
Bunyi-bunyi aneh dari benda-benda aneh yang terus bersuara sepanjang waktu, menyadarkan seorang wanita dari tidur panjangnya. Dia membuka matanya, lalu atap putih yang mulus menyambut syaraf penglihatan di retina matanya pertama kali.
Kelopak matanya berkedip beberapa kali. Bulu matanya yang panjang dan lentik ikut bergerak searah dengan kedipan kelopak matanya. Cahaya di sini sangat terang, dan langit-langit di sini sangat aneh.
Untuk sesaat, Li Anlan merasakan deja vu. Langit-langit putih ini seperti pernah ia lihat di suatu tempat, tetapi dia lupa di mana. Kemudian, bunyi-bunyi aneh ini, bukankah bunyi aneh yang sering ada di suatu tempat yang suka dipenuhi orang sakit?
Kalau begitu, siapa yang sakit?
Kepala Li Anlan tiba-tiba berdenyut hebat. Beberapa potongan ingatan berkelebat seperti sebuah film yang diputar di bioskop. Kelebatan-kelebatan film bioskop itu seperti sebuah puzzle yang belum tersusun. Acak-acakan, tidak tahu jenis dan bentuknya apa.
"Bukankah aku sedang berlatih memanah di halaman belakang istana?" Li Anlan bertanya pada dirinya sendiri.
"Mengapa aku bisa sampai di sini? Di mana ini? Apa ini surga?"
Tidak, Li Anlan tidak mungkin mati lagi. Ini pasti bukan surga. Surga itu indah dan luas. Tidak mungkin aneh dan sempit seperti ini. Wanita itu kemudian melihat seluruh tubuhnya dengan gerakan mata.
Dia sangat terkejut! Li Anlan sangat terkejut saat dia melihat berbagai macam selang dan alat aneh menempel di seluruh tubuhnya. Bahkan, di hidung dan mulutnya sendiri saja sudah terdapat dua buah selang yang terhubung dengan dua buah tabung panjang yang bening. Dia juga melihat kaki, tangan, dan beberapa bagian tubuhnya dibungkus perban tebal dengan banyak betadine di sana.
Li Anlan hendak bangkit. Namun, jangankan bangun, untuk sekadar menggerakkan mulut saja dia tidak bisa melakukannya. Seluruh ototnya terasa hilang dan syarafnya terasa mati. Tulang sandinya terasa patah dan copot semua. Efek dari semua itu sangat luar biasa. Li Anlan merintih kesakitan, namun sayang tidak ada suara sama sekali yang keluar dari mulutnya.
"Apa ini dunia modern? Apa aku sudah pulang?"
Kepala Li Anlan yang diperban kembali berdenyut. Saking sakitnya denyutan tersebut, Li Anlan tidak bisa menahan diri. Wanita itu pingsan, bunyi-bunyi alat semakin nyaring.
"Dokter! Gawat! Pasien mengalami serangan jantung!" teriak seorang wanita berseragam yang baru masuk.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter muda pria datang bersama beberapa wanita perawat. Tanpa menunggu lama, mereka langsung melakukan langkah medis untuk menyelamatkan pasien mereka. Suntikan, selang oksigen, bahkan perangsang jantung sudah digunakan.
Entah berapa joule energi yang sudah digunakan alat-alat itu untuk membantu pasien bernama Li Analan kembali ke posisi stabil. Ini baru pertama kalinya terjadi sejak wanita itu masuk ke rumah sakit ini sebagai korban kecelakaan di jalur pendakian. Tubuhnya ditemukan di dasar jurang dalam keadaan penuh luka dan darah, bahkan nyaris tanpa denyut nadi dan hembusan napas.
Tim evakuasi baru bisa menemukannya setelah satu hari sejak teman-teman sependakian Li Anlan melaporkan berita kehilangannya. Dari dasar jurang, tubuhnya diangkat menggunakan tandu darurat dan dibawa turun ke bawah gunung untuk dibawa ke rumah sakit.
"Dokter, detak jantungnya sudah kembali!"
Orang yang dipanggil dokter menghembuskan napas lega. Kondisi pasiennya sudah kembali normal seperti beberapa saat yang lalu. Jika saja terlambat beberapa detik, nyawa orang ini pasti tidak akan tertolong.
"Dokter! Apa yang terjadi pada keponakanku?"
Dalam situasi tersebut, Li Anlan masih dapat mendengar dengan jelas. Tubuhnya mungkin tertidur, tetapi jiwanya tetap terjaga sepanjang waktu. Dia bisa mendengar dengan jelas suara bibinya, bibi kandung yang mengelola seluruh perusahaan milik ayah dan ibunya.
Li Anlan mendengar bahwa dia baru saja mengalami serangan jantung saat dalam kondisi vegetatif. Dia juga mendengar bahwa tubuhnya sangat lemah. Akibat kecelakaan di gunung tersebut, seluruh tulang inti dalam tubuh Li Anlan patah. Ada banyak luka sobek yang terbuka. Sendi-sendinya, syaraf-syarafnya, semuanya ikut terluka. Kepalanya yang terbentur batu berkali-kali juga baru saja dioperasi karena ada gumpalan darah dan pembuluh yang menggulung.
Aneh, bukankah di Kerajaan Dongling, tubuhnya yang ikut masuk ke dunia itu baik-baik saja? Mengapa saat ia kembali ke dunia modern tubuhnya justru mendapat luka-luka yang sangat serius? Dia pikir, meskipun dia kembali ke dunia modern, tubuhnya akan baik-baik saja. Tapi, semuanya sungguh di luar dugaan.
