
Saat siang hari, Liyura dan yang lainnya sedang bersantai di bawah Pohon Bunga Wisteria dan terlihat berdiskusi langkah mereka selanjutnya.
"Liyura, kau yakin jika ada yang aneh dengan para Jenderal? Mereka tidak bisa di curigai begitu saja."
"Itu benar, Zayn. Tapi Ryan dan aku telah selesai mengambil keputusan. Kalian akan berusaha menyibukkan para Jenderal dan aku akan mencari tahu sebuah rahasia."
"Rahasia? Jangan-jangan Nona ingin ke tempat itu? Apakah tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, Ryan. Serahkan tugas yang berat padaku. Tentang pertemuan dengan para Jenderal kemarin, aku ragu jika mereka benar-benar sedang menyelidiki tentang keberadaan Vampir Bulan. Aku memiliki firasat yang buruk..."
"Baiklah, serahkan pada kami untuk menyibukkan para Jenderal. Lagipula Nona, Ruang Senjata Mistis sama sekali tidak di jaga. Nona siap untuk menyelidiki tempat itu?"
Liyura mengangguk dan tersenyum, "Apapun yang ada di sana, aku akan mencari tahu apa yang di sembunyikan."
"Tapi Liyura, kau yakin dengan ini? Bagaimana jika kita hanya salah paham dengan para Jenderal? Kau bisa pikirkan itu, 'kan? Mereka sejak generasi ke generasi telah berperang dengan Vampir agar manusia tidak punah. Apakah kita pantas mencurigai mereka?"
Liyura terdiam, tapi dia terus memikirkan firasat dirinya, "Yah, kau benar Zayn. Tapi aku tetap akan melakukan penyelidikan ini. Aku hanya mencurigai mereka tapi tidak menganggap mereka seperti beranggapan kalau mereka bekerja sama dengan Vampir. Tidak seperti itu, tapi aku akan melalukan penyelidikan untuk meyakinkan diriku sendiri jika firasat burukku salah."
Suasana terlihat hening, angin semilir terdengar dan terlihat memainakan helaian rambut mereka.
"Liyura, aku hanya ingin mengatakan jika para Jenderal itu adalah orang baik. Mereka telah menolongku dan menampungku di sini. Mereka juga telah melakukan kebaikan pada semua orang dengan membantu mereka untuk membunuh para Vampir. Tapi jika kau masih bersikeras, kau boleh melakukan apa yamg ingin kau lakukan."
Liyura menatap Zayn lama, "Tenang saja Zayn. Jika di sana tidak ada apa-apa, maka aku akan kembali dan menghilangkan kecurigaanku pada para Vampir. Lagipula kematian remaja seumuran dengan Ryan itu, tidak mungkin tanpa alasan."
Zayn akhirnya mengangguk, "Kuharap kau tidak mencurigai para Jenderal lagi."
Ryan juga terlihat menatap Zayn yang terlihat aneh, Zayn terlihat berbeda dari biasanya. Sejak beberapa hari Zayn menghilang dan kembali dengan tiba-tiba.
Zayn sama sekali tidak ada di dunia segel. Dia menghilang sejak Liyura mengeluarkannya kembali. Ryan melihat tatapan Zayn yang juga seolah berbeda.
Liyura mengangguk, "Tentu aku tidak akan mencurigai mereka lagi jika di Ruang Senjata Mistis sama sekali tidak ada apapun yang menjadi alasan seseorang terbunuh."
"Nona Liyura, kapan kau akan melakukannya?"
"Saat malam, Ryan. Karena itu adalah waktu yang tepat untuk melakukannya. Penjagaan saat malam sudah kukenal betul di Lembah ini."
"Baiklah, Nona. Aku akan menunggu informasi darimu besok."
Liyura mengangguk, "Yang perlu kalian lakuakan adalah tidak boleh terlihat mencurigakan dan harus bersikap seperti biasa. Tunggu aku menyampaikan hasil penyelidikanku besok. Akan kutemukan sesuatu."
Mereka berdua mengangguk dan akhirnya meninggalkan tempat itu. Dan akhirnya hanya tersisa Liyura seorang yang ada di sana.
