Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 43 Salah Tempat


Di waktu yang sama, Liyura lari secepat kilat dari posisi Eden dan Qin lalu memuju ke arah Evol dan yang lainnya berada.


Saat setelah gadis itu sampai, dia melihat pemandangan mengerikan. Evol dan yang lainnya seakan di kerubungi oleh Kelelawar yang bercicitan terbang di sekeliling mereka.


Ada juga Kelelawar yang berubah menjadi manusia dan bertarung satu lawan satu melawan Zayn maupun Ryan.


Sedangkan Evol sendiri terlihat terpojok karena para Kelelawar yang mengerumuninya. Evol yang merasa terancam dan terganggu langsung menembakkan Api Emasnya ke arah Kelelawar dengan acak karena dia tidak bisa melihat posisi Kelelawar itu dengan jelas dan lagi Evol juga sepertinya terkena halusinasi dari pekikan Kelelawar.


Liyura lebih dulu menolong Evol dan berusaha agar tidak terkena api emas yang dilemparkan Jaquin itu. Evol meraung seakan meminta tolong, Liyura tidak menunggu lama dan menebas dengan kejam sekumpulan kelelawar tanpa ampun yang mengganggu Evol-Nya.


Kelelawar itu akhirnya balik menyerang Liyura, tapi Liyura segera menebas semuanya dengan Skill yang dimilikinya.


"Gold Wave!"


"Crescent Slash!"


"Swing Breaker!"


Liyura menabas dan menebas tumpukan Kelelawar yang mengganggu dirinya. Liyura juga berusaha agar tidak terkena halusinasi dari Kelelawar itu dengan terus menebas mereka tanpa henti dan menulikan pendengarannya.


Akhirnya Kelelawar itu berhenti bercicit di sekeliling mereka karena Liyura telah menebas semuanya secepat mungkin.


Evol juga terlihat tenang, dia menghampiri Liyura. Liyura mengerti perasaan Evol dan memilih memeluk Jaquin itu agar tenang.


Saat setelah itu, akhirnya Evol dan Liyura membantu Ryan dan Zayn. Ryan dan Zayn masih bertarung imbang dengan salah satu Manusia Kelelawar yang menyerang mereka.


Liyura dengan teknik pedangnya segera menebas Manusia Kelelawar dari belakang yang menyerang Ryan, membuat Ryan segera menghentikan serangannya saat Manusia Kelelawar itu tumbang terbelah menjadi dua.


Sedangkan Ryan yang masih bertarung, Evol menembakkan Api Emas nya ke Manusia Kelelawar itu hingga hangus tak bersisa barang se-abu pun.


Ryan terengah-engah dan segera ambruk ke tanah dengan bertopang pada pedang putihnya. Sedangkan Zayn menghampiri pemuda itu.


"Ryan, kenapa gerakanmu tadi kaku sekali? Kau baru kali ini menyerang musuh, ya?"


Ryan hanya mengangguk, sedangkan Liyura maupun Evol segera menghampiri keduanya.


"Ryan, kau harus berlatih lebih keras, jika memungkinkan kau boleh menggunakan teknik rahasiamu yang diajarkan oleh ketiga pengikutku. Cepatlah menjadi kuat!"


Liyura mengatakannya dengan menepuk keras pundak pemuda itu. Ryan sekali lagi mengangguk dan menegakkan dirinya.


Ryan menatap pedang Bulan Sabit yang diberikan Liyura padanya. Liyura yang mengerti akan hal tersebut hanya tersenyum.


"Kau boleh sepuasnya menggunakan pedang Bulan Sabit tanpa khawatir akan mengembalikannya. Untuk sekarang kau bisa menggunakannya sesukamu. Permintaan dariku jika kau memang ingin menjadi pengikutku, kau harus kuat dan jangan sampai mati. Jika ada lawan yang tidak bisa kau hadapi, lawanlah bersama."


Liyura mengatakannya sambil tersenyum membuat Ryan mendapat semangatnya kembali.


"Dan Nona Liyura, bagaimana? Apa kau sudah tahu bagaimana cara mengembalikan adikku menjadi manusia lagi?"


Liyura terlihat murung, "Aku tidak tahu, tapi katanya sih caranya adalah mengalahkan sang Raja Vampir, Nuzan Kyoro, hanya itu yang kutahu tapi itupun juga masih belum tentu dapat membuat adikmu menjadi manusia kembali."


