
Sejak mendengar kabar bahwa Long Ji Man akan menikah lagi, Li Anlan setiap hari merasa kesal. Dua kasim dan empat penjaga di Istana Xingyue habis menjadi sasaran kekesalan Li Anlan. Mereka dimarahi, dikerjai, bahkan dihukum tanpa sebab. Suasana hati wanita itu benar-benar sangat buruk.
Xie Roulan berkali-kali berusaha menenangkannya, tetapi majikannya sudah dibakar api kemarahan. Dia seperti seorang remaja yang sedang mengalami masa haid berkepanjangan, yang menyebabkan moodnya memburuk dan sensitif.
Saat seleksi petugas untuk Ujian Kerajaan pun, Li Anlan tidak mengubah karakternya. Dia bersikap liar dan keras kepala. Tes yang ia berikan pada calon petugas pengawas bahkan lebih sulit dari tes Ujian Kerajaan sendiri. Li Anlan sengaja menerapkan kualifikasi tinggi untuk mereka, sekalian melampiaskan kekesalan yang ada dalam hatinya.
Dia sendiri tidak tahu mengapa dia bisa bersikap seperti itu. Baru kali ini dia merasa kesal dalam waktu yang lama karena sesuatu yang bahkan tidak pernah dia anggap serius. Tenaganya seperti habis tersedot hingga tak bersisa. Li Anlan kerap terjatuh saat berjalan-jalan di halaman Istana Xingyue tanpa sebab.
Hari ini adalah hari pernikahan Long Ji Man dengan putri utusan perbatasan. Sejak bertemu di Istana Hongwu, pria itu tak pernah lagi menemuinya. Li Anlan menjalankan tugas berat seorang diri, dan hanya Xiao Biqi yang datang untuk mewakili sekaligus memberikan beberapa arahan yang diperlukan. Seluruh wanita istana berdandan dan berhias, memamerkan penampilan terbaik mereka. Li Anlan dengar, semua wanita di Istana Harem diundang ke Istana Shiyue untuk menghadiri perjamuan penyambutan putri utusan perbatasan yang akan menikah dengan Yang Mulia Raja hari ini.
Li Anlan sebenarnya juga mempunyai undangan. Tetapi, wanita itu menolak datang dengan alasan pekerjaannya masih banyak. Lagipula, wanita hebat mana yang bersedia menghadiri pernikahan suaminya sendiri. Istana Shiyue terlalu ramai, banyak orang penting hadir. Jika Li Anlan datang, telinganya pasti gatal dengan suara bising dari mulut mereka yang menggunjingkannya, menganggapnya tidak pantas menjadi Permaisuri Bangsawan. Meskipun pembicaraan tentang dirinya sudah padam, tetapi dia yakin di luaran sana masih banyak orang yang membicarakannya sembunyi-sembunyi.
“Nyonya, kau yakin tidak akan datang?” tanya Xie Roulan.
“Tidak.”
“Mengapa? Bukankah ini momen yang tepat untuk membuktikan bahwa Nyonya memang pantas menjadi Permaisuri Bangsawan, dengan menunjukkan kerendahan hati dan kelapangan dada?”
“Siapa yang tidak lapang dada? Aku hanya sedang tidak ingin pergi ke manapun.”
Siapapun bisa melihat kalau Permaisuri Bangsawan sedang menahan marah. Matanya yang seperti kejora berkilat cerah namun memiliki arti lain. Mata itu hanya menipu. Makna di baliknya tidak ada yang tahu.
Suara tabuhan alat musik yang meriah terdengar sampai ke Istana Xingyue. Orang-orang sedang berpesta menyambut pernikahan baru raja mereka. Dari taman Danau Houchi, Li Anlan bisa melihat banyak kain merah melambai diterpa angin dari komplek Istana Harem. Li Anlan meneguk ai putihnya sambil menatap malas pada komplek istana yang hanya terlihat setengah bangunan tersebut.
Permukaan Danau Houchi beriak, seperti hati Li Anlan yang sedang diterpa gelombang besar. Sore hari menjadi lebih panjang dari biasanya. Mungkin karena suasana hati si penunggu sedang tidak baik. Pohon magnolia putih yang mekar di pinggiran danau sengaja menjatuhkan bunganya ke atas permukaan air, menimbulkan gelombang-gelombang kecil membentuk lingkaran.
Xie Roulan menatap majikannya. Wajah putih tapi tidak cerah, ekspresi datar dan dingin, serta gerakan tangan yang lambat dalam memainkan cangkir, sungguh sebuah pemandangan langka. Majikannya benar-benar seperti arca, benar-benar seperti peri yang menjelma menjadi manusia. Meskipun dia tahu Li Anlan kesal, tetapi pesona wanita itu tidak pernah padam.
“Siapa nama pengantin perempuannya?”
“Kata orang, namanya Da Yin. Marganya masih Long, karena keluarga kerajaan bawahan masih kerabat keluarga Kerajaan Dongling.”
