
Hari yang paling dihindari Li Anlan sudah tiba. Perjamuan Ibu Suri Han Yuemei akan dimulai dalam waktu satu jam lagi. Ruangan untuk perjamuan itu bertempat di Istana Shiyue, istana kediaman Ibu Suri.
Perjamuan Ibu Suri Han Yuemei adalah perjamuan yang rutin diadakan pada setiap musim semi. Di setiap tahunnya, tempat perjamuan selalu tetap, yakni di Istana Shiyue. Perjamuan ini biasanya diadakan pada puncak atau akhir musim semi, sebagai bentuk kemakmuran dan kejayaan.
Mereka yang diundang dalam perjamuan megah ini adalah para istri raja, para nona dari kediaman keluarga besar, para nona dari kediaman bangsawan, kediaman pejabat, dan tamu kenegaraan. Selain para nona, Ibu Suri juga mengundang para tuan muda. Orang tua mereka juga diundang untuk hadir, hanya kebanyakan tidak datang karena menganggap kalau perjamuan itu khusus untuk para kaula muda. Tapi, tidak jarang ada yang ikut juga.
Seperti kata orang, musim semi adalah musim yang paling indah. Bunga-bunga bermekaran dan mewangi. Sebenarnya, kiasan dari pepatah itu merujuk pada para gadis, yang usianya sudah lima belas hingga delapan belas tahun. Di masa-masa itu, mereka mekar seperti bunga, menebar kecantikan dan beradu kepintaran agar dapat menarik perhatian banyak orang.
Gadis-gadis masa remaja itu berharap seorang tuan muda datang ke kediamannya untuk melamar. Sebagian lagi berharap kalau mereka bisa masuk istana dan menjadi selir raja. Mereka mendambakan status dan kehormatan, hingga tak jarang saling mencelakai dan saling menjatuhkan satu sama lain.
Bila kebanyakan orang menganggap musim semi adalah musim yang indah, musim semi adalah musim dingin bagi Li Anlan. Ini adalah tahun pertama ketika ia merasakan musim semi yang begitu pahit dan berbau busuk, tidak manis dan tidak berbau harum, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.
Di Istana Xingyue, wanita itu sibuk memilih pakaian. Satu jam lagi perjamuan akan dimulai, tetapi wanita itu malah belum bersiap sama sekali. Bukan pakaian mewah dan mahal yang ia cari, tapi pakaian sederhana yang bisa membuat orang jijik dan menjauh. Tidak apa-apa dipandang rendah, asalkan dia tidak menjadi rendahan.
Li Anlan sengaja membuang waktunya. Dia sengaja melakukan kesalahan agar saat tiba di perjamuan nanti, dia langsung diusir keluar dan tidak kembali lagi. Jika biasanya Li Anlan selalu tepat waktu, kali ini ia akan menyalahgunakan kelebihannya, ia akan datang terlambat, selambat-lambatnya. Tidak apa-apa kehilangan kebanggaan, karena ini zaman yang berbeda dengan zaman modern. Tidak akan ada dosen atau boss yang menyalahkan dan memarahinya.
Sedari tadi, wanita itu terus mengobrak-abrik lemari. Dia menyesal karena dia pernah menyuruh Xie Roulan untuk membeli pakaian mahal. Sekarang, pakaian-pakaian itu sudah tidak berguna jika digunakan pada situasi yang sedang Li Anlan hadapi saat ini.
"Yang ini saja!"
"Nyonya, bukankah ini terlalu sederhana?"
"Roulan, dengarkan aku. Kita tidak boleh menarik perhatian. Panggung yang mereka buat tidak disiapkan untuk kita."
Wanita itu memilih hanfu berwarna krem dengan aksen merah di dada. Stelan hanfu seperti itu biasanya digunakan oleh para nyonya rumah ketika sedang bersantai, dan tidak dipakai dalam acara-acara resmi. Karena Li Anlan ingin mengacaukan dirinya sendiri, dia memutuskan untuk memilihnya.
