
Dua buah kereta kencana yang ditarik kuda melaju beriringan membelah kotaraja di pagi hari. Seluruh rakyat yang awalnya berkerumun kemudian menyingkir, membentuk pagar di kedua bahu jalan. Bendera bergambar naga dan phoenix berkibar di atas tiang-tiang bambu yang diakut oleh beberapa orang berseragam lengkap. Di belakangnya terdapat iringan prajurit dan sejumlah pelayan yang mengikuti laju kereta kencana dengan berjalan kaki.
Hari pelaksanaan Ujian Kerajaan sudah tiba. Dua kereta tersebut adalah kereta yang berasal dari istana, yang mengangkut Yang Mulia Raja beserta soal ujian. Kereta paling depan dinaiki oleh Long Ji Man dan Li Anlan, sedangkan kereta lainnya berisi dua orang petugas yang membawa kertas soal untuk para peserta ujian. Pihak kerajaan sengaja membawa soal tersebut hari ini karena khawatir terjadi hal tidak terduga, sehingga jika soal dibawa di hari-H, maka pengawalannya sangat ketat dan orang jahat tidak akan memiliki kesempatan.
Pihak kerajaan juga tidak memberitahu kalau Yang Mulia Raja akan datang dan mengawasi secara langsung pelaksanaan ujian tersebut. Momen tahunan yang biasanya dimeriahkan oleh para orang tua dan keluarga siswa Akademi Kerajaan kini lebih ramai dari tahun-tahun sebelumnya. Orang yang tidak berkepentingan pun malah dengan sengaja datang hanya untuk melihat raja mereka secara langsung.
Seperti kata Li Anlan, kehadiran Long Ji Man pada ujian seperti ini memang menimbulkan prestise tersendiri. Pamor Ujian Kerajaan dan Akademi Kerajaan seketika naik semakin tinggi karena orang nomor satu yang mereka puja dan mereka hormati datang untuk menyaksikan proses seleksi. Suara ribut mereka yang berdiri di bahu jalan membuat suasana menjadi semakin meriah seperti saat tahun baru.
Lain di luar, lain lagi di dalam. Li Anlan duduk dengan wajah malas dan kesal di samping Long Ji Man. Pakaian yang dikenakannya adalah pakaian resmi keluarga kerajaan, yang dibalut jubah resmi Permaisuri Bangsawan yang lebar dan panjang. Kepalanya dihiasi satu mahkota perak berbentuk bunga dan beberapa jepit rambut indah menempel di rambutnya. Dia pikir, dia akan mendapat hari libur saat pelaksanaan Ujian Kerajaan karena semua tugasnya sudah selesai.
Tanpa diduga, Xiao Biqi datang pagi-pagi sekali bersama beberapa pelayan yang di tangannya terdapat baki berisi pakaian dan perhiasan. Kasim itu berkata bahwa Permaisuri Bangsawan harus ikut bersama Yang Mulia Raja ke Akademi Kerajaan hari ini, tidak boleh menolak dan tidak boleh terlambat. Li Anlan protes dan mengusir mereka pergi, tetapi lagi-lagi Xiao Biqi berteriak memintanya bersiap hingga Li Anlan menyerah.
“Mengapa aku selalu sibuk di hari liburku?” keluh Li Anlan sambil menatap nanar pemandangan di luar yang ia intip lewat tirai penutup kereta.
“Kau penasihatku. Jadi, kau memang harus ikut.”
Li Anlan baru tahu kalau selain bertugas dan bekerja serta memiliki otoritas khusus, seorang Permaisuri Bangsawan juga memiliki peran lain. Secara hukum, Permaisuri Bangsawan tidak lain dan tidak bukan adalah seorang wanita yang diberi kewajiban menjadi penasihat khusus raja. Dengan kata lain, Li Anlan adalah penasihat khusus Long Ji Man, yang menangani beberapa urusan di luar politik dan menjadi konsultan bagi raja saat raja mengalami kesulitan dalam menentukan keputusan atau sulit menemukan jalan keluar.
