
Perubahan alam terlalu tiba-tiba. Suhu udara menjadi sangat dingin. Rakyat Kerajaan Dongling yang masih terjaga bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Alam tiba-tiba seperti murka. Tetapi apa yang disebut murka, sejatinya adalah bentuk kepiluan yang menjelma dari hati seorang raja, seorang ibu suri, dan orang-orang terdekat keluarga kerajaan. Di dalam istana sana, di sudut dekat Danau Houchi yang legendaris, seorang wanita istimewa baru saja dinyatakan pergi selama-lamanya!
“Tidak! Huang An, kau tidak boleh pergi!”
Long Ji Man menundukkan kepala di pinggir tempat tidur es tempat tubuh Li Anlan berbaring. Rasa kehilangan yang sangat menyakitkan membuat hatinya teriris ribuan pisau. Seribu pedang tajam yang menyerangnya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit yang ia dapatkan karena kepergian wanita ini.
Li Anlan seperti sebuah bunga yang selalu mekar di setiap musim. Dia memiliki akar dan daun yang kuat, yang membuatnya tetap bisa berdiri kokoh di tempatnya. Dia berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa mengandalkan bantuan dari orang lain. Tetapi, mengapa sekarang akar yang kuat itu malah seperti sengaja dicabut dari tempatnya?
“Di mana ini?”
Suara itu membuat seisi ruangan yang sedang meraung-raung menghentikan tangis secara serentak. Mereka yang bersujud mengangkat kepala mereka, melihat siapakah yang telah melontarkan pertanyaan di tengah suasana duka begini. Mata mereka serentak menatap seorang wanita yang sedang duduk di tempat tidur dengan wajah bingung.
“Tunggu! Mengapa pemandangan anakonistik ini tampak tidak asing? Apa aku bermimpi lagi?”
“Hu…Huang An….”
Wanita itu menolehkan kepala pada seorang pria yang duduk di samping tempatnya duduk. Pakaian pria ini sangat aneh. Bukankah ini adalah busana tradisional Tiongkok yang terkenal itu? Kepala pria itu juga dihiasi sebuah mahkota yang yang indah. Wanita itu kemudian menoleh ke sekelilingnya. Orang-orang menatapnya dengan aneh tanpa berkedip. Pakaian mereka juga sama anehnya dengan pakaian pria itu.
Dia juga menolehkan kepalanya ke badannya sendiri. Aneh, dia sendiri juga memakai pakaian tradisional itu. Ada apa ini? Bukankah tadi dia sedang berada di rumah sakit dan sedang diperiksa dokter karena tubuhnya mengalami serangan jantung dan jatuh dalam kondisi vegetatif berulang kali?
Tiinggg…..
Dengungan di telinga wanita itu menjalar ke otak. Kelebat-kelebat bayangan mulai terlihat di sana-sini. Sakit. Kepalanya terasa sangat sakit. Ingatan-ingatan itu membuat wanita yang sedang kebingungan tiba-tiba mendapat suatu kesimpulan: Dia telah kembali! Ingatan itu miliknya! Dunia ini miliknya! Orang-orang ini adalah orang-orang yang dia kenal!
“Ji Man? Tidak, Yang Mulia? Mengapa semua orang berkumpul di sini?”
“Huang An, kau hidup? Kau telah kembali!”
Long Ji Man memeluk tubuh Li Anlan dengan erat tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya. Sejak awal dia tidak percaya kalau Permaisuri Bangsawannya sudah meninggal. Kini, semua perkataannya sudah terbukti. Li Anlan sudah bangun! Wanita itu sudah mendapatkan kembali kesadarannya!
Alam yang semula seperti murka, kini tiba-tiba kembali tenang. Bulan kembali bersinar dengan terang. Guntur menghilang, angin damai dengan arah bertiupnya. Air di Danau Houchi kembali tenang seperti semula. Rakyat Kerajaan Dongling kembali dibuat heran dengan situasi aneh yang baru terjadi sekali dalam seumur hidup mereka.
Tao Zhun menatap tidak percaya pada pemandangan di depannya. Luar biasa! Dia sangat yakin kalau wanita yang biasa memanggilnya dukun itu sudah meninggal beberapa saat yang lalu. Sekarang, secara tiba-tiba, dia bangun dan berkata seolah tidak ada yang terjadi. Mukjizat! Ini adalah sebuah mukjizat! Seorang wanita telah kembali dari kematian!
“Yang Mulia, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kau menangis?”
“Huang An, mengapa kau baru kembali?”
“Memangnya aku pergi ke mana?”
“Kau jatuh ke dasar danau dan tidak sadarkan diri selama satu bulan. Huang An, kau tidak ingat apapun?”
Li Anlan yang baru sadar termenung sesaat. Dia ingat bahwa dia terjatuh ke Danau Houchi, kehabisan napas, kemudian kembali ke dunia modern dalam keadaan koma. Dia ingat kalau dokter dan bibinya di sana sering berdebat perihal alat-alat yang menopang tubuhnya. Perlahan, kesadaran dan ingatannya tentang Kerajaan Dongling menghilang satu persatu di alam bawah sadarnya. Tetapi, Li Anlan sering mengeluarkan air mata tanpa alasan.
