
Satu tahun kemudian….
Musim dingin di Kerajaan Dongling masih memasuki tahap awal. Salju sudah mulai turun memutihkan sebagian wilayah. Malam menjadi sangat dingin dan sepi. Tetapi, keadaan berbeda justru terlihat di dalam istana, tepatnya di sebuah tempat di seberang Danau Houchi yang terpencil.
Beberapa orang pelayan istana hilir mudik sambil membawa baskom berisi air hangat. Mereka masuk ke dalam Istana Xingyue dengan terburu-buru. Wajah mereka sangat panik dan tangan mereka bergetar. Di ambang pintu, pelayan dari dalam ruangan keluar membawa baskom lain berisi air berwarna merah. Puluhan kain putih berubah warna dan baunya menjadi anyir.
Suara teriakan seorang wanita menggema melalui celah jendela dan ventilasi udara. Sudah hampir empat jam, tetapi belum ada suara yang mengabarkan bahwa seseorang di dalam sana sudah berada dalam kondisi aman. Suasana masih tegang dan mencekam. Suara teriakan berbaur suara gemerisik angin yang menerbangkan butir-butir salju putih.
Long Ji Man berjalan mondar-mandi seperti sebuah setrika di depan pintu utama Istana Xingyue. Jubahnya berkibar seiring dengan pergerakannya yang tidak karuan. Dari sekian banyak orang yang berwajah khawatir, wajah Long Ji Man adalah yang paling parah. Dia bahkan tidak menghiraukan seruan Xiao Biqi yang menyuruhnya untuk tetap tenang dan berdiam diri di dalam ruangan.
Sembilan bulan lalu, Li Anlan jatuh pingsan saat sedang melakukan kunjungan ke Akademi Kerajaan. Dia langsung dibawa ke pusat kesehatan yang biasa digunakan oleh para guru dan siswa. Tabib di sana, yang tidak pernah menyangka akan memeriksa seorang Ratu Kerajaan Dongling bergetar dan gugup. Keringatnya membanjiri kening dan tubuhnya.
Tabib itu berkata bahwa kondisi Sang Ratu baik-baik saja. Hanya saja, ada sesuatu yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. Ada makhluk hidup lain yang mulai berkembang di dalam perutnya. Long Ji Man yang diberitahu bahwa istri tercintanya jatuh pingsan seketika meninggalkan istana menuju Akademi Kerajaan.
Betapa bahagianya dia ketika tabib di Akademi Kerajaan memberitahu bahwa Ratu Li sedang hamil. Kabar tersebut seperti sebuah anak panah keberuntungan yang dilesatkan dari langit. Akhirnya, setelah sekian lama, Li Anlan mengandung juga. Long Ji Man tidak bisa menyembunyikan rasa gembiranya. Pria itu menangis sambil memeluk Li Anlan dengan erat. Ini adalah sebuah anugerah yang indahnya tiada tara.
Long Ji Man ingat dengan betul bagaimana ekspresi Li Anlan saat tahu dirinya sedang hamil. Saat itu, Li Anlan memasang wajah tidak percaya sambil mengelus perutnya yang masih rata. Lamat-lamat dia bergumam,
“Aku hamil?”
“Huang An, kau hamil! Kita akan menjadi orang tua!”
Li Anlan saat itu masih belum percaya. Dia kembali mengelus perutnya sambil tetap bergumam dengan tanya.
“Ada makhluk kecil di perutku?”
“Ya, ada buah hati kita di dalam perutmu. Huang An, terima kasih!”
Li Anlan menatap Long Ji Man penuh arti.
“Yang Mulia, aku akan menjadi seorang ibu?”
“Ya, kau akan jadi seorang ibu dan aku akan menjadi seorang ayah!”
Ekspresi bingung Li Anlan seketika berubah total. Senyum bahagia tersirat di wajah cantik nan mungil bak rembulan itu. Li Anlan langsung memeluk Long Ji Man dengan erat, seolah pria itu adalah sebuah guling kesayangan yang selalu menemaninya tidur. Dia akan menjadi seorang ibu! Sebuah makhluk kecil sedang tumbuh di dalam rahimnya!
