
Pagi hari di sudut Kerajaan Dongling yang lain.
Seorang pria berjubah bulu berdiri dengan tegap. Di hadapannya, seorang pria muda berpakaian sederhana berlutut dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Pria itu menatap tajam lewat celah topengnya, seolah ingin menguliti pria muda di hadapannya. Tangannya memegang sebilah pedang yang tajam, mengarah langsung ke leher si pria muda.
“Hanya mengurus seorang wanita saja sampai harus menghancurkan seluruh markas?” tanya pria betopeng dengan marah.
“A..Ampun Tuan. Kami pikir wanita itu bodoh dan tidak bisa apa-apa,” jawab pria muda penuh luka.
Pria bertopeng semakin marah. Ujung pedangnya sedikit melubangi leher pria muda hingga darahnya mulai menetes. Si pria muda meringis dan memohon ampun. Dia tidak lain tidak bukan adalah salah satu bandit yang berhasil kabur dari kejaran para prajurit istana. Saat dia berhasil lolos, dia langsung pergi menuju sebuah tempat di keramaian kota untuk menemui dan melaporkan semuanya pada tuannya.
“Singkirkan dia!”
“Baik, Tuan.”
Dua orang pelayan pribadi pria bertopeng menyeret pria muda keluar dari ruangan, lalu membawanya entah ke mana. Pria bertopeng menggeram kesal. Rencananya hampir berhasil, tetapi dia sama sekali tidak menduga kalau raja tiba-tiba datang dan mengacaukan semuanya. Dia hampir bisa menyingkirkan Permaisuri Bangsawan, tapi lagi-lagi gagal. Akibatnya, dia harus menyusun rencana ulang. Untuk sementara ini, pria bertopeng itu memutuskan untuk tidak bergerak terlebih dahulu.
...***...
Penjara Biro Penyelidikan Departemen Kehakiman adalah penjara yang diperuntukkan untuk penjahat kelas menengah yang melakukan kejahatan cukup berat. Kebanyakan dari mereka diisi oleh para perampok, bajak laut, agen penculikan orang, pembunuh berantai, pembunuh berdarah dingin, dan bangsawan yang kurang ajar. Biasanya, mereka akan berkahir cacat seumur hidup karena proses interogasi yang dilakukan di Departemen Kehakiman sangat kejam dan menyiksa fisik, sampai si penjahat mau mengakui kesalahan dan dosa-dosanya.
Para bandit yang ditangkap Wang Tianshi dan para prajurit istana sebenarnya termasuk ke dalam kelas ini. Tetapi, karena yang mereka culik adalah Permaisuri Bangsawan yang agung yang diperjuangkan mati-matian oleh raja, maka Departemen Kehakiman meningkatkan status kejahatan mereka ke kelas berat. Apalagi, para bandit tersebut juga memaksa Permaisuri Bangsawan menikahi seorang pria buruk rupa dari klan mereka. Ini sudah termasuk penghinaan yang besar terhadap keluarga kerajaan dan harus ditindaklanjut oleh departemen yang lebih tinggi kekuasaannya, yakni Departemen Keadilan Istana.
Oleh karena itu, para bandit yang awalnya ditempatkan di penjara Departemen Kehakiman dipindahkan ke penjara Departemen Keadilan Istana. Di sana, proses interogasi lebih kejam lagi. Tidak ada yang bisa keluar dari sana hidup-hidup tanpa perintah raja. Tapi, raja mengeluarkan instruksi khusus kepada para petugasnya untuk tidak menyiksa mereka terlebih dahulu.
Li Anlan dan Long Ji Man sampai di penjara Departemen Keadilan Istana saat hari sudah mulai siang. Wanita itu memakai hanfu berwarna pastel yang terbuat dari satin berkualitas tinggi dengan sulaman burung phoenix berwarna perak. Long Ji Man seperti biasa, mengenakan jubah kerajaan yang panjang dan indah. Xiao Biqi dan Xie Roulan berjalan di belakang mereka.
Para petugas penjara Departemen Keadilan Istana menunduk saat tahu raja mereka datang. Kemudian, seorang petugas memandu ketiga orang tersebut ke ruang penjara tempat para bandit dikurung. Lorong-lorong penjara ini sangat panjang dan berkelok-kelok seperti labirin. Jeruji-jerujinya terbuat dari besi yang kuat. Li Anlan menilai, zaman Kerajaan Dongling ini sudah lebih maju karena sudah menggunakan besi sebagai jeruji penjara.
