
Hari telah berlalu dengan cepat, Liyura menatap bintang-bintang yang ada di langit dari jendela kamarnya.
Liyura menghela nafas, dirinya masih sulit berhenti memikirkan kejadian tadi. Entah kenapa dia tidak bisa melupakannya, seakan itu merupakan hal yang penting.
Meski Liyura terlihat tidak percaya pada ucapan dari seseorang atau sesuatu yang disebut Roh Bunga Wisteria, tapi dia merasa yang dikatakannya tadi mungkin ada benarnya juga.
Bertemu dengan 4 pelindungnya? Siapa? Apa ini ada hubungannya dengan 4 Pendekar Kembar? Liyura serasa sangat penasaran dengan hal tersebut.
Berbagai misteri yang datang secara tiba-tiba padanya membuat otaknya tidak bisa berhenti berpikir.
Apa yang akan terjadi di masa depan, ya?
***
Sedangkan Ryan hari ini sangat bersemangat karena hari ini adalah hari yang sangat penting baginya sebagai Pemburu Vampir.
Hari ini adalah pembagian senjata untuk anggota baru Pemburu Vampir yang artinya dia akan mendapatkan senjata miliknya semdiri dan akan mengembalikan Pedang Bulan Sabit kepada Liyura.
Ryan sekarang telah rapi menggunakan Kimono terbaik yang dimilikinya. Pertama-tama dia akan mengunjungi Liyura dan mengembalikan pedangnya tapi karena sepertinya dia akan terlambat maka dia buru-buru datang ke tempat Aula untuk membagikan senjata masing-masing.
Ryan berlari dengan sangat cepat karena menggunakan sihirnya agar cepat sampai. Ketika dilihat oleh mata manusia, Ryan seperti sekelebat bayangan yang akan langsung hilang dalam sekejap nata.
Saat tiba, Ryan merasa sangat senang dan tidak terlihat kelelahan, bahkan rambutnya juga masih tertata rapi.
Ryan dengan langkah tegap menuju Aula dimana 2 orang lainnya telah menunggu. Eh, dua orang? Bukannya yang lolos menghadapi Liyura ada 3 orang dan akan genap 4 orang bersama dirinya, lalu yang satu lagi kemana?
Ryan melihat wajah keduanya dan akhirnya menyadari jika anak yang ditolongnya kemarin tidak ada. Bisa disebut saja dia gagal.
Ryan melihat ke arah yang lainnya, dia hanya melihat kedua orang itu, yang satunya perempuan dan yang satunya laki-laki.
Mereka sama-sama aneh, yang perempuan terlihat lebih muda darinya sekitar hanya berusia 12 tahun terlihat tersenyum sendiri pada Kupu-kupu yang hinggap di tangannya.
Sedangkan yang laki-laki itu seumuran dengannya dan dia terlihat berantakan dengan lumpur dan tanah yang mengotori baju dan wajahnya. Tunggu kenapa hal itu bisa terjadi?
Melihat keduanya ditatap oleh Ryan mereka semua balas menatapnya hingga Ryan membuang pandangannya ke arah lain.
Mereka kemudian dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang tidak lain adalah ke-5 Jenderal Wisteria. Mereka semua tersenyum pada ketiga orang dihadapan mereka.
"Yah, pertama-tama aku ingin mengucapkan selamat pada kalian bertiga yang telah lolos untuk membunuh Vampir. Karena itulah, kalian telah resmi menjadi Pemburu Vampir. Jalankan misi yang diberikan pada kalian dengan baik atau nyawalah sebagai bayarannya. Tapi, untuk pembagian senjata, kalian mendapatkan ujian tambahan."
Ray terlihat menyampaikan sesuatu semacam pidato pembukaan mungkin.
"Nah, tidak usah berbasa-basi lagi, kami telah mengizinkan kalian memilih senjata kalian masing-masing di Ruang Senjata Mistis. Kalian akan memasukinya sekarang juga."
Ray terlihat menatap Rachel hingga Rachel mengangguk dan maju selangkah ke depan.
"Aku akan menjadi pengawas kalian dalam memilih senjata. Ini akan terasa sedikit sulit karena masih ada ujian ketiga setelah kemarin karena kami tidak bisa menerima orang sembarangan sebagai Pemburu Vampir. Ungkapan Jenius masih terlalu kecil untuk menggambarkan seorang Pemburu Vampir sejati."
Mereka semua terlihat merinding saat mereka merasakan aura yang keluar dari tubuh Rachel. Kecuali Ryan, dia sudah terbiasa mungkin karena selalu berlatih di bawah pengikut Liyura yang tentu saja kekuatan mereka sangat kuat dari ke-5 Jenderal di hadapannya.
"Kalian siap?"
Rachel tersenyum sangat menyeramkan dan segera menuntun ketiganya menuju Ruang Senjata Mistis.
