
Akhirnya semuanya berakhir, untuk saat ini. Masih ada musuh lain yang menanti, juga misteri yang belum terpecahkan. Lawan yang sedang mereka hadapi, lebih mengejutkan dari yang mereka pikirkan.
Liyura menatap semuanya, lalu segera berjalan ke arah dua kurungan emas yang memerangkap para Jenderal Wisteria, dan juga para manusia yang tersisa dan tidak di bunuh demi menjalani ritual kebangkitan sang Raja Vampir untuk berevolusi.
Liyura menebas semuanya dengan Skill yang di miliki Pedangnya. Kali ini dia berhasil membebaskan semuanya dengan mudah daripada sebelumnya.
"Aku ingin kalian mencari keberadaan Elder Ras Burung Hantu. Dia masih di butuhkan untuk situasi nanti."
Mereka lantas mengangguk, Celine juga sangat setuju karena terlihat begitu mengkhawatirkannya. Ryan bersedia ikut mencari karena ketika ia melihat Celine, ia bersimpati padanya.
Sedangkan Aver sendiri yang diam. Dia terlihat tidak mementingkan kondisi Elder Ras Burung Hantu sekarang. Karena Tuannya saat ini adalah Liyura. Dia juga tidak berniat mencarinya seperti yang lain karena Liyura tidak memerintahkan dirinya.
"Aver, aku ingin berdiskusi sebentar denganmu."
Aver terlihat mengangguk dan meninggalkan semuanya dengan pergi bersama Liyura. Ia tidak yakin apa yang di pikirkan gadis itu akhir-akhir ini. Apalagi tentang pertemuan Liyura dengan Ruth.
Saat mereka jauh dari posisi Ryan dan yang lainnya, Liyura menghentikan langkah dan berdiri tepat di hadapan Aver.
"Aver, maukah kau membantuku?"
"Tentu saja, selama Tuanku masih dirimu, aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan."
"Apakah ada kemampuan mu yang berguna untuk menyelesaikan masalah ini? Ini terlihat lebih rumit dari yang kupikirkan, lalu, aku juga mendapat informasi jika Ras Vampir pernah bersumpah setia pada Sang Dewa Kematian."
"Di balik itu juga, alasan Ras Vampir menghancurkan beberapa Ras lama seperti Ras Burung Hantu dan Ras Elang Harpa masih menjadi misteri. Sebenarnya apa yang mereka inginkan? Atau ada yang mereka cari dengan menghancurkan beberapa Ras lainnya? Sudah cukup kah waktumu sekarang untuk memberitahu ku segalanya, Aver?"
Aver terdiam dan menjawab, "Tidak semudah itu."
"Justru jika kau terus merahasiakan sesuatu, entah itu yang ada di masa lalu maupun yang kau pikirkan di masa depan... aku akan sangat sulit untuk berada di posisiku saat ini. Karena aku sama sekali tidak tau apa yang kuhadapi dan kenapa aku harus melakukannya. Berada di posisi tidak mengetahui apa-apa lebih buruk dengan di bohongi."
"Sesungguhnya Liyura, kau memang benar. Tapi bukan berarti kau selalu benar. Banyak hal yang seharusnya tidak kau ketahui daripada kau mengetahui segalanya dengan menyesal. Lebih baik tidak tahu apa-apa daripada menghadapi kenyataan yang pahit."
Liyura menghela nafas, "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Kupikir dengan setuju membangkitkan Tuan mu, maka kau akan sedikit menghormati ku juga Aver... tapi mungkin aku berharap berlebihan."
Liyura terlihat agak kecewa dari tatapan matanya, namun perkataan Aver adalah benar. Bukan waktunya untuk mengetahui semuanya. Butuh waktu sangat lama dan terlalu awal untuk sekarang.
Liyura memasukkan pedang Excaliburnya dalam sarung pedang yang ada di pinggangnya, dia tidak peduli jika pedang itu telah bercucuran darah kental yang amis dan mengganggu indra penciumannya, karena dia telah terbiasa.
