The Little Consort

The Little Consort
Eps. 30: Merancang Tujuan


Istana Xingyue menjadi lebih hangat dan terasa hidup setelah pemiliknya kembali pada malam hari. Istana kecil itu tampak berkerlap-kerlip karena cahaya lilin yang bergerak dinamis, digoyangkan angin yang berhembus lembut.


Li Anlan memasuki pekarangan Istana Xingyue setelah membersihkan diri. Pakaian pelayan yang tadi ia gunakan telah dimasukkan dalam keranjang cucian oleh Xie Roulan. Hari sudah larut, tapi stamina tubuh Li Anlan belum surut. Wanita itu memutuskan untuk menikmati malam yang senyap, melepaskan penat dengan menatap taburan bintang di langit yang jernih, sejernih pandangan matanya.


Di pekarangan yang dihampari rerumputan hijau nan subur itu, Li Anlan menggelarkan karpet bersulam bambu yang baru ia beli beberapa hari lalu, saat dirinya menyelinap ke luar istana. Dia juga menaruh matrasnya di atas karpet bersama sebuah bantal dan sebuah selimut mini yang bisa menutupi tubuhnya dari sentuhan angin.


Xie Roulan datang tidak lama setelah wanita itu membaringkan diri. Pelayan setianya baru kembali dari dapur umum untuk membawa jatah makan malam majikannya. Dia membawa semangkuk mie zhangjiangmian dan sepiring tangculiji saus tomat serta semangkuk kecil nasi putih yang masih panas.


"Nyonya, makananmu sudah siap."


Li Anlan bangkit untuk melihat menu apakah yang diberikan padanya malam ini. Setelah itu, Li Anlan menyodorkan sepiring tangculiji saus tomat dan nasi putih kepada pelayannya, pertanda bahwa ia tidak ingin memakannya. Li Anlan hanya mengambil mie zhangjiangmian yang kuahnya agak kental dan beraroma herbal.


"Terlalu banyak karbohidrat dan protein tidak baik untuk tubuhku."


Sepasang majikan-pelayan itu kemudian makan bersama. Li Anlan menyeruput kuah mie zhangjiangmian yang terasa gurih namun hangat, tanda bahwa herbal yang dimasukkan sebagai bumbu memiliki takaran yang pas. Suasana hatinya cukup baik malam ini.


Meskipun begitu, pikirannya tidak bisa berhenti berputar. Li Anlan terus memikirkan sepucuk surat dari burung yang tidak sengaja ia panah siang tadi. Beragam pertanyaan berputar memenuhi benaknya. Benarkah ada mata-mata? Siapakah mata-mata itu? Apa rencana mata-mata itu?


Jika mata-mata itu membocorkan informasi mengenai kejadian di pengadilan kurang dari waktu dua puluh empat jam, maka besar kemungkinan pelakunya adalah orang terdekat raja. Menurut peraturan, yang boleh menghadiri rapat pengadilan hanyalah raja, kasim pribadi raja, dan para pejabat dan menteri pemerintahan. Wanita dan anak-anak tidak diperbolehkan masuk, kecuali atas perintah untuk menerima dekret atau penobatan.


Orang itu pastilah serigala berbulu domba. Dia bersembunyi lama di dalam pengadilan, menggigit Long Ji Man perlahan dengan cara membocorkan informasi dan mengirimnya ke luar melalui seekor merpati, lalu masih menyembunyikannya menggunakan cuka apel yang menurut Li Anlan, sama sekali tidak menarik.


Yang menarik menurut Li Anlan adalah jika si mata-mata mengirimkan surat secara terang-terangan dengan mata terbuka, sampai raja tahu perbuatannya. Lalu, si mata-mata bersandiwara bersama sang raja, tampak baik-baik saja di hadapan umum, namun perang dingin saat berada di belakang layar. Li Anlan lebih tertarik pada adu kekuatan melalui pemikiran dan tekanan, bukan dengan cara licik seperti itu.


Berdasarkan pengetahuan yang ia dapat dari novel dan drama kolosal, jika pemeran utama menemukan surat rahasia yang dibasuh cuka, maka permainan di dalam istana sudah mulai menunjukkan tanda yang jelas, yang berarti bahwa konflik besar akan segera muncul ke permukaan. Si pemeran utama yang biasanya tertindas akan balik melawan, lalu saling beradu strategi. Si pemeran utama biasanya didampingi peran utama lain, baik itu laki-laki maupun perempuan. Pihak yang menang akan mendapat keuntungan.


