
Aula Istana Taiji, tempat pertemuan raja dengan para menteri dan pejabat begitu riuh di pagi hari. Semua orang sibuk membicarakan kehendak Yang Mulia Raja yang tiba-tiba saja mengumumkan penobatan Permaisuri Bangsawan hari ini, tanpa ada pemberitahuan apapun sebelumnya. Para menteri, terutama menteri tua yang sudah puluhan tahun menjabat, memiliki kekhawatiran dan keterkejutan yang lebih besar dari yang lainnya. Kawula tua yang sudah berpengalaman tentu lebih memahami situasi negara dibandingkan para kawula muda yang baru menjabat kurang dari sepuluh tahun.
Kekhawatiran mereka bukan tanpa alasan. Pengangkatan Permaisuri Bangsawan, meskipun merupakan hak istimewa raja, tapi tidak bisa sembarangan digunakan. Posisi itu sudah kosong selama seratus tahun lebih, dan sekarang, di era pemerintahan Long Ji Man, seorang Permaisuri Bangsawan yang baru akan diangkat. Sungguh bukan main terkejutnya mereka.
Apalagi, wanita yang terpilih menjadi Permaisuri Bangsawan adalah seorang selir yang selama dua tahun hidup tersembunyi di istana kecil nan terpencil, serta baru meminculkan diri ke publik beberapa hari yang lalu. Rumor yang mengatakan bahwa wanita bodoh yang tidak berpengetahuan dan tidak berbakat tiba-tiba berubah menjadi seekor harimau betina yang ganas dan cerdas tampaknya benar-benar nyata. Mereka telah mendengar perihal kejadian di perjamuan Ibu Suri Han Yuemei, perihal Li Anlan yang melawan Xu Lingshu hingga menyebabkan Xu Lingshu digulingkan dari posisi selir utamanya.
"Yang Mulia, harap pertimbangkan lagi. Pengangkatan Permaisuri Bangsawan bukanlah sebuah hal yang main-main," pinta Menteri Wei, Menteri Perekonomian yang waktu itu dipotong gajinya selama setahun.
"Yang Mulia, harap pertimbangkan lagi," ujar menteri yang lain secara serempak, seperti sebuah paduan suara.
"Apa aku terlihat seperti bermain-main?"
Para menteri langsung menunduk begitu mendengar perkataan dingin yang membekukan hati dari raja mereka. Long Ji Man kembali bersikap dingin seperti biasa, layaknya sikap seorang raja yang penuh waspada. Dia menatap menteri seniornya satu persatu.
Sementara itu, di tempat yang tidak jauh dari singgasana raja, tepatnya di bagian samping kanan yang terhubung dengan pintu keluar samping, Ibu Suri Han Yuemei dan Permaisuri Jin duduk di sebuah singgasana kecil tempat wanita berkedudukan tinggi. Pandangan mereka dihalangi sebuah tirai dari manik-manik dan mutiara, yang membuat mereka terpisah dan berbeda.
Dua orang pemegang kekuasaan wanita tertinggi itu menyaksikan perdebatan dan keributan di Aula Taiji dengan saksama. Mereka sudah mendengar perihal penobatan Permaisuri Bangsawan sehari sebelum hari ini dari para pelayan dan dayang istana. Karena itulah, pagi-pagi sekali, mereka sudah bersiap. Ibu Suri Han Yuemei dan Han Jinxi langsung berangkat ke Istana Taiji menggunakan tandu khusus penghuni Istana Harem.
Sebagai wanita utama, pasangan sepupu jauh dari keluarga Han tentu saja harus datang. Sesuai dengan peraturan istana, mereka harus datang untuk menyaksikan penobatan dan pemberian gelar, serta penyerahan stempel Permaisuri Bangsawan secara resmi sampai selesai. Sebenarnya, jika seorang ratu sudah ada, maka yang perlu hadir hanya ratu saja. Ibu Suri dan yang lainnya tidak diwajibkan datang.