"Kalau begitu, aku ingin kau mengerahkan pasukan Undead mu untuk pertama kalinya untukku, Aver. Aku ingin pasukanmu mencari keberadaan Si Nuzan Kyoro. Masalah Elder Ras Burung Hantu, biar yang lain yang mencarinya. Dan tentang pertemuan ku dengan Ruth, jangan beritahu pada Eden dan Ares."
Aver mengangguk, "Setidaknya jika aku merahasiakan sesuatu darimu Liyura, kesetiaan ku tidak akan pernah berubah, karena bagaimana pun juga, alasanku bersamamu bukan hanya karena tujuan awal ku untuk membangkitkan ke-4 Tuanku saja, tapi aku benar-benar telah bersumpah setia padamu."
Liyura mengangguk, dia dan Aver memutuskan untuk kembali ke arah yang lainnya.
©©©
Sedangkan saat Liyura dan Aver pergi untuk mendiskusikan sesuatu, para pengikutnya juga mulai saling berbincang.
"Ryan, apakah tidak apa-apa jika aku meminta bantuan mu untuk mencari Kak Erza?"
Celine benar-benar terlihat sangat khawatir dengan Elder Ras Burung Hantu yang menghilang bersamaan dengan Vampir Bulan Setengah Lingkaran, Varam.
Ryan menatap Celine dan mengangguk dengan mantap, "Pastinya aku akan membantumu tanpa kau katakan. Meskipun aku tidak tahu dimana Elder saat ini tapi aku akan membantumu sampai Elder berhasil di temukan. Sebaiknya kau tidak perlu sedih lagi, karena lebih baik kita bertindak daripada terus terpaku pada rasa sedih dan khawatir."
Celine terlihat lebih tenang saat Ryan mengatakan hal itu dengan wajah datar dan sedikit simpati. Ada seseorang yang membantu mencari Erza saja dia sangat bersyukur, dia hanya akan berdo'a agar Ryan dan yang lainnya menemukan Erza yang menghilang.
Ryan akhirnya menyadari jika bayangan-bayangan itu membentuk sosok Undead. Ryan terlihat tidak mengalihkan perhatiannya pada apapun dan fokus melihat pasukan Undead milik Aver.
Sekitar seribu pasukan telah Aver keluarkan melalui mantra dan teknik pikirannya seperti Liyura yang mengeluarkan pasukan dari Dunia Segel.
Ryan tanpa sadar melangkah perlahan hingga ia tersadar telah ada di hadapan Aver yang siap memerintah para Undead di hadapannya.
Undead adalah sosok tengkorak hidup dan abadi. Biasanya Undead takut akan cahaya yang akan membuatnya sirna seperti para Vampir. Karena mereka adalah makhluk kegelapan murni. Undead hanya patuh pada pemiliknya dan siap mengorbankan diri untuk melindungi pemilik dalam keadaan apapun.
Undead juga kebal akan sihir dan alat sihir sekalipun, kecuali alat sihir yang memuat sihir cahaya yang menjadi kebalikan dari dirinya.
Aver terlihat hanya diam dan membuat para pasukannya menunggu. Tatapan Ryan terlihat berbinar akan pemandangan di depannya, seperti sebuah mimpi karena di kelilingi ribuan tengkorak hidup.
Liyura berdiri di samping Celine dan sedang menyilangkan lengannya. Amon terlihat tidak bisa berkata apa-apa karena merasakan bulu kuduknya berdiri dan keringat dingin terlihat menetes di pelipisnya tanpa Pemuda Ras Vampir setengah Ras Turkien itu sadari.
Celine hanya bisa menelan ludah dan tidak sanggup untuk berdiri hingga ia hampir berlutut sebelum Liyura dengan refleks menyangga tubuhnya untuk tetap pada posisinya.
