
Suasana di Istana Hongwu terasa sangat mencekam di sore hari. Long Ji Man bermuka suram dan dingin. Pria itu melemparkan tumpukan dokumen yang tersusun di atas meja kerja hingga berhamburan. Xiao Biqi berkali-kali berkata bahwa semua akan baik-baik saja, tetapi sia-sia karena hati rajanya sudah diselimuti kabut hitam.
Sudah sekian lama Li Anlan pergi, namun tak kunjung kembali. Pria itu sempat mengutus seseorang untuk pergi mencari tahu ke Akademi Kerajaan, tetapi mereka bilang bahwa Permaisuri Bangsawan sudah pergi sejak siang tadi. Jika diperhitungkan dari segi jarak dan durasi perjalanan, Li Anlan seharusnya sudah sampai dari tadi. Tetapi, wanita itu tidak kunjung kelihatan batang hidungnya sampai sekarang.
Jika wanita itu singgah di suatu tempat, maka para pengawalnya pasti akan di sana. Naik kereta kuda kerajaan sambil diiringi pengawal dan pelayan pasti akan menarik perhatian banyak orang, sehingga jika ada yang bertanya, mereka pasti menjawab pernah melihat iring-iringan tersebut. Bawahan yang diutus Long Ji Man ke Akademi Kerajaan justru tidak menemukan petunjuk apapun. Orang-orang yang dia tanyai mengatakan bahwa mereka tidak melihat iring-iringan kereta kuda kerajaan melintasi kota.
Wang Tianshi yang juga diutus oleh Long Ji Man tiba-tiba masuk lewat jendela. Napas pengawal pribadi raja tersebut tersengal-sengal seperti habis dikejar setan. Di hadapan rajanya, Wang Tianshi menunduk memberi hormat, lalu melaporkan hasil pencarian yang ia lakukan bersama beberapa pengawal rahasia.
“Yang Mulia, kami menemukan laporan bahwa salah seorang warga kota melihat kereta kuda dengan banyak pengiring melaju ke arah Lereng Bukit Linghua.”
“Untuk apa Li Anlan ke sana?”
“Yang Mulia, kami menemukan kereta kuda beserta para pengawal dan pelayan sudah tidak bernyawa di hutan Linghua.”
Betapa terkejutnya Long Ji Man saat Wang Tianshi mengatakan bahwa kereta kuda Li Anlan ada di hutan. Hutan Linghua adalah hutan yang termasuk dalam kawasan hutan lindung Gunung Feiyun, yang tidak bisa sembarangan dimasuki orang. Bagaimana mungkin kereta kudanya bisa sampai di hutan terlarang itu? Pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan semua ini. Long Ji Man semakin marah karena para pengawal dan pelayan yang menjadi pengiring Li Anlan ditemukan tak bernyawa.
“Bagaimana dengan Permaisuri Bangsawan?”
“Yang Mulia, kami tidak menemukan Nyonya Huang. Tetapi, stempelnya masih ada di kereta dan semua barang bawaannya utuh.”
Long Ji Man menggebrak meja. Xiao Biqi dan Wang Tianshi sungguh tidak bisa meredam amarah raja mereka. Ini pertama kalinya mereka melihat raja semarah itu, lebih menakutkan daripada saat para pejabat menentang pengangkatan Permaisuri Bangsawan. Dua abdi raja tersebut tahu kalau raja mereka khawatir, tetapi tidak mampu menunjukkannya di depan umum hingga rasa khawatir itu berubah menjadi kemarahan.
Sial! Pasti ada orang yang ingin bermain-main dengan Long Ji Man. Para keparat itu lagi-lagi menargetkan Li Anlan. Ini sudah yang ketiga kalinya. Para penjahat itu benar-benar membuat Long Ji Man hilang kesabaran. Mereka berani menculik Li Anlan saat dia tidak berada di sisinya. Benar-benar menyebalkan!