Kemudian, di dalam situasi hidup dan mati tersebut, Li Anlan ingat didatangi seorang laki-laki tua entah siapa. Laki-laki itu memberinya pilihan, kembali atau tidak. Jiwa Li Anlan yang sedang kebingungan kemudian teringat bahwa dia punya sebuah dendam entah di mana. Karena tubuhnya di dunia modern tidak berguna dan dia akan cacat jika sadar nanti, Li Anlan memilih opsi kembali pada laki-laki tua tersebut. Setelah itu, dia tidak ingat apapun lagi.
Jadi, saat dia membuka mata, dia kebingungan sendiri. Sebagian ingatannya tentang petualangan hidupnya di Kerajaan Dongling hilang, tetapi ingatan kehidupan dunia modernnya masih utuh. Ada satu hal yang membuatnya bertanya-tanya, dia seperti punya tugas tetapi tidak tahu apa bentuknya. Itulah sebabnya dia bertanya-tanya saat membuka mata tadi. Untung saja ingatannya perihal kehidupannya di dunia yang ini kembali dengan cepat.
“Jadi, kau kembali ke duniamu?” tanya Long Ji Man setelah semua orang diminta keluar dari ruangan utama Istana Xingyue.
Li Anlan mengangguk.
“Dokter berkata bahwa aku akan menjadi cacat. Seperti di sini, harapan hidupku di dunia modern juga sangat kecil.”
“Dokter? Apa itu?”
“Itu pekerjaan yang serupa dengan Tao Zhun.”
“Kau tidak akan menghilang lagi kan?” tanya Long Ji Man lagi. Dia benar-benar tidak sanggup jika Li Anlan jatuh sakit dan berada di ambang kematian lagi.
“Aku… Sudah tidak punya tempat untuk pergi lagi.”
Li Anlan sudah memutuskan untuk kembali ke Kerajaan Dongling. Maka, dia harus menanggung konsekuensi jika dia tidak akan pernah bisa kembali ke dunia modern selama-lamanya. Li Anlan mungkin akan terjebak di sini selamanya, sampai ia mati. Tidak apa-apa, tinggal di dunia ini lebih baik daripada tinggal di dunia modern tetapi menjalani hidup seperti mayat.
Dia mungkin tidak akan pernah lagi menemukan segala kesenangan seperti di dunia modern. Tidak akan ada lagi mobil, motor, pesawat, kapal pesiar, bermain di taman hiburan, naik kincir, badminton, gym, dan banyak hal lain lagi. Segala sesuatu yang dulu menjadi lumrah di masa modern tidak akan pernah bisa dia jumpai lagi.
Li Anlan menyayangkan bahwa dirinya tidak sempat berpamitan pada bibinya dan pada semua teman-teman baiknya. Satu-satunya penyesalannya adalah tidak sempat mengucapkan salam perpisahan pada mereka yang telah memberinya warna hidup sampai usianya dua puluh empat tahun. Dia juga tidak sempat mengucapkan terima kasih pada mereka yang selama ini sudah menemaninya, sudah mengobati luka-lukanya, dan membantunya melewati hari-hari yang sepi.
“Bagaimana jika kau merindukan duniamu?”
“Yah, ada banyak cara di dunia ini untuk mengalihkan rindu dengan sesuatu yang lain.”
Wanita itu menahan berat air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Dia tidak ingin menangis. Kembali ke sini adalah keinginannya sendiri. Dia harus baik-baik menjalani hidup sampai hari terakhirnya tiba suatu hari nanti.
“Huang An. Kau, tidak menyesal?”
Li Anlan menggelengkan kepala.
“Ini adalah pilihanku sendiri.”
“Kau ingin menangis?”
“Tidak. Wanita hebat sepertiku ini tidak pernah menangis.”
“Ada banyak hal yang bisa membuatmu bahagia di duniamu. Sekarang, kau memilih untuk kembali ke tempatku. Huang An, apa kau baik-baik saja?”
“Aku harus berdamai dengan masa depan.”
Long Ji Man memeluk tubuh Li Anlan secara tiba-tiba. Dia sungguh bahagia karena wanita ini sekarang sudah kembali. Warna di wajahnya sudah seperti sedia kala, meskipun belum secerah biasanya. Warna bibirnya juga kembali merah jambu dan segar, tidak biru seperti mayat. Bagaimanapun, Li Anlan lebih memilih tinggal di sisinya daripada bertahan di dunia asalnya.
“Masa depanmu sekarang adalah bersamaku sepanjang waktu. Bukankah kita selalu bisa menciptakan masa depan untuk diri kita sendiri? Huang An, aku yakin kau tidak akan menemui kesulitan dalam membentuk masa depanmu di sini,” ucap Long Ji Man sambil terus memeluk Li Anlan.