Liyura melihat Celine dan yang lainnya dengan wajar karena aura dari Undead benar-benar sangat menyeruak dengan sangat kuat hingga bisa di katakan dapat terasa dalam beberapa mil jauhnya karena Undead sebanyak ini.
Tapi aura itu tidak berefek apapun pada Liyura seakan-akan hanya angin lalu saja. Liyura kemudian menatap ke arah Para Jenderal Wisteria dan para manusia lainnya. Ia membantu Celine duduk dan segera berlari ke arah mereka yang ia lupakan gara-gara urusannya dengan Aver.
Para Jenderal Wisteria masih hidup namun kondisi mereka kritis. Sedangkan para manusia yang ketakutan, yang telah keluar dari kurungan di dekat para Jenderal Wisteria hanya menangis dan saling memeluk keluarganya.
Liyura memasukkan para Jenderal Wisteria dalam dunia segelnya dan terlihat membuat pelindung untuk mencegah aura para Undead melukai mental mereka semua yang notabennya adalah manusia biasa.
Liyura pun juga bergegas ke arah Aver tapi ujung Equip nya di tarik oleh seorang anak kecil dengan tertutup tudung yang menangis sendirian diantara semua orang di sekitarnya yang memeluk keluarganya masing-masing. Liyura duduk di hadapan anak itu dan mengelus kepalanya, Liyura menyadari jika kepala anak tersebut terluka begitu serius karena terlihat darah mengalir di pelipis di balik tudungnya membuatnya spontan mengaktifkan Skill penyembuhnya yang perlahan membuat luka tersebut mengecil dan akhirnya menghilang.
Anak itu tersenyum dan kemudian memeluk Liyura dalam sekejap hingga tudungnya terbuka membuat Liyura terkejut hingga hampir tidur terlentang jika bukan karena fisiknya yang kuat saat ini.
Liyura mengelus kepala anak itu dan menyadari jika anak tersebut bukan manusia. Dia melihat telinganya runcing seperti kucing yang sewarna dengan rambutnya yaitu berwana Orange.
Dia menatap Liyura dengan mata berbinar. Liyura melihat bola mata anak itu berwarna merah muda dengan bagian dalamnya berbentuk runcing sama seperti mata kucing.
Liyura akhirnya bangun membuat anak itu langsung mengeratkan pelukannya agar tidak jatuh. Liyura serasa sedang menggendong adiknya---jika dia seandainya punya adik.
Liyura akhirnya menghampiri Aver dan mengkode sesuatu melalui tatapan matanya. Aver yang mengerti akhirnya mengangguk membuat Liyura tersenyum dan perlahan maju.
Aver ikut maju di samping Liyura di hadapan para Undead di hadapan mereka. Aver mengeluarkan sebuah permata berwarna hitam pekat dari hembusan nafasnya dan memberikan permata tersebut pada Liyura.
"Mulai sekarang, kaulah yang memerintahkan mereka, Liyura. Aku serahkan permata ini yang menjadi jantungku dan jantung para Undead itu."
Liyura tidak terkejut. Dia hanya menatap dan membalikkan tubuhnya menatap ke hadapan Aver. Liyura melihat Permata Hitam pekat itu mengeluarkan asap berwarna hitam juga seperti masakan yang gosong.
"Aku tidak membutuhkannya, Aver. Tapi jika ini adalah bukti kesetiaan mu, aku akan menerimanya."
Aver tersenyum membuatnya terlihat mengerikan sampai anak yang di gendong Liyura mengalihkan wajah. Liyura balas tersenyum dan menerima permata itu.
Liyura baru terkejut saat dia melihat Permata yang bersinar terang. Aver terkejut namun tersenyum dalam sesaat. Semuanya menjadi putih silau hingga apapun tidak terlihat dengan jelas.
©©©
*Author Comback!! 🥳🥳 Terima kasih sudah men-Dubbing novel amatir Author ini yang masi*h punya banyak kekurangan. Dan terima kasih untuk dukungan kalian selama ini... Lalu, Maaf untuk penungguan kalian selama ini 🙏🙏