Di sebuah sel penjara yang tidak cukup jauh jaraknya dari gerbang masuk, Li Anlan melihat Si Ketua Bandit dan yang lainnya sedang terkurung. Para bandit wanita dipisahkan dari mereka, dan penjaranya terletak persis di depan penjara para bandit pria. Meski pernah mendekam di penjara Departemen Kehakiman, tidak ada luka yang berarti di tubuh dan wajah para bandit ini. Li Anlan sempat ingin menanyakannya pada raja, tetapi tanpa diduga Long Ji Man memberitahunya kalau dia sudah memberikan instruksi khusus untuk tidak melukai para bandit.
“Akhirnya aku bisa membalas dendam!” teriak Li Anlan dalam hati.
“Hei, kau! Ketua Bandit jelek! Kau masih ingat aku kan?”
Si Ketua Bandit langsung ketakutan saat melihat Li Anlan. Wanita yang hampir menjadi menantunya berdiri congkak penuh wibawa, berdampingan dengan raja. Sekali lihat, mereka yang ada di dalam penjara dapat merasakan kalau Raja Dongling dan Permaisuri Bangsawan memiliki hubungan yang sangat baik dan serasi.
“Bukankah kau ingin menghukum mereka?” tanya Long Ji Man.
Li Anlan mengangguk cepat.
“Hukuman apa yang ingin kau berikan?”
“Apa aku boleh membawa mereka keluar?”
“Tidak. Mereka tahanan istana, tidak bisa keluar dari penjara ini.
Sayang sekali. Li Anlan berencana membawa Si Ketua Bandit Jelek ke istananya dan menghukumnya di sana.
“Hanya penjara, bukan? Kalau begitu, bawa orang jelek ini ke halaman depan Departemen saja.”
Long Ji Man hendak menolak, tetapi mata Li Anlan yang berbinar penuh harap membuatnya tak kuasa menolak. Mata itu berkali-kali membuatnya tunduk tanpa alasan. Mata yang indah, mata yang memandangnya sebagai seorang manusia berjenis kelamin pria, bukan sebagai seorang raja yang dipenuhi kuasa.
Si Ketua Bandit dibawa keluar sambil dikawal oleh para petugas berseragam seperti pada masa Dinasti Ming, yang pernah Li Anlan lihat di drama kolosal. Di halaman Departemen Keadilan Istana, Long Ji Man dan petinggi departemen duduk di sebuah koridor teduh yang biasa digunakan untuk melihat seseorang dihukum mati. Sedangkan Li Anlan, wanita itu meminta petugas untuk membawa Si Ketua Bandit ke tengah panggung beton tempat eksekusi, diikuti Xie Roulan.
“Yang Mulia, apa yang sedang dilakukan Nyonya Huang?” tanya Kepala Departemen Keadilan Istana.
“Lihat saja.”
Tidak cukup sampai di situ, Li Anlan juga menggunting rambut keriting Si Ketua Bandit hingga botak tak bersisa, bulat seperti bola. Kulit kepalanya yang pelontos lalu ia gambar dengan pensil alis membentuk sebuah wajah yang jelek dan menjijikan, kemudian diwarnai dengan kunyit bubuk hingga warnanya berubah menguning.
Wajah Si Ketua Bandit yang sudah didandani kemudian didandani lagi, hingga make up nya jadi lebih tebal. Li Anlan meminta Xie Roulan untuk mengeluarkan pakaian yang sudah disiapkan. Si Ketua Bandit dipaksa mengganti pakaian, tentu saja di tempat tertutup dengan pengawalan ketat. Li Anlan menunggu dengan santai di tempat eksekusi sambil melipat tangan.
Saat Si Ketua Bandit kembali, semua orang yang ada di Departemen Keadilan Istana tertawa terbahak-bahak. Pria tersebut menjelma menjadi sosok wanita berkepala kuning plontos berwajah menjijikan. Long Ji Man, melihat hasil karya istrinya hanya bisa menggelengkan kepala. Wanita tidak terduga itu kembali membuatnya terkejut.
Li Anlan kemudian mengeluarkan kameranya, memotret Si Ketua Bandit dengan banyak pose. Setelah itu, dia memakaikan sebuah wig berwarna hitam yang sedikit kusut. Dalam sekejap, Si Ketua Bandit berubah penampilan menjadi seorang wanita yang lebih menyeramkan dari iblis. Para petugas Departemen Keadilan Istana kembali dibuat tertawa terbahak-bahak.
“Hari ini, kau cosplay jadi kuntilanak saja!”
Penampilan Si Ketua Bandit memang sangat mirip dengan hantu yang berasal dari Indonesia yang pernah Li Anlan dengar dan pernah ia coba cari tahu di internet. Jika hantu itu benar-benar ada, sosoknya pasti menangis melihat seorang manusia yang berkostum dan berpenampilan lebih menyeramkan dari sosoknya sendiri.