“Hm. Tirani kekuasaan keluarga baru, ya.”
Da Yin, Da Yu, Da apapun itu, Li Anlan tidak peduli. Sekarang wanita perbatasan itu sudah menjadi wanita milik Yang Mulia Raja, menjadi penghuni baru Istana Harem. Li Anlan dengar, karakter putri-putri perbatasan sangat liar dan bebas. Sekarang dia menikah dengan raja dan tinggal di istana, hidupnya pasti tidak akan terlalu nyaman.
“Kau punya peta?” tanya Li Anlan.
“Peta apa, Nyonya?”
“Peta istana.”
“Aku rasa kita memilikinya.”
Li Anlan tiba-tiba bangkit, kemudian menarik Xie Roulan kembali ke Istana Xingyue. Langkah Xie Roulan terseret-seret karena majikannya setengah berlari, seperti sedang terburu-buru. Dia hanya pasrah saat kakinya tersandung batu. Bila dengan begini suasana hati majikannya bisa lebih baik, maka dia tidak akan protes.
Sebuah peta berukuran kertas F4 terbentang di meja belajar Li Anlan. Warna peta tersebut cokelat, terbuat dari kain tahan air. Simbol-simbol di dalamnya digambarkan dengan tinta warna hitam, membentuk miniatur bangunan dengan garis-garis tipis di ujungnya. Garis-garis tersebut mungkin adalah benteng yang mengelilingi istana ini, dan bangunan-bangunan kecil yang ada di dalamnya adalah istana dan bangunan lain yang ada di sini. Bagus. Li Anlan sekarang punya cara untuk menenangkan suasana hatinya yang kesal selama beberapa hari ini.
“Roulan, carilah pakaian kasim!”
“Baik, nyonya.”
Malam hari, saat perjamuan di Istana Shiyue selesai dan semua orang sudah pulang, Li Anlan dan Xie Roulan menyelinap keluar dari Istana Xingyue memakai pakaian kasim. Keduanya berjalan menyebrangi Danau Houchi, Istana Hongwu, Istana Taiji, lalu berbelok ke sebelah kanan. Lampu-lampu taman yang menghiasi jalan tidak terlalu terang, hingga orang-orang yang berpapasan dengan mereka tidak menaruh curiga dan menganggap mereka pelayan biasa.
Sampai suatu waktu, Li Anlan dan Xie Roulan menghentikan perjalanan mereka. Keduanya sampai di depan sebuah bangunan megah yang lebih indah dari Istana Xingyue. Lampunya terang. Di sekitar tiang dan pilar-pilar, kain-kain merah berkelebat diterpa angin. Tak lama kemudian, lampu di dalam bangunan tersebut mulai meredup. Li Anlan menarik Xie Roulan untuk mendekati bangunan tersebut dari samping sambil terus memperhatikan keadaan.
“Nyonya, ini tidak baik, bukan?” tanya Xie Roulan ragu. Dia tidak menyangka majikannya berani melakukan hal seperti ini.
“Sssttt… Kecilkan suaramu.”
“Tapi, jika ketahuan, kepala kita akan dipenggal!”
“Tidak akan ada yang berani melakukan itu. Ikuti aku.”
Bangunan tersebut adalah Istana Nanxin, istana yang dibangun untuk ditempati oleh putri utusan perbatasan. Dengan kata lain, istana ini adalah istana kediaman Si Putri Utusan, sekaligus tempat bermalamnya pengantin baru. Pantas saja kain merahnya begitu mendominasi dan jumlahnya lebih banyak dari tempat lain.
Li Anlan melubangi jendela kertas Istana Nanxin dengan kuku jari kelingkingnya. Dia menajamkan penglihatannya, ingin tahu sesuatu yang sedang terjadi di dalam sana. Matanya yang indah itu melihat bayangan dua orang manusia sedang duduk berhadapan sambil saling menatap. Salah satu diantara keduanya memakai mahkota dari emas, dan Li Anlan tebak orang itu pastilah pengantin wanita. Orang yang ada di hadapannya pasti adalah Long Ji Man.
Tiba-tiba, wajah Li Anlan mulai meredup saat melihat Long Ji Man menyodorkan sebuah cangkir berwarna merah ke hadapan pengantinnya. Itu pasti arak pernikahan, yang diminum sebelum malam pengantin dilaksanakan. Hatinya seperti dicubit. Suasana hati Li Anlan memburuk kembali.
Tanpa sepatah kata, dia pergi begitu saja dari Istana Nanxin.
“Nyonya, tunggu aku!”
“Cepat atau kita akan ketahuan!”
Di malam yang gelap itu, Li Anlan berbelok dari Istana Nanxin ke sebuah bangunan lain yang lebih megah dari Istana Nanxin. Cahayanya sangat terang, berwarna kuning keemasan. Ini adalah komplek istana selir, dan bangunan yang dimaksud adalah istana Permaisuri Jin. Li Anlan menapaki koridor istana Permaisuri dengan langkah pelan.