Orang-orang yang ada di ruang pusat kesehatan ikut terharu. Mereka semua turut bahagia atas kehamilan Ratu Agung mereka. Lebih dari empat tahun mereka menantikan kehadiran seorang pangeran sulung sejak raja mereka naik takhta. Sekarang, harapan mereka berpendar kembali. Kebahagiaan membuncah seketika karena seorang putra pertama raja akan segera lahir ke dunia.
Tabuhan gendang kebahagiaan penanda kehamilan Ratu menggema hampir di seluruh penjuru kota. Seluruh rakyat ikut bahagia dan bersorak gembira ketika kabar itu sampai ke telinga mereka. Ratu tercinta mereka yang luar biasa sekarang sedang mengandung seorang keturunan kerajaan, siapa yang tidak gembira?
Sejak tahu Li Anlan hamil, Long Ji Man menjadi sangat protektif. Seluruh pekerjaan wanita itu dialihkan kepada asisten pengurus yang mendampinginya. Li Anlan tidak diperbolehkan melakukan perjalanan jauh, bahkan untuk berjalan dari Istana Xingyue ke Istana Hongwu pun harus memakai tandu. Long Ji Man juga mengirimkan banyak pelayan ke istana istrinya agar segala sesuatunya menjadi mudah.
Pria itu juga selalu ada di samping Li Anlan sepanjang waktu. Setiap selesai bekerja, satu-satunya tempat yang dia tuju adalah Istana Xingyue. Long Ji Man tidak pernah melepaskan pandangannya pada Li Anlan barang sedetikpun!
Selama masa kehamilannya, Li Anlan sebenarnya sudah membuat banyak orang merasa sengsara. Saat hamil muda, dia sering meminta hal-hal aneh di luar nalar yang harus dituruti. Suatu ketika, dia merengek meminta Long Ji Man menggendongnya ke perahu apung di Danau Houchi malam-malam untuk menikmati bulan.
Di waktu yang lain, Li Anlan marah-marah karena keinginannya mendaki Gunung Feiyun tidak dikabulkan Long Ji Man. Di waktu yang lain lagi, dia mendandani seluruh pelayan dan kasimnya menjadi badut dan harus menari dalam waktu lebih dari dua jam lamanya.
Kadangkala dia menghabiskan waktu seharian di Perpustakaan Kerajaan untuk membaca banyak buku dan menulis. Para putri dan pangeran yang saat itu ingin mengunjunginya harus kembali ke istana mereka masing-masing karena Li Anlan menolak menemui siapapun dan tidak ingin diganggu. Dia bahkan tidak ingin bertemu dengan Long Ji Man. Tingkah lakunya yang aneh saat hamil muda membuat sebagian orang menjauh sesaat dari Istana Xingyue. Mereka tidak ingin menjadi objek kekesalan dan bulan-bulanan Li Anlan.
Hari yang dinanti-nanti Long Ji Man akhirnya tiba. Dia menerima kabar dari Istana Xingyue bahwa Ratu hendak melahirkan. Long Ji Man yang sedang fokus membaca laporan di Istana Hongwu langsung meninggalkan pekerjaannya. Butiran-butiran salju yang turun dari langit jatuh di atas rambut kepalanya.
“Aaaaaa…. Long Ji Man, kau brengsek!”
“Dasar bajingan! Keparat menyebalkan!”
Teriakan berupa umpatan itu membuat Long Ji Man berhenti sejenak. Apa dia tidak salah dengar? Barusan, apakah istrinya sedang mengumpatinya?
“Huang An, kau baik-baik saja?” teriak Long Ji Man dari teras Istana Xingyue.
“Long Ji Man, jika ada kehidupan selanjutnya, kau saja yang melahirkan!”
“Baik, di kehidupan berikutnya aku saja yang melahirkan.”
