
Malam hari, saat para penjaga berganti shift di istana raja, dan malam menjadi hening, keadaan di dalamnya justru lebih hening lagi. Ruangan utama Istana Hongwu seperti tak berpenghuni, padahal si penghuni bersama kasimnya serta dua orang lainnya sedang berada dalam ruangan tersebut.
Long Ji Man, dari atas kursi kebesarannya, duduk tegap menatap dingin dua wanita yang berlutut di depannya. Satu wanita berpakaian pria, satu lagi berpakaian pelayan. Wanita berbaju pria tidak menunduk seperti wanita berbaju pelayan, melainkan tegas balik menatap Long Ji Man.
Sepulang dari rumah tua di dalam hutan tadi, Long Ji Man langsung menyeret Li Anlan kembali ke istana untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pelayanna, Xie Roulan, juga dipanggil untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya karena tidak menjaga majikannya dengan baik hingga berani membiarkannya menyelinap keluar istana.
Satu kali masih dapat dimaklumi, dua kali sudah tidak bisa ditoleransi. Li Anlan sangat berani, mempertaruhkan nyawa kecilnya yang hanya berjumlah satu. Bagaimana bisa dia berhasil lolos dua kali dalam waktu kurang dari tujuh hari?
Long Ji Man berkali-kali mengatakan dalam hatinya, selir terbuangnya ini adalah wanita yang paling berani. Tidak pernah ragu, tidak pernah takut, dan tidak pernah kapok. Karakternya sungguh tidak bisa ditemukan pada wanita manapun di dunia ini.
"Li Anlan, ada yang ingin kau katakan?"
Wusss...
Angin dari luar tiba-tiba bertiup, menyusup lewat celah pintu dan jendela, serta lewat ventilator udara. Bulu kuduk Li Anlan langsung berdiri semua. Angin sialan itu membuat suasana di dalam Istana Hongwu menjadi semakin menyeramkan. Situasi begitu mencekam. Ruangan mewah yang terang benderang itu berubah seperti sebuah ruang pengadilan, yang mengadili tersangka melalui siaran langsung.
Terdakwanya adalah Li Anlan. Saksinya adalah Xie Roulan. Hakimnya adalah Long Ji Man. Penonton sidangnya adalah Xiao Biqi. Kasusnya adalah kasus seorang selir terbuang yang tidak bergelar menyelinap keluar istana tanpa izin sebanyak dua kali. Ancaman hukuman terbesarnya adalah hukuman mati.
Li Anlan seperti seorang terdakwa yang teraniaya. Dia menjadi tersangka pelanggar protokol tatakrama istana yang ulung. Li Anlan melakukan kejahatan berupa rekreasi tanpa izin suami, yang terpaksa melanggar aturan demi setitik kebebasan dan menghirup udara segar, sekalian menikmati pemandangan dan membuka perusahaan.
"Jika Yang Mulia ingin menghukum, hukumlah aku."
"Kau memang seharusnya dihukum."
Nada bicara dan tatapan dingin itu membuat Li Anlan membeku. Vibes yang disebabkan situasi semacam ini sama seperti ia sedang berada di rumah hantu yang gelap. Seluruh bagian di dalam Istana Hongwu ini seperti sedang ikut menatapnya.
"Majikan tidak akan lari jika pembantunya tidak memiliki keberanian."
"Tolong jangan libatkan pelayanku!"
Situasi menegangkan itu justru malah membuat Li Anlan menjadi kesal. Aura Long Ji Man memang menyeramkan, tapi sikap pria itu membuat Li Anlan berdecak. Pria itu terlalu banyak bicara dan bertele-tele.
Long Ji Man yang menjadi raja sangat jauh berbeda dengan Long Ji Man sebagai kasim. Li Anlan menyadari bahwa Long Ji Man yang menjadi kasim tidak sedingin ini. Juga, tidak membatasi ruang geraknya dan tidak melarang apapun yang dilakukannya. Long Ji Man yang menjadi kasim sedikit lebih hangat dan bersahabat. Sangat jauh berbeda dengan Long Ji Man yang menjadi raja.
"Baik. Karena kau begitu berani, maka kuputuskan hukuman yang cocok untukmu."
Li Anlan menahan napas.
"Kau harus menjadi pelayanku selama satu bulan penuh!"
Otak Li Anlan bug selama beberapa detik.
"What? Are you serious?"
Meskipun Long Ji Man tidak mengerti apa yang Li Anlan katakan, tapi dia paham kalau wanita ini sedang protes.
"Masih ingin protes?"
"Bukan, maksudku, mengapa aku harus menjadi pelayan?"
Ya, Long Ji Man berpikir dia harus memberi pelajaran pada selirnya secara pribadi. Karakter keras kepala Li Anlan tidak akan bisa dihadapi oleh siapapun selain oleh dirinya sendiri. Tingkah laku Li Anlan yang tidak sopan dan arogan membuat Long Ji Man turun tangan sendiri. Wanita itu harus tahu batasan dan merasakan hukuman agar tidak menciptakan masalah di masa depan.
Xiao Biqi keluar untuk mengambil beberapa barang. Saat kasim itu kembali, di tangannya sudah ada satu set pakaian khusus yang dipakai para pelayan tingkat tinggi, atau yang sering dipakai oleh kepala istana. Warnanya abu-abu muda. Selain pakaian, di atasnya juga ada topi dan sabuk.
