
Li Anlan tidak dapat berkata-kata saat Long Ji Man mengatakan hal tersebut. Bagaimana ini? Li Anlan khawatir jika Long Ji Man benar-benar telah mengetahui identitas aslinya. Jika Long Ji Man benar-benar sudah tahu, apa yang harus dia lakukan? Li Anlan tidak tahu apa yang akan diperbuat pria itu jika ia mendapati seseorang dari dunia lain yang asing menjadi selirnya. Dia seorang raja, dia bisa melakukan segalanya. Akankah dia memburu Li Anlan dan membunuhnya di sini?
Mungkin, Li Anlan sudah melakukan sesuatu yang membuat orang ini menyadari kalau dia bukan dari dunia ini. Tetapi, semua perilakunya bukanlah sebuah kesalahan. Li Anlan mengatakan apa yang ingin dia katakan, dia mengutarakan semua yang ada di hatinya secara terbuka. Dia juga melakukan apa yang ingin ia lakukan, terlepas dari status apakah pantas atau berada dalam ‘zona aman’ seorang pelintas.
“Yang Mulia, kau…. Kau mengetahui sesuatu?”
“Ya. Melihat tingkah lakumu, sepertinya kau memang benar-benar berasal dari dunia lain.”
Tidak ada raut terkejut, marah atau apapun itu. Long Ji Man begitu tenang dalam berkata, nada bicaranya terdengar sangat ramah dan tidak mengandung kebencian. Sosok tersebut seolah menganggap apa yang ia bicarakan adalah hal biasa yang tidak perlu dibesar-besarkan.
“Yang Mulia tidak akan membunuhku di sini bukan?”
“Apa kau gila? Mana mungkin aku membunuh Permaisuri Bangsawanku yang berharga?”
Mata Li Anlan memicing curiga. Pria ini perilakunya sangat aneh. Kebanyakan orang tidak akan setenang itu jika berada dalam situasi seperti ini.
“Yang Mulia, kau baik-baik saja?”
“Aku baik. Mengapa kau bertanya?”
“Aku hanya merasa aneh. Apa yang akan Yang Mulia lakukan jika aku benar-benar berasal dari dunia lain?”
“Belum kuputuskan. Lihat suasana hati saja.”
Long Ji Man mengeluarkan sebuah kunci dari balik jubahnya. Rupanya, kunci tersebut adalah kunci dari pintu bangunan kayu ini. Setelah dia membukanya, dia membawa Li Anlan masuk, kemudian menguncinya lagi.
Hal pertama yang Li Anlan lihat ketika ia masuk ke bagian dalam bangunan ini adalah lukisan-lukisan bergaya naturalisme, tergantung hampir di setiap sudut ruangan. Selain itu, dia juga melihat kursi, meja, dan pot bunga yang tampak familiar, seperti pernah ia lihat sebelumnya. Detail rumah kayu ini mirip seperti sebuah ruang tamu.
“Tempat apa ini?”
Sebelum menjawab, Long Ji Man membawa Li Anlan ke sebuah ruangan. Di sana, debu-debu beterbangan begitu seseorang masuk, yang menjadi penanda bahwa ruangan tersebut sudah lama tidak dimasuki orang dan tidak dibersihkan. Long Ji Man meniup bambu api, seketika ruangan yang semula gelap menjadi terang.
Li Anlan takjub. Dekorasi di ruangan ini mirip seperti dekorasi rumah modern pada umumnya. Furniture, ukiran, dan segala sesuatunya sangat mirip dengan dekorasi rumah kuno yang pernah Li Anlan datangi saat study tour. Bedanya, di sini lebih sederhana.
“Ini adalah pondok peninggalan kakek buyutku.”
“Pondok peninggalan? Mengapa kakek Yang Mulia mendirikan tempat ini di tengah hutan?”
“Mungkin karena barang-barang yang ada di sini. Meskipun hanya sebuah pondok, aku lebih suka menyebutnya sebagai Wisma Gunung Feiyun.”
“Sudah berapa lama bangunan ini tidak dibersihkan?”
“Entahlah. Terakhir kali kakek buyut membawaku ke sini saat aku berumur empat tahun.”
Sungguh sangat aneh, di tengah hutan belantara yang dilindungi, justru malah berdiri sebuah bangunan yang berisi sesuatu yang di luar dugaan. Ini benar-benar seperti replika rumah masa modern. Li Anlan semakin penasaran terhadap apa yang menyebabkan mendiang raja terdahulu membangun pondok ini.
Belum habis rasa penasaran Li Anlan, dia kembali dibuat terkejut oleh benda yang ada di tangan suaminya. Benda itu adalah benda yang pernah ia lihat di suatu tempat. Benda antik, benda yang memiliki nilai sejarah tinggi. Dia menatap Long Ji Man dengan bingung, seolah bertanya dari manakah pria ini mendapatkannya.
“Yang Mulia, dari mana kau mendapatkan benda itu?”
“Duduklah.”
Li Anlan kemudian duduk di samping Long Ji Man, sambil terus menatapnya dengan heran, menanti sebuah jawaban yang bisa menghilangkan rasa penasarannya.
