The Little Consort

The Little Consort
Eps. 85: Menyusun Strategi


Kabar bahwa Permaisuri Bangsawan sudah sadar, hanya diketahui oleh sejumlah orang. Long Ji Man dan Li Anlan sengaja menyembunyikan hal penting tersebut demi tujuan besar mereka. Biarkan si Tuan Besar yang menjadi pelaku pembunuhan menganggap bahwa Permaisuri Bangsawan masih koma. Mereka ingin melihat reaksi apa yang akan si Tuan Besar tampilkan saat tahu orang yang dicoba dibunuhnya hidup kembali. Untuk saat ini, mereka memilih membiarkan si pelaku menikmati keberhasilannya.


Sebuah skema besar sudah disiapkan dengan matang dan hati-hati oleh dua orang tersebut. Ikan besar ini tidak bisa ditangkap hanya dengan kail kecil saja, tapi harus dengan kail besar yang kuat dan mata pancing yang tajam agar tertangkap dan tidak lepas lagi. Umpan yang sangat bagus juga sudah mereka siapkan untuk menarik perhatian ikan besar ini.


Resiko untuk menangkapnya juga sangat besar. Jika “Tuan Besar” alias si pelaku tertangkap, sistem pemerintahan di Kerajaan Dongling mungkin akan mengalami guncangan yang besar. Tetapi, jika pelakunya tidak ditangkap dengan segera, keselamatan Li Anlan pasti akan kembali terancam. Mungkin suatu saat, si pelaku ini bisa berani muncul dengan terang-terangan untuk melancarkan aksinya.


Usai diperiksa dukun alias tabib Tao Zhun, Li Anlan dipersilakan istirahat kembali. Tabib itu bilang tubuh Li Anlan masih kemasukan racun dan belum bisa hilang dalam waktu dekat. Li Anlan juga diberikan minuman yang mengandung aconite sebagai suplemen. Sebelum meminumnya, Long Ji Man menanyakan terlebih dahulu takaran untuk mengetahui kandungan aconite yang ada di dalamnya. Zat ini jika digunakan terlalu banyak bisa berubah menjadi racun.


Memang, sejak kejadian tenggelam tersebut, Long Ji Man menjadi waspada terhadap makanan dan minuman yang masuk ke tubuh Li Anlan. Long Ji Man tidak ingin terjadi hal tidak diinginkan lagi. Dia tidak ingin wanita yang dicintainya terluka lagi. Jika itu terjadi, Long Ji Man bersumpah tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


“Yang Mulia, mengapa kau masih di sini?”


“Apa aku tidak boleh di sini?”


“Tentu saja tidak boleh. Yang Mulia, kita harus berpura-pura menjadi musuh.”


“Tapi aku tidak ingin bermusuhan denganmu.”


“Siapa yang bilang ingin bermusuhan denganmu? Musuhku di sini belum ditemukan, mana bisa bertambah satu musuh lagi?”


Sementara Li Anlan dan Long Ji Man beradu mulut tentang musuh, Ibu Suri Han Yuemei masuk lewat pintu masuk utama. Ibu raja tersebut datang bersama pelayan pribadinya. Dia tersenyum melihat putra dan menantunya berdebat hal kecil yang sangat sepele. Sudah lama dia tidak melihat menantunya berbicara kasar kepada suaminya. Wanita seperti ini yang paling unik di antara yang lain.


“Musuh atau tidak, kita hanya bisa menunggu waktu.”


“Ibunda?”


“Ibu Suri?”


Ibu Suri Han Yuemei berdiri di antara Li Anlan dan Long Ji Man.


“Duduklah.”


Li Anlan dan Long Ji Man duduk sesuai perintah Ibu Suri. Ibu Suri Han Yuemei kemudian merubah raut wajahnya menjadi serius. Di dalam hatinya, berkumpul jutaan kata yang siap dikeluarkan. Tapi sebelum itu, dia memilah-milah terlebih dahulu perkataan manakah yang harus menjadi prioritas utama untuk diberitahukan.


“Begini. Akhir-akhir ini, sebelum kejadian Permaisuri Bangsawan tenggelam, suasana di Istana Harem yang kupimpin sedikit berubah.”


“Berubah? Apanya yang berubah?” tanya Long Ji Man.


