
Li Anlan menghembuskan napas lelah sambil mendudukkan dirinya di kursi. Wajah wanita itu sangat kusut seperti benang yang simpulnya berantakan. Jubah resmi ratu dia lepas, lalu dia lemparkan ke sembarang tempat. Dia sangat kesal. Moodnya langsung turun drastis.
Betapa tidak, usai upacara pernikahan dan penobatan, Li Anlan disibukkan dengan berbagai kegiatan penyambutan dirinya sebagai Ratu Kerajaan Dongling sekaligus merayakan pernikahannya dengan Long Ji Man. Pria itu ternyata tidak menuruti perkataannya. Tanpa sepengetahuannya, Long Ji Man ternyata telah menyiapkan sebuah perjamuan besar untuk merayakan pernikahan agungnya.
Ketika dia bertanya, Long Ji Man menjawab bahwa pernikahan seorang raja dengan permaisurinya tidak boleh sederhana. Boros sedikit tidak apa-apa, asal ada kesan yang baik dari semua orang, maka akan aman-aman saja.
Lagi pula, mengadakan perjamuan mewah untuk merayakan pernikahan raja tidak mengharuskan pemilik acara membayar dari kantong pribadi. Urusan seperti itu sudah diatur dengan baik oleh Biro Rumah Tangga Istana.
Long Ji Man sebagai seorang pria tentu menginginkan yang terbaik pada hari bahagianya. Terlepas dari status dan kedudukannya sebagai seorang raja dan pemimpin negara, dia tetaplah seorang pria yang ingin momen berharganya berkesan. Untuk itulah dia diam-diam menyiapkan sebuah pesta pernikahan yang megah lewat perjamuan kerajaan tanpa Li Anlan ketahui.
Pasangan Raja dan Ratu yang sempurna harus menyambut banyak tamu undangan yang hadir. Tentu saja, mereka bukan hanya dari kalangan pejabat atau menteri dan keluarga kerajaan. Bahkan, tamu utusan perbatasan dan lain negara pun datang memberi selamat. Long Ji Man tidak tanggung-tanggung mengundang orang.
Wajah Li Anlan serasa mati rasa karena harus tersenyum sepanjang hari. Dari sekian hari yang ada, ini adalah hari terberatnya. Entah mengapa hari pernikahan dan penobatan yang semula dirasa sangat serius dan sakral berubah menjadi seperti pemakaman di mata Li Anlan.
Pelayan pribadinya kemudian memijit bahunya. Dia juga menangis karena terharu. Xie Roulan bahagia karena sekarang majikan kesayangannya menjadi Ratu Kerajaan Dongling. Mereka tidak perlu lagi repot-repot berhemat atau belanja sembunyi-sembunyi. Majikannya sekarang adalah wanita nomor satu, wanita terhebat yang tidak pernah menyesal dia layani.
“Ayolah, jangan membuat hariku semakin buruk!” kesal Li Anlan pada pelayannya.
“Nyonya, aku seperti bermimpi. Kau hebat, kau wanita terhebat!”
“Baik, teruslah bermimpi dan jangan pernah bangun.”
“Tidak. Kalau aku tidak bangun, siapa yang akan melayanimu?”
“Kalau sudah tahu, jangan menangis. Oke?”
Xie Roulan mengangguk. Pelayan wanita itu kemudian mengambil baju ganti Permaisuri yang khusus dijahit oleh seorang perancang busana terbaik di Kerajaan Dongling. Dia membantu majikannya melepaskan semua aksesoris yang memberatkan kepala. Mahkota, jepit rambut, anting-anting dan beberapa perhiasan lain diletakkan di dalam sebuah kotak perhiasan dari kayu dedalu.
“Nyonya, mulai sekarang aku tidak bisa memanggilmu dengan sebutan itu lagi,” ucap Li Anlan sambil menunduk.
“Mengapa?”
“Nyonya seorang Ratu. Panggilanku sudah seharusnya berubah,” lajut Xie Roulan.
“Lalu sebutan apa yang kau gunakan untuk memanggilku?”
“Yang Mulia.”
Mendengar panggilan itu, telinga Li Anlan terasa gatal. Sebutan ‘nyonya’ sudah akrab di telinga, sekarang tiba-tiba harus berubah menjadi ‘Yang Mulia’. Mungkin dia akan membutuhkan banyak waktu untuk membiasakan diri dengan panggilan baru yang sesuai dengan status dan kedudukannya.
“Tidak, tidak. Telingaku gatal mendengarnya. Roulan, ingat ini. Di matamu, aku adalah Permaisuri Bangsawan, kau harus tetap memanggilku nyonya. Mengerti?”
“Tapi, bagaimana jika Yang Mulia Raja marah?”
“Dia tidak akan berani. Aku yakin Long Ji Man cukup mengerti.”