Dia meminta Xie Roulan untuk membantunya. Kali ini, dia tidak boleh menjadi pusat perhatian orang. Berbahaya jika sampai mereka menyadari bahwa seseorang yang masih asing bergabung di tengah-tengah mereka.
Untuk hiasan kepalanya, Li Anlan memilih dua buah tusuk rambut berbentuk bunga magnolia putih bertatahkan mutiara di tengahnya. Batangnya berwarna perak pudar. Selain dua tusuk rambut bunga magnolia, Li Anlan juga memakaikan sebuah jepit rambut berbentuk bunga peony warna merah muda, dengan sebutir mutiara putih di tengahnya.
Tidak ada mahkota, tidak ada aksesoris rambut yang lainnya. Penampilannya sangat sederhana. Tapi, siapapun yang melihatnya pasti akan terpukau, karena wanita itu tampak elegan dengan busana yang dikenakannya. Apalagi, tubuhnya yang proporsional bak model internasional membuat Li Anlan seperti sebuah patung yang berjalan.
Orang-orang sudah duduk di tempatnya masing-masing saat Li Anlan tiba. Untung saja, suasana sedang riuh hingga tidak ada yang menyadari kalau salah seorang peserta perjamuan datang terlambat. Li Anlan sedikit membaur untuk menyamarkan keberadaan, lalu duduk di bangku paling belakang, yang jaraknya agak jauh dari tempat duduk para selir raja.
Li Anlan berdecih saat ia melihat penampilan para wanita itu. Mereka tidak hanya memamerkan perhiasan dan pakaian, tapi juga keterampilan merias. Lihatlah wajah mereka yang ditaburi bedak yang begitu tebal itu! Sekilas tampak seperti boneka, tetapi jika diperhatikan lagi, sebenarnya mereka lebih mirip dengan pemain opera!
Samar-samar Li Anlan mendengar percakapan para wanita itu. Mereka bercakap perihal kegiatan sehari-hari, lalu membicarakan hadiah dan kekayaan yang mereka miliki selama satu musim terakhir. Mereka bilang, mereka mendapat banyak hadiah dari raja dan Ibu Suri, hingga mereka beranggapan bahwa raja menyayangi mereka.
Dari nada bicaranya, Li Anlan tahu jelas bahwa para wanita milik Yang Mulia Raja itu sedang saling menyindir dengan perkataan halus yang menusuk. Siapa yang tidak kuat mentalnya pasti akan kalah telak dan memilih mundur. Ternyata, para wanita itu tidak hanya pandai berdandan, tapi juga hebat dalam seni berbicara dan seni mempermainkan kata.
"Seandainya kemampuan membual mereka digunakan untuk berdebat dengan negara tetangga, pasti akan sangat berguna," gumam Li Anlan. Wanita itu sepertinya mulai merasa risih.
"Yang Mulia Raja tiba! Ibu Suri tiba!"
Suasana mendadak hening. Semua orang berdiri, lalu menunduk memberi hormat pada tiga orang yang berjalan dari arah luar pintu menuju singgasana. Orang-orang juga mengucapkan selamat dan doa. Li Anlan juga ikut-ikutan menunduk memberi hormat, hanya saja dia tidak ikut bicara.
Setelah dipersilakan duduk, orang-orang yang hadir kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Fokus perhatian Li Anlan tidak tertuju pada sosok Long Ji Man dan Ibu Suri Han Yuemei, tetapi pada seorang wanita yang duduk di samping Long Ji Man.
Wanita itu sangat cantik. Pakaiannya indah berwarna cokelat keemasan. Kepalanya dihiasi mahkota dan tusuk rambut berwarna senada dengan pakaiannya. Bibirnya merah semerah bubuk sinabar, dan ada lesung pipit di pipi kirinya. Wajah wanita itu begitu berseri dan sangat anggun.
Long Ji Man sempat melirik Li Anlan, tapi kemudian segera dialihkan pada para undangan yang hadir. Seulas senyum tipis tersungging sesaat. Dia lega karena Li Anlan tidak melanggar perintahnya, meskipun sedikit kecewa karena wanita itu sengaja berpakaian sederhana.
