The Little Consort

The Little Consort
Eps. 61: Pecah Telur


Li Anlan keluar dari bangunan para wanita dengan memakai baju pengantin. Mereka tidak hanya memaksanya mandi, tetapi juga mendandaninya. Semua atribut Permaisuri Bangsawan miliknya ditanggalkan, lalu dilempar entah ke mana. Kini, di kepalanya hanya ada mahkota pengantin wanita dan sejumlah aksesoris sederhana. Wajahnya ditaburi berbagai macam bubuk perias. Mereka bilang dia seperti bidadari, tetapi yang Li Anlan rasakan justru sebaliknya. Wanita itu justru merasa dirinya seperti seorang badut.


Dia terkejut karena dalam waktu yang singkat, isi markas bandit ini berubah total. Sekarang, semua bangunan didominasi kain berwarna merah terang dan bunga-bunga. Li Anlan memuji ketangkasan para bandit di sini. Cukup sekali diperintah, mereka langsung melaksanakannya dengan cepat. Pengerjaan persiapan upacara pernikahan di sini benar-benar di luar ekspektasi Li Anlan.


Orang yang disebut “Tuan Muda” oleh mereka adalah seorang pria berbadan pendek, berperut buncit, dan berwajah sangar. Tingginya setengah dari tinggi Li Anlan, perut buncitnya condong ke depan seperti sebuah balon udara. Li Anlan bergidik. Pria tersebut berwajah tua, tetapi berwajah muda di waktu yang sama. Sekilas, pria yang disebut “Tuan Muda” oleh para bandit ini seperti bola dan babi.


“Aku harus menikah dengan si buruk rupa dari lembah hantu ini?” tanya Li Anlan dalam hati. Dia ingin kabur, tetapi para bandit wanita di sini menahannya, menjaganya dari belakang dengan ketat. Saat melangkah saja, kakinya terasa dirantai oleh rantai besi yang kuatnya berkali lipat.


Dalam situasi tersebut, Li Anlan malah berpikir pada Long Ji Man. Sungguh, pria itu lebih baik daripada si buruk rupa yang ada di hadapannya. Meskipun sering bersikap dingin dan berwajah seperti es batu, tetapi Long Ji Man sangat berbeda. Dia membuat hari-hari Li Anlan terasa lebih berwarna. Kini, di saat pria itu tidak ada di hadapannya, dia tiba-tiba teringat dan sedikit merindukannya.


Dia sungguh berharap Long Ji Man bisa segera menemukan dirinya di sini. Sedikit saja terjadi kesalahan atau terlambat datang, maka Li Anlan akan kehilangan segalanya. Dia hanya akan dicatat sebagai istri seorang bandit dalam sejarah, bukan sebagai Permaisuri Bangsawan yang agung.


Kehidupan yang buruk seperti itu tentu saja tidak ingin dia jalani. Jika bisa, dia lebih memilih mati bunuh diri atau terjun ke jurang hingga para bandit tersebut tidak menyandera hidupnya.


“Pelayan, apa dia Tuan Muda kalian?”


Salah seorang bandit wanita menoleh, lalu menjawab,


“Nona, dia adalah calon suamimu. Sebentar lagi kalian akan menikah.”


“Menikah? Bagiku ini adalah sebuah pemakaman!”


“Nona, terima saja nasibmu.”


Nasib? Mungkin, ini adalah nasib buruknya karena terlahir ke dunia ini. Sepanjang sejarah hidupnya, dia paling tidak suka dipaksa. Sekarang, para bandit yang tidak memiliki hubungan darah apapun dengannya malah memaksanya menikah dengan seorang pria buruk rupa. Seribu kali mereka memaksa, maka sejuta kali dia akan berontak.


Saat dia sampai di bangunan utama yang warna merahnya lebih mendominasi dibanding tempat lain, Li Anlan langsung disuruh bersanding dengan si anak bandit. Li Anlan memberontak dan hendak lari, tetapi kakinya dikait oleh kaki seorang bandit wanita hingga ia terjatuh ke lantai. Mereka membuatnya jatuh, tetapi membuatnya berdiri lagi.


