
“Apa hantu yang kau maksud adalah aku?”
Li Anlan yang ber-cosplay sebagai joker ala orang tradisional muncul dari balik pintu sambil tertawa terbahak-bahak. Keempat wanita yang sedang bersujud menolehkan kepala perlahan, kemudian berteriak kembali karena hantu yang mengejar mereka tiba-tiba muncul di balik pintu Istana Hongwu.
“Huang An, mengapa kau berpakaian seperti itu?” Long Ji Man bertanya.
“Aku sedang bermain dengan empat selirmu. Yang Mulia, kau tidak akan marah kan?”
Kata “bermain” yang Li Anlan ucapkan adalah kiasan yang tidak merujuk pada arti sebenarnya. Long Ji Man kemudian menatap tajam empat wanita yang bersujud di hadapannya yang sedang ketakutan hingga tubuh mereka bergetar. Ekspresinya lebih dingin dari beberapa saat yang lalu.
“Apa yang sudah kalian lakukan pada Nyonya Huang?”
Keempat wanita itu saling pandang satu sama lain. Gawat, raja sepertinya mulai curiga. Pria hebat sepertinya pasti sudah menduga kalau ada yang tidak beres. Dia tidak akan berpikir pendek, Permaisuri Bangsawan selalu punya alasan untuk menghukum orang. Tidak lama lagi, kebenarannya pasti akan terungkap.
Bingung dan takut bercampur satu. Jika diberitahukan, maka raja pasti akan sangat marah. Tetapi jika tidak jujur, raja akan mengetahui kebenaran dari mulut Permaisuri Bangsawan. Akhir dari segalanya akan sama saja, keempatnya tidak akan bisa selamat malam ini.
“Y-Yang Mulia, kami tidak melakukan apapun.”
“Oh benarkah? Lalu, wanita-wanita, siapa yang mengirim kotak berisi tikus mati ke istanaku?”
“I-Itu, kami tidak tahu. Nyonya, kami difitnah!”
Long Ji Man tiba-tiba marah. Atmosfer ruangan Istana Hongwu begitu mencekam seperti sebuah ruang sidang peradilan yang mengadili tersangka pembunuhan berantai. Empat wanita yang bersujud hampir menangis, takut dengan kemarahan raja mereka. Ini pertama kalinya mereka melihat raja yang begitu disukainya marah besar.
“Cukup! Apa kalian lupa jika Permaisuri Bangsawan bukanlah orang yang bisa kalian ganggu?”
Keempat wanita yang tidak diketahui namanya salah tingkah. Saat bertindak, mereka sungguh melupakan dekret yang pernah dikeluarkan oleh Yang Mulia Raja yang isinya larangan mengganggu Permaisuri Bangsawan. Tindakan bodoh nan ceroboh mereka ternyata akibatnya sangat fatal.
Hari-hari bahagia mereka di Istana Harem kemungkinan akan segera berakhir!
“Ampuni kami Yang Mulia.”
“Ampuni kami Yang Mulia.”
“Nyonya, ampuni kami. Kami tahu kami bersalah.”
“Nyonya, mohon ampuni kami.”
Li Anlan memutar bola matanya dengan malas. Para pemain drama di depannya begitu menjijikan. Saat mereka meletakkan tikus mati di istananya, pernahkah mereka berpikir pada konsekuensinya? Oh tidak, Li Anlan bukan wanita lemah yang mudah ditindas. Sekali diganggu, maka dia akan mengembalikannya berpuluh kali lipat.
“Maaf, wanita-wanita manis. Aku tidak bisa melanggar perintah raja,” ujar Li Anlan sambil berjalan ke sisi Long Ji Man. Sepasang suami istri tersebut sangat kontras penampilannya.
“Panggil penjaga! Keluarkan mereka dari istana!”
“Yang Mulia, tolong jangan mengusir kami, kami mohon…”
“Pergi! Jangan pernah kembali ke istana lagi!”
Melihat keempat wanita itu diusir, Li Anlan melambaikan tangan, mengucapkan selamat tinggal dan salam perpisahan dengan ejekan. Biarkan mereka tahu ganjaran dari perbuatan mereka. Wanita harusnya saling menghormati, bukan saling menghina dan menyakiti. Keempat wanita itu sepertinya sangat tidak tahu posisi. Jelas-jelas Permaisuri Bangsawan lebih tinggi dari mereka, tetapi masih berani berbuat macam-macam.
Hukum di sini mengatakan bahwa seorang janda bekas selir raja yang diceraikan tidak bisa menikah dengan siapapun lagi. Mereka hidup melajang hingga tua, tanpa keturunan dan tanpa keluarga dekat. Sekali menjadi selir raja, maka lebih baik mempertahankan posisi daripada ditendang keluar dari istana dengan hina. Tidak heran jika kebanyakan selir di sini memilih hidup nyaman meskipun tidak pernah disentuh oleh Yang Mulia Raja.