Selain kesal karena hari liburnya terganggu, dia juga kesal dan marah karena Long Ji Man tidak memberitahu perihal menjadi penasihat khusus. Pantas saja pria itu selalu meminta pendapat dan bantuannya setiap saat. Dan dengan bodohnya, pria tersebut menyetujui setiap saran dan keputusan yang Li Anlan berikan meskipun itu terasa gila dan tidak masuk akal.
Iring-iringian keluarga kerajaan tiba di depan gerbang Akademi Kerajaan. Long Ji Man dan Li Anlan disambut oleh beratus-ratus kepala yang tertunduk memberi hormat. Jubah panjangnya menjuntai dan tergusur saat wanita itu berjalan berdampingan bersama Long Ji Man menuju pintu masuk Akademi Kerajaan. Di sana, Wakil Kepala Akademi dan Sekretaris Akademi berdiri menyambut mereka dengan senyuman bahagia.
“Kakak ipar!”
Seorang anak kecil berseragam siswa Akademi Kerajaan berlari dari arah dalam Akademi menuju Li Anlan, menerobos kerumunan dan menabrak Wakil dan Sekretaris Akademi Kerajaan yang sedang berdiri di depan gerbang. Orang-orang yang menyaksikan adegan tersebut bertanya-tanya siapakah anak kecil yang berani menerobos kerumunan dan memanggil Permaisuri Bangsawan dengan sebutan kakak ipar dengan lantang.
“Mu’er!”
Li Anlan jongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan tinggi Long Ji Mu. Dia memeluk Long Ji Mu seperti seorang kakak yang memeluk adiknya. Interaksi antar dua orang tersebut semakin membuat yang lain bertanya-tanya perihal hubungan antara bocah kecil dengan Permaisuri Bangsawan. Beberapa diantara mereka kemudian mulai berbisik-bisik untuk menerka-nerka.
“Aku pikir kau tidak akan datang. Kakak ipar, kau pergi lama sekali!”
“Bukankah kita sudah sepakat menjadi teman? Bagaimana mungkin aku tidak datang?”
“Kakak ipar, kudengar dari Guru dan Kakak Senior, kau diculik? Mana bandit yang berani menculik kakak iparku? Aku akan menghajarnya!”
Li Anlan mencubit hidung mancung Long Ji Mu. Bocah ini begitu menggemaskan.
“Tenang saja. Yang Mulia sudah menangkap mereka untukku. Ayo, beri salam pada kakakmu.”
Long Ji Mu menatap Long Ji Man dengan polos, kemudian menundukkan tubuhnya sebagai tanda hormat. Long Ji Man yang sedari tadi memperhatikan interaksi istri dan adiknya mengangguk pelan, kemudian mempersilakan adiknya untuk berdiri tegak kembali. Tiba-tiba, Li Anlan menarik jubahnya dengan kuat hingga pria itu terpaksa berjongkok. Kini, posisinya sudah sejajar dengan tinggi Long Ji Mu.
“Mu’er, lihat kakakmu. Kalian sudah lama tidak bertemu bukan?”
Long Ji Mu mengangguk.
Orang-orang yang melihat adegan tersebut seketika terdiam. Interaksi ketiganya membuat mereka merasakan cemburu. Sungguh, pemandangan tersebut bukan seperti pemandangan dari interaksi antara kakak dan adik, tetapi persis seperti sebuah keluarga kecil. Usia Long Ji Man dan Long Ji Mu memang terpaut sangat jauh. Mereka yang tidak tahu mungkin akan mengira kalau bocah tersebut adalah adik bungsu raja mereka.
“Apa yang kau ingin aku lakukan?”
“Mu’er, kakimu pasti sakit. Tenang saja, kakakmu yang baik ini akan menggendongmu.”
Long Ji Man sedikit kaget dengan perkataan yang baru saja dikatakan Li Anlan. Dia menatap wanita itu dengan tatapan penuh tanya dan rasa tidak percaya. Di hadapan semua orang, dia membuat seorang raja berjongkok dan menggendong adik bungsunya tanpa perlawanan. Tidak ingin membuat keributan, Long Ji Man akhirnya menggendong Long Ji Mu, kemudian berjalan masuk ke dalam Akademi Kerajaan.