Li Anlan mengehempaskan cekalan lengan mereka, lalu berusaha lari lagi. Tetapi, kakinya tiba-tiba melemas dan tidak bisa digerakkan. Li Anlan seperti terpaku di tempatnya berdiri. Para bandit ini pasti sudah melakukan sesuatu pada tubuhnya. Jika tidak, mana mungkin dia yang lincah bisa sekaku ini.


“Apa yang kalian lakukan pada tubuhku? Mengapa aku tidak bisa bergerak?”


“Nona, kami harus membuatmu patuh dengan cara kami sendiri,” ucap salah seorang bandit wanita yang lain.


“Are you crazy? Ini pemaksaan! Kalian, cepat lepaskan aku!”


“Nona, diamlah! Upacaranya akan dimulai sebentar lagi!”


“Aku bersumpah akan melaporkan kalian pada polisi dan Komisi Perlindungan Perempuan! Kalian pasti dipenjara!”


“Bagaimana kau bisa melaporkan kami sementara kau sendiri tidak bisa melepaskan diri?”


“Aku tidak peduli! Cepat lepaskan aku!”


Alih-alih mendengarkan ocehan Li Anlan, para bandit wanita ini membawanya ke depan. Mereka memaksa Li Anlan berdiri di hadapan Si Ketua Bandit Jelek bersama Si Pria Buruk Rupa yang menjadi putra si bandit. Kepalanya ditutupi kerudung merah hingga pandangannya tertutup. Dia tidak bisa melihat apapun selain warna merah dari kain tersebut.


“Upacara dimulai! Kedua mempelai, menunduk ke langit dan bumi!”


Li Anlan terpaksa menunduk seperti yang mereka minta. Para bandit ini, meskipun sangat jahat, tetapi masih tahu budaya. Li Anlan pikir proses perkawinan di markas bandit hanya cukup tidur bersama pasangan saja, tidak perlu sampai melakukan upacara besar-besaran layaknya pernikahan putri antar bangsawan.


“Menunduk pada orang tua!”


Lagi-lagi Li Anlan terpaksa menunduk di hadapan Si Ketua Bandit. Li Anlan berdecak, dia sungguh jijik karena harus menunduk di hadapan orang asing yang jelek ini. Jika bisa, dia ingin sekali memporak-porandakan seisi ruangan ini hingga hancur dan berantakan seperti kapal pecah.


“Menunduk pada pasangan!”


Gawat, sebentar lagi upacara selesai dan dia akan menjadi istri seorang bandit. Li Anlan ingin berteriak, tetapi dia tidak berdaya. Tiba-tiba, seseorang berteriak dari luar, membuat Li Anlan tidak jadi menunduk pada Si Buruk Rupa.


“Lapor!”


“Kenapa kau membuat keributan? Kau merusak hari bahagia putraku!” seru Si Ketua Bandit.


“Ke..Ketua, di luar benteng ada seorang pria yang berteriak dan membuat keributan!”


“Apa yang dia inginkan?”


“Pria itu bilang kalau kita sudah merampas paksa istrinya!”


Si Ketua tampak terkejut. Li Anlan justru bersorak. Pria di luar benteng itu sudah menyelamatkannya dari bencana. Setidaknya, dengan adanya keributan di luar sana, Li Anlan bisa mengulur waktu dan memikirkan cara untuk kabur.


“Berani sekali dia menerobos Benteng Duanrou kita!”


“Memang cari mati!”


“Bunuh! Bunuh!”


“Diam! Jangan merusak upacara sakral putraku! Kau, suruh saudara-saudara yang lain untuk menangkapnya!”


Beberapa bandit hendak keluar. Saat selangkah lagi menuju pintu, seseorang dari luar sana tiba-tiba berteriak dengan lantang.


“Aku sudah di sini.”


Semua orang yang ada di dalam bangunan terpaku. Pandangan mereka tertuju pada seorang pria yang berdiri dengan tegap tanpa rasa takut di halaman bangunan ini. Meskipun dia berteriak, kharismanya terpancar seperti sebuah cahaya terang yang menyilaukan mata. Tatapan mata pria itu tajam mengarah pada seisi bangunan, lalu melunak saat melihat Li Anlan yang sudah menyingkapkan kain penutup kepalanya. Di balik tatapan itu, tersimpan api kemarahan yang berkobar sangat besar, melahap seluruh kesabaran dan sedikit kerinduan yang dipendam selama hampir dua hari ini.