Ryan menghela nafas, "Jika memang itu caranya maka aku akan ikut melawan dia bersama Nona."


Liyura terlihat berpikir dan mengangguk, "Baik, ini akan jadi pelajaranmu agar kau siap untuk membunuh. Selamat datang di dunia kelam. Jika kau tidak ingin dibunuh, kau harus membunuh, itulah peraturannya. Karena kau sekarang adalah pengikutku, apapun yang terjadi kita akan menghadapi semuanya bersama."


Ryan menganguk, "Jadi kita berada di sini mengalahkan Nuzan?"


Zayn yang akhirnya mengangguk mendengar pertanyaan Ryan, "Yap. Karena Liyura memberitahu para Jenderal Wisteria jika di sini terdapat sebuah Rumah Labirin."


Ryan terlihat berpikir dengan mengarahkan matanya ke atas, "Tunggu dulu. Kenapa kita semudah itu mendapatkan informasi? Nona Liyura tahu dari mana jika di sini terdapat Rumah Labirin?"


Liyura mengernyit, dia segera mengeluarkan Magic Map dari System Room nya. Liyura mencari dengan detail keberadaan Rumah Labirin.


"Analisa yang bagus, Ryan. Ternyata aku lengah. Mana ada di sekitar sini terdapat sebuah rumah? Itu adalah hal yang aneh karena tempat di sini merupakan tempat terlarang yang tidak boleh dikunjungi. Dan ternyata Rumah Labirin itu berada di---"


Sebelum Liyura melanjutkannya, mereka merasakan aura aneh yang menyebar di sekeliling hutan. Liyura dan yang lainnya juga mendengar sebuah teriakan yang ternyata adalah teriakan Qin.


Mereka semua mengernyit, sedangkan Liyura tersenyum.


"Sepertinya Eden sedang bersenang-senang. Dasar, andaikan saja kalian dapat mengatasi ini pasti aku sedang melawan Vampir itu."


"Maksudmu?" Tanya Zayn dengan sangat penasaran.


"Yang melawan Qin barusan adalah pengikutku, yaitu bernama Eden. Dia orangnya aneh. Dan Oh ya, Rumah Labirin itu sebenarnya tidak ada. Aku di bohongi oleh Vampir ****** Itu. Rumah Labirin itu sebenarnya tidak ada di sini, tapi di tempat lain. Dan aku baru tahu soal hal ini karena tersadar perakataan Ryan. Aku tidak percaya jika aku lengah hingga mempercayai apa yang dikatakan musuh."


"Nuzan ini adalah orang yang hebat. Atau mungkin dia lebih hebat dariku. Bahkan dia mungkin sekarang tahu pergerakan kita melalui mata seseorang. Karena dia berpikir jika aku akan percaya dan mengatakannya pada para Jenderal Wisteria dan memancing mereka ke sini, sedangkan Castle kuno di Lembah Wisteria sendiri akan diserang. Ini buruk, karena aku, mungkin tidak akan ada lagi bunga Wisteria yang tumbuh karena para Vampir itu mungkin akan menghancurkannya disebabkan bunga itu adalah kelemahan mereka."


Mereka semua menjadi semakin tegang saat mendengar perkataan Liyura.


Zayn terlihat gusar. Dia ingin cepat-cepat kembali. Liyura hanya mengangguk dan mengkode mereka untuk ke tempat Qin dan Eden berada.


•••


Sedangkan di waktu yang sama, Eden sedang menikmati teriakan pilu Qin yang telah berubah wujud.


Mata Qin yang tadinya berwarna semerah darah menjadi hitam. Sayap Kelelawar yang ada di punggungnya tiba-tiba menghilang begitu saja.


Urat-urat berwarna hitam juga menonjol di seluruh tubuhnya. Sedangkan wajahnya terlihat kesakitan hingga air matanya keluar dengan sendirinya.


Qin sekuat-kuatnya meronta di permukaan tanah membuat Eden tersenyum, terhibur.


"Sebentar lagi, kau akan menjadi pengikutku."


Eden tertawa keras membuat para burung yang bertengger di pohon terbang menjauh tidak beraturan.


Sedangkan Qin hanya meraung, meronta, dan berteriak tanpa akhir.


