
Zayn menahan serangan Vampir itu dengan cepat sebelum menyerang Liyura. Sedangkan Liyura sejak tadi tidak bergeming sama sekali meskipun dirinya di serang, entah karena mungkin dia sudah mengetahui jika ada yang akan menghentikan serangan yang mengarah padanya atau dia mempunyai semacam perisai khusus?
Zayn membuat Vampir itu mundur beberapa langkah, Zayn terlihat meremehkan Vampir di hadapannya dengan mendengus dan memandang rendah.
Memang wajar, karena dia sangat banyak memiliki pengalaman dalam menghabisi para Vampir.
Tapi, Zayn juga tidak akan ceroboh, dia juga sudah menganalisa kekuatan Vampir itu melalui pertukaran serangan yang diarahkan pada Liyura tadi.
Ryan yang kurang cepat hanya menghela nafas karena memang dia masih tidak mepunyai Skill khusus dalam menyerang, sedangkan Zayn punya.
Liyura tersenyum miring, dia tidak menghentikan pertarungan di hadapannya. Dia terlihat menikmati pertarungan Zayn dan Vampir itu.
Liyura tetap berdiri santai, dia sama sekali tidak berniat untuk menghentikan pertarungan. Entah apa yang gadis itu rencanakan tapi yang pastinya dia tidak akan pernah salah dalam hal sesuatu.
Ryan terlihat bingung, dia ingin menghentikan pertarungannya tapi dia juga melihat Liyura masih tidak bereaksi apa-apa membuatnya tidak berani menghentikan pertarungan.
Ryan akhirnya menghela nafas dan ikut diam menjadi patung seperti Liyura. Meskipun dia tidak melakukan apa-apa, Ryan terlihat seperti belajar mengenai cara bertarung ketika dia melihat pertarungan antara Zayn dan Vampir itu dengan teliti.
Zayn mengayunkan pedangnya sekuat tenaga dengan kedua tangannya untuk menebas Vampir itu secepat mungkin. Zayn dan Vampir itu telah bertukar serangan selama beberapa saat, membuat keduanya sama-sama merasakan posisi bertahan dan menyerang.
Keduanya bertarung imbang selama 1 jam lamanya membuat Liyura akhirnya sedikit bosan. Dia sebenarnya tidak mau mencampuri pertempuran di hadapannya, tapi dia juga tidak bisa mengulur-ulur waktu lagi.
Liyura akhirnya melancarkan serangan gelombang pedang pada Vampir itu membuat keduanya mundur dan Vampir itu terpental jauh.
Damage yang dihasilkan Liyura untuk Vampir itu lumayan membuatnya memiliki luka yang cukup serius. Sedangkan Zayn terlihat cemberut karena Liyura yang mencampuri pertarungannya membuat pertarungan itu terhenti seketika karena Vampir itu terluka parah akibat serangan yang dilancarkan Liyura sedemikian rupa dengan tiba-tiba.
Zayn melihat Vampir itu, dan dia terkejut karena dia baru pertama kali melihat hal tersebut. Biasanya para Vampir dapat menyembuhkan atau meregenerasi tubuhnya setelah terkena serangan bahkan dari para Jenderal Wisteria yang sangat kuat pun belum tentu juga Vampir itu dapat dibunuh.
Zayn menatap pedang emas milik Liyura yang ternyata di mata Zayn mengeluarkan aura berwarna gelap dan juga emas yang berimbang.
Liyura melihat ke anehan setelah melihat mata Zayn yang terlihat bersinar namun sebentar. Liyura menatap Vampir itu lagi dan dia tersenyum.
Liyura tanpa aba-aba langsung menghampiri Vampir itu.
"Katakan. Katakan dimana kediaman Vampir Bulan?"
"Hah! Kau buta rupanya! Manusia memanglah seperti itu. Kau sudah melihat kediamannya!"
Liyura tersenyum mengerikan. Dia sangat benci jika dibodohi. Liyura menghunuskan pedangnya dengan cepat membuat angin menghantam begitu saja dan menerbangkan helai-helai rambut Vampir itu.
"Siapa....Kau?"
Vampir itu terlihat waspada pada Liyura. Sedangkan Liyura tersenyum sekali lagi.
"Tidak penting siapa aku, aku hanya ingin tahu dimana kediaman Vampir Bulan dan jangan membodohiku lagi. Aku juga tahu jika kediaman itu ada di sana, tapi bagaimana cara aku masuk lebih dalam? Dan kalian para Vampir kenapa bisa membuat hal seperti sihir?"
"Baik, aku akan memberitahumu. Sebenarnya ada seseorang yang pernah mengunjungi Vampir Bulan. Dia itu orang yang tidak waras, dia mengatakan jika dia adalah seorang Player yang datang dari lantai 1 atau apalah. Dia menjanjikan kontrak pada salah satu Vampir Bulan yaitu Nona Rena. Sebagai ganti kontrak itu, Nona Rena ingin membuat ilusi agar tidak ada yang menemukannya, bahkan Tuan Nuzan pun pasti dapat terkecoh. Apa namanya? Dia bilang Sihir Mana... atau sedikit Glamor..."
"Jika kau tidak percaya ya sudah, sekarang jawab pertanyaanku kau siapa?"
"Aku adalah Malaikat kematianmu!"