Melihat istrinya memakai gaun pengantin berdiri di samping seorang pria jelek, Long Ji Man menjadi semakin marah. Ditatapnya mereka dengan tatapan yang lebih tajam dari sebelumnya. Bahkan, ujung anak panah dan ujung pedang pun tidak lebih tajam dari tatapan Sang Raja Dongling yang sedang menahan kemurkaan. Semua orang yang melihatnya mulai ketakutan, termasuk Si Ketua Bandit.


“Lepaskan dia!” seru Long Ji Man. Keras, tetapi bernada dingin.


Si Ketua mulai menampakkan ketakutan. Dia berhadapan langsung dengan Raja Dongling yang gagah dan begitu disegani di seluruh daratan dan lautan. Di hadapannya, berdiri seorang pemuda luar biasa dengan kharisma yang tidak ada tandingannya. Orang yang dihadapi Si Ketua Bandit bukan hanya seorang raja yang permaisurinya diculik, tetapi seorang suami yang istrinya dipaksa menikah dengan orang lain!


Orang tahu betapa besar kemarahan yang dipendam oleh pria di hadapan para bandit ini!


“Ja-Jangan mendekat! Jika tidak, istrimu akan mati!” seru Si Ketua Bandit. Li Anlan berdecak. Bisakah orang ini diam? Dia sedang menikmati kharisma Long Ji Man yang seperti seorang Dewa, tetapi orang ini malah mengganggunya.


Si Ketua Bandit tiba-tiba meraih tangan Li Anlan, lalu mengarahkan sebuah pedang ke lehernya. Tubuhnya dibalik hingga ia menghadap Long Ji Man dengan sebilah pedang menempel di leher mulusnya. Li Anlan terkejut, begitu juga Long Ji Man. Tatapannya sudah tidak dapat didefinisikan lagi artinya. Pria itu seperti sebuah bom yang akan meledak dalam beberapa detik lagi.


Li Anlan memikirkan cara untuk melepaskan diri. Para bandit ini begitu keras kepala, mereka pasti tidak akan melepaskan dirinya dengan mudah. Jika pernikahan ini gagal, maka tidak apa-apa. Yang lebih parah adalah kenyataan bahwa tuan mereka pasti marah jika tawanan yang disanderanya melarikan diri.


“Hei, Kakak Ketua Bandit, lebih baik kau lepaskan aku. Pria itu akan membakar markas kalian dan menghancurkan kalian tanpa sisa!” saran Li Anlan dengan suara pelan.


“Diam! Jangan mencoba bernegosiasi denganku!”


“Aku hanya sedang memberimu saran.”


“Diam!”


“Hei, hati-hati dengan pedangmu! Menjauhlah sedikit dari kulit leherku!”


Li Anlan menggeser pedang itu sedikit, hingga jaraknya agak menjauh, tidak terlalu menempel pada kulit lehernya. Li Anlan merasakan kalau kakinya dapat digerakkan. Artinya, dia punya kesempatan untuk kabur. Saat Si Ketua Bandit lengah, Li Anlan menyikut perut si Ketua Bandit dari depan hingga pria itu meringis karena kaget. Saat itu pula, Li Anlan berbalik, lalu menendang daerah terlarang Si Ketua Bandit dengan sekuat tenaga.


“Te…Telurku…” pekik Si Ketua Bandit sambil menutupi area yang ditendang Li Anlan. Bandit lain yang menyaksikan kejadian tersebut ada yang tertawa, ada juga yang ikut meringis mengasihani telur Si Ketua Bandit yang terluka.


“Ini baru namanya membunuh seekor burung!” ujar Li Anlan. Wanita itu kemudian berlari secepat mungkin ke arah Long Ji Man. Dia langsung menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh kekar Long Ji Man. Kepalanya menyembul melihat situasi di depan sana.


“Kau baik-baik saja?”


Li Anlan mengangguk sambil tetap melihat sekumpulan bandit.