Samar-samar dia mendengar bahwa dirinya sudah berbaring dalam keadaan koma selama setengah tahun lebih. Seluruh tubuhnya yang rusak kemungkinan tidak akan bisa diperbaiki lagi, hingga saat dia sadar suatu hari nanti, dia hanya bisa terbaring di tempat tidur tanpa bisa bergerak.
Dengan kata lain, Li Anlan akan cacat seumur hidup!
Bibi, aku sudah menikah di dunia lain, ucap Li Anlan di alam bawah sadarnya.
"Nyonya, maaf. Lukanya terlalu parah. Pengobatan modern jenis apapun tidak akan banyak membantu."
"Tidak, keponakanku yang berharga tidak boleh menjadi cacat seumur hidup! Dokter, kau kan hebat, kau harus menyembuhkannya!'
Li Anlan mendengar bibinya memohon berkali-kali. Tetapi, dokter mengatakan berkali-kali pula bahwa tidak ada ilmu pengobatan yang bisa menyembuhkan Li Anlan. Dia sudah selamat saja sungguh luar biasa. Manusia lain pasti sudah mati jika terjatuh dari tebing jalur pendakian setinggi itu.
"Oh tidak! Keponakanku yang berharga!"
"Mengapa bibiku hectic seperti itu? Bibi, kau tenang saja. Aku punya suami tampan, dia seorang raja. Untuk apa kau begitu heboh?"
Sayang, tidak ada yang mendengar suaranya. Li Anlan dinyatakan koma kembali. Dokter, perawat, dan bibi Li Anlan keluar dari ruangan. Meskipun Li Anlan tidak melihat ekspresi bibi kesayangan yang begitu memanjakannya setelah sekian lama, tetapi dari nada bicaranya dia sangat yakin kalau bibinya itu sangat mengkhawatirkannya.
Dia tahu bahwa dokter sudah mengatakan bahwa dia tidak akan bertahan. Selama enam bulan ini, hidupnya ditopang oleh alat-alat medis yang menempel di seluruh tubuhnya. Dia berkali-kali berpindah rumah sakit dan berganti pengobatan. Pihak rumah sakit juga pernah meminta bibinya untuk merelakannya dan melepasnya pergi dengan mencopot seluruh alat penopang hidupnya, tetapi bibinya menolak dengan tegas. Bibinya sangat yakin bahwa Li Anlan akan bangun dan sehat kembali.
Sepeninggal mereka, Li Anlan yang tidak disadari keberadaan jiwanya tiba-tiba merasa sangat sepi. Hatinya terasa sangat sakit. Entah mengapa perasaan hampa ini menyambanginya dalam situasi yang tidak tepat. Kehampaan itu seperti balon gas yang bocor. Semakin lama semakin terbang jauh ke dalam relung hatinya yang terdalam.
Jika dia bisa selamat kali ini, dia menjadi manusia cacat. Jika dia tidak selamat kali ini, entah ke mana lagi jiwanya akan pergi saat itu terjadi. Li Anlan sangat lelah, sangat-sangat lelah.
"Aku merindukan suasana istana kecilku," suara hati Li Anlan berbunyi.
"Aku merindukan istanaku. Aku merindukan uang-uangku, baju-bajuku, kenangan-kenanganku. Aku... merindukannya...."
Jika Li Anlan benar-benar tidak bisa kembali ke negeri dongeng bernama Dongling, apa yang harus dia lakukan di sini dalam keadaan tubuh seperti ini? Bisakah dia bertahan di dunia yang keras yang dipenuhi fatamorgana?
Li Anlan merindukan pria itu. Entah sudah berapa lama dia berbaring di sini dalam keadaan koma tetapi jiwanya tetap terjaga. Ada yang menetes dari sudut matanya yang tertutup. Ada semu sedih tergurat di wajah pias yang dipenuhi bekas luka. Hatinya sakit, benar-benar sakit.
Rasanya baru saja dia bermain-main panahan dengan para pelayannya, rasanya baru saja dia berjalan-jalan di atas jembatan Danau Houchi.
Danau Houchi?
Dunia bawah sadar Li Anlan bergejolak hebat. Danau itu, wanita bermahkota di atas jembatan itu, semuanya terbayang seperti roll film. Gara-gara wanita misterius itu dia terjatuh dan tubuhnya kembali ke dunia modern dalam keadaan mengerikan.
"Wanita sialan itu! Aku harus memberinya pelajaran!"
Benar, dia tidak bisa membiarkan wanita misterius itu tertawa bahagia atas keberhasilannya menjebak Li Anlan. Memangnya siapa yang mau ditindas hingga mati seperti itu? Hah, Li Anlan bukan manusia lemah yang bisa diperlakukan dengan rendah dan dikibuli dengan trik murahan!
Wanita itu merasakan sakit yang luar biasa di dalam kepalanya. Ini belum satu jam dari pemeriksaan terakhir, tetapi kondisi tubuhnya sudah memburuk kembali. Garis-garis di elektrokardiogram menunjukkan garis lurus. Alarm tanda bahaya dalam ruangan itu berbunyi dengan keras.
Jiwa Li Anlan yang terjaga perlahan menghilang, melebur bersama rasa sakit yang mendera begitu lama. Dua dokter dan enam perawat berlari masuk ke dalam ruangan. Li Anlan tidak dapat lagi mendengar apapun. Semuanya hening, semuanya gelap.
...***...