“Aku selalu merasa kau wanita yang sangat berbeda dari yang lain. Melihat caramu berbicara dan bersikap, itu menunjukkan bahwa kau bukan sembarang wanita.”
“Apa yang kau lihat dariku?”
“Sejak awal, aku sudah merasa bahwa kau bukan penduduk asli kerajaanku. Maukah kau berkata jujur padaku?”
“Apa yang akan kau lakukan jika aku mengatakan rahasiaku?”
“Tergantung pada ceritamu.”
“Baiklah. Yang Mulia, jika kuceritakan sebuah hal, apa kau akan mempercayaiku?”
“Mungkin saja.”
Sepertinya, inilah saatnya bagi Li Anlan untuk mengatakan kebenaran tentang jati dirinya yang sebenarnya. Jika terus disembunyikan, toh Long Ji Man pada akhirnya akan tetap tahu. Raja cerdas itu pasti sudah merasakan sesuatu yang berbeda sejak pertama kali mereka bertemu. Tidak Li Anlan pungkiri, saat pertama kali Long Ji Man melihatnya menyembul dari dalam air, pria itu pasti sudah mulai merasakan keanehan.
“Tetapi, Yang Mulia harus berjanji padaku, bahwa kau tidak akan membunuhku di sini.”
“Aku berjanji.”
“Baiklah. Aku memang bukan dari dunia ini. Aku adalah seorang wanita mandiri dari masa depan, yang entah sial karena apa, melakukan perjalanan waktu dan terdampar di negeri dongeng ini.”
“Perjalanan waktu? Apa itu?”
“Saat ketika seseorang yang hampir mengalami kematian kemudian terlempar ke dimensi lain.”
Long Ji Man sedikit tidak percaya. Selama ini, dia hanya mempercayai apa yang ia lihat dan dengar sendiri. Perjalanan waktu? Apa itu? Memangnya ada dunia lain selain dunia tempatnya tinggal sekarang? Jika ada, maka dunia seperti apakah yang Li Anlan sebut barusan?
“Mengapa kau bisa ada di kerajaanku?”
“Aku juga tidak tahu. Saat itu, aku sedang dalam perjalanan mendaki gunung, kemudian terjatuh dan berguling hingga ke dasar jurang. Bisa kutebak, aku sudah hampir mati saat itu. Ya, aku pikir hidupku akan berakhir. Tetapi, aku justru merasakan bahwa aku hidup, dan saat membuka mata, aku sudah berada di sini.”
“Anlan, kau yakin tidak sedang mengigau dan membual bukan?”
“Yang Mulia, untuk apa aku berbohong padamu?”
“Baiklah. Lanjutkan.”
Li Anlan kemudian bercerita bahwa tubuh yang hampir mati itu ikut terbawa ke dunia ini, hingga bisa dikatakan bahwa Li Anlan tidak menempati tubuh siapapun. Itu bisa dibuktikan dengan beberapa tanda yang ada di tubuhnya. Orang tidak akan salah mengenali tubuhnya sendiri. Selain itu, barang-barangnya juga ikut terbawa. Dengan keterangan tersebut, dia sangat yakin kalau pintu masuk pemisah dimensinya ada di Danau Houchi. Karena itulah saat malam hari, selain mencari ransel, dia juga berniat mencari pintu dimensi agar ia bisa kembali.
“Apa itu berarti kau Li Anlan yang palsu?”
Li Anlan menggeleng.
“Aku dan selirmu yang terbuang itu asli. Kami terhubung satu sama lain. Mungkin itulah sebabnya aku bisa ada di sini. Baik Li Anlan yang ini ataupun yang satu lagi, kami tetap adalah selirmu. Yang Mulia, perlu kau tahu. Aku bukan Li Anlan palsu, jati diriku memang Li Anlan. Dan meskipun aku berasal dari dunia lain, tapi aku bersumpah bahwa aku sama sekali tidak berniat buruk terhadapmu atau terhadap kerajaan ini.”
“Aku tahu.”
Atas penuturan Li Anlan, maka seluruh rasa penasaran dan rasa bingung di dalam diri Long Ji Man seketika menghilang. Wanita ini ternyata benar-benar bukan wanita biasa. Pantas saja segala tindak-tanduknya berbeda. Pemikirannya, tutur katanya, perilakunya, bahkan keberanian dan keterampilannya jauh melampaui para wanita di Kerajaan Dongling.
Dia sengaja membawa wanita ini kemari karena dia juga memiliki satu pertanyaan besar yang sejak berumur empat tahun sudah bercokol kuat dalam hatinya. Sejak kakek buyutnya membawanya ke tempat ini, Long Ji Man mulai memiliki keyakinan bahwa dunia lain memang benar-benar ada. Jika tidak, dari mana kakek buyutnya mendapatkan semua benda-benda ini?