"Ini semakin sulit saja. Rasanya mungkin aku akan lama dalam menyelesaikan masalah Vampir ini. Kira-kira mereka bersembunyi di mana? Para Burung Hantu?"
***
Ryan dan Zayn terlihat berjalan bersama dan beriringan. Ryan tidak berhenti menatap Zayn yang semakin terasa aneh.
"Zayn, kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja, Ryan. Memangnya aku kenapa?"
"Kau terlihat aneh dari sejak kau kembali."
"Begitu? Aku merasa baik-baik saja sungguh."
Ryan hanya mengangguk dan akhirnya berjalan lebih dulu dan meninggalkan Zayn di belakangnya yang terlihat berekspresi kosong.
Sedangkan saat malam hari tiba, Liyura telah bersiap untuk pergi ke Ruang Senjata Mistis. Entah kenapa dia sama sekali tidak takut apa yang akan di hadapinya dan malah semakin penasaran.
Liyura akhirnya memulai aksinya dengan berjalan mengendap-endap dari dalam kamar yang di tempatinya dan melihat sekitar agar para Maid maupun yang berjaga tidak melihatnya.
Saat suasana hening di sekitar, Liyura segera berjalan menuju pintu di mana tempat itu akan menuntunnya ke dalam Ruang Senjata Mistis.
Seperti ruangan yang pernah di lewati oleh Ryan dan Celine, Liyura melewati lorong yang sama, tapi dia juga merasakan keanehan.
'Ada sesuatu yang buruk di dalam sini.'
Liyura membatin dan segera berjalan sambil mengamati sekitarnya. Ruangan yang gelap tidak akan membuat dirinya takut sekalipun. Liyura kemudian mendengar suatu pergerakan membuatnya memegang gagang pedang Excalibur nya untuk bersiap menerima serangan apapun.
Sreeet.... Sre.....ttt
Liyura mengernyit. Suaranya seperti terdengar menyeret sesuatu. Liyura yang penasaran segera saja menghampiri asal suara dengan perasaan was-was nya.
Liyura berjalan semakin dalam menuju ruangan Senjata Mistis. Langkahnya berhenti saat suara yang terlihat menyeret itu semakin keras terdengar dari balik pintu di hadapannya.
Karena tidak ada pintu lagi selain yang ada di hadapannya ini maka dia yakin pasti sesuatu yang di carinya ada di dalam. Tanpa menunggu lama Liyura membuka pintu itu membuatnya melihat sesuatu yang mengejutkannya.
***
"Rachel?"
Liyura menatap dengan pandangan terkejut namun segera saja tatapan itu berubah menjadi datar kembali.
"Ah, Liyura kah? Kenapa kau ada di sini? Bukankah ini waktunya tidur?"
Liyura terdiam sejenak. Seharusnya dia yang mengatakan itu. Kenapa Rachel ada si dalam ruangan Senjata Mistis?
"Kau membawa apa?"
Liyura tidak menjawab namun ikut bertanya membuat Rachel tersenyum.
"Hanya... sampah."
Liyura tidak menatatap Rachel kali ini, namun mematap sesuatu yang terbungkus karung besar berwarna coklat yang terlihat kotor. Apakah itu benar-benar sampah?
Liyura menatap Rachel menyelidik, "Boleh aku melihatnya?"
Rachel terlihat menyembunyikan kekhawatirannya. Dan saat Liyura menyadarinya, gadis itu menatap Rachel dengan aneh. Liyura yakin jika ada yang di sembunyikan oleh Rachel, dan karung itu mungkin adalah petunjuk yang di carinya. Entah apa isinya Liyura yakin dengan firasatnya yang mengatakan jika semua pertanyaannya akan terjawab jika dia melihat isi karung itu.
Meskipun tahu dirinya akan di nilai tidak sopan, Liyura langsung berlari ke hadapan Rachel secepat kilat dan akhirnya menyingkap isi dalam karung membuat Rachel terkejut.
Saat Liyura melihatnya, dia terbelalak. Liyura segera saja menarik gagang pedangnya dan mengarahkannya pada Rachel.
