Chronicle Online

Chronicle Online
Ch. 66 Masalah Yang Sulit


Hari telah hampir siang, tapi Liyura masih tetap berada di pohon Bunga Wisteria. Entah kenapa dia ingin mendengar suara itu lagi. Tapi sepertinya dia hanya bisa mendengarkan satu kali dalam hidupnya.


Liyura menutup matanya mendengarkan suara angin semilir yang terasa sejuk. Tanpa sadar, dia tertidur bersandar di pohon itu.


***


Di dalam mimpi Liyura, Liyura melihat kejadian dimana dirinya akan sangat terkejut dengan terungkapnya siapa Player yang berhasil mencapai lantai ke dua.


Liyura juga melihat kejadian aneh lagi yaitu dimana dia berlumuran darah di dalam sebuah pertarungan tiada akhir dengan di belakangnya terdapat 4 orang yang selalu membantunya menghadapi apapun. Tapi Liyura tidak bisa melihat dengan jelas siapa mereka, tapi ucapan dari Roh Bunga Wisteria selalu menghantuinya bagaikan kata-kata itu selalu terngiang seperti kaset rusak di kepalanya.


Liyura terlihat mendengar beberapa percakapannya dengan 4 orang itu yang memegangi pedang masing-masing dan bersedia melindunginya apapun yang terjadi. Liyura juga melihat jika di dalam mimpinya, ada seorang gadis yang duduk di sebuah tahta yang sangat gemerlapan, bahkan dengan samar Liyura melihat Naga, bukan hanya satu tapi 2 Naga terlihat.


Liyura terlihat bercucuran keringat saat bermimpi hingga dia melihat sebuah menara yang sangat besar dan tinggi, sesuatu yang mengejutkan membuatnya terbangun seketika dengan nafas yang tidak teratur dan terengah-engah.


Liyura memegangi kepalanya yang terlihat sangat sakit, seperti ada ratusan jarum yang menancap di kepalanya itu. Liyura bahkan terlihat merintih.


Liyura menutup matanya dan memegangi kepalanya dengan kedua tangan, sesuatu seperti ingatan muncul di kepalanya begitu saja seperti kaset rusak dan rekaman dari Film.


Selama beberapa saat, Liyura akhirnya tidak merasakan sakit lagi. Gadis itu terlihat terkejut, sebenarnya apa itu tadi?


"A-apa maksudnya itu? Apa itu yang akan terjadi di masa depan?"


Liyura terlihat terkejut, bahkan keringatnya terlihat bercucuran kembali. Liyura mematung, dia menatap sesuatu dan terlihat bengong untuk beberapa lama.


"Apa keempat orang itu adalah pelindungku?"


Liyura menghela nafas dan menggeleng keras, "Hah, terserah apa yang terjadi di masa depan aku akan menjalaninya apapun yang terjadi. Asalkan aku bisa bertemu dengan kakakku lagi yang sedang kucari di sini dan membalaskan dendamku pada dua orang itu, aku tidak akan menyerah."


Liyura terlihat berdiri, kelama-lamaan berada di pohon ini membuatnya merasa sangat letih, bahkan kakinya terasa kesemutan karena duduk terlalu lama.


Liyura hanya perlu fokus untuk meneyelesaikan masalah tentang Vampir ini dulu, sepertinya Aver dan yang lainnya kali ini harus ikut campur membantunya jika keadaan sudah di luar kendali gadis itu.


Meskipun niat Liyura pertamanya adalah dia tidak mau terlalu bergantung pada pasukan Magic Forest yang bisa disebut Kartu Truf- nya untuk menghadapi musuh yang kuat, karena jika Liyura terus bergantung dia pasti tidak akan bekerja keras lagi dan memilih mereka lah yang menyelesaikan tugasnya.


Liyira tidak mau menjadi orang yang pemalas untuk mengerjakan apapun, karena hal ini adalah masalahnya, dia tidak bisa meminta bantuan orang lain bahkan siapapun. Bagaimanapun dia harus menyelesaikan masalahnya sendiri, tapi jika memang masalah itu tidak bisa di hadapinya, maka itulah saatnya dia meminta bantuan, jika masalah itu sudah di luar kemampuannya.


