
Selama satu bulan sejak dinobatkannya Permaisuri Bangsawan, kehidupan pemerintahan di Istana Kerjaan Dongling mengalami banyak pergolakan. Para pejabat berkali-kali menunjukkan keberatan mereka atas dipilihnya Li Anlan sebagai Permaisuri Bangsawan. Mereka beranggapan bahwa kedudukan tersebut tidak cocok untuknya, mengingat bahwa wanita itu adalah seorang yatim piatu tanpa sanak saudara. Orang yang tidak mempunyai sandaran yang kuat seharusnya tidak diberikan status istimewa, karena jika sesuatu yang buruk terjadi, maka tidak akan berpengaruh pada stabilitas pemerintahan Kerajaan Dongling. Jika seorang Permaisuri Bangsawan memiliki sandaran yang kuat, maka Kerajaan Dongling mungkin akan lebih mudah mencapai kejayaan.
Tetapi, betapapun bersikukuhnya mereka terhadap pendapat masing-masing, Long Ji Man tetap tidak akan mencabut kembali atau menggulingkan Permaisuri Bangsawan. Sebesar apapun para pejabat mempermasalahkannya, Long Ji Man akan tetap teguh pada pendiriannya. Biarlah mereka berkicau hingga mulut berbusa. Raja Dongling yang gagah dan berani tidak akan pernah bisa goyah.
Berita pengangkatan Permaisuri Bangsawan begitu cepat tersebar ke seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Dongling. Berpuluh pejabat daerah berkali-kali datang ke ibukota untuk memastikan kebenaran dari kabar yang mereka terima. Ratusan saudagar dan pedagang saling berkomentar di jalan dan di setiap persimpangan, mempertanyakan siapakah sosok Permaisuri Bangsawan yang berhasil membuat Raja memberikan kedudukan itu kepadanya. Ribuan bangsawan saling beradu pendapat di kedai-kedai makanan dan balai pertemuan, tentu semata-mata hanya untuk bertaruh dan saling melempar argumen mengenai Permaisuri Bangsawan.
Mereka ingin melihat wajahnya, mereka ingin mengetahui seperti apa sosoknya, dan mereka ingin mengetahui kelebihan apa yang dimiliki oleh Permaisuri Bangsawan Ketiga yang diangkat setelah seratus tahun berlalu. Jiwa-jiwa penasaran menggerogoti sebagian hati hingga orang-orang yang tidak bertanggungjawab menjadikan Permaisuri Bangsawan sebagai objek perjudian.
Terpilihnya seorang Permaisuri Bangsawan adalah patah hati terbesar bagi para selir dan gadis muda yang ada di istana dan seluruh wilayah Dongling. Mereka kehilangan kesempatan untuk mendapatkan status istimewa yang memberikan kewenangan mutlak dan hampir tidak terbatas, juga bisa membebaskan mereka dari urusan harem yang begitu memusingkan dan mengerikan. Status istimewa itu sudah menjadi milik orang lain. Para selir raja dan para gadis muda hanya bisa berharap bahwa mereka mendapatkan perhatian dan kasih sayang raja, dan tidak mungkin lagi mengejar status Permaisuri Bangsawan yang selama ini berusaha mereka capai.
Kabar mengenai perbincangan hangat para penduduk terhadap Permaisuri Bangsawan juga sampai ke telinga Long Ji Man. Dia, sebagai raja yang memiliki hak khusus tersebut tentu geram dengan berbagai asumsi yang tumbuh di sekitar lingkungan kerajaan. Permaisuri Bangsawan adalah urusan pribadinya, hak istimewanya, dan otoritasnya sebagai raja yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.
Apakah mereka sudah lupa pada peraturan yang telah ada selama lebih dari tiga ratus tahun perihal Permaisuri Bangsawan?
Long Ji Man yakin kalau rakyatnya tidak bodoh. Dia masih dapat memaklumi jika yang berbicara adalah kalangan bawah. Tetapi, Long Ji Man tidak dapat lagi menoleransi jika yang berbicara adalah kaum bangsawan dan pegawai pemerintahan, yang latar belakang pendidikan dan keluarganya lebih unggul daripada yang lain. Mereka seharusnya mendukung segala keputusan yang dibuat raja, bukan menentang dan memperdebatkannya habis-habisan.
Hari ini, Long Ji Man mendapat laporan dari prajurit rahasianya, bahwa di luar sana ada banyak sekali rumah perjudian illegal yang menggunakan nama Permaisuri Bangsawan sebagai objek taruhan. Long Ji Man marah, dia mengutuk keras para pelakunya. Raut wajahnya tidak lagi ramah, tetapi penuh dengan amarah yang membara seperti api. Xiao Biqi yang melihatnya bahkan tidak mempunyai keberanian untuk mendekat. Long Ji Man yang seperti itu tampak seperti iblis yang menggila.
“Tiansi!”
“Ya, Yang Mulia.”
