The Little Consort

The Little Consort
Eps. 68: Sebuah Pernyataan


“Y-Yang Mulia, sadarlah!”


Setelah Long Ji Man melemparkan vas bunga, dia semakin merangsek maju hingga Li Anlan semakin terdesak. Dia meringis sesaat ketika punggungnya berbenturan dengan tembok. Li Anlan hendak menghindar, tetapi Long Ji Man mengunci tubuhnya dengan kedua tangan. Mata pria itu semakin sayu dan tubuhnya semakin tidak seimbang.


“Yang Mulia, mengapa kau tidak bermalam di istana pengantimu?” tanya Li Anlan sambil terus berusaha melepaskan diri.


“Aku tidak punya pengantin.”


Arak pernikahan itu pasti bermasalah. Seseorang pasti sudah mencampurkan sesuatu hingga Long Ji Man menjadi seperti ini. Seorang raja tidak mungkin mabuk hanya karena segelas kecil arak. Li Anlan yang terdesak berusaha mendorong tubuh Long Ji Man untuk menjauh dari tubuhnya dan melepaskannya.


“Jika kau di sini, pengantinmu akan sedih!”


“Aku tidak punya pengantin!”


Lalu tanpa diduga, Long Ji Man mencium bibir Li Anlan dengan ganas seperti sebuah kue. Li Anlan terpekik kaget karena tiba-tiba bibirnya seperti digigit sesuatu. Napasnya terasa sesak dan jantungnya berpacu dengan cepat seperti sedang balap. Posisi keduanya yang sangat dekat membuat Li Anlan mendengar detak jantung Long Ji Man yang juga sedang berpacu seperti jantungnya.


Long Ji Man menggigit bibir Li Anlan hingga wanita itu meringis. Tangannya berusaha mendorong dada pria itu agar segera menjauh. Dia mengerahkan seluruh sisa tenaga yang dia punya. Karena keadaan tubuh Long Ji Man sedang tidak baik, pria itu terhunyung ke belakang akibat dorongan kuat dari tangan Li Anlan. Sudut bibir Li Anlan sedikit berdarah. Benar-benar menjengkelkan! Pria itu malah menggigitnya seperti menggigit kue.


“Yang Mulia, apa yang kau lakukan? Ini sakit!” seru Li Anlan sambil mengusap bibirnya yang berdarah.


“Manis. Biarkan aku memakannya lagi…”


“Kau pikir permen atau gula-gula?”


“Gula-gula. Aku ingin gula-gula.”


Li Anlan menahan tubuh Long Ji Man yang hendak mendekat lagi. Long Ji Man menarik tangan Li Anlan, kemudian memeluknya dengan paksa. Wanita itu terpaku sesaat. Debaran jantung Long Ji Man begitu jelas terdengar di telinganya. Ada kehangatan yang menjalar ke dalam hati.


“Hanya kau wanitaku,” ucap Long Ji Man pelan.


Apa pria mabuk ini sedang menyatakan cinta? Tanya Li Anlan dalam hati.


Baru saja Li Anlan hendak melepaskan diri, Long Ji Man menarik kepalanya hingga wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Long Ji Man. Tatapannya yang sayu menyiratkan sebuah perasaan yang tidak jelas. Mata jernih yang biasanya tajam tidak lagi memancarkan sinarnya. Long Ji Man mencium kembali Li Anlan. Kali ini, Li Anlan tidak bisa lagi bergerak karena seluruh tubuhnya benar-benar terkunci.


...***...


Sinar matahari di penghujung musim semi merangsek masuk lewat celah ventilator udara. Long Ji Man perlahan membuka matanya. Kelopak matanya bergerak-gerak pelan. Saat pandangannya terbuka, dia melihat kain-kain asing menggantung di atas langit-langit kamar. Long Ji Man mengumpulkan seluruh kesadarannya. Kepalanya sedikit pusing.


Dia merasakan kalau tubuhnya tidak bisa digerakkan. Saat menoleh, dia kaget karena seluruh tubuhnya sudah terikat kain sutera berbagai warna. Dia juga merasakan kalau ikatan di tangan dan kakinya lebih kuat dibanding ikatan kain di bagian tubuhnya yang lain.