Meski agak keberatan, Xie Roulan tidak dapat menolak. Sebagai seorang pelayan setia, apa lagi yang dapat dia lakukan jika bukan menuruti segala perintah majikannya? Xie Roulan sudah lama berada di samping Li Anlan. Gadis pelayan itu sudah sangat mengerti sifat dan karakter majikannya.
Malam sudah larut. Berdasarkan hitungan jam modern, sekarang seharusnya sudah pukul sembilan lewat seperempat malam. Li Anlan biasanya sudah tidur dan sudah berkelana ke alam mimpi. Tetapi, malam ini, entah mengapa rasa kantuk yang biasanya menyerang tidak datang. Wanita itu duduk di kursi utama sambil memainkan cangkir porselen berisi minuman dingin yang cantik.
Ini adalah malam pernikahannya. Seorang wanita yang sudah menjadi istri seorang pria, mungkin harus melakukan sesuatu bersama suaminya. Pikiran Li Anlan belum sampai pada tahap itu. Dia masih berusaha mencerna segala macam kejadian yang mengantarkannya kepada hari ini. Antara percaya dan tidak percaya, tetapi Li Anlan tahu betul bahwa semuanya adalah nyata.
Pintu utama Istana Xingyue tiba-tiba terbuka. Long Ji Man yang masih berpakaian resmi kerajaan masuk diantar Xiao Biqi. Pria itu sepertinya baru selesai menjamu para tamu agung di Istana Taiji. Melihat istrinya duduk termenung dengan pikiran melayang, Long Ji Man tersenyum. Dia melangkah menuju Li Anlan, kemudian duduk di kursi di depan Li Anlan sambil terus menatapnya.
“Kau belum tidur?”
“Yang Mulia,”
“Mengapa wajahmu seperti benang kusut?”
“Tidak apa-apa.”
“Kau yakin? Kalau kau merasa tidak nyaman, aku akan tidur di Istana Hongwu.”
“Tidak, jangan pergi ke manapun.”
Gemas dengan tingkah istrinya, Long Ji Man langsung menggendong Li Anlan ke tempat tidur. Li Anlan terpekik karena tubuhnya diangkat secara tiba-tiba. Tangannya refleks mengalung di leher Long Ji Man. Pria itu membaringkannya di tempat tidur tepat di sisi paling dalam. Setelah itu, dia langsung berbaring di samping Li Anlan. Jubah kerajaannya masih melekat di tubuhnya.
Satu menit berlalu. Li Anlan dan Long Ji Man tidur bersisian dalam posisi telentang. Kain-kain merah melambai menutupi ranjang. Lima menit, lima belas menit, tiga puluh menit berlalu dalam keheningan. Li Anlan dan Long Ji Man masih dalam keadaan sadar. Mata mereka masih terbuka menatap langit-langit, tetapi pikiran mereka berjalan sendiri-sendiri.
“Yang Mulia,” panggil Li Anlan setelah hening sekian lama.
“Em?”
“Apa ini malam pertama kita?”
Pertanyaan bodoh, umpat Li Anlan dalam hati. Dia menyesali mulutnya yang tidak bisa diajak kompromi. Jelas-jelas ini adalah malam pernikahan, mengapa dia repot-repot bertanya?
“Mungkin. Huang An, apa kau gugup?”
“Sedikit.”
Keadaan kembali hening. Li Anlan dan Long Ji Man sama-sama tidak tahu apa yang harus mereka lakukan sekarang. Mereka saling diam, tetapi jantung mereka berdetak tak karuan. Jika ada CCTV, orang yang mengawasi mungkin akan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku pasangan suami istri ini.
“Huang An,” kini giliran Long Ji Man yang memanggil Li Anlan.
“Ya?”
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Aku tidak tahu. Yang Mulia seharusnya jangan bertanya padaku.”
“Benar juga. Kau masih seorang gadis.”
“Yang Mulia pernah meniduri wanita?”
“Tidak.”
“Kalau begitu, kau masih perjaka?”
“Ya.”
“Benarkah kau tidak pernah menyentuh wanita? Termasuk Han Jinxi?”
“Tidak. Sudah kukatakan bahwa dia hanyalah temanku.”
“Bagaimana dengan Xu Lingsu? Duanmu Shui? Da Lixia?”
Ucapan Li Anlan yang terus menerus menyebut nama wanita lain membuat Long Ji Man gemas sekaligus kesal. Ini adalah malam pernikahan mereka, mengapa harus ada wanita lain yang hadir meskipun hanya sekadar nama? Bisakah wanita itu diam saja dan fokus pada pembicaraan tentang kisah mereka berdua?
Long Ji Man kemudian mencondongkan tubuhnya hingga posisinya menjadi setengah berbaring. Dia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Li Anlan sambil berkilat jahil. Melihat gelagat aneh suaminya, mata Li Anlan memicing curiga. Jarak yang terlalu dekat itu membuat jantung keduanya berdebar sangat kencang.