“Entahlah, aku sendiri tidak dapat memastikan. Tetapi, aku melihat banyak selir yang sedikit murung, kemudian wajah mereka berubah berapi-api dalam waktu yang singkat.”


“Apa mereka mengunjungi suatu tempat?” tanya Long Ji Man lagi.


“Mereka berbicara dalam waktu yang lama di dalam istana Permaisuri Jin.”


Long Ji Man dan Li Anlan saling berpandangan. Sepertinya satu orang ini memang bermasalah. Kecurigaan keduanya mencuat sejak ruang penyimpanan soal Ujian Akademi Kerajaan terbakar dan rekaman suara yang Li Anlan punya saat dia menyelinap untuk mengintip malam pertama Long Ji Man dengan putri utusan. Hanya saja, mereka belum menemukan bukti yang pasti, hingga masalah tersebut perlahan-lahan terlupakan.


Orang dengan temperamen pendiam dan cenderung bersikap tenang biasanya adalah orang yang paling berbahaya. Mereka menyembunyikan wajah asli mereka di balik topeng polos dan sifat lemah lembut yang sebenarnya hanya rekayasa, hanya alat untuk menyembunyikan kebusukan hati mereka yang seharusnya sudah tercium dari kejauhan.


Permaisuri Jin, meskipun berperangai lembut dan tidak perhitungan dengan wanita lain, sebagai seorang wanita, seharunya memiliki sedikit simpati atau kecemburuan. Meskipun dia tidak mencintai raja, tetapi sebagai seorang Permaisuri Utama, tidak mungkin dia tetap diam saat ada wanita lain yang diangkat menjadi Permaisuri Bangsawan, yang otoritasnya lebih khusus dan posisinya lebih istimewa daripada yang lain. Bukan malah tetap tenang dan menganggap semuanya adalah hal yang wajar.


“Orang ini sepertinya memang bermasalah.”


“Kalian mencurigai Permaisuri Jin?” tanya Ibu Suri Han Yuemei.


“Huang An merekam percakapan dia bersama seseorang saat malam pengantin.”


“Malam pengantin? Mengapa Permaisuri Bangsawan berkeliaran saat malam pengantin Raja dengan putri utusan?”


Ups, ketahuan! Li Anlan berteriak dalam hati.


“Oh begitu. Permaisuri Bangsawan tidak tahu tata letak istana?”


Li Anlan hanya tersenyum canggung. Mengapa wanita setengah tua ini banyak bertanya? Sudah tahu dirinya selir terbuang yang tidak pernah pergi ke manapun dan tidak bertemu siapapun selama dua tahun, untuk apa repot-repot bertanya. Jika dia bukan selir terbuang, dia mungkin sudah hatam letak istana beserta bentuk arsitekturnya!


“Salahkan putramu sendiri yang telah melupakan keberadaanku,” umpat Li Anlan dalam hati.


“Lalu apa rencana kalian selanjutnya?” Ibu Suri Han Yuemei mengembalikan pembicaraan ke topik utama.


“Orang gila hanya bisa dilawan dengan orang gila,” ucap Li Anlan tiba-tiba.


“Huang An, kau punya rencana?”


“Bukankah dia ingin menyingkirkanku? Mengapa tidak aku layani saja?”


“Maksudmu?”


“Beri dia kesempatan yang baik untuk dapat menyingkirkanku. Yang Mulia, katakan pada semua orang kalau Permaisuri Bangsawan sudah gila.”


Ibu Suri Han Yuemei sangat terkejut. Menantunya ini, benarkah berkata seperti itu? Memberitahu semua orang bahwa dia sudah gila dan memberikan kesempatan pada orang untuk bisa menjatuhkan kedudukannya? Inikah pemikiran Permaisuri Bangsawan yang begitu liar dan begitu disukai putranya?


Ini pertama kalinya Ibu Suri Han Yuemei mengetahui secara langsung pemikiran gila dan liar yang dimiliki menantunya. Tidak heran jika raja begitu menyukainya, bahkan sampai mengeluarkan dekret untuk mencegah orang menurunkannya, yang bahkan dia sendiri pun tidak bisa mencampurinya. Permaisuri Bangsawan yang luar biasa!