Tapi, karena Long Ji Man hanya mempunyai permaisuri resmi dan tidak pernah mengangkatnya menjadi seorang Ratu Dongling, maka dua wanita utama wajib hadir. Han Jinxi memang permaisuri raja, tapi dia bukan seorang ratu. Kebijakan mengangkat seorang ratu hanya bisa dilakukan saat raja menginginkannya dan mendapat restu serta dukungan para pejabat, tentu dengan beragam pertimbangan yang panjang dan rumit. Permaisuri hanya sebuah gelar dan status, tapi kewenangannya tidak sama dengan kewenangan seorang ratu.
"Kakak, mengapa Yang Mulia terburu-buru mengangkat seorang Permaisuri Bangsawan?" tanya Han Jinxi dengan lemah lembut.
"Aku tidak tahu. Bahkan jika Raja menginginkan seorang pengemis wanita menjadi Permaisuri Bangsawan, aku juga tidak berhak melarangnya. Permaisuri Bangsawan adalah hak istimewa Raja. Aku tidak bisa mencampurinya," jawab Ibu Suri Han Yuemei.
"Bukankah seorang Permaisuri Bangsawan dibebaskan dari urusan harem?"
Ibu Suri Han Yuemei mengangguk.
"Justru karena ia terbebas dari urusan haremlah yang membuatku tidak bisa melakukan apapun."
Han Jinxi mengangguk. Tapi, ekspresi wajahnya setelah Ibu Suri Han Yuemei mengatakan kalimat terakhirnya sulit ditebak. Entah itu menggambarkan kegembiraan, entah itu menggambarkan kekecewaan yang mendalam.
"Aku hanya tidak menyangka kalau wanita yang dipilihnya adalah wanita yang sama yang saat itu bersikap tidak sopan dan melawan Selir Ling dengan berani," ungkap Han Jinxi lagi.
"Aku juga. Wanita itu mungkin sudah terlibat banyak kontak dengan putraku tanpa ada yang tahu. Kudengar, istananya berada tepat di seberang Danau Houchi," tambah Ibu Suri Han Yuemei.
"Ini pertama kalinya aku melihat Yang Mulia bersikap dingin dan sangat tegas kepada para pejabat hingga seperti ini."
"Kita lihat saja kelanjutannya."
Dua wanita itu mengembalikan pandangan mereka pada sang raja dan para pejabat. Di singgasana sana, Long Ji Man memberikan penjelasan kembali kepada menteri-menterinya agar mereka akhirnya mengerti dan menghormati keputusannya. Long Ji Man sebenarnya bisa tidak memberitahu mereka dan bisa langsung menobatkan, tapi karena dia menghormati menteri-menterinya, dia memberitahunya.
"Menteri Wei, apa kau tidak ingin tahu siapa yang telah membuatku bisa mengetahui bahwa tidak semua rakyatku sejahtera?" tanya Long Ji Man menatap lurus pada Menteri Perekonomian.
Menteri Perekonomian langsung terdiam. Dia diingatkan kembali pada kesalahannya terdahulu hingga raja menghukumnya dengan potong gaji. Benar, dia haru mengetahui siapakah yang telah memberitahu raja perihal rakyatnya yang tidak sejahtera. Menteri Wei ingin mengetahui siapakah orang yang telah membuat Long Ji Man marah-marah dan memotong gaji sepuluh menteri pada hari itu.
"Apakah Yang Mulia bersedia memberitahuku?"
"Li Anlan. Wanita itu yang membawaku pada rakyatku."
Raut tidak percaya tergambar jelas di wajah Menteri Perekonomian beserta menteri lainnya. Tidak hanya mereka, Ibu Suri Han Yuemei dan Permaisuri Jin juga terkejut. Seorang wanita istana bisa tahu urusan di luar yang bahkan raja pun tidan mengetahuinya? Bagaimana bisa?
"Tapi, Yang Mulia. Li Anlan tidak pernah mengetahui urusan istana. Selain itu, hambamu yang tua ini mendengar bahwa dia wanita kasar dan arogant."
"Kau yakin?"
Menteri Perekonomian mengangguk, kemudian menggeleng tak yakin.
