The Little Consort

The Little Consort
Eps. 92: Perburuan Seru


Proses pencarian mantan Pangeran Agung, Long Ji Yu, masih terus berlangsung hingga dua minggu selanjutnya. Seluruh penjuru Kerajaan Dongling sudah ditelusuri, mulai dari rumah judi, rumah bordil, penginapan, restoran, bahkan sampai rumah kosong. Tetapi, yang dicari sungguh pandai bersembunyi. Para prajurit kerajaan belum bisa menemukan jejaknya hingga kini.


Melihat situasi yang semakin kacau, Li Anlan mau tak mau harus turun tangan. Sejak awal dia memang sudah terlibat, maka dia tidak bisa mundur satu langkah pun. Si keparat Long Ji Yu harus segera ditangkap dan diadili, agar pihak kerajaan bisa memberikan penjelasan kepada rakyat dan seluruh penduduk Kerajaan Dongling.


Bukan Li Anlan namanya jika dia tidak bisa menemukan cara untuk menangkap Long Ji Yu. Sama seperti penangkapan Han Jinxi, seseorang perlu menjadi umpan agar ikan besar semacam Long Ji Yu bisa tertangkap tanpa harus menumpahkan darah banyak orang. Jika para prajurit tidak bisa melakukannya, maka dia sendiri yang akan turun tangan.


“Tidak, tidak boleh!” tolak Long Ji Man saat Li Anlan mengajukan dirinya sendiri menjadi umpan untuk menangkap Long Ji Yu.


“Yang Mulia, dia mengincarku. Mengapa tidak kita berikan dia kesempatan saja?”


“Tidak. Itu sangat berbahaya. Huang An, jangan mengambil resiko lagi!”


“Yang Mulia, kumohon.”


“Aku menjadikanmu sebagai Permaisuri Bangsawan bukan untuk mengorbankan diri!”


“Yang Mulia, ayolah,” paksa Li Anlan.


“Sekali tidak ya tidak!”


Raja keras kepala ini begitu menyebalkan. Padahal, peluang emas terpampang jelas di depan mata. Jika Long Ji Man mengizinkannya, maka bukan hanya Long Ji Yu saja yang akan tertangkap, tetapi seluruh komplotannya juga akan terungkap. Penjahat kelas kakap seperti pria tua tidak tahu diri itu pasti memiliki banyak antek-antek di belakangnya.


Karena Long Ji Man tidak mengizinkannya, maka Li Anlan hanya bisa bertindak sendiri. Dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk mengatasi semua situasi tidak menyenangkan ini. Dia berharap, setelah Long Ji Yu tertangkap, hidupnya bisa tenang kembali. Sejak ambang kematiannya satu bulan lalu, Li Anlan belum menemui hari-hari damai.


Wanita itu kembali ke Istana Xingyue dengan perasaan dongkol. Langkahnya cepat. Sesekali dia mengumpat sambil menendang udara. Danau Houchi, yang menjadi tempat bermulanya kisah ini bersinar di bawah cahaya bulan. Air-airnya beriak oleh terpaan angin.


Sang Permaisuri Bangsawan mengeratkan jubahnya. Ini sudah hampir pertengahan musim gugur, tetapi udara sudah seperti musim dingin. Dia pikir, musim gugur pertamanya di Kerajaan Dongling akan dipenuhi dengan kesenangan. Sebaliknya, musim gugur pertamanya di sini justru harus dia lewatkan dengan tugas berat yang menantang nyawa.


Dulu, saat di dunia modern, Li Anlan selalu menghabiskan pertengahan musim gugur dengan pergi ke gunung-gunung yang pohon dan semak-semaknya meranggas. Dia biasa pergi bersama klub pendaki gunungnya yang terdiri dari pria dan wanita berbagai usia pecinta alam. Betapa menyenangkannya saat-saat itu. Li Anlan tidak perlu repot-repot memikirkan beban hidup yang ada di pundaknya, tidak seperti kehidupannya di sini.


Ah, dia tiba-tiba rindu. Sedang apa teman-temannya di dunia sana sekarang?


