The Little Consort

The Little Consort
Eps. 27: Salah Paham


Wang Tianshi, si pengawal pribadi menerobos masuk ke dalam Istana Hongwu hingga pintu itu terbuka lebar. Long Ji Man yang kebetulan sedang tidak waspada terpekik kaget. Raja Dongling itu langsung melemparkan pemberat kertas saat ia tahu siapa yang membuatnya terkejut. Lemparan itu meleseset beberapa sentimeter.


Pengawal pribadi raja itu memamerkan gigi-giginya, lalu menunduk saat mata dingin Long Ji Man menatapnya tajam.


"Yang Mulia, aku ingin melaporkan sesuatu!"


Alis Long Ji Man menyatu. Jika Wang Tianshi bukan pengawal pribadinya, dia pasti sudah memecatnya dan mengirimnya ke perbatasan. Long Ji Man marah karena Wang Tianshi melalaikan tugasnya dalam mengawasi Li Anlan. Selama beberapa hari ini, Wang Tianshi tidak datang melapor padanya.


"Katakan."


"Selir An menyelinap keluar istana."


"Aku sudah tahu."


Laporan basi Wang Tianshi tentu saja membuat Long Ji Man marah. Ke mana dia selama ini? Mengapa baru melaporkan hal sepenting ini padanya sekarang, di saat dia mengetahui semuanya tanpa bantuan siapapun? Wang Tianshi sudah lalai menjalankan tugasnya. Dia juga harus diberikan hukuman.


"Lupakan gajimu selama enam bulan ke depan!"


Wang Tianshi pasrah dengan keputusan rajanya. Dia bersalah karena tidak mengawasi Li Anlan dengan baik, bahkan sampai rajanya tahu semua kelakuan Li Anlan dengan sendirinya. Tapi, yang membuat dia sedikit bertanya-tanya adalah, sejak kapan sahabat sekaligus tuannya ini menjadi pemarah?


Sejak dulu, jika dirinya melakukan kesalahan, Long Ji Man hanya memberinya sedikit pelajaran dengan mengurangi gajinya dan menambah hari kerjanya. Long Ji Man tidak akan semarah ini, apalagi sampai menghilangkan jatah uangnya sebanyak enam bulan secara total, bukan memotongnya saja.


Li Anlan adalah orang yang paling aneh yang diawasi Wang Tianshi atas perintah Long Ji Man. Wanita ini bukan hanya berbeda, tapi licin seperti belut. Pergerakannya saat keluar istana sangat cepat hingga ia pun tidak bisa mengejarnya dan kehilangan jejak. Orang seperti ini sungguh langka, apalagi dia seorang wanita.


Wang Tianshi lambat laun menjadi curiga. Di benaknya, terlintas pemikiran kalau Li Anlan bukanlah orang biasa. Dia bukan wanita bodoh yang tidak memilki bakat dan kecerdasan apapun seperti yang dikatakan orang-orang. Asumsi dan prasangka buruk mulai tumbuh di hati Wang Tianshi. Wanita itu pasti menghasut rajanya, hingga Long Ji Man berubah menjadi pria yang seperti kehilangan akal.


Sadar akan keburukan hatinya, Wang Tianshi segera mengusir jauh pemikiran-pemikiran itu. Tidak pantas memfitnah seorang selir raja yang selama dua tahun tidak pernah bertemu dengannya. Mungkin, Li Anlan memang 'hanya berbeda' saja.


"Kalau begitu aku akan pergi."


Merasa sudah tidak ada urusan lagi, Wang Tianshi langsung pamit. Dia hendak melompat lewat jendela, tapi saat ia sampai di depannya, dia mengurungkan niatnya. Sepertinya dia melupakan sesuatu.


"Apa lagi?" tanya Long Ji Man tanpa mengalihkan perhatian dari dokumen.


"Sepertinya bukan itu laporan yang hendak kusampaikan."


Alis Long Ji Man berkerut. Ini sudah larut malam, saatnya dia beristirahat karena besok dia harus bangun pagi untuk menghadiri rapat pengadilan. Long Ji Man harus memarahi para pejabat yang tidak becus bekerja. Raja Dongling sudah muak dan tidak ingin diganggu lagi.


"Yang Mulia, yang ingin kulaporkan adalah... Selir An melompat turun ke Danau Houchi!"


Tidak ada reaksi. Long Ji Man masih tetap pada posisinya.


"Dia bisa berenang."


"Tapi, sudah satu batang dupa, Selir An belum kembali ke permukaan!"


Giliran otak Long Ji Man yang mengalami bug selama beberapa saat. Tidak lama setelah itu, dia kemudian membentak Wang Tianshi.


"Mengapa tidak kau bilang dari tadi?"


Long Ji Man langsung berlari keluar. Dia sangat panik. Hatinya tidak tenang. Long Ji Man merasakan firasat buruk. Jika Li Anlan tidak kembali selama itu, berarti ada yang salah. Sesuatu yang buruk pasti sedang menimpanya.


"Yang Mulia, jangan berlari! Kakimu sangat berharga!" teriak Xiao Biqi yang ikut berlari di belakang Long Ji Man.


Sampai di atas jembatan Danau Houchi, Long Ji Man melihat satu set pakaian pelayan yang tadi diberikan pada wanita itu. Riak air di permukaan danau itu tenang, seperti tidak pernah ada yang benda yang terjatuh ke dalam sana. Karena itulah, Long Ji Man berkesimpulan kalau Li Anlan benar-benar melompat dan belum kembali ke permukaan.