Perlahan, ingatan kejadian semalam membayang di benaknya. Long Ji Man ingat saat dia meminum arak pengantin bersama Da Yin, kepalanya pusing dan seluruh tubuhnya terasa panas. Dia yang tidak biasa berada dekat dengan wanita kemudian mendorong tubuh istri barunya yang mendekat ke arahnya, kemudian berteriak memanggil Xiao Biqi. Tugasnya untuk menikahi putri utusan perbatasan sudah selesai, sudah saatnya dia kembali ke istananya.


Da Yin si pengantin wanita berteriak memanggilnya, tetapi Long Ji Man sudah menutup pintu Istana Nanxin dan bergegas pergi. Sepanjang perjalanan, dia merasa kalau sakit di kepalanya semakin menjadi dan panas di tubuhnya sudah menjalar ke mana-mana. Dia tiba di depan gerbang Istana Hongwu tengah malam. Tiba-tiba kakinya bergerak ke arah lain tanpa sadar. Xiao Biqi yang memapahnya tahu tujuan rajanya, sehingga kasim kecil itu mengantarnya hingga ke tempat tujuan.


“Selamat pagi, Yang Muliaku yang menyebalkan,” ucap Li Anlan saat wanita itu masuk.


Long Ji Man yang berbaring dengan balutan kain sutera mengikat tubuhnya mendelik, menatap tajam Li Anlan dengan penuh tanya. Wanita itu malah duduk santai di kursi di depan tempat tidur sambil meneguk segelas susu hangat. Wajah pualamnya yang cantik tampak lebih kencang dan segar.


“Apa yang terjadi? Kenapa kau mengikatku?”


“Yang Mulia lupa? Kau menerobos masuk istanaku tengah malam dan mengacaukan tidurku!”


“Apa yang aku lakukan terhadapmu?”


Li Anlan tampak berpikir. Dia ingin membalas dendam dengan mempermainkan pria ini.


“Kau menyatakan cinta padaku lalu mengunciku.”


“Benarkah? Apa aku menyakitimu?”


Li Anlan menunjuk bibirnya yang sedikit bengkak dan terdapat bekas gigitan.


“Kau menggigitku seperti menggigit kue.”


“Yang Mulia, kau adalah seekor drakula! Kau meminum darahku dan menghisap hawa kehidupanku! Aku mungkin akan mati sebentar lagi.”


“Kau… Kau tidak boleh mengatakan hal menakutkan seperti itu.”


“Aku akan jadi hantu dan menghantui setiap tidurmu! Lalu aku akan menghisap darahmu sampai habis!”


“Hentikan!”


Melihat Long Ji Man semakin memerah, Li Anlan jadi sedikit terhibur. Tidak sia-sia dia mengikatnya seperti ini. Long Ji Man yang terikat seperti seorang bayi besar yang idiot dan polos. Apapun yang dikatakan Li Anlan sepertinya dipercaya begitu saja.


Bukan tanpa alasan dia memperlakukannya seperti itu. Tadi malam saat Long Ji Man memeluk dan menciumnya, Li Anlan kehabisan tenaga untuk melawan. Pria itu terlalu kuat. Dia mendorong Li Anlan ke tempat tidur, mencium dan menggigit bibirnya seperti kue, lalu tertidur. Li Anlan yang kehabisan napas kemudian bangkit dan mengumpati suaminya sendiri, menyebutnya dengan berbagai nama panggilan yang jika diteriakkan, terasa sangat menggelikan dan menyebalkan.


Wanita itu membetulkan posisi tidur Long Ji Man yang sembarangan. Dia juga melepas jubah merah dan sepatunya, lalu menggulingkannya ke samping seperti karung beras. Saat Li Anlan berbaring di sampingnya, Long Ji Man tidak bisa diam dan terus bergerak. Tangan kekarnya menarik tubuh Li Anlan yang kecil ke dalam pelukannya, lalu memperlakukannya seperti sebuah guling. Tangan itu juga terus bergerak ke sana kemari.


