
Sedangkan Aver hanya menghela nafas, "Sudahlah. Jangan mengalihkan perhatian. Katakan saja dimana para Jenderal Wisteria pada kami."
Gadis Vampir itu merasa semakin ragu. Jika dia tidak memberitahu mereka bertiga, dia akan mati. Jika dia memberitahunya pada mereka, dia juga akan mati karena di bunuh oleh sosok yang di akuinya sebagai Raja.
Pilihan apa yang tepat? Dia di landa dilema saat ini.
...
Setelah menunggu satu jam untuk memutuskan, gadis Vampir itu akhirnya bertekad.
"Aku akan memberitahu kalian. Namun, aku harus menghianati Rasku sendiri. Jadi, apa yang kudapatkan jika aku memberitahu kalian keberadaan Merpati."
Mereka semua mengernyit, rasanya jika di pikirkan... apakah pantas gadis Vampir ini mendapatkan sesuatu dari mereka?
"Apa yang kau inginkan?"
Ares bertanya dengan terang-terangan. Raut wajahnya berubah menjadi seruis kembali dalam sekejap. Sedangkan gadis Vampir itu tersenyum simpul.
"Aku hanya menginginkan suatu kepercayaan dari kalian. Penghianat sepertiku tentu saja tidak akan di terima lagi oleh Rasku saat aku kembali pada mereka. Jadi, aku akan membuat kalian semua menjadi tempat untukku pulang."
Aver dan yang lainnya terdiam begitu saja. Jadi yang di maksud gadis Vampir itu adalah... ingin bersekutu dengan mereka.
"Jadi?"
Eden yang sedikit tidak mengerti bermaksud meminta penjelasan lagi agar dirinya faham dengan perkataan gadis Vampir itu.
"Kau ingin menjadi sekutu kami dan berpindah haluan menghianati Rasmu sendiri?"
Aver akhirnya menarik kesimpulan membuat gadis Vampir itu mengangguk. Situasi macam apa ini?
Ares mengernyit dan segera bertanya, "Bagaimana kami bisa mempercayaimu? Kau saja sudah berani menghianati kaummu sendiri dan malah ingin bekerja sama dengan musuh. Apa yang membuatmu yakin jika kami akan menerimamu menjadi sekutu kami? "
Gadis Vampir itu masih tetap tersenyum simpul, "Itu mudah. Aku berniat menjadi sekutu kalian karena aku merasa jika Raja ku sekalipun ada kemungkinan kalah jika melawan kalian. Apalagi gadis tadi, kekuatannya tidak pernah kuketahui. Dan, kekuatannya sangat besar untuk di ukur." Gadis Vampir itu membayangkan Liyura yang bertarung bersamanya tadi, "Yah, alasanku bergabung adalah karena aku takjub dengan kemampuan gadis itu. Tapi aku yakin kekuatan kalian itu juga sangat kuat."
Aver menghela nafas, apakah dia bisa mempercayai gadis Vampir aneh ini? Rasanya dia takut untuk percaya lagi. Tapi, yang ia ketahui, biasanya kaum Vampir setaunya adalah kaum yang setia. Namun, yang ada di hadapannya ini apakah pantas di sebut setia?
"Kalau begitu, apakah kau bisa buktikan jika kau bisa di percayai?"
Setidaknya Ares lah yang mempertanyakan pertanyaan yang ada di kepalanya. Gadis Vampir itu terlihat berpikir.
"Aku akan memberitahu kalian semua kemampuanku dan juga keberadaan para Jenderal. Jika kalian mau, aku juga dapat menjadi mata-mata untuk kalian. Aku yakin instingku tidak mungkin salah mengenai kehancuran Ras ku sendiri."
Aver menjadi tersentak, "Apa maksudmu?"
Gadis Vampir itu menatap Aver yang tadinya menatap dengan tajam, "Meskipun aku adalah Vampir yang terkuat ke-2 setelah Raja, tapi aku sebenarnya adalah seorang Peramal juga. Namun, itu berbeda dengan yang biasanya. Aku hanya bisa meramal menggunakan instingku, saat aku menggunakan kemampuanku ini, aku akan melihat semua hal yang akan terjadi."
Ares terdiam. Sedangkan Aver merasa aneh. Jadi, apakah ini alasan dari gadis Vampir di hadapannya ini tidak berniat untuk melawan?
"Apakah kau sudah melihat masa depanmu itu?"
Ares bertanya lagi untuk meyakinkan dirinya sendiri. Gadis Vampir itu mengangguk menanggapinya, "Benar sekali. Dan yang kulihat adalah kehancuran Ras ku sendiri, yaitu Ras para Vampir. Meskipun aku awalnya sangat takut dan merasa benci dengan sesuatu yang membuat Ras ku hancur, aku tetap menerimanya karena aku sangat percaya dengan apa yang kulihat dan kurasakan sendiri."
Gadis Vampir itu menunduk, "Jika di bilang aku menjijikkan karena malah berpihak pada musuh daripada musnah bersama Ras ku, aku mengiyakannya karena aku juga membenci diriku sendiri. Tapi, ada suatu ketakutan tersendiri yang tidak bisa kuhadapi meskipun aku telah menjadi kuat." Gadis Vampir itu mendongak menatap Aver dan yang lainnya, "Untuk itulah, aku berkhianat agar aku dapat menyelamatkan diriku sendiri. Aku tidak peduli lagi dengan semuanya. Gelar, kekayaan, kejayaan, dan ketenaran, aku tidak peduli semua itu lagi jika aku hanya mendapatkannya untuk sementara."
Suasana akhirnya hening, Aver akhirnya juga memutuskan saat dia menghela nafas frustasi yang terdengar sangat menyesakkan.
"Kalau begitu, kau harus di sini dulu dan menunggu Liyura kembali. Karena dialah yang akan memutuskan semuanya."
Gadis Vampir itu mengangguk, "Tidak masalah. Aku merasa berterima kasih pada kalian karena telah bersedia mendengar keluh kesahku. Dan alasanku untuk menjadi bagian dari kalian adalah karena aku sangat kagum pada gadis bernama Liyura itu yang telah menyadarkanku jika 'Di atas langit masih ada langit'. Lalu, alasan lainnya adalah aku tidak mau mengalami hal yang bernama kematian untuk sekarang."
Eden sepertinya telah mengerti situasinya, "Jadi begitu rupanya. Kau sangat pengecut sekali takut pada kematian. Padahal kan kita di ciptakan untuk mati. Semua makhluk hidup tidak punya suatu tujuan lain selain kematian itu sendiri. Sebanyak apa pun kau berlari dan sekuat apapun dirimu, aku yakin kau pasti akan tetap mati. Suatu keabadian itu bukanlah kebanggaan melainkan hanyalah suatu pelarian untuk mengulur waktu untuk kematiannya sendiri."
Ares dan Aver terlihat menahan nafas mendengarnya Entah karena apa, tapi perkataan Eden serasa sangat menyayat hati, seakan menjadi peringatan dan pengingat bagi mereka bahwa suatu hal yang hidup memanglah akan mati dan tidak abadi.
Gadis Vampir tersenyum, "Aku punya firasat, jika aku ikut dengan kalian aku akan memulai petualangan tiada akhir."