Liyura akhirnya menatap langit sekali lagi, "Langit ini begitu aneh, rasanya sangat dekat tapi ketika ingin kita gapai rasanya sangat tinggi dan bahkan dengan sihir pun tidak ada yang bisa mengukur berapa tinggi langit dari permukaan tanah. Apakah lantai di Mozart ini berupa menara ataulah sebuah tempat? Jika itu adalah Menara, apakah Menara itu dapat melebihi tinggi langit ya jika di dalam Menara itu berisi Lantai 100..."


Liyura terlihat mengulurkan tangan pada langit seakan dia ingin menggapainya tapi dia merasa langit sangatlah jauh dari tangannya.


"Mungkin impian dikatakan harus digapai setinggi langit karena impian hanyalah impian, bagaimanapun kita tidak tahu itu akan terwujud atau tidak. Untuk langit sendiri, mereka menamainya dengan sinonim (Persamaan) impian adalah karena langit mungkin adalah puncak tertinggi dari dunia? Bahkan berapapun Gunung yang ada tidak akan ada yang bisa mengalahkan tinggi dari langit itu sendiri. Aku ingin tahu, apakah sihir terkuat di Mozart ini adakah yang bisa mengukur ketinggian langit? Dan bagimana jika diukur dengan jarak Matahari?"


Liyura tersenyum dan akhirnya dia berjalan menyusuri taman yang dipenuhi dengan Bunga Wisteria. Bunga ungu yang sangat indah membuat hatinya jadi semakin tenang, Liyura juga melupakan tentang ingatan tadi, apapun yang terjadi ke depannya dia akan menghadapinya, sesulit apapun itu. Karena lagipula dia masih punya orang-orang yang akan terus berada di sampingnya.


Liyura tidak sabar untuk menghadapi berbagai macam petualangan di Mozart ini, dia penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya?


Liyua menggeleng dan tersenyum, dia memetik Bunga Wisteria dan mencium bunga kelopak ungu itu. Rasanya sangat harum dan segar, dia melihat di kelopak tersebut terdapat embun-embun yang basah.


Liyuaa terlihat senang dan melangkah lebih jauh dan dia bertemu dengan seseorang.


"Oh? Bukankah kau Liyura ya?"


"Oh, Sena. Ada apa kau di sini?"


"Aku menyukai Bunga Wisteria, untuk itulah aku ada di sini untuk melihat bunga-bunga ungu yang bermekaran dengan indahnya ini."


"Benar sekali, aku juga menyukai bunga ini. Rasanya saat aku melihat bunga ini, hatiku menjadi tenang dan tentram, pikiran negatif yang kupikirkan menjadi hilang."


Sena tersenyum, "Aku juga merasakan hal yang sama."


Liyura memang terlihat senang, tapi karena perkataan Ryan tadi, dia menjadi agak waspada tanpa ada yang mengetahuinya.


Liyura memperhatikan gerak-gerik dari Sena, siapa tahu gerakannya terlihat mencurigakan. Liyura menutupi hal tersebut dengan tersenyum.


"Bagimana jika kita berlatih tanding, Liyura? Kata Rachel kau sangat hebat dalam bermain Katana. Aku juga ingin melihat kemampuanmu."


"Tentu saja boleh, aku juga butuh peregangan tubuh, akhir-akhir ini tubuhku kaku karena tidak memegang pedang, kita akan bertanding nanti."


"Baik, aku akan menunggu."


Sena terlihat tersenyum, Liyura juga membalasnya dengan senyuman yang terlihat sangat manis. Mereka semua terlihat bahagia tapi mereka saling menyembunyikan suatu hal.


Liyura menghela nafas, dia pamit pergi kepada Sena dan menyarankan untuk bertanding saat siang. Sena menggangguk dan Liyura menunggalkan tempat itu.


Saat Liyura berada di perjalanannya, dia merasa ada yang aneh dengan diri Sena, entah kenapa ada hal yang disembunyikan gadis itu.


Liyura bertekad untuk menemukan misteri yang belum terungkap ini karena bagimanapun dia harus menyelesaikan masalah mengenai Vampir ini sesegera mungkin dan misinya untuk saat ini adalah menemukan Administrator lantai dan mengalahkannya.


****


Pemikiran Liyura tentang Mozart adalah suatu Menara adalah salah, karena sebenarnya Mozart adalah suatu tempat seperti satu dunia setiap lantainya seperti yang di jelaskan di Bab Penjelasan & Istilah dalam cerita.