"Psstt.. Siapa wanita cantik di sisi Yang Mulia?" tanya Li Anlan sambil berbisik.
"Aku tidak tahu, Nyonya. Mungkin dia adalah permaisuri Jin."
"Permaisuri Jin?"
"Katanya, permaisuri Jin adalah permaisuri Yang Mulia. Nama lengkapnya Han Jinxi. Dia masuk istana saat Yang Mulia masih menjadi Putra Mahkota," balas Xie Roulan tak kalah pelan.
"Dia bermarga Han?"
"Permaisuri Jin adalah kerabat jauh Ibu Suri."
Ah, tirani kekuasaan keluarga Han rupanya, batin Li Anlan.
Jika benar wanita itu adalah permaisuri, maka genap sudah kesempurnaan Long Ji Man. Saat mereka berdua bersanding, semua orang akan memandang takjub. Bagaimana tidak, Raja Dongling yang tampan dipasangkan dengan seorang wanita secantik Han Jinxi, yang kecantikannya melebihi kecantikan bunga yang mekar di musim semi. Benar-benar pasangan yang sangat serasi.
"Jadi, dia pemeran utama wanitanya!" seru Li Anlan dalam hati.
"Apa dia baik hati?"
"Orang bilang, Permaisuri Jin adalah orang yang lembut dan ramah, Nyonya."
Baguslah jika memang seperti itu. Setidaknya, Li Anlan tidak akan terlibat masalah dan menjadi objek perburuan Permaisuri Jin saat dia tahu kalau Li Anlan memiliki kontak yang erat dengan Long Ji Man.
Perjamuan dimulai dengan persembahan tarian dari para penari istana. Tubuh lentur para penari itu berlenggak-lenggok seperti ular, namun anggun dan terasa lembut. Gerakan mereka pelan dan harmonis, pertanda untuk menunjukkan kelembutan dan kesopanan.
Usai penampilan tari, perjamuan dilanjutkan dengan pesta makan. Li Anlan ingin segera pergi dari tempat mengerikan ini. Hingar bingar yang berasal dari perbincangan dan suara orang-orang di sini memekakkan telinganya. Wanita itu diam-diam melihat situasi, dan saat semua lengah dia akan berbalik dan kabur.
"Bukankah itu Selir An dari Istana Xingyue?"
Ah, rubah licik ini sengaja ingin menjebaknya!
"Selir An? Maksudmu Li Anlan, putri Bangsawan Li Han?" Kali ini, Ibu Suri Han Yuemei yang berbicara.
"Yang Mulia, kau harus memberikan keadilan padaku! Wanita itu pernah ingin membunuhku!"
Lidah Xu Lingshu yang licin mulai berbisa, menjelma menjadi lidah ular. Li Anlan menatap malas pada wanita yang bertatus sebagai guifei. Mengapa dia harus muncul di saat seperti ini?
"Benarkah?"
"Benar, Yang Mulia!"
Li Anlan semakin ingin pergi dari tempat ini. Berdebat dengan Xu Lingshu sama saja berbicara dengan tong kosong yang nyaring bunyinya. Waktu berharga yang ia korbankan akan sia-sia jika harus digunakan untuk meladeni rubah betina itu.
Belum lagi orang-orang menyebalkan ini. Mereka sengaja menjadikan Li Anlan sebagai pusat perhatian. Dulu, mereka sering mendengar rumor bahwa ada seorang selir raja yang tidak pernah dikenal. Mereka tidak percaya kalau rumor itu benar adanya.
"Jika Yang Mulia tidak percaya, tanyakan saja pada Yang Mulia Raja," ucap Xu Lingshu.
"Apa itu benar?" Ibu Suri beralih menatap Long Ji Man.
"Itu hanya kesalahpahaman."
Singkat, padat, jelas, tapi cukup untuk memberikan penjelasan pada orang-orang. Li Anlan bersorak karena pria itu masih punya hati untuk tidak menyudutkannya. Long Ji Man mungkin masih merasa berhutang budi karena Li Anlan sudah menyelamatkan nyawanya.