Liyura langsung saja menusuk tepat di jantung Vampir itu hingga teriakan memenuhi seluruh hutan dan darah terlihat bercecer di mana-mana. Bahkan tidak sedikit darah yang sempat menodai wajah Liyura.
Liyura bahkan tidak berkedip ketika dia membunuhnya. Karena yang ada di pikiran gadis itu sekarang hanyalah dosa yang Vampir itu perbuat.
Dia sudah bosan hidup dengan perilaku naif, dia tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya lagi pada siapapun. Jika ingin bertahan di dunia yang hancur ini, kita harus menjadi kuat dan harus memburu siapapun yang telah mengusik kita.
Dan lagi dosa yang Vampir itu lakukan, bahkan lebih kejam daripada dirinya. Dia memberikan rasa sakit yang menyakitkan saat Vampir itu mati adalah karena gadis itu ingin membuat Vampir itu merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang telah dibunuhnya.
Ryan terlihat gemetaran sambil memegang pedang Bulan Sabit milik Liyura yang diberikan padanya. Dia menatap Liyura seperti seekor monster yang dapat membunuh siapapun jika ada orang yang menghalangi jalannya.
Sedangkan Zayn terlihat biasa saja, karena ketika dia melihat Liyura, dia seperti melihat Jenderal Wisteria. Apa yang dilakukan gadis itu tidak salah. Tapi juga tidak bisa dianggap benar.
Menjadi seorang pembunuh bukanlah hal yang menyenangkan untuk sebagian orang. Situasi sekarang menggambarkan hal itu. Meskipun membunuh Vampir sekalipun, tetap ada dosa yang harus kita ambil, karma akan berlaku selamanya.
Liyura menghela nafas dan membersihkan darah yang mengotori dirinya. Dia akhirnya berbalik ke arah Zayn dan Ryan.
"Ryan, jika kau ingin menjadi pengikutku, kau harus siap untuk membunuh siapapun yang menghalangi jalanku maupun tujuan kita bersama. Dunia ini kejam, jadi jika kita tetap menjadi lemah, kitalah yang akan dibunuh. Duniaku berbeda dari kalian. Kalian hidup dalam ketakutan akan Vampir, sehingga kalian mempelajari berbagai macam teknik bertarung untuk menyerang para Vampir. Sedangkan di duniaku, di sana sangat damai karena perang tidak pernah terjadi lagi, dan kita tidak punya ancaman maupun ketakutan. Sayangnya, karena hal itulah orang-orang di duniaku tidak pernah bersyukur dan malah menginginkan hidup rumit seperti kalian. Dan mereka dikirim ke sini seperti diriku."
Ryan terlihat memiringkan kepalanya, "Jadi, dunia Nona Liyura tidak pernah terjadi hal semacam ini? Pasti di dunia sana sangatlah indah dan remaja-remaja seperti kami akan hidup harmonis bersama keluarga yang menyayangi mereka. Jika aku boleh memilih, aku ingin sekali dilahirkan di dunia Anda, Nona. Karena aku sangat membenci hidupku seperti ini."
Sedangakan Zayn terlihat mencerna perkataan Liyura, "Pasti di duniamu sekarang sangatlah damai, aku sependapat dengan Ryan jika dunia itu sangat indah karena tidak ada tangisan dan kemarahan yang terdengar maupun terlihat seperti di sini. Pasti di sana orang-orang seperti kita dapat merasakan hal yang namanya bahagia, tidak seperti di sini... Di sini, sejak kita kecil kita bukanlah mempelajari ilmu pengetahuan yang diajarkan tapi teknik pedang dan strategi perang maupun cara membunuh."
Liyura menatap miris, dia sangat menyesal karena dia tidak bersyukur dengan hidupnya di Real World. Padahal jika dipikir-pikir, dunia CO di lantai 2 ini membuatnya semakin bernonstalgia tentang masa lalunya.
"Yah, tapi yang namanya hidup, pasti ada juga rintangan dan kesulitan. Tapi jika di duniaku, hal-hal yang terjadi di sini hanya dianggap dongeng pengantar tidur."
"Nona Liyura, apakah suatu saat kami bisa melihat duniamu?"
Ryan terlihat berbinar, dia sangat ingin melihat Real World rupanya.
"Ah, jika itu aku bisa mendeskripsikannya. Duniaku itu Metropolitan. Banyak sekali gedung-gedung pencakar langit, ada besi yang bisa berjalan maupun terbang, tapi sekarang kami menggunakan yang namanya Glove. Di duniaku banyak sekali hal seperti teknologi, itu bukanlah Sihir maupun Glamor, tapi mereka bisa dianggap hal-hal yang kurang logis."
"Hah? Benar-benar dunia yang menarik, jika boleh, aku ingin sekali berkunjung ke sana."
Liyura tersenyum lembut dan segera melihat Vampir yang telah mati tersebut. Liyura melihat jika mayat itu masihlah ada dan tidak menghilang seperti di lantai yang sebelumnya.
Liyura mencoba menulis huruf C untuk melihat statusnya tapi itu tidak berfungsi. Liyura mengernyit dan akhirnya berperilaku normal kembali agar tidak membuat kedua orang yang menatapnya tidak curiga dan memandang bingung.
Akhirnya, Liyura dan yang lainnya mencari jalan bagaimana cara mereka bisa sampai di kediaman Vampir Bulan.