"Hamba juga mendengar kalau Selir An sering berlarian dan bertingkah liar. Yang Mulia, Selir An tidak sehat. Dia pasti memiliki penyakit dalam mentalnya," tambah Menteri Pertahanan.
"Siapa yang memberimu keberanian untuk mengatakan itu? Aku, Raja Dongling, yang menjamin bahwa dia sama sekali tidak sakit. Aku adalah suami sekaligus orang terdekat yang mengawasinya. Aku tahu betul kalau dia tidak sakit sama sekali!"
Long Ji Man menyeringai melihat ekspresi para menterinya. Mereka pasti tidak akan percaya pada perkataannya. Kemudian, dia memberitahu mereka sesuatu yang lain,
"Asal kalian tahu, aku berhutang nyawa dua kali padanya."
"Yang Mulia, Anda adalah orang yang tidak boleh berhutang pada siapapun. Bagaimana mungkin itu terjadi?" tanya Menteri Pertanian.
"Aku tahu kalian tidak akan percaya. Apa kalian pikir kalian mengetahui segalanya?"
Para menteri terdiam.
"Dia menjahit dan mengobati luka dari anak panah para pembunuh di taman Danau Houchi. Menteri Lin, bukankah aku sudah memberitahumu?"
Long Ji Man memandang Menteri Pertahanan. Pria setengah baya itu tertunduk malu.
"Jika wanita itu tidak punya keberanian untuk melawan para pembunuh saat aku kembali dari berpatroli, maka aku tidak akan bisa berdiri di hadapan kalian sekarang!"
Semua orang yang ada di Aula Taiji menjadi lebih terkejut. Ibu Suri Han Yuemei dan Han Jinxi bahkan sampai berdiri dan saling berpandangan, tidak percaya dengan semua yang baru saja dikatakan oleh raja mereka. Li Anlan benar-benar bukan seorang wanita bangsawan biasa. Dia punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh wanita lain.
Pangeran Agung, Long Ji Su, diam-diam tersenyum. Keponakannya sepertinya sudah menemukan seseorang yang berhasil membuatnya tahu rasa melindungi hingga tidak gentar menghadapi para pejabatnya. Long Ji Man memang selalu berani, tapi keberaniannya kali ini tidak seperti keberanian seorang raja yang melindungi selirnya, tapi lebih tampak seperti seorang pria yang sedang berusaha melindungi wanitanya.
Melihat para menteri dan pejabatnya tidak bersuara lagi, Long Ji Man segera memerintahkan Xiao Biqi untuk segera memberitahu semua orang, bahwa penobatan Permaisuri Bangsawan akan segera dimulai.
"Selir An, Li Anlan, segera memasuki ruangan!"
Pintu Aula Taiji terbuka lebar. Seorang wanita asing melangkah masuk dengan tenang. Wanita itu mengenakan sebuah jubah berwarna abu-abu muda beraksen perak yang berkilau di sisi-sisinya. Ikat pinggangnya bersulam benang perak yang mahal. Pakaiannya bermotif bunga peony dan phoenix berwarna senada. Saat ia melangkah masuk, ekor jubahnya yang panjang tergusur pelan.
Rambutnya digulung total hingga pundaknya yang putih terekspos dengan jelas. Rambut hitam lebat yang indah itu dihiasi berbagai aksesoris yang indah dan mewah. Mahkotanya terbuat dari perak murni, dan jepit-jepit rambut lainnya juga terbuat dari bahan yang sama. Baju yang dikenakan wanita itu cukup kontras dengan kulitnya yang putih.
Sekilas, Li Anlan seperti seorang bidadari yang turun dari kahyangan. Wajahnya dua kali lipat lebih cantik dari biasanya, mungkin karena para dayang istana memaksa mendandaninya. Bibirnya semerah delima, bulu matanya lentik dan hidungnya sangat bangir. Belum lagi bentuk tubuhnya yang proporsional seperti supermodel. Jika di zaman modern, Li Anlan yang berkostum seperti ini adalah boneka cantik yang bernilai tinggi.
