
Keesokan harinya, Liyura terlihat sadarkan diri dan bangun dari tempat tidur. Dia merasa sedikit pusing karena tidur terlalu lama.
Liyura merasakan kepalanya masih berdenyut sakit, Liyura terlihat memegangi kepalanya itu sambil meringis, tak lama Liyura merasakan pusing itu menghilang.
Liyura merasakan hal aneh tapi dia menghiraukannya. Gadis itu hanya turun dari kasurnya yang empuk dan segera mandi.
***
Sedangkan Ryan juga sadarkan diri dan merasakan sakit pada lehenya. Pemuda itu meraba lehernya yang terbalut perban. Ryan menghela nafas, dia tidak merasakan rasa panas dan terbakar seperti kemarin lagi.
Pintu kamarnya terbuka dan masuklah seorang Maid dan terlihat memeriksa keadaan Ryan.
"Kenapa bisa kau terkena luka bakar? Tapi untungnya luka ini tidak parah dan akan menghilang setelah beberapa minggu. Lain kali jika kau menghadapi Vampir, kau tidak boleh hanya mementingkan kemenangan saja tapi kau juga harus tahu batasanmu."
Ryan tidak menjawab. Bukannya dia tidak mau menjawab tapi dia tidak bisa. Lehernya masih terasa sakit meskipun hanya sedikit.
Ryan menghela nafas lagi. Bagaimana bisa dia akan menjalankan misi pertamanya menjadi seorang Pemburu Vampir jika dia begini?
Ryan hanya tidur dan menatap jendela yang diluarnya terdapat pemandangan yang cukup indah diiringi Maid itu pergi.
***
Liyura menggunakan kembali Gold Equipnya dan berjalan dengan langkah tegap menuju kamar Ryan. Dia ingin tahu kabar dari pemuda itu apakah dia berhasil atau tidak dalam menghadapi ujian kedua.
Liyura akhirnya sampai di depan pintu kamar Ryan. Dia membukanya dan masuk begitu saja.
Liyura melihat Ryan yang memandangi pemandangan dari jendela. Langit yang cerah dan juga beberapa atap kediaman para Jenderal Wisteria.
Saat Ryan menayadari ada seseorang, dia kemdian menoleh dengan pelan ke arah Liyura.
"Bagaimana? Apakah kau lulus dalam ujian kedua?"
"Hem, ya aku lulus tapi... Sepertinya aku tidak akan menjalankan misi pertamaku dulu. Lihatlah jika aku memiliki luka bakar ini."
Ryan terlihat menunjuk ke lehernya dimana terdapat perban yang membalutnya. Liyura hanya mengangguk dan segera menghampiri tempat tidur Ryan dan duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Mau sembuh lebih cepat?"
Ryan menatap Liyura dan terlihat berpikir, "Seandainya itu bisa, tapi aku tidak diajarkan sihir penyembuh karena inti sihirku adalah Cahaya dan Kegelapan."
"Itu memang benar, tapi bukankah Aver bisa membantumu?"
"Tapi, jika Guru melihatku seperti ini, aku takut dia mengomeliku."
"Yah itu adalah pengorbananmu jika kau ingin sembuh lebih cepat dan menjalankan Misi Pertamamu sebagai seorang Pemburu Vampir."
"Baik, baik tolong panggil Guru Aver."
Liyura tersenyum melembut dan segera memanggil Aver dengan teknik pikirannya. Tidak lama, tanda di dahi Liyura bercahaya dan akhirnya mengeluarkan seseorang.
Aver terlihat berdiri tegak sambil melipat kedua lengannya di dada. Dia terlihat menatap Liyura maupun Ryan dengan teliti.
Saat melihat Ryan, dia terlihat mengernyitkan dahi melihat perban yang melilit leher muridnya itu.
"Ada apa denganmu?"
"Eh, ini... I-ini Guru... I-itu..."
"Sebenarnya apa yang kau katakan, cepat jawab! Apa kau terluka, Ryan! Siapa yang melukaimu?!"
"I-itu... I-ini, ini adalah salahku, Guru. Aku ceroboh dalam menghadapi Vampir saat ujian kedua."
Aver mengoceh tidak jelas di telinga Liyura hingga Liyura akhirnya memutuskan untuk keluar ruangan dulu agar menenangkan pikirannya.