“Hancurkan seluruh rumah judi yang menggunakan nama Permaisuri Bangsawan sebagai taruhan! Hukum semua orang yang terlibat dan beri mereka denda yang besar! Jika mereka adalah seorang bangsawan, turunkan statusnya menjadi rakyat biasa. Jika mereka adalah pejabat, pecat mereka dan asingkan seluruh keluarganya!”
Wang Tianshi sempat terkejut dengan perintah yang dikeluarkan rajanya.
“Baik, Yang Mulia. Aku akan melaksanakan perintah.”
“Ingat, tidak boleh ada yang terlewat dan jangan sisakan satu bangunan pun!”
Sifat asli yang tersembunyi di dalam dirinya muncul kembali. Wang Tianshi tidak punya kemampuan untuk melawan rajanya. Dia tahu Long Ji Man sangat mempedulikan Li Anlan. Ya, tentu saja. Bagaimana mungkin rajanya mengabaikan seorang wanita yang sudah melalui hidup dan mati dengannya serta telah menyelamatkan nyawanya sebanyak dua kali. Jika dia menjadi Long Ji Man, Wang Tianshi juga pasti akan melakukan hal yang sama.
Xiao Biqi mendekat kembali, mencoba menyelidiki apakah amarah rajanya masih membara atau sudah sedikit padam. Kasim muda itu menghembuskan napas lega. Wajah Long Ji Man tidak segarang tadi. Ekspresinya kembali datar dan dingin seperti hari-hari biasa, meskipun dia tahu di dalam hati rajanya api kemarahan itu masih membara.
“Bagaimana kabar Permaisuri Bangsawan?” tanya Long Ji Man setelah sekian lama terdiam.
“Menjawab, Yang Mulia. Nyonya Huang masih sibuk belajar bersama Bibi Yang di Istana Xingyue.”
“Apa sudah ada perkembangan?”
Xiao Biqi menggeleng. Selama satu bulan ini, Bibi Yang datang setiap hari ke Istana Xingyue untuk mengajari Li Anlan. tetapi, selama satu bulan ini pula, Xiao Biqi melihat perubahan. Perubahan itu tidak terjadi pada Li Anlan, tetapi pada Bibi Yang. Guru etika dan tatakrama istana itu sekarang terlihat lebih kurus. Bagian bawah matanya berkantung dan menghitam. Tampaknya, Li Anlan sudah membuat wanita itu kelelahan dan stress setengah mati.
Long Ji Man menghela napas. Memaksa Li Anlan yang liar menjadi patuh pada peraturan istana mungkin bukan keputusan yang tepat. Wanita itu menyukai kebebasan dan membenci keterikatan dengan aturan. Jika diteruskan, Li Anlan mungkin akan semakin liar dan tidak terkendali. Menjinakkan seekor harimau betina tidak bisa dilakukan dengan paksaan. Mungkin, satu-satunya jalan agar Li Anlan bisa seperti wanita pada umumnya adalah dengan mengajarinya secara perlahan.
“Yang Mulia, jika hamba boleh memberi saran, sebaiknya Yang Mulia tidak boleh memaksa Nyonya Huang lagi. Menurut hamba, biarkan Nyonya Huang menjadi dirinya sendiri. Bukankah itu yang membuat Yang Mulia memilihnya menjadi Permaisuri Bangsawan?”
“Maksudmu, dia tidak perlu belajar etika dan tatakrama lagi?”
“Yang Mulia, Nyonya Huang adalah seorang wanita. Seliar apapun tingkah lakunya, hamba yakin dia masih mengetahui batasannya sendiri.”
“Sejak kapan kau menjadi pintar begini?”
“Bukankah aku belajar dari Yang Mulia?”
Jika Xiao Biqi tidak mengatakan itu, Long Ji Man mungkin sudah lupa pada penyebab ia memilih Li Anlan sebagai Permaisuri Bangsawan. Li Anlan, gadis liar yang tidak terduga itu selalu menjadi dirinya sendiri di manapun, kapan pun, dan dalam situasi apapun. Kelebihannya adalah tidak suka mencari perhatian dan tidak suka menjilat. Wanita itu selalu mengutarakan apa yang ada di hati dan pikirannya secara terbuka.
Kali ini, Long Ji Man mungkin harus melepaskannya. Biarlah dia tidak tahu etika dan tatakrama istana, asalkan wanita itu tetap patuh dan tidak berbuat onar di mana-mana. Long Ji Man juga tidak ingin wanita itu tertekan dan melarikan diri, atau berubah menjadi orang lain yang tidak dikenalinya sama sekali.
Netra Long Ji Man beralih pada suatu gulungan kertas yang dikeluarkan Xiao Biqi dari dalam jubah kasimnya. Gulungan kertas itu sepertinya berasal dari kalangan atas, karena aroma dan warna kertasnya hampir serupa dengan aroma dan warna kertas yang digunakan istana.
“Yang Mulia, ini adalah petisi dari beberapa pejabat mengenai permintaan penggulingan Nyonya Huang sebagai Permaisuri Bangsawan.”
“Tidak tahu malu! Dasar pejabat tidak tahu diri!”