Para wanita yang membantu persalinan Li Anlan mulai kewalahan. Empat jam sudah berlalu, tetapi bayi dari dalam perut ratu mereka tak kunjung keluar. Darah dari jalan lahir sudah berceceran. Peluh membasahi wajah dan kening Li Anlan. Dia hampir tidak punya tenaga untuk mengejan lagi.
-
Tidak lama setelah itu, suara tangisan bayi menggema memecah kesunyian malam. Para wanita yang hilir mudik membawa baskom air hangat dan membantu persalinan menghela napas lega. Bayinya laki-laki, persis seperti yang diharapkan. Putra sulung Raja dan Ratu Dongling lahir dalam keadaan sehat.
Long Ji Man memaksa masuk. Dia langsung menghampiri Li Anlan dengan wajah gembira sekaligus khawatir. Long Ji Man mendudukkan dirinya di lantai, mensejajarkan posisinya dengan posisi Li Anlan yang berbaring. Dia mencium kening Li Anlan dengan lembut dalam waktu beberapa lama, mencurahkan segala perasaannya kepada wanita itu.
“Huang An, putra kita sudah lahir,” lirihnya dengan suara bergetar. Long Ji Man meneteskan air mata. Seperti ini rupanya rasanya menjadi seorang ayah.
Ketika wanita yang membantunya melahirkan hendak membersihkan bayi merah yang masih berlumur darah, Li Anlan kembali merasakan kontraksi di perutnya. Rasanya sama seperti tadi. Melihat ratunya mengejan lagi, seketika wanita yang sedang memegang bayi merah itu berteriak panik. Dia meminta pelayan lain yang membersihkan tubuh bayi itu, sementara dia kembali membantu Li Anlan.
“Ada satu bayi lagi! Yang Mulia Ratu sepertinya melahirkan bayi kembar!”
“Kembar?”
“Ya, Yang Mulia,” ucap si wanita pembantu persalinan.
Suasana kembali tegang. Suara teriakan Li Anlan kembali menggema memenuhi udara Istana Xingyue. Karena Long Ji Man ada di sana, dia bisa menyaksikan bagaimana proses persalinan berjalan dengan matanya sendiri. Dia bisa menyaksikan bagaimana sulitnya seorang wanita mengeluarkan seorang bayi dari dalam perutnya. Meskipun Li Anlan yang melahirkan, rasa sakitnya ikut dirasakan Long Ji Man.
Li Anlan membutuhkan sesuatu untuk melampiaskan dan menopangnya. Satu-satunya objek yang ada di dekatnya hanyalah Long Ji Man. Alhasil, pria itu jadi sasaran pelampiasan Li Anlan. Wanita itu mengejan sambil berteriak, tetapi tangannya menarik rambut Long Ji Man dengan kuat. Tidak hanya rambut, Li Anlan juga menarik jubah suaminya hingga Long Ji Man tercekat seperti tercekik. Kuku Li Anlan yang panjang dan indah juga mencakar wajah dan leher Long Ji Man.
Beberapa saat kemudian, satu bayi lagi keluar dari perut Li Anlan. Bayi merah kedua itu juga lahir dalam keadaan sehat. Wanita pembantu persalinan menghela napas lega. Li Anlan langsung terkulai lemas. Akhirnya, dia bisa mengeluarkan isi rahimnya dengan selamat. Seluruh tenaganya benar-benar terkuras habis. Tetapi, Long Ji Man memegang tangannya dengan erat hingga rasa lelah dan sakit Li Anlan sedikit berkurang.
“Yang Mulia, bayinya perempuan! Selamat Yang Mulia, pangeran dan putri sulung sudah lahir!”
“Selamat Yang Mulia Raja, selamat Yang Mulia Ratu,” ucap pelayan lain secara serentak.
Long Ji Man kembali mencium kening Li Anlan dengan lembut. Dia bisa merasakan hembusan napas istrinya yang sangat pelan dan lemah. Rasa sakit seperti seluruh tulang dan sendi dicabut, menjalar ke tubuh Long Ji Man. Ternyata, seperti inilah proses persalinan yang sesungguhnya.