Sedangkan Ryan hanya menunduk diceramahi panjang oleh Aver yang tidak ada henti-hentinya.
Saat suasana hening, barulah Liyura kembali masuk. Dia melihat Aver sedang menyembuhkan luka yang ada di leher Ryan dengan Sihirnya menggunakan mantra.
"Magica Nigra - Infirmos..."
Luka bakar yang tadinya ada di leher Ryan menjadi bercahaya dan ketika cahaya itu redup, akhirnya luka itu menghilang seutuhnya seakan tidak pernah ada.
Liyura sangat takjub, andaikan di Real World juga ada yang seperti ini maka siapapun pasti tidak akan ada yang takut untuk terluka bahkan mungkin Dokter tidak akan ada lagi jika di Real World memiliki hal semacam ini.
Liyura menghampiri keduanya dan segera tersenyum, "Kau sudah dapat menjalankan Misi Pertamamu Ryan besok setelah para Jenderal Wisteria kembali dari misi mereka."
Ryan mengangguk, dia menyentuh lehernya yang mulus kembali tanpa luka sedikitpun bahkan lecet saja tidak ada.
Mata Ryan terlihat berbinar menatap Aver membuat Aver yang menyadarinya segera menghela nafas, "Kau tidak ada bedanya dengan Liyura. Baik, baik aku akan mengajarimu."
Wajah Ryan terlihat imut dan segera tersenyum senang, "Terima kasih Guru Aver."
Sedangkan Liyura hanya cemberut karena Aver menyamakan gadis itu dengan Ryan.
"Aver aku ingin bicara sebentar denganmu di System Room ku."
"Hah? Dimana katamu?"
Liyura memutar bola matamya, dia segera menarik tangan Aver dan mereka menghilang bak tidak pernah ada membuat Ryan terkejut.
"Mereka seperti Hantu saja."
***
Sedangkan Aver dan Liyura sampai di System Room, itu adalah sebuah ruangan yang hanya memiliki warna putih di sekitarnya dan juga ada benda-benda yang disimpan Luyura di sana dengan melayang seperti berada di luar angkasa.
"Sejak kapan kau punya tempat seperti ini? Oh ya jangan-jangan ini yang dinamakan Alam Bawah sadar ya..."
Liyira menggeleng, "Bukan, ini namanya adalah System Room, Aver. Berbeda dengan Alam bawah sadar yang biasanya jika kita ingin mengunjunginya kita harus tidur dulu seperti aku mengunjungi Magic Forest. Ini dinamakan tempat penyimpanan barang keduaku jika aku ingin lebih privasi daripada di Magic Forest yang banyak sekali Magic Animal menghuninya."
"Jadi begitu, ya. Kau ingin membicarakan apa? Kau tidak mungkin membawaku ke tempat rahasiamu ini hanya ingin pamer padaku saja."
"Hmm, seperti biasa, Raja Undead memang cerdas~Baik, aku tidak akan basa-basi lagi. Aku ingin menanyakan sesuatu, Aver."
"Apa yang kau ingin tahu sebenarnya? Apakah ini memang terlihat sangat privasi dan rahasia?"
"Ya~Itu benar. Ini juga berkaitan dengan sihir, sih."
"Sihir?" Aver mengernyitkan dahinya. Apa yang mau dibahas oleh gadis itu sebenarnya. Tapi karena ini berkaitan dengan sihir maka Aver merasa itu penting.
Liyura bisa dibilang memilih orang yang tepat untuk membicarakan hal mengenai sihir pada Aver selain Lucia maupun Ryan sekarang karena Bagaimanapun Aver sudah berumur lebih lama dibandingkan orang seperti Lucia.
Liyura menghela nafas, "Ini tentang sesuatu yang tidak kumengeti sekaligus ingin kucoba memeliti denganmu, Aver. Tidak ada orang lain yang kukenal selain dirimu yang nengerti akan sihir lebih tahu dari dirimu."
"Baik, apa itu?"
***
Maaf tidak bisa UP sampai 10 chapter dikarenakan ada beberapa kendala akhir-akhir ini.
Maaf sekali lagi dan Arigatou untuk dukungannya untuk novel ini. Dan Adieu Minna untuk minggu depan~