Sesak napas Li Anlan kembali lagi. Pria itu terlalu erat dan kuat. Saat ada kesempatan, dia langsung melepaskan diri. Sebuah ide tiba-tiba terlintas di otaknya. Li Anlan mengambil beberapa potong kain sutera di lemarinya, lalu mengikat Long Ji Man dengan kain tersebut. Awalnya, dia membungkus pria itu hingga seperti mumi, tetapi dia buka kembali karena tahu itu akan sangat menyesakkan. Jadi, dia mengikatnya di beberapa bagian. Setelah diikat, Long Ji Man yang tertidur karena mabuk bisa diam di tempatnya hingga pagi.


“Lepaskan aku!” perintah Long Ji Man.


Li Anlan menggelengkan kepala. Dia tidak mau melepaskan Long Ji Man dengan mudah. Pria itu sudah membuatnya kesal selama beberapa hari ini. Kesempatan bagus tidak akan datang dua kali, jadi Li Anlan harus memanfaatkannya sebaik-baiknya.


“Tidak bisa.”


Wanita itu duduk di pinggir tempat tidur, lalu meraih kotak rias yang ada di meja kecilnya.


“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Long Ji Man curiga.


“Aku akan membuat pengantinmu tidak menyukaimu lagi.”


Riwayat ketampanan Long Ji Man sepertinya harus hilang hari ini. Tangan kecil Li Anlan yang terampil perlahan menaburkan bubuk bedak ke wajah pria itu, mengolesnya seperti mentega hingga merata. Selesai di bagian wajah, Li Anlan beralih ke bagian mata dan alis. Dia mengoleskan warna merah muda di kelopak mata, lalu menggambar alis. Pemerah pipi juga tidak terlewat.


“Hentikan! Hachi…”


“Yang Mulia, kau merusak riasanku! Jangan bersin lagi!”


Long Ji Man sama sekali tidak bisa bergerak. Ikatan kain ini terlalu kuat. Dia hanya bisa mengiba saat wajahnya ditempeli berbagai produk kecantikan wanita.


“Anlan, jangan oleskan benda merah itu!” seru Long Ji Man saat jari telunjuk Li Anlan menyentuh pemerah bibir, lalu mencoleknya sedikit lebih banyak dan bersiap mengaplikasikannya pada bibir Long Ji Man.


“Yang Mulia, ini manis seperti kue.”


Kurang dari lima belas menit, wajah Long Ji Man sudah berubah menjadi cantik seperti wanita. Li Anlan benar-benar merias wajah itu dengan sempurna. Bibir merah menyala, alis melengkung yang indah, pipi yang merah, dan mata yang cantik benar-benar perpaduan yang pas untuk ukuran wajah seorang raja.


Selesai mengerjakan pekerjaan paginya, wanita itu kemudian beranjak pergi. Long Ji Man yang masih terikat berteriak memanggil namanya, memintanya melepaskan ikatan kain sutera agar dia bisa bergerak dengan bebas. Bukan Li Anlan jika dia mendengar teriakan itu. Wanita itu malah berjalan semakin menjauh dengan langkah santai tanpa rasa bersalah.


“Huang An, setidaknya lepaskan aku dulu!”


“Yang Mulia, aku sangat sibuk. Tunggu sampai Xiao Biqi datang baru kau akan terbebas!”


“Aku akan memotong gajimu!”


“Jangan lupa, aku belum meminta kompensasi darimu karena kau sudah melukai bibirku.”


“Huang An, berani kau memperlakukan rajamu seperti ini?”


“Long Ji Man, berani kau memperlakukan Permaisuri Bangsawanmu seperti semalam?”


Long Ji Man menghela napas. Inikah bayaran yang harus ia berikan karena secara tidak sadar telah membuat Li Anlan kesal dan marah? Dan juga, terkait pernyataan cintanya, itu benar-benar di luar kendalinya. Saat mabuk, orang bisa mengatakan apapun yang ada di hatinya. Tidak pengemis, penjudi, bangsawan, bahkan seorang raja pun sama saja.


Inikah hatinya yang sebenarnya?


...***...