
Satu tamparan keras mendarat di pipi Permaisuri Jin yang mulus.
“Ya, aku memang wanita gila. Permaisuri Jin, sekarang kau sudah merasakan tamparan dari seorang wanita gila, bukan? Bagaimana rasanya?”
“Han Jinxi, mengapa kau melakukan semua ini?”
Permaisuri Jin atau Han Jinxi tersenyum remeh. Wanita itu mengusap pipinya yang baru ditampar Li Anlan. Keanggunan yang selama ini selalu tampak pada dirinya hilang seketika. Wanita yang duduk bersimpuh di lantai dingin Istana Xingyue hanya memandang sekilas ke arah Raja dan Permaisuri Bangsawan, lalu membuang wajah ke samping.
“Kau tanya mengapa? Mengapa tidak kau tanya saja pada dirimu sendiri?” tanya Permaisuri Jin setelah sekian lama.
“Jinxi, apa aku sudah bersalah padamu?” tanya Long Ji Man balik. Dia masih dalam mode tidak percaya.
“Jangan bicarakan siapa yang bersalah! Aku tahu hatimu memahaminya lebih baik dari siapapun!”
“Han Jinxi, kau seorang Permaisuri Utama. Mengapa kau mengkhianatiku dan mencoba membunuh Permaisuri Bangsawan yang bahkan tidak pernah mengenalmu?”
“Tidak ada alasan. Aku hanya senang melakukannya saja.”
Li Anlan berdecak kesal. Han Jinxi ternyata seorang psikopat. Seorang permaisuri yang anggun, lembut, cantik nan rupawan, tidak disangka adalah seorang siluman rubah yang begitu kejam. Li Anlan bertanya dalam hatinya apa yang sudah dia lakukan hingga wanita di hadapannya mencoba segala cara untuk menyingkirkannya. Sejak dia datang ke tempat ini, dia tidak pernah menyinggung siapapun.
Jika Permaisuri Jin memburunya karena Li Anlan menjadi Permaisuri Bangsawan, itu sedikit tidak masuk akal. Li Anlan naik ke posisinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Dia seorang yatim piatu, seorang wanita yang dicap bodoh dan tidak berguna dan masuk ke istana hanya untuk menyelamatkan reputasi keluarga.
Permasalahan politik dan yang lainnya tidak pernah dia campuri, dia bahkan tidak pernah ingin menginjakkan kaki di Istana Harem!
Bukan keinginan Li Anlan jika raja terlibat banyak kontak dengannya. Pengangkatannya sebagai Permaisuri Bangsawan sekaligus penasihat khusus pribadi raja bukan tanpa alasan. Li Anlan menerima gelar dan posisinya dengan syarat dan surat perjanjian, tidak semata-mata diangkat karena keputusan raja dan keinginannya sendiri. Intinya, Li Anlan tidak pernah melibatkan orang lain dalam urusannya selama ini.
Tapi kenapa Permaisuri Jin malah mengusik hidupnya?
“Permaisuri Jin, aku tidak pernah mengganggu hidupmu. Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?”
“Kau, wanita bodoh, mengapa tiba-tiba menjadi pintar? Seharusnya kau tetap menjadi Li Anlan si selir terbuang! Seharusnya kau tidak muncul di depan publik! Posisi Permaisuri Bangsawan seharusnya tidak diisi olehmu!”
“Jinxi, apa yang kau katakan? Mengapa kau berkata seolah kau ingin menjadi yang utama?”
Permaisuri Jin kembali tertawa remeh.
“Aku? Menjadi yang utama? Sejak kapan aku punya ambisi sebesar itu?”
Perkataan Permaisuri Jin begitu berbelit-belit dan membingungkan. Sudah banyak pertanyaan yang dilontarkan, tetapi jawaban wanita itu tidak karuan dan tidak merujuk pada satu hal yang pasti. Ternyata bukan hanya Li Anlan yang tidak konsisten terhadap perkataannya, tetapi Han Jinxi juga memiliki sifat ketidakonsistenan yang sama.
Long Ji Man kemudian memerintahkan para penjaga yang menjadi prajurit bayangan keluar. Dia meminta para penjaga itu untuk membawa Permaisuri Jin kembali ke Istana Harem dan siapapun tidak boleh menemuinya. Tanpa seizinnya, bahkan lalat atau nyamuk pun tidak diperbolehkan masuk ke istana Permaisuri Jin.
