
"Apa kau bilang?! Aku masih belum mati! Ras Burung Hantu masih ada yang hidup!"
Setelah mendengar perkataan Erza, mereka semua menoleh kecuali Liyura yang masih memegangi kepalanya.
"Kau... kau jangan-jangan adalah Elder (Tetua) dari Ras Burung Hantu?!"
Arend terbelalak melihat Erza. Sedangkan Erza sendiri cukup terkejut karena Arend berhasil menabak identitas dirinya.
"Kau... kau jangan-jangan adalah Raja dari Ras Elang Harpa?!"
Kali ini Arend lah yang terkejut, "Tidak salah lagi, jika kau adalah Elder, maka aku yakin kau lah yang memiliki julukan 'Monster Sihir' karena kau di cintai Mana tapi sebagai balasannya kau tidak boleh memiliki pasangan."
Erza terlihat menghela nafas, "Jadi benar kau adalah Raja dari Ras Elang Harpa. Aku tidak akan terkejut kau mengetahui banyak hal menenai para Ras. Ada apa kalian ingin meminta pertolonganku?"
"Ritual Pembatalan. Itulah yang ingin kami lakukan. Kami ingin membatalkan kebangkitan Liyura. Kami tidak ingin dia menderita."
Aver menyuarakan kata-katanya, dia menatap Erza dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Ritual Pembatalan Pembangkitan? Kenapa harus di batalkan? Bukankah kalian hanya lari dari takdir? Biarkan gadis itu menerima takdirnya."
Erza melihat ke arah Liyura yang terlihat menyedihkan.
"Sebagai pertolonganku, aku hanya akan membantunya untuk membangkitkan kekuatannya. Tidak usah melakukan Ritual Pembatalan, dia tidak akan mati. Lagipula kekuatan itu sepertinya sudah gatal ingin melepas segel yang mengekangnya di tubuh gadis ini. Takdirnya benar-benar terlampau besar di masa depan. Aku bisa melihatnya melalui dirinya sendiri. Dia mungkin akan menjadi Legenda suatu hari nanti."
Erza terlihat membisikkan mantra di telinga Liyura membuat Liyura meronta dan terlihat menjambak rambutnya sendiri agar rasa sakit yang di deritanya menghilang.
Erza mengucapkan mantra sekali lagi dan dari tangannya terdapat suatu cahaya dan akhirnya cahaya itu memasuki tubuh Liyura membuat tubuhnya bercahaya terang hingga mereka semua menutup kedua mata kecuali Erza yang tersenyum.
"Sepertinya dia akan segera bangkit."
Aver terlihat khawatir, "Tidak! Jangan biarkan kekuatan itu bangkit terlebih dahulu! Liyura tidak akan bisa menahannya! Kekuatan itu terlampau besar! Kumohon kita lakukan Ritual Pembatalan!"
Arend juga terlihat gelisah, "Elder, kita harus melakukan Ritual Pembatalan saja! Aku takut dia tidak bisa mengendalikan kekuatan yang besar itu sendiri nanti! Ini masih terlalu dini untuknya!"
Erza menghela nafas, "Tapi jika kita lakukan itu, kita hanya akan lari dari takdir. Lagipula anak ini nanti akan merasakan hal seperti ini lagi suatu hari nanti jika kita lakukan Ritual Pembatalan. Kalian mau itu terjadi?"
"Setidaknya saat dia merasakan hal ini lagi, itu pasti akan datang di waktu yang tepat. Kumohon kita lajukan Ritual Pembatalan! Dia akan mati jika dia tidak bisa mengendalikan kekuatan itu!"
Aver terlihat sangat khawatir, dia tidak bisa kehilangan Liyura! Liyura adalah orang yang terpilih untuk membangkitkan Tuannya, tentu saja dia tidak bisa membiarkan Liyura mati karena hal seperti ini!
Aver baru tahu jika Mana yang di miliki Liyura bahkan mungkin akan sangat besar dan lebih besar dari milik Erza suatu hari nanti.
Takdirnya bisa di katakan benar-benar besar. Liyura memag terpilih untuk berperan penting di Mozart. Bahkan jika bisa, dia dapat memiliki apapun yang semua orang inginkan, dan Bangsa Underworld mungkin juga bisa tunduk padanya suatu hari nanti.
Aver juga merasa kehilangan kesabaran untuk menunggu Tuannya melalui Liyura. Dia tidak mau Liyura sampai mati. Jika dia membiarkannya, mungkin akan lama sampai orang terpilih selanjutnya akan datang.
