
Liyura dan Ryan menatap sesosok perempuan dengan Kimono melekat di tubuhnya, dia sedang menari-nari ria bersama Kupu-kupu maupun Capung yang beterbangan di sampingnya.
Gadis itu sekiranya seumuran dengan Ryan saat ini. Tapi dia bukanlah Rachel. Gadis itu melihat Kupu-kupu oranye hinggap di tangannya membuat dia tersenyum sangat manis.
Liyira melihat sebuah pedang atau yang dianamakan Katana yang terkait di pinggangnya berwarna putih akan tetapi bergradasi warna ungu seperti bunga Wisteria.
Liyura dan Ryan memilih menghampirinya membuat gadis itu menoleh ke arah mereka hingga senyumannya memudar.
Dia menatap Liyura dan Zayn dengan tanda tanya sambil menaikkan alisnya.
"Kalian siapa?"
Suara lembutnya terdengar bersaaman dengan angin semilir yang sangat kencang menyapu rambut mereka.
"Kami ke sini untuk bertemu para Jenderal Wisteria."
"Memangnya kalian siapa? Aku adalah salah satu Jenderal Wisteria tapi aku tidak mengetahui kalian. Dan kalian juga sepertinya bukanlah Pemburu Vampir."
"Kami lebih dari itu. Aku ingin bertemu dengan Rachel. Jadi bisakah tolong antarkan kami ke kediamannya?"
"Hah? Baiklah kalau begitu."
Gadis itu tidak segera beranjak dan masih tetap mengelus lembut Kupu-kupu yang ada di tangannya hingga Kupu-kupu itu terbang menuju kediaman Lembah Wisteria.
"Kalian bisa ikut denganku ke kediaman Rachel. Ayo ikut aku."
Gadsi itu berjalan santai di depan Liyura dan Ryan. Liyura mengkode Ryan untuk mengikutinya karena sejak tadi Ryan terlihat bengong menatap gadis itu.
Mereka sampai di sebuah kediaman milik Rachel. Liyura melihat kediaman itu masihlah belum berubah sejak dia pergi.
Saat mereka tiba, Rachel berjalan dengan cepat ke arah mereka dan segera mempersilakan masuk. Hal itu membuat gadis tadi menatapnya aneh tapi Rachel menjawab dengan memelototinya.
Saat di dalam, Liyura dan Ryan disuguhkan teh hijau yang nikmat. Mereka duduk di lantai kayu dengan aksen Jepang kuno.
"Bagaimana penyelidikan di Lembah Malam?Kami tidak menyusulmu ke sana karena kami harus menjaga kediaman ini. Dan sebagai gantinya kami menyuruh para Pemburu Vampir yang cukup kuat ke sana dan seorang pengintai."
"Oh jadi begitu. Pengintai itu apakah bernama Zayn? Dia bertemu dengan kami dan ada bersamaku saat ini. Dan yah, para Pemburu Vampir yang kalian utus telah meninggal akibat mereka dibunuh oleh para Vampir. Dan, apakah kalian pernah ke Lembah Malam sebelumnya? Karena katanya sih aku dengar di sana ada sebuah kediaman para Vampir yang memperbudak anak-anak kecil tapi sekarang mereka berpindah tempat."
"Ya, itu benar, tapi itu sudah lama, kami gagal saat itu menghentikan para Vampir karena mereka menggunakan sesuatu seperti magis hingga mereka hilang seketika bak ditelan bumi. Dan tentang perkataanmu tentang Zayn, dimana dia?"
"Dia ada bersamaku. Nanti kau pasti bertemu dengannya. Sesuatu seperti magis yang kau katakan itu bukanlah kemampuan para Vampir, tapi mereka telah dibantu oleh seseorang dari kota yang sama denganku. Saat kami ada di hutan di dalam Lembah Malam, kami selalu tertipu oleh triknya yang menggunakan hal semacam magis dan namanya dikenal sebagai Sihir. Kami pernah gagal dua kali untuk menemukannya dalam dua hari ini."
"Astaga! Jika kau saja dapat terkecoh apalagi kami yang sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai sihir ini?"
"Aku dan temanku ini akan mencari cara, dia juga mempunyai kemampuan bernama sihir itu. Dan namanya adalah Ryan, dia sangat akrab dengan Zayn karena mereka pernah bertemu sebelumnya."
"Begitu ya, mohon bantuannya!"