Raja Muda Kerajaan Dongling sengaja tidak membawa Permaisuri Jin ke penjara karena masih banyak urusan rumit yang harus diselesaikan. Posisi Han Jinxi sebagai Permaisuri Utama terkait dengan banyak hal. Di belakangnya terdapat ratusan bahkan ribuan keluarga yang bernaung dan saling berhubungan. Jika langsung memenjarakannya, kondisi politik di istana akan langsung kacau. Dia harus menyelidiki semuanya dengan jelas terlebih dahulu, baru memutuskan hukuman yang pantas untuk seorang wanita berbulu domba.
Untung saja, Li Anlan mengerti kesulitan yang dihadapi oleh suaminya. Wanita itu tidak marah karena Long Ji Man tidak langsung memenjarakan Permaisuri Jin. Sebaliknya, Permaisuri Bangsawan Kerajaan Dongling justru sangat penasaran pada kisah hidup orang yang membunuhnya. Dia punya keyakinan bahwa orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti. Permaisuri Jin pasti mempunyai sebuah kisah pahit yang membuatnya melakukan semua ini.
Li Anlan kemudian meminta Long Ji Man menceritakan segala sesuatu yang berkaitan dengan Permaisuri Jin. Permaisuri Jin, atau yang nama aslinya Han Jinxi pada hakikatnya adalah seorang keluarga kerajaan. Dia sepupu jauh Ibu Suri Han Yuemei dan besar di ibukota. Sejak usianya enam tahun, Han Jinxi sudah sering dibawa ke istana dan menjadi teman belajar Long Ji Man.
Dia dinikahi Long Ji Man dan diangkat menjadi Permaisuri Kerajaan Dongling atas persetujuan seluruh pejabat dan menteri kerajaan. Tetapi, ada satu kisah yang tidak diketahui oleh publik perihal kisah hidup wanita itu.
Satu tahun sebelum pernikahannya dengan Yang Mulia Raja, Han Jinxi mempunyai seorang kekasih bernama Long Ji Yan. Long Ji Yan ini adalah adik kedua Long Ji Man yang saat itu masih berstatus sebagai Putra Mahkota.
Sayang, pasangan kekasih ini harus terpisah karena Long Ji Yan meninggal di musim dingin. Han Jinxi yang patah hati ditinggal mati sempat ingin mengakhiri hidup, tetapi Ibu Suri Han Yuemei memberinya posisi Permaisuri dan menikahkannya dengan Long Ji Man yang menjadi teman belajarnya selama ini.
Han Jinxi tidak dapat menolak pernikahan tersebut. Selain karena dia tidak punya tempat untuk pergi lagi, Han Jinxi sudah sangat lelah.
Sepanjang hidupnya, dia merasa hanya menjadi pion keluarga. Dia seorang nona besar tetapi hidup seperti gadis buangan. Jika bukan karena Ibu Suri Han Yuemei dan Long Ji Man, hidup Han Jinxi di ibukota tidak akan berjalan semulus itu.
Dia wanita yang anggun dan lemah lembut. Hatinya seperti giok. Mungkin, orang selalu berpandangan bahwa wanita lembut memiliki jiwa yang bersih. Mereka tidak tahu kalau selama menjadi Permaisuri Utama, hidup Han Jinxi menjadi terpenjara. Dia hidup dalam bayang-bayang Long Ji Yan yang sudah tiada, sekaligus hidup dalam bayang-bayang Long Ji Man yang sudah menjadi raja dan mewarisi takhta. Han Jinxi dituntun menjadi seorang Permaisuri sempurna, maka dia harus melupakan salah satu dari dua pria.
Long Ji Man tidak pernah melarang Han Jinxi untuk selalu mencintai mendiang adik keduanya. Long Ji Man tahu bahwa cinta dan hati tidak bisa dipaksakan. Lagi pula, sejak awal dia memang tidak pernah jatuh cinta pada wanita. Kehadiran Han Jinxi sebagai permaisurinya hanya sekadar untuk mengisi kekosongan posisi dan kestabilan pemerintahan, sekaligus memberi kehidupan pada wanita itu agar tidak terus menerus hidup dalam ketiadaan.