“Hei, apa kau tahu siapa anak kecil yang digendong Yang Mulia Raja?” tanya salah seorang penonton.
“Kau tidak tahu? Dia adalah Pangeran Ding!”
“Pangeran Ding? Maksudmu, adik bungsu Yang Mulia yang lahir dari mendiang Selir Agung Han Yuemi?”
“Benar.”
“Tapi, mengapa aku merasa dia lebih pantas menjadi putra Yang Mulia?”
“Aku juga berpikir begitu.”
“Permaisuri Bangsawan benar-benar hebat! Dia bisa membuat Yang Mulia berjongkok di hadapan rakyatnya tanpa marah.”
“Dia wanita yang hebat!”
Di dalam Akademi Kerajaan, Long Ji Man dan Li Anlan duduk di sebuah panggung kecil yang mengarah langsung ke tempat ujian. Di atasnya dipayungi kain sutera sebagai penutup dan pelindung dari cahaya matahari. Mejanya memanjang dan di sana terdapat berbagai hidangan lezat yang masih hangat. Di panggung kecil yang lain, terdapat para petinggi Akademi Kerajaan dan petinggi Departemen Pendidikan.
Ujian kali ini diadakan di ruangan terbuka. Jauh sebelum datangnya hari ini, Li Anlan sengaja meminta pihak Akademi Kerajaan untuk menyiapkan semuanya sesuai dengan arahannya. Jarak antar meja yang akan ditempati para peserta diberi jarak sekitar dua meter untuk meminimalisir terjadinya kerjasama saat ujian berlangsung. Untung saja, halaman Akademi Kerajaan ini sangat luas hingga seluruh meja yang diperlukan bisa diaplikasikan di sini.
Beberapa saat kemudian, para siswa Akademi Kerajaan yang menjadi peserta ujian dipersilakan masuk setelah menandatangani surat perjanjian seperti yang Li Anlan katakan. Sebelum duduk, mereka diperiksa terlebih dahulu oleh petugas. Setelah benar-benar dirasa aman, mereka langsung diperbolehkan duduk di tempat ujian mereka masing-masing.
Sebelum dimulai, Wakil Akademi terlebih dahulu menyampaikan beberapa kata. Dia bilang bahwa Ujian Kerajaan adalah langkah awal untuk membentuk fondasi negara. Jadi, dia sangat berharap kalau para peserta ujian dapat berusaha semaksimal mungkin. Kejujuran tetap hal yang paling utama. Selesai berkata, dia kemudian mempersilahkan Long Ji Man untuk membuka ujian secara resmi dengan menabuh gong kecil. Waktu yang diberikan untuk pengerjaan soal adalah sebanyak tiga dua batang dupa. Satu batang dupa berkisar antara 30-35 menit. Rentang waktu tersebut jauh dari kata cukup untuk mengerjakan empat puluh butir soal pilihan ganda.
Long Ji Mu yang duduk di pangkuan Li Anlan sibuk memakan buah-buahan yang ada di meja. Bocah kecil yang masih sangat belia itu terus mengunyah tanpa henti, membuat Li Anlan gemas dan ingin mencubit pipinya. Memang dasar anak kecil, dalam situasi seperti ini pun hanya tahu makan.
“Kau sepertinya memiliki hubungan yang baik dengan adikku,” bisik Long Ji Man di telinga Li Anlan.
“Sayang sekali, adikmu sekarang adalah anak angkatku. Aku akan merampasnya darimu. Aku janji aku akan baik kepadanya dan memberinya pengajaran yang baik.”
“Kalau begitu aku harus berterima kasih karena kau sudah mendidik calon putra mahkota kerajaanku.”
“Itu karena ketidakmampuanmu dalam bercocok tanam hingga kau mengorbankan adikmu sendiri.”
“Kau! Katakan sekali lagi!”
“Sssstt…. Harap tenang, sedang ujian!”
Interaksi Raja dan Permaisuri Bangsawan yang berbisik-bisik menarik perhatian para petinggi yang hadir di sana. Diam-diam mereka tersenyum, hati mereka menghangat melihat raja yang sehari-hari bersikap dingin dan tegas memiliki ekspresi cerah dan hangat.