"Tidak mungkin! Yang Mulia, anda sendiri yang menyuruhnya menyelamatkanku!"
"Tunggu! Guifei, apa maksudmu?" Li Anlan akhirnya buka suara.
"Bagaimana mungkin aku yang lemah ini mampu mendorongmu ke danau?"
"Jelas-jelas kau yang menarikku hingga jatuh!"
Li Anlan tertawa dalam hatinya. Yang perlu ia lakukan hanyalah menarik simpati orang-orang ini untuk membela diri. Wanita itu tentu tidak akan membiarkan Xu Lingshu menang dalam sandiwaranya. Pemenang pada perjamuan ini harus dirinya.
"Guifei, aku tidak pernah bertemu denganmu."
"Kalau bukan kau, lalu siapa yang mendorongku waktu itu? Selir An, jangan mencari alasan!"
"Oh. Guifei, yang kau temui pasti bukan aku."
"Apa maksudmu?"
"Apa guifei tidak tahu? Yang mendorongmu ke danau adalah kembaranku."
"Selir An, berhenti membual!"
"Harus kukatakan apa lagi? Aku ini selir terbuang yang tenggelam. Dewa melindungiku dan mengembalikan nyawaku. Bagaimana mungkin aku mencelakaimu?"
Orang-orang yang hadir terlihat mulai bersimpati. Mereka kasihan begitu mendengar kesengsaraan Li Anlan. Sungguh, selir yang sangat malang. Wanita itu tidak hanya terbuang, tapi juga hampir mati. Mereka mulai meragukan perkataan Xu Lingshu. Jika benar Li Anlan hampir tenggelam, maka wanita itu pasti tidak akan punya kemampuan untuk mendorong Xu Lingshu.
Lagipula, Li Anlan adalah selir terbuang, yang masuk istana karena kasihan pada keluarga Bangsawan Li. Tidak mungkin sengaja mencari gara-gara karena selama ini dia tidak pernah keluar dari area Istana Xingyue dan Danau Houchi.
"Jelas-jelas kau mendorongku!"
"Ya ampun. Otakku rusak karena tenggelam dan ingatanku hilang. Guifei, apa mungkin yang kau temui adalah diriku dari dunia lain?"
Dua wanita raja yang berbeda kasta berdebat tiada henti. Yang satu adalah selir terbuang tanpa gelar, yang satu lagi adalah seorang selir utama yang berpangkat dan berkedudukan tinggi. Siapa yang akan menang?
"Kalau begitu, bisa kau jelaskan detail kejadiannya? Otakku rusak lagi," sambung Li Anlan. Dia sedang bermain-main dengan rubah itu, dia ingin melihat sejauh mana wanita sombong itu dapat memutarbalikkan fakta.
"Hari itu aku dan dua selir lain datang untuk menegurmu. Kau malah mendorongku ke danau!"
"Mengapa kau menegurku?"
"Karena kau sudah menggoda Yang Mulia Raja!"
"Dari mana kau tahu kalau aku menggoda Yang Mulia Raja?"
Xu Lingshu langsung terdiam.
"Kau memata-matai Istana Hongwu?" tanya Li Anlan lagi.
Xu Lingshu tidak dapat berkata apa-apa. Wajahnya memerah seperti udang. Dia bingung karena Li Anlan melontarkan pertanyaan menjebak. Sementara itu, Li Anlan justru bersorak dalam hati. Wanita berbulu rubah itu mudah sekali diprovokasi, hingga mengatakan kebenaran tanpa paksaan dan secara tidak sadar.
"Guifei, apa benar yang dikatakan Selir An?" tanya Long Ji Man dengan raut wajah serius. Nada bicaranya menjadi dingin. Aura di dalam ruangan perjamuan berubah seratus delapan puluh derajat. Long Ji Man menatap dingin Xu Lingshu. Tatapan mata elang menusuk ke dalam kulit dan daging.
...***...