Rachel tersenyum lagi, dia melihat ke arah Ryan dan terlihat sangat senang.
"Aku sudah mempersiapkan tempat tidur kalian masing-masing. Semoga kalian betah di sini. Dan Liyura, aku ingin berbicara empat mata denganmu."
Liyura mengangguk dan mengkode Ryan untuk mengikuti seorang pelayan yamg akan mengantarnya menuju kamar dengan tatapan mata Liyura.
Ryan mengangguk pelan dan segera beranjak, "Terima kasih, minumannya!
Ryan menunduk dan berjalan ke arah pelayan itu setelah Rachel menjawabnya dengan mengangguk dam tersenyum.
"Aku akan langsung mengatakannya, Liyura. Para Jenderal Wisteria yang lain ingin menemuimu lagi. Karena kemarin saat kedatanganmu ada yang menyelesaikan misi, jadi tidak ada yang tahu tentangmu seperti Sena."
"Sena? Dia adalah gadis yang tadi, ya?"
Rachel mengangguk, dia akhirnya beranjak dan mengajak Liyura ke kamarnya.
"Besok kau akan bertemu dengan mereka. Karena sekarang kau pasti masih lelah maka kau beristirahatlah dulu."
Rachel segera pergi dari kamar yang disediakan untuk Liyura hingga gadis itu akhirnya merebahkan diri.
Liyura langsung terlelap seketika karena empuknya kasur yang ditidurinya dan hangatnya selimut yang memeluknya.
***
Keesokan harinya tiba, Liyura langsung berendam air hangat saat pagi hari dan menggunakan Kimono yang disediakan oleh pelayan di kediaman Rachel.
Meskipun dia menyukai Gold Equip nya tapi pakaian bernama Kimono itu lembut di pakai dan juga sangat nyaman.
Liyua tetap menggunakan pedangnya di pinggang, dia segera keluar dari kamar dengan santai dan menikmati cuaca pagi hari.
Ternyata Rachel sudah menunggunya saat dia membuka pintu kamar, Rachel terlihat berbinar melihat Liyura yang sangat cocok menggunakan Kimono dengan rambut pirangnya itu.
Rachel tersenyum lembut dan menuntun Liyura ke aula dimana tempat Jenderal Wisteria berkumpul.
Saat melihat Liyura, mereka tidak berpaling sedikitpun, apalagi ketika melihat Katana panjang berwarna emas milik Liyura yang terkait di pinggangnya.
Parasnya yang cantik dan menggunakan Kimono sangatlah menambah pesonanya. Rachel duduk di dekat Liyura.
"Jadi... dia dapat membunuh Vampir?"
Kata salah satu pria berambut cokelat yang duduk di seberang meja Liyura. Dan yah mereka duduk melingkar dengan meja bundar di tengahnya.
Liyura melihat mereka ada 5 orang termasuk Rachel dan Sena. Laki-laki 3 orang dan perempuan 2 orang.
"Yah, itu benar, Katananya itulah yang istimewa dan bahkan lebih istimewa dari Katana milik kita."
Mendengar perkataan Rachel, semuanya terkejut.
"Benarkah itu? Aku pernah melihatnya bersama Vampir yang telah terbunuh, jadi dia yang membunuhnya saat itu, Rachel?"
Ray, salah satu Jenderal Wisteria menatap Liyura dengan pandangan tajam.
"Yap, itu benar. Dan Liyura, bisakah kau jelaskan pada mereka hasil penyelidikanmu di Lembah Malam?"
"Para Vampir yang sekarang tidak bisa diremehkan. Salah satu Vampir Bulan dibantu oleh salah satu orang dari kita yang sama denganku yang bisa menggunakan hal semacam sihir. Karena itulah aku kemarin tidak bisa menemukannya sampai dua hari berlalu. Bahkan sekarang di Lembah Malam mungkin tidak boleh ada yang memasukinya lagi sembarangan karena disana terdapat sebuah Kekkai (Pelindung) dan ilusi di sana. Aku tidak mau ada yang tersesat di sana lagi karena jika ingin keluar haruslah dengan kekuatan sihir."
"Apa maksudmu? Kau berbicara apa?"
Pria berambut pirang dengan mata sipit berwarna serupa terlihat tidak mengerti apa yang dikatakan Liyura.