Li Anlan menghubungkan analogi tidak masuk akalnya dengan keberadaan dirinya di dunia ini. Menurut pemikirannya, pemeran utama pria dalam permainan ini adalah Long Ji Man, seorang raja muda yang pemerintahannya masih seumur jagung. Sedangkan untuk pemeran utama wanita, Li Anlan belum memikirkan siapa-siapa.


Jika dia bisa membantu pemeran utama pria mengatasi permasalahan dan membantunya menemukan peran utama wanita, maka Li Anlan sudah pasti mendapat keuntungan. Si pemeran utama pria pasti akan memberinya imbalan yang banyak karena telah membantu menyelesaikan persoalan-persoalan dan menyelesaikan sandiwaranya.


"Roulan, jika aku membantu raja, apakah aku akan mendapat imbalan?"


"Memangnya raja sedang kesusahan apa?"


"Jawab saja!"


Xie Roulan meletakkan mangkuk nasi yang sudah kosong ke dalam kotak. Pelayan itu mulai berpikir, jawaban apakah yang akan ia utarakan atas pertanyaan aneh majikannya.


Api keyakinan menyala dalam hati Li Anlan. Sebuah harapan berpendar bagai cahaya bulan yang menerangi puncak hitam Gunung Feiyun. Li Anlan seolah mendapat jawaban yang berharga.


Berhubung dia tidak mempunyai sistem atau pemandu yang mendampingi dan memberikan petunjuk padanya, maka Li Anlan akan menciptakan sistem dan petunjuk itu sendiri. Li Anlan akan merancang tujuan hidupnya sendiri, termasuk bagaimana caranya mencapai tujuan hidup tersebut. Dengan begitu, Li Anlan tidak akan menganggur, tidak akan seperti layang-layang putus yang terbang tanpa arah tujuan.


Tujuan hidupnya adalah untuk dirinya sendiri. Li Anlan harus menciptakan sesuatu yang bisa membuat dahaganya pada tantangan hilang. Dia harus mempunyai sesuatu yang tingkat kesulitan dan medan yang harus dilaluinya sesulit dan sebahaya seperti mendaki gunung, yang di sisi kanan dan kirinya diapit oleh jurang yang curam dan dalam. Li Anlan harus membuat hidupnya bermakna sekali lagi.


Tapi, bukankah itu sama saja dengan menjerumuskan diri ke dalam lubang api?


Pertanyaan itu juga terlintas di benaknya. Tapi, setelah dipikirkan kembali, pertanyaan itu justru menjadi titik balik yang membuat keberanian dalam dirinya bangkit kembali. Dia harus mencoba, atau hidupnya akan berakhir sia-sia.


Li Anlan sudah membulatkan tekad. Dia akan menjadi wanita pemberani yang berdiri di samping Long Ji Man, membantu pemeran utama pria itu menemukan pemeran utama wanitanya dan mengeluarkannya dari bahaya.


"Nyonya, apa yang kau pikirkan?"


Li Anlan sedikit tersentak. Dia kembali pada kesadarannya.


"Tidak ada. Kau tahu siapa wanita terdekat Yang Mulia?"


"Ibu Suri."


Sungguh jawaban yang mengecewakan. Api keyakinan di hati Li Anlan meredup. Sepertinya, semua yang ia rencanakan sangat sulit untuk dilakukan. Ditambah lagi, dia sama sekali tidak mengerti situasi yang sebenarnya dari istana Kerajaan Dongling ini. Li Anlan belum tahu siapakah musuh dan siapakah sekutu.


Kepalanya berdenyut. Li Anlan lupa kalau dirinya di dunia ini tidak cerdas, tidak seperti dirinya di dunia modern yang memiliki segudang akal dan otaknya berisi. Situasinya saat ini sedang dalam masa hukuman, yang membuatnya tidak bisa leluasa bergerak. Jadi, bagaimana caranya membantu Long Ji Man?


Jiwa-jiwa pemalasnya malah bangkit di saat seperti ini. Wanita itu langsung membaringkan diri kembali di atas matras, lalu menatap berjuta bintang yang bergantungan di atas langit Dongling. Bulan bulat penuh, cahayanya terang namun tidak seterang matahari.


"Roulan, bawa tendaku kemari!"


Pada akhirnya, orang pemalas yang tadi bertekad ingin menjadi berguna kalah dengan kemalasan yang datang tanpa tahu waktu. Biarlah, Li Anlan akan memikirkan kembali di lain hari.


Langit Dongling menertawakan wanita yang tidak konsisten pada pemikirannya. Gunung Feiyun mencibir selir raja yang plin-plan pada pilihannya. Danau Houchi terbahak-bahak menyaksikan lelucon serius yang diciptakan Li Anlan.


Tampaknya, wanita itu belum benar-benar mengerti arti dan situasi diri.


...***...