Dan saat itulah Liyura dan yang lainnya tiba. Mereka semua membulatkan mata, kecuali Liyura dan Evol. Mereka mungkin sudah terbiasa dengan hal yang ada di hadapan mereka.


"A-apa-apaan ini?"


Zayn menelan salivanya kuat-kuat, dia menatap Qin yang bertransformasi dengan wujud mengerikan yang tentu saja itu bukanlah berwujud manusia lagi.


Zayn mengedarkan pandangannya ke arah Eden dan gemetar melihat sosok itu yang tertawa begitu senang.


Sedangkan Ryan merasa terkejut dan syok melihat makhluk yang menjadi gurunya adalah seorang iblis.


Dan Liyura menghampiri Eden dengan pandangan datar, tidak memperdulikan teriakan berisik yang dikeluarkan Qin.


"Wah, kenapa kau tidak menungguku jika kau ingin bersenang-senang? Dasar, padahal hanya kutinggal sebentar."


Liyura menatap Eden yang sekarang berhenti tertawa, sosok itu memandang Liyura dengan teliti.


"Kau datang begitu lama, sehingga aku memutuskan untuk menjadikan pemuda ini menjadi Undead sepertiku."


"Hmm, ternyata itu yang kau lakukan. Terserah apa maumu Eden. Kau harus kembali, Aver mulai tadi mengoceh di kepalaku untuk mengurungmu kembali."


"Dasar tua bangka! Baik, aku akan ke Magic Forest lagi setelah pemuda itu berubah wujud seutuhnya."


Liyura mengangguk, "Baik, jika dia menjadi pengikutmu, kau harus mengorek informasi darinya mengenai cara Vampir berubah kembali menjadi manusia. Aku mohon bantuanmu, Eden."


Liyura tersenyum miring, sedangkan Eden mengangguk, "Demi Ryan, kenapa tidak? Lagipula kita adalah sekutu, kau bisa memerintahkan aku apapun untuk saat ini."


Liyura akhirnya menatap Qin lagi, "Berapa lama ini berakhir? Telingaku sakit mendengarnya berteriak seperti itu."


"Sebentar lagi selesai. Dan yah, ternyata dia bukan Vampir Bulan. Kakaknya lah Vampir Bulan itu sendiri. Melihat tanda yang ada di mata kanannya sepertinya palsu."


"Kakaknya katamu? Bukankah dia tadi di siksa oleh anak ini. Mana mungkin dia adalah Vampir Bulan?"


"Jangan lengah karena kau percaya pada kemampuanmu. Kau harus pintar membaca pergerakan musuh. Dan jangan terkecoh karena taruhannya adalah mati. Kau beruntung Liyura kau masih punya banyak makhluk yang ada bersamamu kapanpun. Jika kau mati sebelum mengeluarkan kami dari segel, itu artinya kita semua juga akan mati."


Pandangan Liyura menjadi datar, "Maaf, Eden. Aku terlalu bersemangat, terima kasih sudah mengingatkan. Aku hanya perlu beradaptasi di dunia yang memang sudah hancur ini. Kalau begitu, serahkan Vampir Bulan itu padaku."


Eden terligat murung, "Yah, padahal aku masih kurang bersenang-senang. Jika aku menjadikan Vampir Bulan itu sebagai pengikutku, mungkin akan lebih mudah mendapatkan informasi."


Liyira memiringkan kepalanya, "Kau yakin? Jika kau mau kau dapat menjadikannya pengikutmu juga."


Eden menatap Liyura dan akhirnya memerintahkan gadis itu menyegelnya kembali ke dalam Magic Forest.


Liyura memejamkan mata dan mengirim Eden serta Qin ke dalam Dunia segelnya. Eden dan Qin terserap begitu saja dan masuk ke dalam Tanda yang ada di kening Liyura yang bercahaya.


Zayn berbinar melihat itu, dia menghampiri Liyura sambil memuji gadis itu.


"Wow, luar biasa. Apakah itu tadi adalah sihir?"


Liyura melihat Zayn dan mengangguk, "Kau bisa menganggapnya begitu."


Liyura tersenyum dan melihat sekeliling. Dia tidak menyadari jika sosok yang menjadi Vampir Bulan yang sempat di siksa dan tidak sadarkan diri menghilang.


"Mau main petak umpet? Sayangnya sudah terlalu tua untuk sekarang."


Liyura tersenyum miring dan mencari dengan kelompoknya mengelilingi Hutan itu..