Long Ji Man merobek kertas petisi tersebut menjadi beberapa bagian kecil. Bara api kemarahan yang hampir padam di hati Long Ji Man kembali menyala, seperti disiram minyak tanah. Raja muda itu kembali berwajah sangar. Dia menggebrak meja hingga beberapa dokumen dan wadah tinta bergetar. Suara gebrakannya bahkan sampai ke luar Istana Hongwu, membuat para pelayan dan dayang istana yang kebetulan lewat menghentikan langkahnya karena terkejut.
Mengapa mereka terus menerus menyebrangi Long Ji Man?
“Xiao Biqi! Sampaikan perintahku!”
“Ya, Yang Mulia.”
“Hamba akan melaksanakan perintah.”
“Kita lihat siapa yang berani mempermainkan keluarga kerajaan!”
Dari luar istana, terdengar sebuah suara wanita yang berteriak memaksa masuk. Long Ji Man mengubah ekspresinya, mengembalikan wajahnya seperti biasa. Setelah memberi isyarat pada kasimnya, pria itu duduk tegak di kursi keagungannya. Xiao Biqi membukakan pintu, lalu masuklah Li Anlan dalam setelan hanfu biru muda berlari ke arah Long Ji Man.
“Mengapa kau kemari?”
“Yang Mulia, apa pejabatmu membuat masalah denganmu?”
“Kau sudah mendengarnya?”
“Xie Roulan memberitahuku perihal perbincangan hangat yang terjadi di istana akhir-akhir ini. Yang Mulia, apa benar aku tidak pantas menyandang gelar Permaisuri Bangsawan? Bagaimana jika kau kabulkan saja keinginan mereka?”
“Tidak. Seorang raja tidak akan pernah mengingkari perkataannya sendiri!”
“Tapi, Yang Mulia-”
“Li Huang An, Permaisuri Bangsawan adalah otoritas dan hak pribadiku. Mereka tidak punya hak dan kewenangan untuk mencampurinya! Meskipun mereka mati, aku tidak akan pernah menggulingkanmu!”
Li Anlan yang datang terburu-buru mengambil napas sejenak. Debaran jantungnya sudah mulai tenang, tidak seperti saat ia datang. Wanita itu berlari dari Istana Xingyue menuju Istana Hongwu setelah mendengar cerita Xie Roulan perihal mereka yang terus mendebat raja setelah pengangkatan Permaisuri Bangsawan. Xie Roulan juga bercerita bahwa di luar sana, rakyat bertaruh di rumah-rumah judi dan di pinggir jalan menggunakan namanya.
“Wah, kalau begitu, para pejabat itu sungguh tidak tahu diri. Mengapa mereka terus menentangmu? Seharusnya mereka tahu tempatnya!”
“Kau sudah mengerti sekarang?”
Li Anlan mengangguk.
“Aku dengar, bahkan Ibu Suri pun tidak berhak mencampuri urusan Permaisuri Bangsawan.”
“Itu memang benar.”
“Yang Mulia, tapi apa kau yakin tidak apa-apa? Bagaimana jika para pejabat itu memberontak dan menyulitkanmu lagi?”
“Aku bukan raja yang lemah. Mereka tidak akan mudah membuatku kalah!”
Untuk pertama kalinya, Li Anlan menyaksikan seseorang membelanya habis-habisan seperti ini. Seumur hidupnya, Li Anlan hanya bisa membela diri sendiri tanpa mengandalkan bantuan orang lain. Sekarang di negeri asing ini, dengan status barunya, Long Ji Man malah membuat dirinya memiliki keyakinan hidup yang tinggi. Jalan di depannya berliku dan berkerikil tajam. Li Anlan perlu seseorang yang berjalan di sisinya sepanjang waktu sampai ia menemukan jalan beraspal yang mulus tanpa lubang.
“Yang Mulia, terima kasih,” ucap Li Anlan dengan tulus.
“Untuk?”
“Terima kasih karena kau sudah mempercayaiku.”
“Kau ingin memujiku?”
“Tentu saja tidak!”
“Sayang sekali.”
“Jika semua raja di dunia ini narsis sepertimu, apa masih ada wanita yang bersedia berjalan di sampingmu?” cibir Li Anlan. Sungguh, dia benar-benar wanita yang tidak punya konsistensi sama sekali.
“Narsis? Apa itu?”
“Kepedulian yang berlebihan pada diri sendiri. It means arrogant, selfish, and overconfidence!”
“Mengapa aku merasa kau sedang menjelek-jelekkanku?”
“Tidak juga. Aku hanya sedang mengatakan fakta.”
Xiao Biqi, melihat interaksi Raja dan Permaisuri Bangsawan, diam-diam menghembuskan napas lega. Kehadiran Li Anlan setidaknya sudah sedikit memadamkan api kemarahan di dalam diri Long Ji Man. Dua orang itu seperti sepasang naga dan phoenix yang berbeda dimensi tetapi saling terhubung satu sama lain. Meskipun Li Anlan datang untuk berdebat dengan rajanya, Xiao Biqi tidak lagi bisa mencegah atau melakukan apapun.
...***...