Long Ji Man perlahan melepas pelukannya. Dia menatap mata kejora yang belum sepenuhnya bersinar dengan sangat dalam dan lembut. Ini adalah tatapan terlembut yang pernah ia berikan pada wanita ini. Jantung Long Ji Man berdegup kencang. Hatinya bergetar.
“Huang An, aku menyukaimu.”
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Long Ji Man. Li Anlan yang mendengarnya seketika terkejut setengah mati. Tidak hujan, tidak panas, dari mana datangnya keberanian pria ini untuk mengatakan hal keramat itu? Apa otak pria ini rusak karena terlalu mengkhawatirkannya?
“Yang Mulia, kau sedang menyatakan cinta padaku?”
“Menurutmu?”
“Tidak, ini tidak benar. Dari sekian banyak wanita, mengapa kau jatuh cinta padaku?”
“Bukankah alasannya sudah jelas?”
“Apa?”
“Kau… Kau keras kepala, pintar bicara, pemarah dan sering berbuat onar. Temperamenmu buruk dan tidak bisa mengendalikan emosi. Kau juga tidak sopan dan tidak tahu tatakrama, sombong, menyebalkan, dan sering mendebatku tanpa alasan.”
Li Anlan membelalakan mata tak percaya. Pria ini bukan menyatakan cinta, tapi mengumbar segala keburukan Li Anlan. Sebegitu mendetailnya deskripsi sifat buruk Li Anlan yang diketahui pria ini. Bahkan Li Anlan sendiri tidak tahu berapa banyak kekurangan yang ada pada dirinya. Pria ini justru malah menghitung dan menyebutkannya satu persatu.
“Hei, tidak perlu sampai menyebutkan keburukanku juga kan?”
“Itulah yang kusukai darimu, Huang An.”
“Yang Mulia, apa otakmu sedang cedera?”
“Tidak, aku bicara jujur. Aku suka dirimu yang apa adanya. Kau berpikiran terbuka dan selalu rasional. Segala tindakanmu selalu didasarkan pada kebenaran. Meskipun terkadang tidak masuk akal, tetapi akhir dari semuanya selalu merujuk pada nilai yang sempurna.”
Hebat! Baru beberapa menit lalu dia mengatakan keburukannya, sekarang mulut pria ini begitu lancar mengatakan hal-hal manis! Benar-benar seorang raja yang hebat!
“Tidak. Aku tidak akan menerima cinta dari pria yang punya banyak istri.”
“Kau sudah menyingkirkan enam untukku.”
“Bukankah masih ada sebelas lagi?”
“Salah. Tinggal enam lagi.”
Tapi, ini bukan saat yang tepat untuk menyatakan cinta. Perang besar akan segera terjadi. Pelaku utama yang mencoba membunuhnya belum tertangkap dan dia belum bisa membalaskan dendamnya. Ada hal penting lain yang harus dilakukan ketimbang menyatakan cinta yang menurutnya terlalu konyol ini.
“Tunggu! Sekarang bukan saat yang tepat untuk membahas hal konyol ini. Yang Mulia, kita harus menemukan orang yang sudah membunuhku terlebih dahulu!”
“Aku sudah menyingkirkan lima wanita yang membuatmu keracunan.”
“Benarkah?”
Long Ji Man mengangguk.
“Di mana mereka sekarang?”
“Di kuburan.”
“Hah?”
“Aku sudah mengeksekusi mereka.”
“Wah, Yang Mulia, kau bertindak lebih cepat dariku!”
“Semuanya atas bantuan kakakmu.”
Li Anlan baru ingat kalau dia punya seorang kakak di sini.
“Li Afan membantumu? Dia tahu kondisiku?”
“Dia juga tahu kalau kau berasal dari dunia lain.”
“Wah, kakak dan suamiku hebat juga.”
Long Ji Man tersenyum. Dia tahu wanita ini tidak akan begitu peduli tentang perasaannya sendiri. Biarlah semuanya berjalan seperti air mengalir. Asalkan wanita ini selamat, maka semua yang ia miliki bisa ia pertaruhkan. Hal penting yang harus mereka selesaikan sekarang adalah menemukan pelaku utama yang sebenarnya dan mengadilinya di depan rakyat Kerajaan Dongling.
“Sebelum kau tenggelam, apa kau mengingat sesuatu?” tanya Long Ji Man.
“Aku melihat bayangan wanita cantik bermahkota phoenix tersenyum ke arahku. Yang Mulia, mungkin dia pelakunya.”
“Kau yakin?”
“Sangat yakin.”
“Tuan Besar sepertinya sudah mulai menunjukkan taringnya.”
“Yang Mulia, apa kau memikirkan satu orang yang sama denganku?”
Long Ji Man menatap dalam mata Li Anlan sambil berpikir. Ya, dia memang sudah memikirkan seseorang yang mungkin menjadi tersangka utama. Hanya perlu bukti yang kuat dan tidak terbantahkan untuk menangkap dan menjatuhkan orang itu. Menyentuhnya tanpa memberikan bukti sama saja dengan cari mati.
...***...
...Nggak ya, Anlan nggak mati kok, tenang ya tenang. ...