
Liyura merasa sangat mengantuk dan pusing besamaan. Gadis itu yakin jika di luar hutan di Lembah Malam ini pasti hari sudah malam.
Liyura akhirnya memasukkan Ryan yang telah terlelap ke dalam Magic Forest. Sedangkan dia akan masuk ke dalam System Room untuk tidur dan masuk ke Magic Forest.
...****...
Saat tiba di Magic Forest, hari di sana benar-benar sudah malam. Liyura terlihat menguap lebar, pencarian Vampir Bulan kali ini sangat lama dan tidak ada hasilnya sama sekali.
Ketika dia masuk ke dalam Goa, dia melihat semuanya telah tertidur, kecuali tiga orang pengikutnya. Yah, karena mereka semua bisa dibilang adalah Undead.
Liyura menghampiri mereka dan duduk di tempat duduk seperti sofa, entah darimana itu berasal.
"Hah, pencarian hari ini tidak ada hasilnya sama sekali. Sebenarnya Vampir Bulan itu ada di mana?"
Aver menghela nafas, sepertinya keberuntungan mereka lenyap setelah mereka sampai di lantai 2. Eden terlihat tertawa padahal tidak ada yang lucu.
"Hahahahahaha, Aku tidak menyangka gadis yang terlihat pintar sepertimu juga dapat dipermainkan seperti itu, Liyura. Hahahahaha!! Lucu sekali!! Aku salut dengan Vampir Bulan itu, hahahahaha!"
Tapi, Ares malah memukul kepala Eden membuat tawanya berhenti dan berganti dengan ejekan dan umpatan Eden kepada Ares.
"Kau akan membuat anak-anak terbangun, bodoh!"
Eden segera menutup mulutnya rapat, dia akhirnya menahan tawanya dengan ekspresi lucu. Tapi menurut Liyura, gadis itu merasa lebih kesal, tapi dia tidak bisa mengelak dari perkataan Eden yang ada benarnya juga.
Sepertinya otak dan instingnya mulai tumpul gara-gara penasaran. Liyura akhirnya tidur bersama Naomi. Dia merasakan perasaan masa bodoh dengan ucapan Eden.
Liyura terlihat murung tapi akhirnya dia tidur dengan lelap.
...****...
Hari telah pagi di Dunia Segel milik Liyura dan gadis itupun juga terbangun gara-gara sinar matahari membangunkannya dari mimpi.
Liyura meregangkan ototnya dan mengucek matanya dengan masih tetap menguap lebar. Ternyata dia bangun di System Room setelah dia bangun di Magic Forest.
Liyura akhirnya keluar dari System Roomnya dan melihat jika dirinya masih ada di Lembah Malam.
Liyura melihat sekitar dan masih tidak merasakan hal yang aneh. Dia menghela nafas dengan kegagalannya kemarin karena semudah itu dipermainkan oleh Vampir Bulan.
"Liyura, kau keluarkan anak-anak ini! Aku tidak tahan dengan ocehan mereka! Apa mereka selalu begitu?!"
Liyura merasakan kepalanya berdenyut sakit setelah dia mendengar pekataan Aver. Dia akhirnya menghela nafas dan mengeluarkan Zayn serta Ryan dan Kei ke posisi tempatnya berada sekarang.
"Kita akan mencari Vampir Bulan itu lagi. Kali ini aku janji jika kita tidak akan gagal lagi seperti kemarin."
Mereka hanya mengangguk, sedangkan Zayn terlihat lelah.
"Hah, jika ini gagal lagi seperti kemarin tentu saja aku akan memilih beristirahat lebih lama, aku juga tidak mau lagi melewati portal apapun."
Ryan menatap Zayn dan segera memberinya semangat, "Kau tidak boleh begitu, Zayn. Bukankah kau itu adalah Pemburu Vampir maka kau harus bisa membasmi mereka. Bukankah kita sudah berjanji untuk membalaskan dendam kita masing-masing pada Ras Vampir itu?!"
Zayn hanya menunduk, "Iya aku tahu akan hal itu! Tapi aku juga tidak bisa terus-terusan mencari mereka jika menggunakan portal lagi, Ryan! Aku sangat menderita kemarin tapi usahaku sia-sia saja."
Liyura menghela nafas, "Baik, jangan ribut. Terserah kalian mau ikut atau tidak, jika kalian tidak ingin ikut," Liyura memandang tajam, "Aku akan cari sendiri. Kalian juga balas dendam sendiri tanpaku lagipula aku tidak akan berlama-lama di sini tanpa melakukan apa-apa dengan kalian sebagai Beban ku."
Liyura terlihat menjauh, diiringi Zayn dan Ryan yang gemetar, Beban, yah itu benar, mereka hanyalah beban bagi Liyura.
Liyura menatap sekali lagi ke arah Ryan dan Zayn. Dia iba sebenarnya pada kedua anak itu apalagi pada Kei. Dia teringat dirinya yang dulu jika melihat mereka.