"Begini, ada seseorang yang mungkin lebih kuat dari Liyura dalam hal tipu muslihat dan menyesatkan kita yang berada di pihak para Vampir, kita sebut saja pengguna sihir. Sihir adalah suatu hal yang sangat tidak masuk akal, itulah yang kutahu dari Liyura."
"Jadi, bagimana caranya kita menghadapi sihir?"
"Dengan sihir lainnya. Aku juga membawa temanku ke sini untuk membantu. Dia sangat mengerti akan sihir hingga kita tidak usah khawatir akan hal itu. Masalahnya sekarang, aku masih belum menemukan kediaman salah satu Vampir Bulan bernama Rena. Dialah yang bersekongkol dengan pengguna sihir."
Mereka terlihat mengangguk-anggukkan kepala, tapi orang seperti Sena terlihat menggaruk kepalanya.
"Jadi, kau dapat Katana itu darimana? Kenapa Rachel bilang jika Katana itu lebih istimewa dari Katana kami."
"Ini dinamakan pedang. Pedang ini juga termasuk pedang legendaris. Aku tidak terlalu mengerti sejarahnya tapi pedang ini memanglah kuat. Hanya orang terpilih yang dapat menggunakan kekuatan asli dari pedang ini, pedang ini hanya punya 1 tuan dan sekarang akulah tuannya."
"Kau sebenarnya dari kota mana? Aku penasaran akan hal itu karena kau sangat mengerti akan sihir?"
"Duniaku berbeda dengan kalian. Jika kalian menggunakan hal seperti tenaga dalam, kami menggunakan hal semacam Mana atau sihir. Duniaku ditinggali oleh orang-orang kuat dan memiliki banyak Ras. Saat melihat Vampir, aku melihat hal yang biasa karena di kotaku mereka memanglah seperti itu, yaitu meminum darah manusia. Tapi mayoritas warga jiwa di kotaku banyak sekali Ras yaitu Penyihir dan Elf yang kemungkinan orang yang bersekongkol dengan Vampir di kota ini."
"Penyihir? Elf? Itulah yang membuat kau tidak bisa melacak kediaman Vampir Bulan?"
Kata Sena dengan berpikir dan menatap Liyura. Sedangkan Liyura hanya mengangguk dan menjawab, "Elf adalah Ras yang dapat menggunakan sihir kehidupan, contohnya adalah 4 elemen dan sihir penyembuhan. Elf juga bisa sihir ilusi, pelindung, dan Glamor. Sedangkan Penyihir atau Witch maupun Wizard adalah manusia yang dapat menggunakan sihir kegelapan atau sihir cahaya. Mereka dapat menggunakan sihir apapun termasuk ruang dan waktu dan tentunya dapat membuat sebuah portal sama seperti Elf."
"Begitu rupanya. Apakah ada yang bisa menghentikan orang ini?"
"Ada, aku mempunyai pasukan tersendiri untuk melawannya karena aku juga terikat janji dengan temanku untuk memusnahkan Vampir. Dan, apakah kalian tahu cara mengubah Vampir yang dulunya manusia berubah kembali ke wujud asalnya?"
Mereka terlihat berpikir sejenak, suasana menjadi hening seketika.
"Merubah Vampir menjadi manusia? Jika itu memang benar-benar dapat terjadi, maka kami tidak akan membunuh para Vampir yang dulunya adalah manusia! Aku yakin itu mustahil!"
Liyura terlihat menghela nafas mendengar perkataan pria berambut pirang , "Sungguh tidak ada cara? Aku sudah terlanjur berjanji padanya... Aku juga tidak bisa membiarkan dia menderita dan kecewa."
"Sebenarnya apakah cara itu memang ada? Jika hal itu dapat terjadi, pasti populasi Vampir di kota ini tidak akan meningkat."
Kata Ray lagi sambil menatap serius Liyura dengan tatapan dingin dan tajamnya itu.
"Jika cara itu memang ada, itu akan sungguh berguna untuk para Vampir yang dulunya adalah manusia dapat kembali ke bentuk sebelumnya. Tapi kemungkinannya tidak lebih dari 5% atau mungkin hanya 1%. Bisa disebut saja mustahil."
Kata Sena dengan tatapan mata yang sulit diartikan dengan sambil menatap Liyura.
"Jika ingin merubah Vampir menjadi manusia, caranya itu sebenarnya ada tapi kita tidak tahu bagaimana caranya."