Ketika Li Anlan hendak berbicara agar Long Ji Man sedikit menjauh, mulutnya tiba-tiba dibungkam oleh Long Ji Man dengan mulutnya. Kejadian tiba-tiba itu membuat Li Anlan terpaku sesaat. Dia seperti sebuah patung kayu yang tidak dapat bergerak. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar.
“Jangan pernah menyebut nama wanita lain ketika hanya ada kita berdua,” ucap Long Ji Man sambil mengangkat wajahnya.
“Wanita? Siapa? Siapa yang kusebut?” ceracau Li Anlan seperti orang bodoh yang kehilangan ingatan.
Long Ji Man tidak menjawab. Tangan pria itu bergerak perlahan menuju tali pengikat yang terlilit di pakaian Li Anlan. Matanya menatap dalam manik mata seindah kejora milik Li Anlan. Ketika dia menarik tangannya, tangan Li Anlan menahannya hingga tali pakaian itu masih tersimpul.
“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Li Anlan penuh kewaspadaan.
“Melihat sesuatu.”
“Apa yang ingin kau lihat?”
“Semuanya. Kenapa? Aku bahkan sudah pernah melihatnya beberapa kali,” jawab Long Ji Man sambil tetap menarik tali pakaian itu.
“Semuanya? Kapan?”
“Rahasia.”
Li Anlan hendak bangkit, tetapi tubuhnya ditahan oleh Long Ji Man. Wanita itu kembali berbaring. Long Ji Man langsung menguncinya dengan tubuhnya sendiri. Sekarang, Li Anlan tidak bisa bergerak bebas karena setiap kali dia bergerak, anggota tubuhnya akan menyentuh anggota tubuh Long Ji Man.
“Huang An, jangan menghindar lagi. Malam ini adalah malam pernikahan kita.”
“Memangnya ada apa dengan malam pernikahan?”
Entah Li Anlan yang masih polos atau karena otaknya yang bodoh. Di dunia ini, mungkin hanya dia satu-satunya wanita yang bertanya perihal sesuatu yang tidak bisa dikatakan dengan jelas. Long Ji Man semakin tidak tahan. Wanita ini membuatnya menjadi seorang pria yang menahan kemarahan dan sesuatu yang terus muncul di beberapa waktu. Long Ji Man ingin segera menjadikan Li Anlan sebagai miliknya seutuhnya!
Li Anlan tahu dirinya tidak akan bisa lari lagi. Sebenarnya apa yang menjadi beban di hatinya kini? Dia sudah memutuskan menjadi istri Long Ji Man satu-satunya. Seluruh jiwa dan raganya sudah seharusnya dia serahkan kepada pria pilihannya itu. Tidak boleh ada keraguan, hatinya tidak boleh goyah lagi. Sekali lagi Li Anlan menegaskan pada dirinya sendiri: ini adalah takdirnya!
“Huang An, apa kau sudah siap?”
“Siap atau tidak siap, bukankah sama saja?”
“Huang An, seluruh jiwa dan ragamu adalah milikku. Hatimu adalah milikku. Kelak, tidak akan ada orang lain yang mengisi ruang kosong di hatimu karena aku yang akan mengisi dan mengunci pintunya.”
Entah siapa yang memulai, tetapi pagutan bibir kedua orang itu sudah membangkitkan gelora yang begitu besar. Itu seperti api yang membara, yang membakar hingga seluruh sumsum tulang dan relung jiwa. Napas mereka seperti deburan ombak di laut lepas yang menderu mencari tepi. Mereka seperti kapal di tengah badai yang mencari sebuah pelabuan peristirahatan. Segala batu karang dan angin kencang yang menerjang tidak menjadi penghalang. Kapal itu terus berlayar sepanjang malam, mencari siang yang terang benderang.
Angin pertengahan musim gugur bertiup menepuk sisa-sisa daun persik yang masih tersisa. Suara binatang malam seperti sebuah paduan suara yang bernyanyi di tengah orchestra. Di langit, bulan bersinar dengan terang. Bulan itu seperti tersenyum bahagia menyaksikan penyatuan dua insan yang sudah ditakdirkan bersama meskipun beda dunia.
Malam itu, seluruh langit dan bumi menyaksikan sebuah mahakarya Yang Kuasa yang sangat agung dan suci. Seisi dunia ikut bersuara, menemani langkah perjalanan dua orang manusia menuju singgasana cinta yang suci nan abadi. Semua makhluk yang ada di muka bumi seperti ikut menyimpulkan ikatan untuk menyatukan keduanya dengan ikatan gaib yang begitu kuat.
...***...
Ekhem. Author gamau komen banyak soal episode yang ini.