
Setelah bertemu dengan salah satu Sang Dewa Kematian, Liyura akhirnya tersadar dan terbangun dari mimpinya. Satu hal yang menganggu pikirannya sekarang adalah tujuan para Vampir yang menjajah Lantai 2 tanpa Sihir yang dia dan pengikutnya pijak sekarang.
Seorang gadis Vampir bernama Ivone, entah kenapa Liyura merasa ada yang aneh dengan gadis itu setelah ia menyadari sesuatu. Kenapa rencananya dan persepsinya selalu salah tentang masalah Vampir ini? Masalah nya, Liyura tidak menyangka jika bukan Nuzan Kyoro lah yang akan di lawannya tapi malah seorang gadis yang terlihat lebih tua darinya beberapa tahun yang mengaku sebagai 'Wadah' Sang Raja Vampir.
Liyura punya segalanya dan punya kemungkinan besar untuk menang, tapi ia tidak bisa gegabah terlebih dahulu dan langsung mengambil keputusan begitu saja dengan melawan gadis Vampir di hadapannya itu.
Yang bisa Liyura lakukan saat ini adalah mencari tahu hal lebih detail siapa musuh nya yang sebenarnya. Entah siapa itu tapi Liyura tidak yakin harus melawan gadis Vampir di hadapannya. Mungkin posisi Ivone saat ini hampir sama seperti Vyone, Vampir Bulan Sabit yang menjadi pengikut nya sekarang.
Liyura menatap Aver dan segera berjalan dan berhenti tepat di sampingnya.
"Berikan aku solusi, Aver. Mungkin dengan pendapatmu, kita bisa berhasil lebih cepat dalam menyelesaikan masalah ini."
Aver menatap Liyura setelah mendengar apa yang di katakannya.
"Sepertinya kita memang harus melawannya. Karena jika dia memang benar Wadah dari si Raja Vampir, maka gadis itu pasti akan menjadi duri kita menyelesaikan masalah ini."
Liyura ragu.
"Aku melihat Vyone dalam dirinya, Aver."
Aver akhirnya menatap ke arah Liyura dan memegang pundak gadis itu, "Ingat siapa dan berada di posisi apa sekarang kau, Liyura. Lihat sekitar mu, kau mempunyai banyak pengikut seperti yang kau inginkan, dan juga nyawa yang sangat berharga bagi diri masing-masing telah kau genggam dan dapatkan dengan mudah. Jadi, kau sama sekali tidak punya pilihan selain berjuang bersama mereka. Dan 'Ragu' sama sekali tidak ada dalam kamus kita."
Liyura terlihat lebih tenang. Ia bersyukur memiliki semua orang yang saat ini berada di sampingnya. Aver benar, ia tidak punya pilihan selain bertarung dan berjuang bersama, karena itulah tujuannya sejak awal.
Menjadi kuat. Dan itu bukan berarti haruslah seorang diri. Setiap orang pasti tidak akan bisa bertahan dalam kesepian dalam hidupnya. Pasti seseorang juga harus mempunyai satu orang saja dalam hidupnya, agar hidup tersebut lebih bermakna meskipun berlalu dalam sekejap.
Liyura juga begitu. Dia juga egois, tapi janji nya pada setiap orang membuatnya harus berani berbuat dan berani bertanggung jawab.
Lari dari masalah sama sekali bukan pilihan yang tepat untuk sekarang, karena sedari awal, memang tidak ada jalan pintas untuk menaiki Lantai selanjutnya.
Liyura menatap ke arah depan dan menatap sekitarnya. Ia melihat Vyone dan Kenzie juga menatapnya balik dengan tatapan yang hangat dan bersahabat. Lalu gadis itu melihat Ryan dan Celine dengan ekspresi yang sangat berharap dan mata yang berkaca-kaca. Kemudian, ia melihat Arend di samping Ryan dengan tatapan yang datar, dan terlihat sangat menginginkan pertarungan, Mata Naga nya terlihat bersinar dan berkobar seiring waktu.
Hanya satu yang kurang, Erza.
Namun, mereka tidak bisa memprioritaskan Elder Ras Burung Hantu itu sekarang. Lalu akhirnya Liyura menatap ke depan dan dia menyadari jika Amon juga menatapnya sehabis melawan Vampir Bulan Gerhana.
"Tuan. Karena kau adalah orang yang di hormati oleh guruku, maka aku juga harus menghormati mu, ini juga balasan sebagai bentuk dirimu pernah menyelamatkan ku dan kakak."
Liyura hanya mengangguk, "Tentu saja."