Berbicara soal naik gunung, dia tiba-tiba teringat pada Gunung Feiyun. Gunung itu menghitam dilihat dari kawasan istana kerajaan. Cahaya bulan tidak terlalu bisa menembus celah-celah pohon dan semak-semaknya. Malam hari, gunung itu tak jauh berbeda dari sebuah gundukan tanah yang menghitam.


Benar, Gunung Feiyun! Tempat itu satu-satunya lokasi yang belum diperiksa para prajurit istana! Karena tempatnya terlindungi dan tidak boleh dijamah atas perintah raja, maka siapapun tidak akan mengira bahwa tempat itu adalah tempat persembunyian yang paling sempurna!


Li Anlan mempercepat langkahnya. Ketika dia sampai di istananya, dia langsung berkemas. Tidak baik membuang-buang waktu terlalu banyak. Semakin cepat dia pergi, maka semakin baik. Tidak peduli malam atau siang, mendaki gunung adalah sesuatu yang sangat menyenangkan dan menantang! Dia akan naik sendirian demi memuaskan hasrat sekaligus mencari penjahat kelas kakap itu!


Wanita itu berjalan mengendap-endap melalui gerbang belakang Istana Hongwu. Penjagaan yang lengah membuat Li Anlan bisa melewatinya dengan mudah. Satu orang pun tidak menyadari bahwa Permaisuri Bangsawan tidak berada di istananya pada malam ini. Bahkan binatang malam pun tidak mengetahui kepergiannya yang begitu apik dan tersembunyi.


Li Anlan berjalan menyusuri jalan setapak yang dulu pernah ia lewati bersama Long Ji Man. Ingatan yang kuat terhadap trek pegunungan membuat perjalanannya terasa mudah dan lancar. Dia, seorang wanita, berani menaiki gunung seorang diri di malam hari tanpa rasa takut atau khawatir. Tubuhnya tegap dan langkahnya cepat. Meski beban berat berada di punggung, dia tetap berjalan menuju puncak.


Li Anlan menyorotkan senternya ke arah depan dan samping, memastikan jalan yang dia lalui sudah benar dan tidak menuntunnya ke jurang.


Hewan-hewan malam yang sedang beraksi kebanyakan terkejut karena sinar yang disorotkan begitu terang, hingga mereka seketika terbang atau berlari menjauh.


Meskipun begitu, Li Anlan tetap berjalan menyusuri jalan setapak hingga dia tiba di sebuah tempat yang tidak asing.


...***...


“Yang Mulia! Yang Mulia!” Xie Roulan berteriak sambil berlari memasuki gerbang Istana Hongwu. Wajah pelayan itu panik dan dipenuhi dengan keringat.


“Roulan, mengapa kau berteriak di Istana Raja?” tanya Xiao Biqi setengah menelisik.


“Gawat! Kasim Bi, Nyonyaku hilang!”


“Hilang? Permaisuri Bangsawan hilang?” tanya Xiao Biqi memastikan pendengarannya.


“Benar! Ranselnya tidak ada!”


Kini giliran Xiao Biqi yang pani. Gawat! Permaisuri Bangsawan menghilang lagi! Yang Mulia Raja pasti akan marah!


“Siapa yang hilang?” tanya sebuah suara dari dalam Istana Hongwu.


Long Ji Man keluar dengan jubah resmi kerajaannya. Dia baru saja selesai membersihkan diri, tetapi suara wanita dan kasimnya di depan sana menarik perhatiannya.


Samar-samar dia mendengar wanita itu menyebut-nyebut julukan nyonya, sementara kasimnya menyinggung Permaisuri Bangsawan. Untuk itulah, dia keluar untuk memastikan kebenarannya.


Xiao Biqi dan Xie Roulan menunduk memberi hormat. Tidak ada yang tahu seberapa cepat jantung mereka berdetak tanpa aturan. Wibawa rajanya terlalu besar dan auranya terlalu kuat, hingga keduanya tidak mampu memandang wajah raja mereka dengan kepala tegak. Ditambah lagi, mereka bingung harus menjelaskan apa karena raja mereka pasti akan bertanya perihal kebenaran dari sesuatu yang beberapa saat lalu mereka katakan.