Liyura berteriak untuk memadamkan rasa sakit yang di deranya. Erza akhirnya menghela nfas untuk terakhir kali sebelum dia membuat suatu Pentagram.
Melihat Pentagram yang di gambar Erza membuat keduanya akhirnya membantunya untuk menggambar Pentagram di sekeliling Liyura.
Mereka akhirnya duduk melingkar di antara pola rumit di sekeliling Liyura dan menggigit jarinya masing-masing.
"Et Ediotores Effici Vult Ut Remittant Eis Praestitum Resurrectionis Nostrae Gratiae Praticeps Est...!"
Cahaya sekali lagi melingkup di antara mereka membiat Ryan dan Celine menutup matanya.
Sedangkan Aver, Arend, dan Erza terlihat menutup mata dan darah terlihat mengalir di sudur bibir mereka masing-masing.
Sedangkan Liyura terlihat meronta keras tapi ada suatu rantai transparan mengikat dirinya hingga kulit indahnya terlihat memerah.
Pentagram lingkaran berbentuk bintang bewarna biru yang di tengahnya terdapat Liyura seakan berputar mengeliling gadis itu.
Erza terlihat berdecih tapi tetap menutup matanya. Dia berharap hal ini berhasil karena jika tidak, mereka akan mati.
Bagimana tidak? Tuhan telah memberikan anugerah padamu tapi karena anugerah itu terlalu besar untuk di dapatkan hingga harus di batalkan atau di segel untuk sementara sampai yang mendapatkan anugerah itu siap.
Itulah yang di lakukan mereka sekarang. Membatalkan anugerah adalah hal yang bertentangan dengan alam. Tapi hal itu bisa di lakukan jika mereka memiliki alasan untuk melakukan Ritual Pembatalan.
Tidak ada tanda-tanda ini akan berakhir karena suasana tetap bercahaya tapi anehnya tidak ada yang tahu akan hal itu. Bahkan seperti para Jenderal tidak datang untuk mengetahui hal yang terjadi.
Alasannya adalah, sebagai bentuk dari Ritual Pembatalan, karena hal ini tidak bisa di ganggu maka alam sendiri menghentikan waktu. Jadi tidak ada yang tahu mengenai hal ini kecuali orang yang bersangkutan.
Erza menggigit bibirnya hingga darah semakin merembes keluar, sedangkan Arend terlihat ingin berteriak karema dia merasa organ dalamnya hancur.
Ini adalah bentuk ujian bagi mereka. Mereka yang ingin membatalkan pembangkitan akan merasakan penderitaan tiada akhir untuk mengakhirinya.
***
Sekitar 2 jam mungkin waktu telah berhenti dan mereka tetap melaukan Ritual Pembatalan. Aver terlihat ingin pingsan, karena kekuatan sihirnya lebih sedikit dari keduanya.
Jika Arend, karena dia tersegel di Katana, dia tidak menggunakan sihir sama sekali sejak dia di segel karena itulah inti sihir atau Mana nya selalu penuh.
Arend tidak bisa membuka mata karena itu adalah ujian lain bagi mereka. Mereka tidak boleh melihat hal yang terjadi, tidak ada yang boleh melihat.
Arend merasakan kekuatan sihirnya terserap begitu saja membuatnya semakin melemah. Yang lainnya juga merasakan hal yang sama.
Erza lah yang masih tetap bertahan. Karena dia di cintai oleh sihir, maka dia tidak akan kekuarangan Mana. Dia malahan mentransfer inti sihirnya kepada Liyura karena dia tahu, baginya dia tidak sulit untuk mendapatkannya kembali.
Liyira meronta keras. Dia merasakan tubuhnya di tata ulang dari dalam. Kekuatan yang datang padanya seakan di segel agar tidak bangkit untuk sementara.
Sampai di jam selanjutnya, Pentagram mulai memudar sedikit demi sedikit, cahaya juga mulai mengkilang di gantikan mereka yang di sembuhkan secara riba-tiba.
Mereka merasakan sakit yang mendera, telah pulih dan mereka tidak merasakan apa-apa lagi. Seperti tidak ada sesuatu yang terjadi.
Bisa di bilang mereka lulus ujian untuk menyegel kekuatan yang ada pada diri Liyura. Sedangkan Liyura, dia terlihat berbeda.
Warna rambutnya yang berwarna pirang, sedikit demi sedikit berwarna oranye tua tapi hanya setengahnya saja. Wajahnya terlihat lebih bersinar dan ketika Liyura membuka matanya, mereka melihat bola mata sewarna dengan darah.
Liyura menatap mereka semua, "Apa... yang terjadi?"