“Awalnya aku tidak ingin mempercayaimu. Tetapi, setelah kita terlibat banyak hal dan kau menunjukkan dirimu yang sebenarnya, ditambah benda-benda aneh yang kau miliki, aku mulai meragukan keyakinanku. Dunia lain mungkin memang benar-benar ada.”
Kemudian, Long Ji Man menunjuk benda yang ada di tangannya.
“Kakek buyutku mempunyai benda ini. Anlan, apa kau tahu benda apa ini?”
“Itu…. Itu adalah sebuah radio.”
“Radio? Apa itu?”
“Benda yang mengubah energi listrik menjadi energi bunyi. Untuk menghidupkannya, kau perlu sebuah batu baterai.”
Long Ji Man mengangguk mengerti.
“Yang Mulia, apa radio itu milik kakek buyutmu?”
Long Ji Man mengangguk lagi.
“Aneh. Mengapa kakek buyutmu bisa memilikinya? Benda ini hanya ada di duniaku. Mengapa bisa sampai di sini?”
“Aku juga tidak tahu.”
“Kecuali jika kakek buyutmu pernah melakukan perjalanan waktu juga. Yang Mulia, aku hanya memiliki dua keyakinan. Pertama, kakek buyutmu adalah orang dari dunia modern. Kedua, dia asli orang sini tetapi melakukan perjalanan waktu ke masa depan.”
Li Anlan tiba-tiba berdiri, kemudian bergerak seperti sedang mencari sesuatu. Bangunan ini pasti memiliki hubungan erat dengan dimensi lain. Dia ingin menemukan tombol atau sesuatu yang memang berfungsi untuk memindahkan manusia dari satu dimensi ke dimensi lainnya. Wanita itu membuka lemari, laci, buku, kemudian melihat dinding, belakang lukisan, bawah meja, bahkan bawah kursi tempat Long Ji Man duduk juga tidak terlewat.
Nihil. Tidak ada tombol atau sistem apapun. Seluruh isi bangunan ini murni terbuat dari kayu.
“Apa yang kau cari?”
“Aku mencari sistem atau tombol yang mungkin berfungsi sebagai pembuka mesin waktu.”
Li Anlan kembali duduk. Dia menarik napas, membuangnya dengan perlahan. Jika tidak ada tombol apapun di sini, bagaimana cara kakek buyut Long Ji Man melintasi waktu? Ataukah mungkin itu hanya sebuah kebetulan, seperti yang ia alami? Tetapi, mengapa kakek buyut Long Ji Man bisa kembali ke masanya, tetapi dirinya tidak?
“Yang Mulia, inikah alasanmu melarang orang masuk ke dalam Gunung Feiyun?”
“Ya, itu memang salah satunya. Jauh sebelum dinasti yang didirikan kakek buyutku, area hutan dan gunung ini memang sudah dilindungi. Hanya saja sekarang aturannya lebih ketat dan hukumannya lebih berat.”
Suasana kemudian hening. Keduanya sibuk dalam pemikiran masing-masing. Li Anlan sibuk memikirkan bagaimana cara kakek buyut Long Ji Man kembali dengan berbagai kemungkinan, sementara pria itu bergelut dengan rasa takut dan khawatir yang tiba-tiba datang begitu saja.
“Anlan, apa kau tidak merindukan duniamu?”
“Hm? Duniaku?”
“Dunia tempatmu tinggal sebelum ini.”
“Entahlah. Dibilang rindu, juga tidak. Dibilang tidak, mungkin juga rindu.”
“Kau ingin kembali ke duniamu?” tanya Long Ji Man pelan. Wajahnya mulai meredup.
“Aku tidak tahu. Sepertinya ada sesuatu yang terus mengikatku di sini.”
Long Ji Man menatap Li Anlan dalam-dalam. Rasa takut itu menjalar dari hati, kemudian menyebar ke seluruh organ tubuhnya. Dia takut wanita ini hilang dari pandangannya dalam sekejap mata. Entahlah, Long Ji Man hanya selalu merasa takut.
“Apa ini sebabnya kau sangat liar dan nakal?”
“Hei, sepertinya dua kata itu terlalu kasar! Yang Mulia, bagaimanapun aku ini tetaplah Permaisuri Bangsawanmu!”
Long Ji Man dan Li Anlan saling beradu tatap. Bola mata mereka fokus menatap satu sama lain. Pada beberapa detik terakhir, Long Ji Man memalingkan wajahnya ke samping, tidak sanggup terus bertatapan dengan istri dunia lainnya.
“Aku memang tidak pernah bisa menang darimu,” ujarnya kemudian.
“Aku bukan orang sini. Karena itulah aku tidak terikat dengan aturan tatakrama apapun.”
Ya, perkataannya memang benar. Dia tidak terikat dengan aturan etika dan tatakrama di sini.
“Li Huang An,” panggil Long Ji Man pelan.
“Ya?”
“Jangan pernah menghilang dari pandanganku.”
Li Anlan hanya tersenyum.
...***...
...Babak baru! Kini, Long Ji Man sudah tahu siapa Li Anlan sebenarnya. Apa yang akan terjadi? Stay tune terus, sampai jumpa di episode berikutnya! ...