“Yang Mulia,” ujar Xie Roulan pelan.


“Siapa yang hilang?”


“Nyo-Nyonya hilang,” jawabnya takut-takut.


“Apa?”


“Nyonya hilang sejak semalam.”


Long Ji Man terpaku. Jadi, Li Anlan tidak berada di istananya sejak semalam? Ke mana wanita itu pergi setelah pulang dari Istana Hongwu? Apakah dia jatuh dan tenggelam kembali ke dalam Danau Houchi? Tidak, itu tidak mungkin. Tidak akan ada yang berani menyakiti Permaisuri Bangsawan di saat seperti ini. Kemungkinan kejahatan mencelakai sangat kecil karena penjagaan di Istana Harem sangat ketat dan semua anggota keluarga kerajaan sedang dalam pengawasan prajurit istana.


Dalam kekalutan dan kebingungannya, Long Ji Man tiba-tiba teringat akan suatu tempat yang mungkin tidak pernah disangka-sangka: Gunung Feiyun! Kemarin, saat wanita itu meminta izin menjadikan dirinya sendiri umpan, Long Ji Man langsung berpikir bahwa pamannya bersembunyi di tempat yang terlindungi. Satu-satunya tempat yang terlindungi dan belum diperiksa adalah Gunung Feiyun beserta kawasan hutan lindungnya. Li Anlan pasti pergi ke tempat itu tadi malam!


“Tianshi!”


Wang Tianshi tiba-tiba muncul entah dari mana.


“Ya Yang Mulia.”


“Perintahkan prajurit utama untuk bersiap, ikuti aku ke suatu tempat!”


“Baik, Yang Mulia! Hamba akan melaksanakan perintah.”


Setelah bersiap bersama sejumlah pasukan terbaik kerajaan, Long Ji Man pergi ke Gunung Feiyun lewat jalur yang biasa dia lewati. Pada pagi hari yang cerah itu, sekelompok orang berbaris dengan senjata dan seragam lengkap.


Di depan sana, Long Ji Man memimpin layaknya seorang jenderal yang siap berperang.


Ini bukan perang, ini adalah perburuan yang menentukan hidup atau mati. Ini adalah perburuan musim gugur yang sesungguhnya. Bukan hewan yang sedang diburu, tetapi kebenaran dan keadilan. Seorang penjahat pengkhianat sedang diburu hidup dan matinya untuk menentukan kemenangan.


Di sebuah tanah yang agak datar, Long Ji Man memerintahkan pasukan terbaiknya untuk berpencar. Medan di gunung ini cukup sukar, jika bergerombol maka sama saja dengan kebohongan. Pasukannya dipecah untuk mencari ke lima arah. Dia sendiri pergi ke arah Wisma Gunung Feiyun. Long Ji Man berharap wanita itu ada di sana. Dia tidak berharap kalau Li Anlan benar-benar mengumpankan dirinya sendiri.


Tengah hari, Long Ji Man sampai di depan Wisma Gunung Feiyun. Pintu gerbang kayu yang memagari bangunan itu terbuka, pertanda bahwa seseorang telah masuk ke sana. Secercah harapan berpendar, Li Anlan mungkin saja ada di sana. Long Ji Man turun dari kuda, kemudian dia berjalan masuk ke dalam area wisma.


Pintunya tidak terkunci. Di dalam ruangan, terdapat beberapa barang modern milik Li Anlan berserakan di mana-mana. Long Ji Man mulai mencari ke setiap sudut pondok dengan teliti sambil berteriak. Hanya suara angin dan suara hewan hutan yang menjawab setiap teriakannya. Dia panik. Sebisa mungkin dia mengendalikan diri untuk tidak berlari dan bersikap gegabah.


“Apa yang sedang dilakukan keponakan kesayanganku di tempat terpencil ini?” Sebuah suara mengalihkan atensi Long Ji Man. Pria itu menoleh ke arah belakang.


Long Ji Yu berdiri dengan angkuh sambil memegang sebuah benda. Benda itu berbentuk persegi panjang dan tampak sangat familiar. Ponsel! Itu adalah ponsel Li Anlan!