Kata pemuda berambut cokelat dengan mata berwarna serupa. Hal itu membuat Liyura berpikir keras mengenai perkataannya sampai terlihat kerutan di dahi gadis itu.
"Oh ya, bagaimana dengan penyelidikan mengenai Nuzan Kyoro? Apa yang kalian temukan? Dia kan bisa disebut asal-muasal para Vampir."
Perkataan Liyura membuat suasana ruangan seakan memiliki aura yang suram dan aura pembunuh yang kental. Tapi Liyura tidak terpengaruh aura itu membuat para Jenderal Wisteria terheran-heran.
"Dia bukan Vampir, tapi dia itu Iblis! Aku sangat tidak mengerti dia dibuat dari apa karena dia sangatlah kejam. Dia sudah menjadikan beberapa manusia sebagai Vampir. Bahkan dia membunuh seseorang untuk memuaskan dahaganya itu. Dia menganggap manusia hanyalah boneka yang selalu bisa diperlakukan seenaknya! Jika aku bertemu dengannya, aku tidak akan ragu menebas lehernya sedikitpun."
Kata pria berambut pirang dengan mata sipitnya sambil berdiri dari kursi. Setelah mengatakannya, dia duduk kembali dengan tangan yang terkepal dan ekspresi marah.
"Kau masih tidak berubah, Erick. Kan sudah kukatakan untuk menjaga emosimu agar tidak ada api yang keluar melalui tubuhmu dan membakar kami."
Kata pria berambut cokelat sambil menatap pria bernama Erick dengan pandangan mengancam.
"Heh! Kau selalu begitu, Evan! Jangan menatapku seperti itu! Hanya karena kita sepupu bukan berarti kau dapat memerintahku!"
"Yah, tapi aku hanya mengucapkan saran saja padamu, sepupu Erick."
Kata Evan dengan nada yang geli. Erick terlihat marah dan memulai pertikaian. Rei menghela nafas dan segera menghentikan mereka.
"Diam! Jika ingin bertengkar nanti saja! Masalah Vampir ini belum selesai!"
Suasana menjadi hening seketika, Evan dan Erick langsung duduk tenang, menaati perintah dari Ray.
Liyura terlihat tertarik, dia menatap yang lainnya satu persatu.
"Baik, langkah selanjutnya biarkan aku dulu mencari kediaman Vampir Bulan Rena ini sebelum kita mencari kediaman Vampir Bulan lainnya. Tentang masalah Nuzan, aku ingin kalian mengumpulkan informasi tentangnya sedetail mungkin."
Ray terdiam, dia menatap Liyura tajam dan mengangguk, "Baik, lagipula ini tidak ada ruginya sama sekali. Kau yakin bisa menemukan Kediaman Vampir Bulan itu?"
"Tenang saja, aku mempunyai suatu cara. Karena aku sudah pernah gagal menemukannya, maka aku tahu rencana apa yang akan kugunakan selanjutnya. Dan, Vampir Bulan sebenarnya ada berapa?"
"Hanya ada 4. Vampir Bulan Sabit, Rena. Vampir Bulan Setengah Lingkaran, Vampir Bulan Gerhana, dan yang paling kuat setelah Nuzan, Vampir Bulan Purnama."
"Begitu, ya. Karena aku sudah tahu, jadi aku akan memulai pencariannya. Mungkin saat malam. Karena aku ingin membunuh Vampir lebih banyak."
"Kebetulan misi Rachel adalah membunuh Vampir di sekitar kota, dia dapat bergabung denganmu. Jika kalian beruntung, kalian akan bertemu para Pemburu Vampir lainnya yang sudah lolos berkompetisi."
Kata Evan dengan senyumannya kali ini. Erick hanya diam dan berkata juga tidak lama kemudian.
"Rachel, ajak dia untuk membantu calon Pemburu Vampir dalam hal berkompetisi terlebih dahulu. Urusan Vampir Bulan Rena, kami akan mencari informasinya barulah akan mengutus kalian mencari tempat tersebut."
Evan menatap keduanya dan menunggu persetujuan mereka.
"Bagaimana, Liyura?"
***
Konichiwa, Minna-san~
Maaf untuk UP Yang terlalu lama, tapi saya tidak mengecewakan kalian. Semoga kalian sehat selalu agar dapat mendukung Author tanpa adanya gangguan..
Arigatou untuk dukungannya, Sampai jumpa minggu depan lagi~