“Tidak, Huang An. Banyak cara lain yang bisa kita tempuh.”


“Yang Mulia, orang ini sangat gila. Hanya dengan memberinya kesempatan untuk menurunkanku, dia pasti akan datang dengan sendirinya.”


“Tidak. Meskipun nanti ada kesempatan, dekret yang sudah kukeluarkan tidak boleh dilanggar.”


“Yang Mulia, kau tidak perlu melanggar dekretmu sendiri. Kau hanya perlu bilang kalau kau akan mempertimbangkan untuk menurunkanku. Jika aku lihat, orang ini sangat tidak sabaran. Jadi, sebelum Yang Mulia menjatuhkan keputusan, dia pasti akan bertindak terlebih dahulu.”


Pada akhirnya, Long Ji Man tidak akan pernah bisa menang dari Li Anlan. Wanita itu terlalu pandai berbicara. Long Ji Man sering sampai kehabisan kata-kata. Satu-satunya hal yang dapat dia lakukan hanyalah mengalah dan menuruti perkataan wanita ini. Hatinya sudah terkait terlalu kuat pada Li Anlan, pemikirannya sebagai seorang raja terlalu kalah jauh di bawah pemikiran Li Anlan yang berasal dari dunia modern dan berasal dari latar belakang pendidikan yang mutakhir.


Sesuai prediksi Li Anlan, esoknya ketika Long Ji Man mengumumkan bahwa kondisi Permaisuri Bangsawan menggila, para pejabat berlomba-lomba menyampaikan pendapat untuk menurunkannya dari posisi. Hari itu, Long Ji Man mengumpulkan seluruh bawahannya, termasuk para wanita untuk memberitahukan keadaan Permaisuri Bangsawan yang siuman namun mentalnya menjadi terbelakang. Dia ingin melihat siapa sajakah yang akan bersikukuh untuk melawannya.


Sementara itu, Li Anlan yang mendeklarasikan bahwa dirinya gila, melakukan hal-hal di luar nalar. Sebagai seorang pemeran, dia harus mendalami karakternya dengan baik. Dia sudah dicap gila, maka kelakuannya juga harus seperti orang gila. Tidak seru jika dia disebut gila tetapi tingkahnya normal. Penghargaan pemeran terbaik tidak akan diberikan kepadanya jika karakternya kurang menyentuh.


Hari ini, dia membuat seisi Istana Xingyue sepeti kapal pecah. Guci-guci berharga yang mahal pecah di sana-sini, baju-bajunya berserakan dan teronggok di mana saja. Di meja belajarnya, kertas-kertas berharga yang hanya digunakan di istananya dipenuhi dengan coretan dan gambar-gambar kura-kura yang sangat jelek. Tempat tidurnya diacak-acak, kain-kain penutupnya ditarik hingga jatuh.


Dia benar-benar sudah mirip dengan orang gila sungguhan!


Xie Roulan hanya menggelengkan kepalanya saat majikannya mengobrak-abrik seisi Istana Xingyue dengan tangannya sendiri. Pekerjaannya bertambah dua kali lipat saat ini. Nyonyanya yang pintar dan cerdas ini sekarang sudah membuat seluruh isi Istana Xingyue seperti sebuah gudang terbengkalai.


“Nyonya, apa ini belum cukup?” tanyanya pada majikannya.


“Belum. Roulan, ambilkan pemerah pipi!”


“Apa lagi yang akan Nyonya lakukan?”


“Aku harus menjadi pemeran utama wanita terbaik malam ini!”


“Tapi, kau benar-benar sudah tampak seperti orang gila, Nyonya! Jika Tuan Muda tahu, dia pasti akan sangat kecewa,” ujar Xie Roulan mengiba, berharap majikannya bertingkah normal kembali.


“Asal kau tahu, kakakku lebih gila daripada aku! Dia bahkan bisa menjadi kembaranku!”


Xie Roulan baru ingat kalau satu bulan yang lalu, dia mendandani kakak majikannya hingga mirip seperti Li Anlan. Jika dipikir-pikir, baik Li Afan, Li Anlan, maupun Yang Mulia Raja, semuanya sama-sama sudah gila. Apakah dirinya juga akan menjadi gila seperti mereka?


...***...