“Di mana Permaisuri Bangsawan?” tanya Long Ji Man sambil menatap tajam pamannya.


“Ah, jadi kau datang jauh-jauh untuk mencari istrimu?”


“Paman, dia sama sekali tidak ada kaitannya dengan semua ini!”


“Oh benarkah? Keponakanku tersayang, kau salah. Jika bukan karena kemunculan wanita itu, sejak lama takhta itu sudah menjadi milikku!”


“Paman! Jika kakek atau ayahku mengetahui ini, mereka pasti akan sangat kecewa!”


Long Ji Yu tertawa keras.


“Untuk apa aku menangisi kekecewaan orang yang sudah mati?”


Amarah Long Ji Man sudah naik. Melihat wajah paman yang menjadi guru sekaligus pengkhianat, dia menjadi sangat marah. Wajah itu adalah wajah yang sama yang mengajarinya kebaikan, sekaligus wajah yang membuatnya menuai kebencian yang tidak pernah dia tanam.


“Kembalikan Huang An!”


“Man’er, tidak seru jika perburuan ini selalu dimenangkan olehmu. Hari ini, tahun ini, perburuan ini akan menjadi kemenangan terbesarku!”


Long Ji Man maju, hendak menyerang Long Ji Yu. Pedang legendarisnya sudah dia keluarkan dari sarung. Tetapi, langkahnya terhenti tatkala dia melihat seorang wanita didorong masuk dari luar oleh beberapa orang. Wajah wanita itu dipenuhi luka lebam dan sekujur tubuhnya terluka.


“Huang An!”


“Yang Mulia? Sedang apa kau di sini?”


Li Anlan mengerutkan kening saat dia melihat suaminya berdiri sambil memegang pedang. Tadi malam, dia tidak sengaja jatuh dan berguling hingga tubuhnya dipenuhi luka, kemudian bawahan Long Ji Yu menemukannya dan membawanya ke sini.


Berdasarkan penilaian Li Anlan, bawahan Long Ji Yu pasti sudah mengetahui Wisma Gunung Feiyun sejak lama. Long Ji Yu menjadikannya sandera untuk memancing Long Ji Man. Pria itu tahu kalau keponakannya pasti datang untuk mencari istrinya yang hilang. Padahal, itu semua ulah Li Anlan sendiri. Dia pergi atas kemauannya sendiri, tanpa ada paksaan dari siapapun.


“Huang An, bukankah aku sudah melarangmu?”


“Hehehe… Yang Mulia, Gunung Feiyun sangat menantang. Lihat, ikan besar yang ingin kau tangkap bahkan tertarik pada tempat ini!”


Wanita itu sama sekali tidak terlihat takut. Long Ji Yu kemudian menyodorkan pedangnya yang tajam ke leher Li Anlan sambil menatap tajam keponakannya.


“Jika kau ingin istri tercitamu selamat, letakkan pedangmu dan berikan takhtamu padaku!”


Long Ji Man kebingungan. Jika dia maju, pedang di tangan pamannya akan menggesek leher Li Anlan. Jika dia tidak maju, dia harus menyerahkan takhta kerajaannya kepada orang brengsek yang tidak tahu diri. Pria itu melihat Li Anlan sekilas. Dia menangkap suatu isyarat yang mengatakan bahwa dia harus menunggu hingga beberapa saat. Meski sedikit ragu, Long Ji Man memutuskan untuk mengulur waktu.


“Kau pilih istri atau takhtamu?”


“Hei, paman jahat, bisakah kau jauhkan sedikit benda tajam itu dari leherku? Itu sangat dingin!”


“Diam! Wanita sepertimu sebaiknya tidak banyak bicara!”


“Aku punya mulut, tentu saja aku harus bicara!”


Long Ji Yu mulai menyadari kalau kedua orang ini sedang mengulur waktu. Long Ji Yu semakin mendekatkan pedangnya ke leher Li Anlan. Tetapi, tanpa dia duga, terjadi keributan di luar sana. Suara senjata yang beradu bergema memenuhi udara.


...***...