Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 55 Jalan Berbatu


Hari telah malam, Liyura dan Zayn terlihat berjalan bersamaan melewati sebuah desa. Mereka sedikit menarik perhatian warga karena paras Liyura yang cantik dan berbeda dari mereka apalagi mungkin karena gadis itu mempunyai Skill Charm.


Sedangkan Zayn terlihat merasa aneh melihat tatapan dari para warga. Liyura melihat jika desa itu terlihat sangat sepi. Yang berlalu- lalang di jalan yang sama dengan mereka hanyalah sedikit orang.


Liyura melihat di setiap jalan terlihat orang yang mengemis dengan baju lusuh dan tidak diperlakukan dengan manusiawi.


Liyura juga melihat seseorang yang menangis keras hingga membuat perhatian mereka teralih padanya. Saat Liyura dan Ryan menghampiri arah suara itu, dia melihat seorang perempuan yang sedang mendekap anaknya yang telah tidak bernyawa dengan dua titik kecil seperti bekas gigitan di lehernya.


Wajahnya yang pucat juga menambahkan kesan sedih dan iba pada mereka. Ryan terlihat memalingkan mukanya karena dia tidak sanggup melihatnya.


"Kenapa?! Kenapa kau meninggalkan Ibu, Nak?! Hiks... hiks... hiks..."


Teriakan pilu terdengar dan juga tangisan keras yang membuat hati sakit saat mendengarnya. Liyura merasa kesal pada para Vampir yang membunuh anak yang terlihat berumur 10 tahun itu.


Betapa kejam yang mereka lakukan. Seakan manusia ada hanya untuk mereka mangsa dan di minum darahnya begitu saja bagai ternak. Mereka juga dapat dibunuh ketika para manusia tidak mau menuruti keinganan para Vampir.


Liyura akhirnya meninggalakan jalan bersama Ryan agar ketika menatap mereka tidak ikut sedih mengenai kejadian itu. Ryan menghela nafas, dia tidak menyangka jika korban serangan Vampir akan semakin banyak sepanjang waktu jika mereka tidak dimusnahkan terlebih dahulu.


Liyura nenepuk pundak Ryan membuat pemuda itu mendongak menatap Liyura yang lebih tinggi darinya.


"Terus jalan dan jangan pikirkan hal yang tadi."


Ryan tidak punya pilihan selain menghela nafas dan segera menatap ke arah jalan. Liyura tersenyum kecut, dia kemudian mengeluarkan sebuah Magic Map dari System Room nya untuk menunjukkan jalan pada mereka menuju Lembah Wisteria karena Liyura tidak tahu dia dan Ryan ada di mana sekarang.


Saat mereka melewati jalan sepi, Liyura langsung mengaktifkan Magic Map untuk mencari keberadaan Lembah Wisteria membuat Cahaya keluar dari peta ajaib itu.


Cahaya itu menuntun mereka untuk mencapai tempat tujuan yang mereka inginkan. Cahaya terbang ke arah utara membuat mereka mengikuti cahaya itu.


Tapi sebelum itu, ada yang menghadang jalan mereka. Karena gelapnya malam dan tidak ada lampu jalan, penglihatan mereka tidak bisa melihat sesosok itu.


"Hmm~ Makanan Lezat...Kalian akan menjadi santapan pemuas dahagaku."


Segera setelah Liyura dan Ryan mendengar suara itu, mereka langsung berasumsi jika sosok di hadapan mereka adalah Vampir.


Seperti yang di duga, sosok itu langsung menyerang tanpa aba-aba hingga Liyura akhirnya terkena serangannya karena dia tidak mengantisispasi serangan yang diarahkan Vampir itu padanya.


Liyura terpental hingga Ryan menggunakan sihirnya untuk membuat cahaya.


"Ahh! Apa yang kau lakukan? Matikan cahayanya!"


Vampir terlihat terbakar dengan pancaran sinar yang muncul di tangan Ryan. Saat mendengar hal tersebut, Ryan menjadi sangat senang.


"Kau takut dengan ini?! Kalau begitu, aku akan menggunakannya sampai kau habis tak tersisa barang seabupun!"


"Tolong singkirkan itu!!!"


Liyura berdiri kembali dengan menyeka darah yang mengalir di sudur bibirnya dengan tangan dan tersenyum miring.