***
Seakan ketika dia melewati lorong itu, dirinya hanyalah orang biasa tanpa memiliki inti sihir. Bahkan Ryan tidak bisa merasakan apapun di dalam tubuhnya, yang biasanya dipenuhi energi sihir yang sangat besar dan sekarang semua lenyap tidak bersisa.
Ryan juga pasti yakin jika dia merapalkan mantra maka tidak akan ada suatu hal yang terjadi. Ryan menatap ke depan dan melihat sekitar yang gelap dan hanya di terangi cahaya temaram.
"Berhati-hatilah kalian semua karena ujian ketiga akan segera dimulai."
Rachel terlihat tersenyum penuh rencana dan segera memimpin jalan di depan. Tak butuh beberapa lama, dia berhenti membuat ke-3 orang yang ada di belakangnya juga berhenti mendadak.
"Ayo kita masuk."
Rachel terlihat membuka sebuah pintu yang sangat usang tapi sepertinya masih bertahan dari rayap yang menggerogotinya. Pintu itu tidak besar, mungkin pas dengan tinggi mereka.
Saat mereka masuk, pintu tertutup dengan sendirinya bak ada di film horor. Ryan tidak takut, dia hanya khawatir karena memang dia selalu mengandalkan sihirnya dalam kondisi apapun. Tanpa sihirnya, Ryan hanyalah anak remaja biasa. Dia memang memiliki teknik beladiri maupun teknik pedang yang diajarkan Aver padanya di Magic Forest tapi dia tidak seperti Zayn yang telah mendapatkan Skill untuk teknik pedangnya.
Rayn menghela nafas, kali ini dia akan mengundi nasibnya apakah ujian ketiga ini akan sangat sulit atau tidak baginya. Dia hanya bisa berharap pada hal yang tidak pasti dan hanya mengikuti langkah dari Rachel seperti yang lainnya.
Meskipun sihirnya tidak berfungsi sekarang tapi dia tetap memiliki ke-5 indranya. Ryan mencium dengan hidungnya dan tidak merasakan bau apapun kecuali bau anyir darah yang sudah lama ada dan mengisi seluruh ruangan ini.
Bau anyir darah terasa menyengat di hidungnya hingga Ryan melihat jika langkah Rachel kembali berhenti. Rachel berbalik menghadap mereka dan tersenyum.
"Pintu selanjutnya adalah awal dari dimulainya ujian ketiga. Jika kalian ingin menyerah, kalian bisa tunggu di sini setelah aku mengantarkan kalian yang masih ingin menjadi Pemburu Vampir, setelah itu aku akan keluar menemui kalian dan akan membawa kalian keluar."
Suasana sangat mencekam. Mereka sama sekali tidak ada yang bersuara. Hanya suara air yang jatuh setitik demi setitik lah yang terdengar.
"Aku akan tetap ikut ujian ketiga. Aku sudah berjuang sampai di sini tentu saja aku harus menuntaskannya sampai akhir dengan menjadi Pemburu Vampir."
Kata Ryan menawarkan diri terlebih dahulu membuat semuanya menatapnya. Rachel tersenyum.
"Bagus, bagus! Kau adalah anak yang pemberani. Siapa lagi?"
Rachel menatap ke arah dua anak yang sedang menatapnya balik.
"Tentu saja aku harus tetap ikut ujian kedua, aku tidak mau berhenti di sini karena cita-citaku adalah menjadi Pemburu Vampir."
Kata anak perempuan dengan tersenyum ke arah Rachel sambil menutup matanya.
"Baik, baik, dan apakah kau juga ikut?"
Rachel beralih pada seorang remaja laki-laki yang terlihat gemetar sedikit demi sedikit. Ryan merasakan keanehan, tapi mungkin karena remaja itu takut.
"A-aku, A-a-aku tidak m-mau ikut..."
Remaja lelaki itu memunduk dengan tubuh yang gemetaran hebat. Dia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya dan menatap sekitar dengan nyalang seakan dia dapat melihat dalam kegelapan.
Dia bersimpuh begitu saja dan terlihat takut hingga tubuhnya gemetar hebat, bahkan di wajahnya keringat juga telah bercucur sangat deras.
Ryan tidak mengerti apa yang membuat remaja itu takut seperti itu tapi dia menghiraukannya, dia menatap ke sekeliling ruangan yang sangat gelap di sekitarnya.
Rachel kemudian menuntun menreka masuk ke dalam pintu berwarna coklat tua yang sangat tinggi. Saat mereka masuk, Ryan merasakan ada keanehan lagi.
Ryan merasakan suatu hal yang aneh sedari tadi, dia tidak berhenti menatap sekitarnya. Rachel membawa mereka ke tengah ruangan dan setelah beberapa saat, obor-obor mulai menyala berurutan hingga akhirnya menampilkan sesuatu yang menabjubkan sehingga membuat Ryan berbinar.