Bukannya Liyura tidak punya hati pada anak-anak itu, tapi dia juga tidak bisa tidak waspada pada apapun. Dia sudah gagal kemarin tapi tidak untuk hari ini.
Liyura mengehela nafas, dia merasa sudah cukup berlebihan mengatakan hal seperti itu pada mereka.
Dia melihat ketiganya lagi, Zayn dan Ryan tetap tidak bergeming dan terus menunduk setelah Liyura mengatakan hal itu. Sedangkan Kei terlihat menyemangati mereka.
"Ayolah, kak. Kalian tidak boleh seperti ini. Perjalanan untuk memusnahkan para Vampir masih sangat panjang. Ayo kak kita bersama melawan mereka bersama kak Liyura. Jika tidak ada dia, aku tidak yakin kita bisa menang meskipun ada Jenderal Wisteria."
Ryan dan Zayn mendongak dan saling menatap, mereka berudua kemudian melihat ke arah Kei yang sedang berusaha menyemangati mereka.
Mereka menghela nafas bersamaan, dan akhirnya menghampiri Liyura dengan seksama.
"Kami akan ikut denganmu mencari Vampir Bulan bagaimanapun caranya, kita harus menemukannya. Aku tidak mau ada anak-anak seperti kami di habisi keluarganya oleh para Vampir lagi."
Liyura menatap mereka. Gadis itu mengangguk, dia kemudian mulai menunjukkan jalan untuk mencari Vampir Bulan.
Rasa putus asa memang wajar ada di antara mereka. Karena mereka gagal kemarin tapi itu bukan berarti mereka harus menyerah dan mundur begitu saja. Setidaknya, Ryan dan Zayn masih memikirkan anak-anak diluar sana yang pasti keluarganya juga dibunuh oleh Vampir dengan tragis.
Kedua anak itu juga begitu saja menerima ajakan dari Kei karena bagaimanapun juga perkataan anak itu ada benarnya juga. Mereka berjanji jika akan terus berjuang untuk membuat kedamaian di dunia mereka, tak apa meskipun hanya sebentar yang terpenting adalah mereka sejenak merasakan bahagia daripada tidak sama sekali.
Mereka membulatkan tekad pada diri sendiri untuk menghadapi dan membasmi para Vampir itu sampai ke akar-akarnya karena mereka telah lama dijajah oleh para Vampir itu.
Liyura tersenyum melihat pandangan mata mereka mulai berubah menjadi kebulatan tekad masing-masing untuk menyingkirkan para Vampir di dunia mereka.
"Ryan, kali ini carilah dengan sihirmu jejak-jejak yang masih tertinggal oleh Vampir Bulan itu karena kemarin Aver telah menghapus Pentagram sihirnya."
Ryan mengangguk dengan mantap dan segera merapalkan mantra yang pernah diajarkan ketiga pengikut Liyura padanya.
"Lux Magia - Quaerere!"
Cahaya yang menyilaukan keluar dari tangan Ryan dan terbang tinggi di langit hingga terlihat seperti matahari buatan di hutan yang gelap itu, sihir itu kemudian menghilang dan menyebar ke seluruh penjuru.
Ryan terlihat mengangguk, "Aku menemukan jejek sihir yang tertinggal. Aku akan menunjukkannya pada kalian, itu adalah jalan keluar dari Lembah ini. Jalan yang tadinya kau lalui, Nona Liyura."
Liyura akhinya tersenyum, "Tunjukkan jalannya. Cari petunjuk lainnya, Ryan. Kita tidak boleh dipermainkan lagi seperti kemarin, kita tunjukkan jika kita bisa memenangkan permainan Tikus dan Kucing ini."
"Baik, aku mengerti Nona Liyura. Dan permainan Tikus dan Kucing? Apa maksudnya?"
"Itu ungkapan untuk kita dan Vampir Bulan itu sekarang. Jangan dipikirkan, ayo kita bergegas."
Ryan terlihat tidak mengerti dan bingung tapi dia hanya mengangguk. Ryan, Zayn, serta Kei berjalan di depanndengan Liyura di belakang mereka.
Ryan ada di tengah untuk menunjukkan jalan ke mana jalan keluar dari Lembah hingga mereka melihat cahaya.
Ryan menghentikan langkah dan mengkode yang lainnya untuk masuk ke celah-celah lubang yang diluarnya terdapat cahaya.
Lubang itu seperti membentuk pintu untuk masuk ke dalam Goa, mereka langsung memasukinya bersama dan mereka keluar dari Lembah Malam.
Memang Liyura merasa aneh karena seingatnya jalan masuk ke Lembah Malam bukanlah seperti ini tapi dia tetap mempercayai Ryan.
Akhirnya mereka keluar dan melihat dunia di luar Lembah Malam.