Dia sama sekali tidak merasakan sakit tadi saat diserang oleh Vampir itu karena poin HP nya masihlah berjumlah angka yang fantastis.


"Bagus, Ryan! Jika kau ingin membalas dendam, inilah waktunya! Aku tidak akan mengganggu sedikitpun!"


Ryan mengangguk dan memperbesar bola cahaya yang berpendar hingga seukuran kepala dan meluncurkannya ke arah Vampir itu hingga sosok itu terbakar seketika dengan menyisakan baju yang telah compang-camping akibat dibakar dan diiringi suara pilu hingga akhirnya terhenti.


Liyura menghampiri Ryan, "Kelemahan Para Vampir adalah cahaya, mereka tidak berani untuk keluar saat pagi maupun siang hari. Tapi sihirmu yang tadi itu adalah perwujudan dari matahari."


Ryan menatap Liyura lama dan menunduk, "Aku merasa tidak pantas membunuh mereka meskipun mereka membunuh keluargaku. Lagipula aku tahu jika mereka meminum darah manusia bukan jarena keinginan mereka, tapi rasa aneh itulah yang menyebabkan mereka menjadi monster. Mereka meminum darah manusia mungkin karena untuk bertahan hidup..."


Liyura terlihat takjub dengan pemikiran Ryan. Dia masih bersimpati pada Vampir yang telah membunuh keluarganya? Sungguh pemuda di hadapannya memiliki hati yang besar dan tulus.


"Ryan, sudah kubilang kau tidak boleh mengampuni siapapun yang tidak pantas diampuni. Aku tahu perkataanmu ada benarnya tapi perkataanmu ini tidak akan bisa diterima oleh orang-orang diluar sana yang keluarganya dibunuh begitu saja oleh Vampir. Aku tahu kau mempunyai rasa yang sangat manusiawi bahkan untuk makhluk yang membunuh keluargamu sendiri. Tapi, apa kau yakin jika kita membiarkan Vampir itu berkeliaran setiap malam dan membunuh semua orang hingga peradaban manusia tidak ada lagi? Kau sungguh menginginkan hal tersebut?"


"Bukannya aku menyuruhmu untuk memilih, Ryan. Tapi aku hanya ingin membuka matamu itu tantang Vampir. Mereka di ciptakan memang ada alasannya tapi bukan berarti mereka harus merugikan makhluk lain, 'kan? Meskipun itu sudah takdir mereka untuk meminum darah manusia, tapi itu juga merupakan takdir kita untuk memberikan perlawanan pada mereka. Kau mau diam saja melihat semua manusia yang sama Rasnya dengamu dihabisi dan di perlakukan seperti ternak?"


"Tidak...Tidak! Baik... aku akan membunuh mereka semua! Nona Liyura, apakah ini adil bagi kita melawan mereka? Bukankah ada juga Vampir yang baik seperti adikku di luar sana juga?"


"Entahlah, Ryan. Tapi kita pantas untuk melawan mereka. Kita 'kan tidak mungkin melawan jika kita tidak disakiti, itulah manusia."


Ryan terlihat merenung dan akhirnya mengangguk, dia menatap ke depan dan akhirnya tersenyum.


"Aku akan melawan mereka demi membalaskan dendam keluargaku dan juga membalaskan dendam atas semua orang-orang yang dibunuh oleh Vampir itu!"


Liyura tersenyum dan akhirnya berjalan kembali secara beriringan dengan pemuda itu sambil menjalankan kembali cahaya yang sempat berhenti karena mereka dihentikan.


Mereka berjalan kembali menuju Lembah Wisteria dan kali ini tidak ada keraguan lagi di dalan hati Ryan akan membunuh Vampir.


Pemuda itu telah memutuskan untuk melewati jalan seperti Liyura. Jalan penuh darah akan darah Pendosa.


Hari itu malam menjadi sangat suram karena mungkin Vampir yang berkeliaran dan mengendap-endap untuk membunuh manusia dari balik kegelapan.


Mereka---Liyura dan Ryan juga terlihat bosan berjalan karena sudah 2 jam mereka berjalan tapi sama sekali masih belum sampai di Lembah Wisteria.


Sambil berjalan, mereka juga telah berbincang mengenai hal yang tadi hingga mereka akhirnya sampai di sebuah hutan yang dipenuhi bunga berwarna ungu yang cantik, sampai mereka bertemu dengan seseorang.