Dulu saat membantu seorang wanita di pusat kota melahirkan, dia hanya menyaksikan proses tersebut dari luar karena Li Anlan melarangnya masuk. Sekarang, wanita yang dulu membantu proses tersebut mengalaminya sendiri, dan Long Ji Man menyaksikannya sendiri. Rasa sakit dan perjuangan itu sangatlah besar.
Sepasang bayi kembar buah cinta Raja dan Ratu Kerajaan Dongling yang lahir di awal musim dingin adalah matahari yang menghangatkan seluruh keluarga kerajaan. Bayi laki-laki yang lahir pertama diberi nama Long Ji San, sementara bayi perempuan yang lahir kedua diberi nama Long Ji Shi. Kedua bayi itu adalah putra pertama Raja dan Ratu. Mereka adalah Pangeran Sulung dan Putri Sulung Kerajaan Dongling.
Keesokan harinya, berita kelahiran pangeran dan putri langsung tersebar. Kondisi Li Anlan perlahan pulih. Di Istana Xingyue, dia menggendong kedua putranya dengan hati-hati. Bayi-bayi lucu ini seperti boneka, begitu kecil dan menggemaskan. Kulit mereka begitu putih dan lembut. Wajah keduanya mewarisi ketampanan dan kecantikan ayah dan ibu mereka.
Li Anlan masih tidak percaya kalau sekarang dia menjadi seorang ibu. Di usianya yang menginjak awal dua puluh lima tahun, dia memiliki dua malaikat kecil yang dia lahirkan sendiri. Kehidupannya sekarang terasa sangat sempurna. Dia memiliki seorang suami yang sangat mencintainya dan dua orang putra hasil buah cintanya.
“Kakak ipar!”
Pangeran Ding, Long Ji Mu datang bersama Pangeran Adipati An, Li Afan. Keduanya datang untuk menjenguk Li Anlan sekaligus menyelamatinya. Long Ji Mu kecil duduk di sisi ranjang Li Anlan, sementara Li Afan berdiri di pinggirnya. Tidak lama setelah itu, Long Ji Man datang bersama Ibu Suri Han Yuemei.
“Anlan, mengapa mereka sangat imut sekali? Apa aku boleh membawa salah satunya ke rumah?”
“Enak saja! Kakak, perlu waktu sembilan bulan dan perjuangan berat untuk membuat mereka lahir ke dunia ini! Kalau kau mau, kau bisa membuatnya dengan istrimu!”
“Aku menyesal sudah berbicara denganmu,” ucap Li Afan kesal. Dia paling tidak suka jika adiknya mengungkit-ngungkit perihal istri. Ya, karena sampai saat ini, pria cantik itu masih betah melajang.
“Paman Adipati, kau tidak boleh membawa keponakanku!”
“Hei bocah kecil, kenapa kau banyak bicara?”
“Sudahlah, apa kalian ingin membangunkan kedua putraku yang baru saja tertidur?”
“Kakak ipar, aku tidak ingin menjadi Putra Mahkota!” seru Long Ji Mu. Perkataan bocah kecil itu tentu saja membuat semua orang yang ada di sana terkejut.
“Mengapa?” tanya Li Anlan.
“Kakak sekarang sudah punya anak. Dia saja yang menjadi Putra Mahkota,” jawab Long Ji Mu polos.
“Kalau kau tidak jadi Putra Mahkota, kau mau jadi apa?” Kini giliran Long Ji Man yang bertanya.
“Aku mau jadi kepala Akademi Kerajaan saja! Atau jadi jenderal, atau jadi pengusaha hebat seperti Paman Adipati An saja!”
Semua orang di dalam ruangan itu tertawa atas kepolosan Long Ji Mu. Menjadi Putra Mahkota atau tidak, itu urusan nanti. Sekarang, kerajaan sedang berbahagia karena kedatangan anggota keluarga baru. Kelak, keduanya akan dididik menjadi orang hebat, sama seperti ayah dan ibunya.
Satu hal yang pasti: Li Anlan dan Long Ji Man sangat bahagia!
...***...