Hati Li Anlan yang lelah sedikit berbunga. Moodnya membaik setelah bersenang-senang dengan mengerjai para mantan selir raja tersebut. Sekarang, di Istana Harem hanya tinggal tiga belas selir yang tersisa. Setelah kejadian ini, mungkin yang lain tidak akan berani mengganggunya dalam waktu dekat. Li Anlan yakin kalau empat wanita tadi satu komplotan dengan Xu Lingshu, Duanmu Shui, dan Da Lixia.
“Kau tidak melakukan ini sendiri kan?” tanya Long Ji Man yang kembali duduk di kursi kerjanya. Malam semakin larut, tapi rasa kantuk yang sempat menyerang sudah hilang semuanya.
“Aku meminta bantuan pelayan dan temanku.”
“Kau menyusupkan pria itu ke istana?”
“Dia bukan orang luar. Yang Mulia tenang saja, dia sudah pergi sejak tadi.”
Long Ji Man memijit keningnya pelan. Jika sampai orang lain tahu kalau Permaisuri Bangsawan menyusupkan seorang pria asing ke dalam istana, dia bisa dihukum karena sudah melanggar aturan. Tetapi, berhubung dia melakukannya untuk membela diri dan memberi pelajaran pada orang yang mengganggunya, Long Ji Man akan melepaskannya kali ini saja. Long Ji Man berterima kasih diam-diam karena secara tidak langsung, wanita itu sudah membantunya mengeluarkan empat orang wanita tidak berguna dari istananya, serta mengurangi pengeluaran yang membengkak karena menggaji para selir yang tidak pernah dipekerjakan.
Walau dia seorang raja, dia tidak bisa melakukan banyak hal sesuka hati, termasuk menceraikan atau mengusir selir-selir yang tidak pernah dia sukai. Terlebih lagi, kekuasaannya pada urusan wanita tidak kuat karena Istana Harem adalah otoritas Ibu Suri Han Yuemei dan Permaisuri Jin. Mereka yang menjadi selir juga para putri pejabat dan bangsawan penting di Kerajaan Dongling. Selain menemukan kesalahan mereka, Long Ji Man tidak bisa berbuat banyak.
Hari ini, dia berhasil mengeluarkan empat orang wanita tanpa harus turun tangan sendiri. Secara alami mereka menunjukkan kesalahan mereka lewat perantara Li Anlan. Jika wanita itu tidak membalas dan menggiring empat orang itu ke sini, Long Ji Man mungkin tidak akan tahu apa-apa.
“Yang Mulia, aku tidak melanggar aturan bukan? Di sini, segala cara bisa menjadi legal selama bisa mempertahankan hidup.”
“Ya. Kau bisa melakukan apapun yang kau rasa benar. Aku tidak akan marah selama kau tidak melewati batas yang kutentukan.”
“Ah, aku lupa. Aku tidak mau mencampuri urusan harem. Tetapi, jika para wanita dari istana itu menggangguku lagi, aku akan menggoreng mereka dan melemparkan mereka ke Danau Houchi. Ikan-ikanku pasti gemuk!”
“Mengapa aku merasa sekarang kau lebih kejam dariku?”
“Yang Mulia, aku bukan kejam. Aku hanya cerdas dan pendendam.”
“Terserah. Hapus riasanmu, kau benar-benar seperti hantu sungguhan!”
“Memangnya Yang Mulia pernah melihat hantu sungguhan?”
“Tidak.”
“Bagaimana jika kupanggil mereka?”
“Memangnya kau bisa?”
“Kau tidak tahu ya? Aku seorang paranormal yang hebat di masaku!”
“Teruslah membual, Li Huang An.”
Sudah tengah malam, tetapi wanita itu tak kunjung keluar dari Istana Hongwu. Tanpa diduga, Li Anlan malah tertidur di kursinya. Riasan hantunya masih sangat tebal dan hanfu putih berdarahnya sangat kotor. Long Ji Man menghela napas untuk yang ke sekian kalinya. Wanita yang tidak bisa menjaga keanggunan ini begitu suka tertidur di saat seperti ini.
Perlahan, Long Ji Man menggendong tubuh Li Anlan, lalu membaringkannya di tempat tidur. Dia membetulkan posisinya agar wanita itu merasa nyaman. Setelah itu, Long Ji Man menyelimutinya dengan pelan. Long Ji Man tidak pernah bisa marah pada wanita aneh ini. Hatinya selalu melembut saat berhadapan dengan Li Anlan. Wanita ini terlalu sukar untuk dipahami.
***