Liyura dengan langkah tegap menghampiri Ivone yang terlihat menunggu.
"Sepertinya tidak ada yang bisa di bicarakan. Padahal lebih baik menyelesaikan masalah dengan berdiskusi tapi itu sama sekali tidak membantu."
Ivone terdiam.
"Jika kau mau, kau punya pilihan, membebaskan para Manusia atau membebaskan para Merpati."
"Pilihanku adalah Membunuh."
Liyura menebas Ivone dengan cepat menggunakan Skill Light Movement yang di milikinya. Tanpa ia sadari, sesosok bayangan yang bersinar terlihat terbahak di dalam kesadaran jiwanya. Ia tertawa hingga tanpa sadar air matanya muncul di sudut matanya membuat tangannya langsung mengusapnya pelan.
"Manusia... semakin lama mungkin semakin menarik dari abad ke abad. Sepertinya Green juga akan menjadi gila tertawa jika melihat ini."
Sedangkan Liyura terlihat berhasil menebas Ivone dengan cepat, darah merembes keluar tanpa henti dengan di iringi tubuh yang ambruk.
"Maaf. Sayangnya aku punya pilihan sendiri di antara kedua pilihanmu. Aku memilih dengan caraku sendiri."
Semua orang yang melihatnya hanya tersenyum miring kecuali Celine dan Ryan. Semua orang memang sudah mengira jika Liyura akan melakukan hal itu, bahkan Aver pun juga telah menduga nya.
"Aku memang wadah nya, tapi dengan kalian membunuhku, bukan berarti kalian sudah Menang. Tapi, terima kasih sudah membebaskan ku."
Ivone menatap langit dengan matanya yang buram karena air mata darahnya sendiri yang mengalir begitu saja dengan deras. Meskipun Ivone adalah yang terkuat sekalipun setelah Nuzan dalam Ras Vampir, dengan pedang Excalibur milik Liyura yang lebih istimewa dari Katana khusus seorang Pembunuh Vampir tidak sulit untuk membunuhnya.
Liyura menatap datar, mata merahnya masih menyala dengan terang seolah tidak puas melihat darah yang bercecer deras keluar dari tubuh makhluk apapun yang di tusuk oleh pedangnya.
Dia yang sudah memilih jalan penuh darah ini, maka dia juga lah yang akan menerima semua karma perbuatannya..
"Dia kalah semudah itu? Tidak menarik, padahal kekuatannya tadi dapat menghentikan pergerakan pedang Excalibur Tuanku. Dan lagi Auranya juga mengalirkan Aura seorang calon Raja Ras Vampir. Tapi sepertinya memang benar jika dia hanyalah sekedar wadah saja."
Perkataan Aver di angguki oleh Arend, "Kali ini aku setuju denganmu, Raja Undead. Apakah Ras Vampir yang merobohkan beberapa Ras lain hanyalah kebohongan belaka? Andai aku bisa melihat bagaimana Ras ku sendiri di hancurkan okeh Ras Vampir ini, aku pasti akan mengetahui seberapa brutalnya mereka."
Aver menatap Raja Ras Elang Harpa itu dengan tatapan menyelidik dan berpikir.
"Sepertinya ada sesuatu yang tidak kita ketahui. Aku yakin kita akan mendapatkan balasan yang setimpal jika kita menyelesaikan permasalahan Vampir di Lantai 2 ini sampai ke akar-akarnya."
Liyura menancapkan pedang Excalibur nya ke tanah dan terlihat bertumpu pada pedang itu. Ia juga melihat langit yang saat ini telah bertabur ratusan atau bahkan ribuan bintang di atasnya.
Ia melihat ke atas langit dengan lama, membuatnya secara tidak sadar mengubah warna matanya yang berwarna semerah darah kembali normal ke warna hijau zamrud nya yang sebelumnya.
Liyura merasakan angin kencang menerpa wajah dan anak-anak rambutnya yang berkibar ke belakang, di rasakan tubuhnya terasa menggigil dalam sesaat, itu membuat Liyura berhenti menatap langit yang terlihat tidak akan berubah sebelum sang Surya kembali bersinar menggantikan Bulan.
Ia menatap semuanya, dan bersyukur atas segalanya.
.
.
.
.
Maaf lama banget buat Comeback... Sebenarnya Author sibuk karena Hari Raya sedari bulan kemarin... š¢š¢ entah sudah berapa lama Author Hiatus tapi Chapter masih belum tuntas Season 1 untuk CO... Untuk Chapter selanjutnya akan Author usahakan Crazy Up.