Keputusan akhir Long Ji Man adalah mencari wanita itu sendiri! Para pengawal rahasianya tidak bisa dikerahkan begitu saja, supaya keberadaan mereka tetap menjadi rahasia. Long Ji Man tidak bisa sepenuhnya memerintahkan mereka untuk mencari Permaisuri Bangsawan karena pasti akan menimbulkan keributan dan membuat para penjahat, juga musuh utamanya waspada. Kali ini, dia harus bertindak hati-hati. Para penjahat itu mungkin dua kali lebih kuat dari sebelumnya.
Pria itu memerintahkan Xiao Biqi untuk tetap berjaga di Istana Hongwu. Dia berpesan jika Ibu Suri Han Yuemei atau Permaisuri Jin mencarinya, Xiao Biqi harus menjawab bahwa dia sedang ada urusan mendesak. Long Ji Man juga meminta para prajurit penjaga Istana Hongwu untuk tetap bersiaga dan memperketat penjagaan, jangan sampai ada celah untuk mata-mata atau sampah-sampah keparat masuk. Dia sendiri langsung pergi melalui pintu gerbang di halaman belakang Istana Hongwu bersama Xiao Biqi. Di sana, kuda cepat miliknya sudah tersedia.
Sepeninggal Long Ji Man, Ibu Suri Han Yuemei benar-benar datang ke Istana Hongwu bersama Permaisuri Jin. Tujuannya adalah untuk mendiskusikan pernikahan dengan putri dari negara tetangga yang dapat digunakan sebagai jalan untuk memperkuat kekuasaan. Pernikahan politik, mungkin. Tetapi, Ibu Suri harus kecewa karena putranya sedang tidak ada di sana. Dia kemudian bertanya pada Xiao Biqi ke mana perginya raja dan mengapa Xiao Biqi tidak ikut. Xiao Biqi menjawab sesuai yang diperitahkan Long Ji Man. Tetapi, Ibu Suri Han Yuemei bukanlah wanita bodoh yang akan percaya dengan perkataan seorang kasim pribadi raja.
“Katakan, ke mana perginya Yang Mulia Raja?”
“Yang Mulia sedang ada urusan mendadak, Taihou niang-niang.”
“Katakan sekali lagi! Ke mana perginya Yang Mulia?” Ibu Suri kembali bertanya.
Xiao Biqi bingung harus menjawab apa. Ibu Suri terus menerus mendesaknya, memaksanya untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Pada akhirnya, Xiao Biqi tidak bisa menahan desakan Ibu Suri kepadanya sehingga ia mengatakan hal yang sebenarnya. Biarlah konsekuensinya ia tanggung nanti selepas Long Ji Man kembali.
“Yang Mulia pergi mencari Permaisuri Bangsawan, Taihou niang-niang.”
“Bukankah dia ada di istana?”
“Permaisuri Bangsawan ditugaskan ke Akademi Kerajaan namun belum kunjung kembali,” lanjut Xiao Biqi.
“Mengapa?” Kali ini, Permaisuri Jin yang bertanya. Dia juga penasaran mengapa raja sampai keluar istana.
“Ada laporan bahwa kereta kudanya ada di hutan Linghua. Seluruh pengawal dan pelayan tewas, tetapi Permaisuri Bangsawan menghilang tanpa jejak.”
Ibu Suri dan Permaisuri Jin tak kalah terkejut. Mereka pikir Permaisuri Bangsawan hanya berjalan-jalan. Tidak disangka, keretanya ada di hutan larangan tersebut. Sesuatu yang serius pasti sedang terjadi, mengingat bahwa kawasan tersebut meskipun dilindungi negara, tetapi sangat berbahaya karena banyak penjahat dan pembunuh yang bersembunyi.
“Aneh. Putraku adalah orang yang sangat dingin terhadap wanita. Mengapa dia sampai turun tangan demi Permaisuri Bangsawannya?”