"Anlan, mengapa kau berakal pendek? Siapa yang mengizinkanmu mati?"


Long Ji Man berteriak keras. Suaranya memecah keheningan malam yang sepi. Tidak ada jawaban. Tidak ada suara yang menjawab teriakannya. Long Ji Man semakin panik. Dia hendak melompat, tetapi Wang Tianshi dan Xiao Biqi menahannya.


"Yang Mulia jangan gegabah!" seru Xiao Biqi.


"Benar! Yang Mulia tidak boleh bebuat seperti ini!" Wang Tianshi menyambung perkataan Xiao Biqi.


"Bodoh! Bagaimana jika dia benar-benar mati?"


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


Deg. Jantung Long Ji Man terasa berhenti. Otaknya dan otak Xiao Biqi serta Wang Tianshi mengalami bug bersamaan. Setelah beberapa detik, ketiganya menoleh ke belakang, ke asal suara.


Seorang wanita yang basah kuyup, serta membawa seikat tangkai bunga lotus yang kuncup, sedang menatap mereka dengan aneh sekaligus heran. Ya, tatapan wanita itu mengandung sebuah pertanyaan, apa yang dilakukan ketiga pria itu tengah malam begini di atas jembatan, sambil berteriak-teriak seperti orang gila.


"Li Anlan? Kau tidak mati?" Long Ji Man refleks bertanya.


Li Anlan menggelengkan kepala. Apa maksud pertanyaan Long Ji Man ini?


"Siapa yang mati? Yang Mulia, jangan-jangan kau berpikir aku-"


Sebelum wanita itu melanjutkan perkataan yang bisa mempermalukan Long Ji Man, pria itu terlebih dulu menyela.


"Sudah malam. Kembalilah, besok kau harus bekerja."


Aneh. Beberapa saat yang lalu, wajah Long Ji Man seperti orang kesetanan yang dipenuhi kekhawatitan dan ketakutan. Sekarang, wajah itu berubah kembali menjadi balok es batu. Melihat Long Ji Man berbalik pergi diikuti kasim dan pengawal pribadinya, Li Anlan menjadi semakin heran. Dia menatap nanar kepergian tiga orang itu, sampai punggung mereka hilang di seberang jembatan Danau Houchi.


"Apa dia punya kepribadian ganda?" Li Anlan bertanya pada dirinya sendiri. Wanita itu mengambil pakaian pelayannya, lalu berjalan pergi, kembali ke Istana Xingyue.


...***...


Pagi harinya, Istana Hongwu sudah disibukkan dengan kekacauan yang dibuat oleh pelayan baru.


Li Anlan tanpa sengaja menumpahkan teh longjing yang baru diseduh ke jubah kerajaan Long Ji Man. Dia tersandung bagian bawah pakaiannya sendiri. Hal tersebut membuat Long Ji Man kesal setengah mati. Li Anlan membersihkannya, namun tanpa diduga, dia menyenggol wadah tinta hingga benda itu berdenting terjatuh, dan isinya tumpah. Lantai di dekat kaki meja menjadi kotor.


Long Ji Man terpaksa mengganti jubahnya dengan jubah yang lain. Jika dia tidak khawatir akan terlambat, dia sudah pasti memarahi dan memberikan pelajaran pada Li Anlan. Sayangnya, pria itu sedang terburu-buru.


Para menteri yang sudah berkumpul di Istana Taiji terheran-heran karena Sang Raja yang biasanya selalu datang tepat waktu, sekarang belum kelihatan batang hidungnya. Hari sudah beranjak siang, tapi rapat pengadilan belum dimulai karen si pemimpin rapat belum tiba.


Beberapa saat kemudian, suara Xiao Biqi menggema menandakan bahwa Yang Mulia Raja Long tiba. Para pejabat itu langsung memberi hormat. Mereka hendak bertanya mengapa hari ini rajanya datang terlambat, tapi melihat wajah kesal Long Ji Man, nyali para pejabat itu menciut. Mereka tidak ingin mengalami sial karena menyinggung raja yang suasana hatinya sedang tidak baik.


Tanpa banyak bicara lagi, Long Ji Man langsung meminta para pejabatnya untuk menyampaikan laporan. Saat tiba giliran Menteri Perekonomian, Long Ji Man tanpa basa basi langsung mencercanya dengan banyak pertanyaan.


"Apa laporanmu sudah sesuai dengan kenyataan di lapangan?"


"Sudah, Yang Mulia."


"Rakyatku sejahtera semua?"


"Betul, Yang Mulia."


"Begitukah?"


Wajah Menteri Perekonomian tiba-tiba berubah pucat.


"Lalu mengapa masih ada sekelompok anak kecil terlantar di tengah hutan? Mengapa masih ada pencuri yang mencuri uang demi sesuap nasi?"


Menteri Perekonomian tertunduk, tidak kuat menahan aura Sang Raja.


"Menteri Wei, inikah kesejahteraan yang kau maksud?"


Tanpa diperintah, Menteri Perkeonomian langsung berlutut. Wajahnya semakin pucat dan ketakutan menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Yang Mulia, hamba lalai. Mohon hukum hamba."


"Setengah gajimu selama setahun akan kugunakan untuk membangun rumah bagi mereka. Inilah caramu menebus kelalaianmu!"


Tegas tanpa keraguan, Long Ji Man menjelma menjadi seorang raja yang penuh wibawa, yang mengambil keputusan tanpa takut dan ragu. Seluruh pejabat yang hadir menjadi malu dan takut.


...***...