Dia baru sadar saat tubuhnya menabrak sebuah pilar penyangga yang dihiasi motif burung dan tumbuhan.
Seketika Li Anlan terperanjat, terkejut dengan keadaan di sekelilingnya. Rupanya, dia tanpa sadar sudah salah berbelok arah. Seharusnya dia berbelok ke jalan utama, bukan ke jalan yang membawanya menuju istana ini. Li Anlan masihlah seorang Li Anlan yang tidak hafal jalan pulang.
Dari koridor, dia mendengar suara dua orang sedang berbicara dari dalam. Li Anlan mendekatkan telinganya ke jendela kertas, lalu meminta Xie Roulan menyodorkan ponsel yang kebetulan ia bawa. Itu adalah suara Permaisuri Jin, yang entah sedang berbicara dengan siapa. Suara lawan bicara Permaisuri Jin agak serak-serak basah.
“Apa kau yakin orang-orang kita bisa masuk?” tanya suara serak basah.
“Mungkin akan lebih sulit.”
“Kau harus berusaha.”
“Tentu.”
Meskipun Li Anlan tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, dia tetap merekam percakapan tersebut untuk ia koleksi dan ia jual suatu hari jika ia kembali ke masa depan. Harganya pasti mahal dan percakapan tersebut pasti bisa menjadi objek penelitian yang hebat.
Tengah malam, Li Anlan dan Xie Roulan baru kembali ke Istana Xingyue. Mereka berputar-putar terlebih dahulu di komplek Istana Harem karena Li Anlan menjatuhkan petanya entah di mana. Wanita itu mendudukkan dirinya di kursi yang biasa ia gunakan untuk bersantai setelah mengganti bajunya. Seluruh tubuhnya terasa gerah dan gatal karena berjalan sejauh itu.
“Beraninya dia bersenang-senang di malam pengantin sementara aku harus bekerja keras? Ji Man, apa kau seorang pria? Mengapa kau sangat tidak bertanggungjawab? Dasar raja sialan! Raja idiot! Raja menyebalkan!”
Li Anlan mengumpat berkali-kali. Dia juga bermonolog dengan dirinya sendiri, mengungkapkan semua kekesalan yang selama ini terpendam di dalam hatinya. Setiap kali dia menyebutkan nama Long Ji Man, Li Anlan akan meneguk segelas air dengan cepat dan penuh tenaga. Dua buah cangkir porselen sudah pecah akibat genggaman tangan Li Anlan.
“Nyonya, buka pintunya!”
Suara teriakan orang dari luar mengagetkan Li Anlan. Siapa yang berteriak tengah malam begini?
“Minggir!”
Ada suara lain yang menyusul suara tersebut.
Belum habis kebingungan Li Anlan, dia dibuat terkejut kembali saat seseorang mendobrak pintu istananya secara paksa. Li Anlan terpekik dan langsung berdiri. Wanita yang sedang kesal kemudian berjalan cepat ke arah depan, ingin memberi pelajaran pada orang gila yang menerobos istananya tengah malam.
Seorang pria berpakaian merah berdiri tidak tegap di lawang pintu. Wajahnya sayu dan gelap. Matanya berkedip-kedip seolah sedang mempertahankan sesuatu. Rambutnya terurai panjang. Jubah merah indahnya ikut tergerai.
“L-Long Ji Man?” teriak Li Anlan.
“Panas…. Panas….”
“Yang Mulia, mengapa kau kemari? Biqi, Biqi!”
“Nyonya, aku titip Yang Mulia di sini. Maaf merepotkanmu malam ini,” teriak Xiao Biqi. Suara kasim itu semakin jauh dan hilang.
“Apa maksudmu kasim kecil? Hei, Yang Mulia, sadarlah!”
“Panas, Anlan. Panas…”
Long Ji Man melangkah maju. Li Anlan memundurkan tubuhnya hingga beberapa meter ke belakang, tetapi Long Ji Man terus melangkah. Mata sayu pria itu berkilat seperti menahan sesuatu. Li Anlan mulai berjaga-jaga. Tangannya meraih sebuah vas bunga. Tetapi, langkahnya diketahui Long Ji Man. Pria itu merebut vas di tangan Li Anlan dan melemparkannya hingga pecah.
“Tolong aku…”
...***...
...Tolong!!! Ada yang bisa mengatasi kegilaan Li Anlan? Kalau ada, kasih tau Author ya! Biar Li Anlan jadi perempuan patuh dan istri idaman. Nah, kira-kira, apa yang akan terjadi selanjutnya? Penasaran? Stay tune terus! Hari ini Author sengaja up tiga kali biar kalian ada teman saat mengisi waktu luang. Sampai jumpa di episode berikutnya!...