Han Jinxi atau Permaisuri Jin menggelengkan kepala. Dia juga tidak tahu mengapa suami sahnya bisa bersikap seperti itu. Selama hampir lima tahun pernikahannya, belum pernah dia melihat Long Ji Man sepeduli itu pada wanita. Dia sendiri pun tidak pernah dipedulikan sampai seperti itu. Long Ji Man selalu bersikap dingin dan selalu menghindari kontak dengan istri-istrinya. Meskipun Long Ji Man terkadang lembut, dia dan Long Ji Man juga hanya berinteraksi saat situasi formal atau saat Ibu Suri mengajaknya ke Istana Hongwu saja. Selebihnya, sepasang Raja dan Permaisuri tersebut menjalani kehidupan masing-masing.
“Ya sudah. Jinxi, kita kembali saat Raja sudah pulang saja.”
Permaisuri Jin yang tidak banyak bicara mengangguk. Dua wanita yang diutamakan oleh raja tersebut kemudian meninggalkan Istana Hongwu, kembali ke kompleks Istana Harem. Xiao Biqi dapat bernapas lega karena satu bebannya hilang. Dia sungguh berharap rajanya bisa segera menemukan Li Anlan dan membawanya pulang ke istana dengan selamat.
Sementara itu, di hutan Linghua, Li Anlan yang dipukul pundaknya baru saja sadarkan diri. Saat ia membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kayu yang bolong-bolong. Suara yang pertama kali ia dengar adalah suara wanita yang berbisik-bisik seperti membicarakan dirinya. Li Anlan memijat pundaknya dengan tangan sambil melihat sekeliling untuk memperjelas keadaan.
“Apa aku ada di surga?” tanyanya pada diri sendiri. Tunggu, kalau dia di surga, seharusnya bukan pemandangan seperti ini yang ia lihat. Li Anlan seharusnya melihat pepohonan dan taman yang indah, serta sungai susu yang manis. Bukan pemandangan seperti di dalam gubuk tua yang baud an kotor seperti ini.
“Siapa wanita cantik ini?”
“Apa dia seorang Dewi?”
“Pakaiannya sangat indah, pasti mahal.”
“Kenapa dia bisa di sini?”
Li Anlan mengeluh saat wanita-wanita yang tangan dan kakinya terikat berbicara tentang dirinya. Jubah Permaisuri Bangsawan ini benar-benar pembawa sial. Kalau saja ia pergi memakai hanfu biasa, dia mungkin tidak akan kesusahan seperti sekarang. Li Anlan menatap wanita-wanita yang duduk tak jauh darinya. Pakaian mereka lusuh dan seadanya, rambut sedikit acak-acakan dan wajah kusam. Sekali lihat, Li Anlan dapat memastikan kalau para wanita ini adalah penduduk kota miskin alias gelandangan.
“Hei wanita, kau bilang apa tadi? Dijual?”
“Ya. Wanita yang dibawa ke sini akan dijual ke pasar budak.”
“Hah, yang benar saja! Sampah-sampah keparat itu berani menculikku!” Li Anlan mengutuk keras para penculik yang telah membawanya kemari.
“Nona, apa kau seorang Dewi? Pakaianmu sangat indah dan wajahmu sangat cantik.”
“Bukan.”
“Apa kau seorang peri?”
“Peri hanya ada di negeri dongeng.”
“Lalu kau ini siapa?”
“Namaku Li Anlan. Orang memanggilku Li Huang An.”
Para wanita yang terikat terkejut. Mereka saling pandang. Li Huang An, sang Permaisuri Bangsawan yang menjadi topik perbincangan hangat akhir-akhir ini? Benar-benar dia? Para wanita itu sungguh tidak menyangka! Pantas saja pakaiannya sangat indah dan wajahnya sangat cantik. Ternyata seperti inilah wujud Permaisuri Bangsawan ketiga dalam sejarah Kerajaan Dongling dalam tiga ratus tahun!
“Ngomong-ngomong, kita ini di mana?” tanya Li Anlan penasaran.
“Mereka bilang ini Benteng Duanrou,” jawab salah seorang wanita.
“Benteng Duanrou? Mengapa namanya sangat aneh?”