“Mungkin itu sebabnya dia selalu bersikap biasa saja setiap kali berhadapan dengan wanita-wanitamu.”
“Aku hanya tidak menyangka kalau dia menjadi seperti ini.”
“Ya, terkadang luka batin hanya dapat dirasakan oleh diri sendiri.”
“Mungkin.”
“Yang Mulia, seorang wanita, meskipun tidak mencinta, hatinya tetap seperti bubur yang lembek. Lama-kelamaan mungkin perasaannya terhadapmu berubah.”
“Maksudmu, dia menyukaiku?”
Li Anlan mengangguk. Wanita, jika sering melalui waktu bersama, maka bisa berubah rasa.
“Tapi, kami tidak pernah saling mencintai.”
“Yang Mulia, tidak ada yang tahu hati manusia. Orang mungkin bisa tahu dalamnya samudera, tetapi tidak bisa menerka sedalam apa isi hati manusa.”
Entahlah. Long Ji Man tidak tahu apapun. Dia sama sekali tidak pernah punya perkiraan kalau mantan kekasih mendiang adiknya bisa jatuh cinta padanya. Long Ji Man hanya tahu kalau wanita itu adalah wanita yang dinikahinya secara sah dengan tujuan menyelamatkannya dan membantunya keluar dari kesedihan atas kematian kekasihnya. Dia tidak tahu kalau hati wanita itu sudah berubah arah.
Jika memang semua yang dikatakan Li Anlan benar, maka Long Ji Man menyakitinya sangat dalam. Seorang wanita jatuh cinta padanya diam-diam, tetapi dirinya sama sekali tidak tahu. Han Jinxi mungkin sama dengan para selirnya, hanya beda status dan nasib saja.
Seharusnya wanita itu mengerti bahwa seorang raja mempunyai banyak wanita, dan wanita itu seharusnya tahu kalau dia harus mengeraskan hatinya.
Kisah Han Jinxi sang Permaisuri membuat Li Anlan merinding. Penderitaan wanita istana yang jatuh cinta pada raja tetapi tidak bisa menggapainya sungguh sangat mengerikan.
Kesadaran seorang wanita seharusnya tidak berhenti pada masalah hati, tetapi harus berjalan bersama logika. Jika Han Jinxi jatuh cinta, seharusnya berterus terang agar Long Ji Man bisa mengerti. Meskipun dia seorang wanita, tetapi jika jatuh terlalu dalam dan memilih jalan yang salah, itu bukanlah suatu kebaikan atau keselamatan.
Jatuh cinta boleh saja, tetapi logika tetap harus berjalan.
Li Anlan sedikit mengasihani wanita jahat itu. Ya, bagaimanapun, orang bisa saja jatuh ke kubangan lumpur karena tersandung atau tidak mampu menemukan jalan pulang. Sebelum rasa simpatinya membesar, Li Anlan langsung teringat pada perlakuan wanita itu kepadanya. Hatinya menjadi kesal. Sama-sama wanita raja, mengapa harus saling mencelakai? Ada baiknya jika masing-masing tetap pada jalan yang sudah ditentukan.
“Yang Mulia, apa keputusanmu selanjutnya?” tanya Li Anlan setelah merenung sekian lama.
“Kau punya ide?”
“Untuk saat ini aku masih buntu. Yang Mulia, sebaiknya kita mencari sampai ke akarnya.”
“Huang An, kau curiga dia tidak bertindak sendiri?”
“Ya, aku curiga. Seorang wanita, meskipun punya kuasa besar, tidak akan bisa menjalankan semua rencana tanpa dukungan.”
“Apa yang harus kita lakukan?”
Li Anlan membisikkan sesuatu pada Long Ji Man. Long Ji Man manggut-manggut mengerti. Dia akan mencoba saran yang baru dikatakan Permaisuri Bangsawannya.
“Aku akan mencobanya.”
“Yang Mulia, kau harus mencobanya.”
Long Ji Man menatap wanita itu sebentar. Meskipun singkat, tatapan itu begitu dalam dan lembut.
“Huang An, kau jangan pernah terluka.”
Li Anlan tersenyum manis. Rajanya ini begitu imut saat khawatir.
...***...