Liyira menatap tajam sambil menghunuskan pedang, "Kau bukanlah Rachel. Siapa sebenarnya kau? Apakah kau Vampir yang dapat berubah wujud?"
Rachel akhirnya tersenyum seperti Iblis yang sangat menyeramkan. Tapi di hadapan Monster, apa yang perlu di takutkan?
"Sudah kuduga kau akan curiga. Aku tidak percaya manusia ada yang pintar juga ya. Sebenarnya aku ingin menyembunyikan ini dan memberi kejutan, tapi sepertinya hal itu sudah terungkap terlebih dulu." Mata Rachel menajam, "Jika begitu, aku harus membunuhmu, kan? Agar rencananya menjadi lancar lagi."
Liyura merasa kesal. Dia sangat ingin membunuh sosok di depannya ini yang ternyata memang Vampir. Tapi ada yang aneh... Jika dia bukan Rachel, lalu di mana Rachel yang asli? Dan apakah para Jenderal Wisteria lain bukanlah sosok yang sebenarnya?
"Dimana para Jenderal?!"
Rachel tersenyum, "Mereka ada di suatu tempat. Sayangnya kami tidak bisa membunuh mereka, jadi, kami siksa saja sampai mereka buka mulut mengatakan semua rahasia tentang Lembah Wisteria."
Liyura kali ini benar-benar menganyunkan pedangnya untuk menebas sosok Rachel di hadapannya. Tapi sayangnya kecepatan pedang Excalibur nya masih rendah daripada kecepatan sosok di hadapannya.
Liyura berdecih kesal dan sangat ingin mencabik sosok di hadapannya, "Katakan padaku sekali lagi. Dimana para Jenderal?"
Liyura memegang erat pedangnya hingga menimbulkan suara karena saking eratnya dia memegangnya. Tapi gadis itu perlahan mulai tenang dan menstabilkan emosinya agar tidak bertindak gegabah.
"Kau mau ke sana? Akan ku antarkan..."
Liyura ingin ikut namun dia tidak percaya jika sosok di depannya akan sungguh-sungguh membawanya kepada para Jenderal.
Sosok itu tiba-tiba saja tersenyum, "Tapi, kau harus mati. Karena jika tidak, kau akan menjadi penghalang bagi kami."
Sosok Rachel akhirnya menerjang Liyura dengan kecepatan yang terlihat seperti bayangan bagi penglihatan Liyura. Namun karena dia mengalami perubahan terakhir kali saat melakukan Ritual Pembatalan Pembangkitan, meskipun matanya di ubah menjadi warna hijau kembali oleh Aver, dia memiliki kemampuan khusus baru.
Sayangnya Liyura baru menyadari kekuatan matanya itu, yang dapat melihat pergerakan apapun dan dapat menjadi pengendali tubuhnya untuk menghindari secepat apapun serangan yang datang dari musuh.
Liyura menjadi tersenyum dan terlihat seperti boneka saat matanya mengirim sinyal ke otak dan membuat seluruh bagian tubuhnya bergerak sendiri. Memang perlu beradaptasi, tapi Liyura akhirnya menyesuaikan diri saat melihat serangan musuh yang hampir mengenainya.
Saat seseorang terancam bahaya, maka insting dan ke-lima indra mereka akan aktif sebagai bentuk perlindungan diri dan perlawanan. Hal itu juga berlaku bagi Liyura saat ini.
Tapi bedanya, sekecilpun Liyura mematikan rasa sakit dan rasa takutnya setelah dia melakukan Ritual Pemabatalan Pembangkitan yang membuat fisiknya berubah.
Seandainya ada sistem, mungkin kepala Liyura akan pecah karena terlalu banyak notifikasi yang menganggunya. Tapi sistem benar-benar sedang bug sekarang karena tidak aktif atau di luar jaringan.
Sosok Rachel menjadi geram saat Liyura berhasil menghindari semua serangannya dengan tidak kalah cepat. Mereka mundur sesaat untuk sama-sama menganalisa kemampuan musuh.
Monster melawan Vampir.
Kira-kira siapa yang akan menang?