"Aku harus memakai ini?"
"Menjalani hukuman harus sepenuh hati."
Li Anlan ingin protes, tapi rasanya tidak mungkin lagi. Keputusan perihal hukumannya sudah ditetapkan. Mau tidak mau, Li Anlan harus menerima dan menjalaninya. Inilah konsekuensi yang harus dia tanggung. Dengan berat hati, Li Anlan terpaksa menerima pakaian pelayan yang harus dikenakannya besok sampai sebulan yang akan datang.
"Karena kau lalai menjaga majikanmu, gajimu akan dipotong selama tiga bulan!" seru Long Ji Man pada Xie Roulan yang posisi tubuhnya sudah berubah menjadi posisi sujud.
"Hei, kau bilang tidak akan melibatkan pelayanku!"
"Aku tidak pernah mengatakan itu."
What happened to this man?
Li Anlan tidak menyangka, Long Ji Man masih juga melibatkan Xie Roulan. Padahal, ini murni kesalahannya, bukan kesalahan Xie Roulan. Xie Roulan hanya seorang pelayan yang menerima perintah majikan, tidak pernah memprovokasi atau menghasut dirinya. Li Anlan sendiri lah yang mempunyai inisiatif.
Tidak, Li Anlan tidak suka seseorang mengusik orang-orang terdekatnya. Xie Roulan adalah orang yang pertama kali ia temui saat dirinya sampai di dunia ini. Xie Roulan adalah orang baik pertama yang memperlakukannya seperti sebuah harta yang berharga. Xie Roulan sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini.
"Pria memang tidak konsisten."
"Karena kau berkata begitu, maka hukumanmu ditambah dua bulan lagi!"
Li Anlan tidak ingin berdebat lagi. Pria ini sangat keras kepala. Otoritasnya sebagai raja memang kuat dan tegas. Tapi, tetap saja, tidak boleh menyalahgunakan wewenang untuk menghukum orang yang tidak bersalah!
Karena kesal, akhirnya Li Anlan memutuskan untuk pulang ke Istana Xingyue. Wanita itu berdiri, lalu mengambil langkah cepat sambil menarik tangan Xie Roulan, agar bisa segera keluar dari tempat terkutuk ini.
Saat keduanya sampai di gerbang keluar Istana Hongwu, Li Anlan menyuruh Xie Roulan untuk kembali terlebih dulu. Li Anlan ingin menenangkan dirinya dengan menikmati pemandangan dan suasana malam yang sepi, sesepi hidupnya yang kurang berarti.
Di atas jembatan Danau Houchi, Li Anlan berdiri menatap bintang dan bangunan-bangunan istana yang gemerlapan dari kejauhan. Istana ini begitu luas dan megah, tapi seolah tak berpenghuni. Suasana malam yang seperti ini membuat Li Anlan teringat pada kehidupan menyenangkannya di zaman modern.
Malam-malam Li Anlan di zaman modern selalu ramai. Dia akan keluar bermain bersama komunitas dan teman-temannya, lalu pulang jika memang sudah merasa lelah. Kehangatan yang diberikan oleh teman-temannya membuat Li Anlan merasa memiliki keluarga. Tapi di sini, dia hanya mempunyai seorang pelayan yang setia dan seorang kakak yang baik hati. Hanya mereka berdualah yang menjadi sandaran Li Anlan.
Terkadang Li Anlan bertanya, apa sebenarnya tujuan hidupnya di dunia ini. Dia datang tanpa pemandu, tanpa petunjuk, tanpa tahu apa-apa dan langsung memerankan seorang selir terbuang yang kebetulan rupa, marga, dan namanya sama. Li Anlan sempat berpikir untuk mencari jalan untuk kembali, tapi kemudian ia teringat bahwa ia jatuh dari ketinggian ke dasar jurang di pegunungan. Kemungkinan untuk selamat sangat kecil. Jika ditemukan pun, Li Anlan pasti tidak akan bertahan hidup lama.
Li Anlan selalu merasa bahwa istana bukanlah tempat yang aman. Di istana, siapa saja bisa menjadi tersangka. Bahaya selalu mengintai di mana-mana. Dia tahu karakteristik wanita istana yang licik, dia tahu bagaimana kejamnya politik dan perebutan kekuasaan. Karena yang paling mengerikan adalah persaingan antar wanita dan perebutan tahta.
Li Anlan menatap permukaan Danau Houchi yang tenang. Di sanalah tempat ia muncul pertama kali. Di sana pulalah dia berjumpa dengan Long Ji Man pertama kali. Tiba-tiba, sebuah pemikiran terbersit dalam benaknya. Jika danau ini memiliki kekuatan ajaib yang bisa menukar tubuh dan jiwa seseorang dari dunia lain, maka danau ini juga pasti bisa mengembalikan jiwa dan tubuh itu kembali ke dunia asalnya.
Li Anlan melemparkan pakaian pelayannya ke sembarang tempat. Tanpa pikir panjang lagi, dia langsung melompat ke dalam Danau Houchi. Tubuh Li Anlan yang jatuh dari atas jembatan ke dalam air menimbulkan suara yang cukup keras, memecah keheningan malam di sekitar kawasan itu.
Li Anlan semakin tenggelam, menyelam lebih dalam dan lebih dalam lagi.
...***...