“Aku hampir saja menjadi istri si buruk rupa itu.”


“Jangan katakan itu lagi!”


“Yang Mulia, kau datang tepat waktu. Tapi, mengapa kau hanya datang seorang diri? Di mana pengawal pribadimu?”


“Aku menyuruhnya untuk pulang membawa pasukan.”


Syukurlah, Long Ji Man sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Kini, mereka berdua hanya perlu mengulur waktu sampai pasukan pengawal istana datang ke sini. Long Ji Man sudah meninggalkan tanda untuk mempermudah jalan Wang Tianshi dan yang lainnya saat ia dalam perjalanan menuju Benteng Duanrou.


“Tangkap mereka berdua!” perintah Si Ketua Bandit.


Para bawahannya terdiam dan saling pandang.


“Kenapa kalian diam saja?”


“Ketua, kami tidak berani melawan seorang Raja,” keluh salah satu bandit. Mendengar hal tersebut, Si Ketua Bandit menjadi kesal. Telurnya masih sakit dan para bawahannya berani melanggar perintahnya.


“Kita ini bandit. Mengapa harus takut hanya karena dia seorang Raja?”


“Memangnya Ketua berani?”


“Sedikit,” ucap Si Ketua Bandit pelan.


Para bandit yang keberaniannya tinggi maju. Pedang mereka terarah ke Long Ji Man dan Li Anlan. Satu persatu mulai menyerang Long Ji Man. Pria itu mengeluarkan pedang legendaris kesayangannya dari sarungnya, lalu mengayunkannya untuk menangkis dan membunuh pada bandit sialan ini. Satu, dua, tiga, empat, jatuh ke tanah berlumuran darah dan terluka. Gerakan Long Ji Man sangat cepat dan gesit hingga para bandit kewalahan. Jumlah mereka yang banyak mulai berkurang di tangan Long Ji Man. Mereka yang meregang nyawa terkapar, yang terluka berusaha bangkit untuk kembali menyerang.


Si-sia saja. Raja Dongling sudah menjadi seekor singa jantan yang mengamuk. Dalam waktu kurang dari satu jam, lima belas orang bandit sudah kehilangan nyawa. Li Anlan yang bersembunyi di balik tubuh Long Ji Man terkagum-kagum atas kemampuan bertarung yang dimiliki suaminya. Hanya ada kata wah, wow, daebak, hebat, luar biasa, unbelieve, OMG, dan beberapa kata penafsir kekaguman yang terlontar dari mulutnya.


Tidak lama kemudian, suara ribut dari orang yang berteriak dari luar menggema disusul suara langkah kaki yang berasal dari sepatu puluhan orang. Wang Tianshi berseru di gerbang benteng sambil membawa bendera Kerajaan Dongling, diikuti oleh puluhan prajurit berseragam baju besi yang berbaris, kemudian berlari mengelilingi benteng. Mereka membentuk sebuah lingkaran yang mengepung Benteng Duanrou dan segala isinya dari segala sisi.


“Tangkap mereka semua!”


“Baik, Yang Mulia. Tangkap para bandit ini!”


Wang Tianshi memimpin prajurit untuk bertarung melawan dan menangkap para bandit. Markas Benteng Duanrou seperti medan perang. Tidak ingin Li Anlan melihat kekerasan seperti ini, Long Ji Man menggendong wanita itu seperti saat hujan beberapa waktu lalu, membawanya pergi dari tempat terkutuk ini. Li Anlan tentu saja gembira, dia tidak perlu berjalan kaki.


“Sepertinya tindakanku memecahkan telur Si Ketua Jelek sudah tepat, bukan begitu Yang Mulia?”


“Emm.”


“Kita sudah selamat. Mengapa kau masih dingin seperti ini?”


“Aku hanya tidak suka kau bersanding dengan pria lain saat mengenakan gaun pengantin.”


Long Ji Man tidak tahu, perkataan yang baru saja ia lontarkan membuat hati Li Anlan seperti musim semi. Wajah wanita itu memerah menahan tawa, lalu menyembunyikannya di pundak Long Ji Man. Lama kelamaan, Li Anlan tertidur dalam gendongan Long Ji Man.


...***...