“Nyonya, tolong ampuni aku,” mohon Si Ketua Bandit. Dia tidak tahan dipermalukan seperti ini. Seluruh harga dirinya sebagai ketua bandit Benteng Duanrou lenyap ke udara dalam waktu singkat.
“Apa kau melepaskanku saat aku bernegosiasi denganmu?” Li Anlan bertanya balik.
“Aku sudah berbaik hati karena aku hanya mempermalukanmu. Apa yang terjadi jika saat itu aku menikah dengan putra buruk rupamu? Bukankah rasa maluku lebih besar dari ini?”
Ingin sekali Li Anlan menyumpalkan kaos kaki bau pada mulut Si Ketua Bandit, lalu menenggelamkannya di Semenanjung Cina. Tapi, dia sadar kalau dia seorang wanita. Hukuman seperti itu tidak cocok dengan kepribadiannya. Cara seperti ini cukup menyenangkan juga. Dia bisa membuat Si Ketua Bandit tetap memiliki nyawa, tetapi kehilangan muka sehingga merasa bahwa kematian lebih baik daripada dikenang sebagai pecundang sepanjang masa.
“Aku sudah berbaik hati. Ini adalah hukuman teringan dariku untuk orang jahat yang menyebalkan sepertimu.”
“Ampuni aku, Nyonya. Aku sungguh menyesal,” ucap Si Ketua Bandit memelas.
“Heh, penyesalan selalu datang di akhir. Jadi, nikmati saja.”
Si Ketua Bandit tiba-tiba berlari ke hadapan Long Ji Man sambil menangis. Para petugas bersiaga, khawatir jika bandit ini bertindak sembarangan dan mencelakai raja mereka. Di hadapan Long Ji Man, Si Ketua Bandit menangis memohon ampun.
“Yang Mulia, ampuni aku.”
“Oh?”
“Yang Mulia, berikan aku hukuman mati saja! Aku tidak tahan jika harus dipermalukan seperti ini,” ucap Si Ketua Bandit mengiba.
Jangan harap Long Ji Man akan berbaik hati. Dia sudah sangat marah karena perbuatan si bandit sialan ini.
“Mengapa kau tidak meminta ampun pada menantumu?” ucap Long Ji Man sambil menunjuk Li Anlan.
Si Ketua Bandit menangis semakin menjadi-jadi. Li Anlan kemudian berjalan menghampirinya. Si Ketua Bandit tidak bisa melakukan apapun lagi. Wanita yang pernah diculiknya sungguh kejam dan tidak berperasaan. Dia tidak menyangka kalau Permaisuri Bangsawan milik Yang Mulia Raja sungguh orang yang sangat keras kepala dan cerdas, bukan sembarang wanita biasa.
“Ayah mertua, bagaimana keadaanmu?” bisik Li Anlan tepat di samping telinga. Si Ketua Bandit bergidik, seluruh bulu kuduknya berdiri. Bisikan itu lebih menyeramkan dari hantu.
Merasa cukup puas, Li Anlan naik ke koridor, duduk di samping Long Ji Man. Si Ketua Bandit masih menangis memohon ampun. Tapi, tangisan itu hanya masuk ke telinga kanan Li Anlan, lalu keluar dari telinga kirinya tanpa singgah di otak terlebih dahulu. Suara Si Ketua Bandit seperti hembusan angin yang lewat dengan cepat.
Langkah terakhir untuk menyempurnakan hukuman ini adalah membuat Si Ketua Bandit menari bahagia sambil menangis. Dengan begini, hati Li Anlan baru merasa puas dan dendamnya terbalaskan. Maka, setelah ia duduk dengan nyaman di samping Long Ji Man, Li Anlan berteriak, memerintahkan Si Ketua Bandit menari untuknya di tengah panggung eksekusi.
Hari itu, orang-orang di Departemen Keadilan Istana menyaksikan sebuah pertunjukan luar biasa. Hari itu, penjara Departemen Keadilan Istana yang biasanya dipenuhi suara tangisan dan teriakan para tahanan yang disiksa tergantikan suara raungan seorang pimpinan bandit memalukan dan tawa orang-orang yang melihat pertunjukan bagus tersebut.
Hukuman untuk orang jahat versi Li Anlan adalah mempermalukan si pelaku semalu-malunya.
...***...
...Wah, sosok "Tuan" sudah muncul. Kira-kira, bisakah Li Anlan menangkap orang ini dan memberinya pelajaran? Siapa kira-kira orang ini? Stay tune terus ya! Oh ya, Author mau ngucapin turut berbela sungkawa atas hilangnya harga diri ketua bandit di tangan Li Anlan. Sampai jumpa di episode berikutnya!...