“Sssttt.. Nyonya, kau tidak boleh berbicara sembarangan. Jika sampai terdengar, mereka akan marah dan membunuhmu.”
“Kalau sampai aku melihat wajah sekumpulan keparat itu, akan kubakar markas mereka!”
Li Anlan benar-benar marah. Beraninya mereka mengganggu perjalanannya. Seharusnya sekarang dia sedang beristirahat dengan tenang di Istana Xingyue atau di taman Danau Houchi sambil menikmati mentari senja. Gara-gara sekelompok pengecut itu, dia kehilangan waktu berharganya dan malah terdampar di sini bersama para wanita ini. Li Anlan berpikir keras, mencari cara untuk melarikan diri. Tetapi, ikatan di kaki dan tangannya sangat kencang hingga tak bisa dibuka.
“Berapa lama kalian disekap di sini?”
“Kami sudah ada di tempat ini sejak dua minggu lalu, Nyonya.”
“Mengapa kalian bisa sampai di sini?”
“Mereka menangkap kami saat kami sedang berjalan di malam hari. Nyonya, bisa kau tolong kami? Kami tidak ingin dijual di pasar budak,” mohon salah satu wanita.
Li Anlan menghembuskan napas. Dia sendiri juga belum mempunyai kejelasan akan keselamatan dirinya sendiri. Tetapi, para wanita ini tidak bersalah. Li Anlan sebagai seorang wanita tidak bisa membiarkan mereka dijual seperti sebuah barang. Jika mampu, dia juga ingin menyelamatkan para wanita ini. Yang paling penting sekarang adalah menyelamatkan dirinya sendiri dulu, baru menyelamatkan yang lain.
Andai saja Long Ji Man ada di sini. Pria itu pasti akan langsung membantai keparat-keparat yang berani menculik Permaisuri Bangsawan Kerajaan Dongling. Sayang sekali, dia diculik di tengah hutan dan tidak meninggalkan jejak yang bisa menjadi petunjuk jika pria itu mencarinya. Li Anlan sungguh berharap Long Ji Man menyadari bahwa dia tidak pulang ke istana, hingga pria itu bisa langsung mencarinya.
Li Anlan meratap. Hari sudah hampir malam. Udara mulai dingin.
Di hutan Linghua, Long Ji Man dan Wang Tianshi beserta beberapa prajurit rahasia baru sampai. Mayat-mayat para pengawal dan pelayan sudah dibereskan oleh beberapa orang bawahan hingga yang tersisa hanyalah kereta kuda. Barang-barang seperti stempel Permaisuri Bangsawan, kantong uang, dan beberapa keperluan lain sudah berhasil diamankan. Untung saja para penculik itu tidak merampok dan mengambil stempelnya.
"Temukan dia bagaimanapun caranya!"
"Baik, Yang Mulia."
Para prajurit rahasia binaan raja serentak menjawab, lalu berhamburan pergi ke segala arah. Long Ji Man dan Wang Tianshi menuju arah timur, ke arah lereng Gunung Feiyun. Daun-daun yang jatuh dari pohon tersingkap seperti bekas jejak kaki. Tidak hanya itu, daun-daun tersebut juga seperti bekas terseret sesuatu.
Seolah mendapat petunjuk, Long Ji Man semakin menyusup lebih jauh ke dalam hutan. Suasana semakin sepi, hari mulai gelap. Long Ji Man mengikuti jejak daun sambil menyalakan api dari bambu pemantik yang kebetulan terselip di jubahnya. Penerangan menjadi cukup jelas.
Hingga akhirnya, jejak tersebut berhenti di sebuah lembah. Long Ji Man menatap ke seberang lembah, ke rimbunan pohon dan semak yang menghitam tak terkena cahaya.
"Jejaknya berhenti di sini," ujar Long Ji Man.
"Yang Mulia, sepertinya jejak ini mengarah pada markas para bandit Gunung Feiyun!" seru Wang Tianshi setelah memastikan arah pandang Long Ji Man.
"Beraninya mereka menculik keluarga kerajaan!"
...***...