Para menteri dan pejabat terdiam melihat seseorang berjalan di tengah-tengah Aula Taiji. Mereka baru pertama kali melihat seorang wanita berjalan begitu tenang dalam pandangan dan pengawasan para pejabat, sama sekali tidak tampak rasa takut atau khawatir.
Li Anlan berjalan sambil memandang takjub pemandangan yang ada di depannya. Aula Taiji tidak hanya luas, tapi juga sangat mewah dan megah. Pilar-pilarnya kokoh berukir naga, lantainya mengkilat. Saat Li Anlan memandang lurus ke depan, dia melihat sebuah singgasana naga yang sangat agung. Ada dua buah kolam air kecil yang dangkal di kedua sisi singgasana, yang ditengahhnya terdapat sebuah pelataran kecil yang menghubungkan tempat duduk raja dengan pelataran tempat pada pejabat.
Di singgasana naga berwarna emas itu, Li Anlan melihat seseorang yang belum lama ini hadir dan terlibat banyak kontak dengannya. Dia melihat Long Ji Man duduk penuh dengan wibawa di atas takhtanya. Jubah dan mahkota yang dikenakannya sangat serasi, membuat pria itu seperti seorang manekin tampan yang mempesona.
Li Anlan seperti melihat sebuah cahaya yang terang terpancar dari atas singgasana itu. Dia tidak menyangka kalau Long Ji Man dapat semenarik dan seberwibawa itu saat duduk di atas tahtanya. Long Ji Man seperti sebuah batu giok yang berharga. Jadi, seperti inilah potret seorang raja ketika berada di singgasananya.
Lain halnya dengan Long Ji Man. Pria itu seperti melihat seorang wanita dari dunia lain. Aura yang dipancarkan Li Anlan begitu berbeda. Merah, biru, putih, dan warna-warna lain bercampur menjadi satu di dalam diri wanita itu. Long Ji Man terpana. Ini pertama kalinya dia melihat Li Anlan memakai pakaian resmi kerajaan lengkap dengan aksesorisnya.
Berjalan tanpa mengindahkan tatakrama dan kesopanan wanita istana adalah bakat Li Anlan. Di hadapan para pejabat tinggi, Li Anlan berjalan dengan tenang tanpa rasa takut. Seperti halnya pada Long Ji Man, Li Anlan juga melakukan hal serupa di hadapan mereka.
Saat dia sampai di depan singgasana raja, Li Anlan langsung berlutut. Untung saja Xie Roulan memberitahunya sikap saat menerima perintah. Di depan sana, Li Anlan merasa punggung dan seluruh tubuhnya seperti tertusuk oleh puluhan pasang mata yang menatap ke arahnya.
"Aku menerima perintah."
Xiao Biqi merentangkan sebuah gulungan kain berwarna emas bersulam naga. Kasim itu lantas bersuara,
"Li Anlan, putri Bangsawan Li Han, berbudi baik, berhati mulia, dan bijak dalam bertindak. Kebaikan hatinya membawa keberuntungan dan keagungan bagi seluruh kerajaan. Atas perintah langit, dia dinobatkan sebagai Permaisuri Bangsawan dengan gelar Huang, sehingga namanya menjadi Li Huang An. Status selirnya dicabut dan kedudukannya dinaikkan di pengadilan tingkat dua, di bawah Permaisuri Utama. Titah selesai."
Xiao Biqi menyerahkan titah berisi perintah sebagai tanda penobatan Li Anlan beserta stempel resmi Permaisuri Bangsawan kepada wanita itu. Dengan tangan sedikit bergetar, Li Anlan menerima gulungan kain itu. Long Ji Man tersenyum. Akhirnya, seorang Permaisuri Bangsawan resmi diangkat setelah seratus tahun berlalu.
"Terima kasih atas kebaikan hati Yang Mulia Raja."
Ucapan itu lalu ditiru oleh semua orang yang ada di dalam Aula Taiji. Sungguh sebuah keajaiban yang langka di negeri Dongling. Seorang Permaisuri Bangsawan yang baru telah hadir di tengah-tengah mereka.
...***...
Note: Nih Author tambahin satu bab lagi, buat ngobatin rasa penasaran kalian sama Li Anlan, hihihi....