The Little Consort

The Little Consort
Eps. 50: Negosiasi


Sejak dekret kerajaan dibacakan, Li Anlan sudah tidak bisa bernapas dengan lega. Udara di Istana Xingyue terasa menipis hingga membuat dada terasa sesak secara tiba-tiba. Li Anlan juga tidak bisa tidur nyenyak seperti hari-hari biasa.


Sepanjang malam, dia selalu terjaga. Pikirannya melayang pada sesuatu yang belum dia alami, membayangkan apa yang akan terjadi pada esok hari. Dia hanya punya sedikit waktu untuk berbuat sesuatu yang bisa menyelamatkan dirinya dari bencana yang indah ini.


Jika dia bisa melewati malam ini dengan baik, maka penobatan esok hari akan menjadi penobatan panjang nan penting yang tercatat dalam sejarah Dongling yang agung, sekaligus menjadi momen saat dirinya kehilangan segala kebebasannya.


Status Permaisuri Bangsawan yang sangat istimewa membuat Li Anlan gelisah setengah mati. Dia mendapat gelar dan kedudukan tinggi tepat ketika Xu Lingshu kehilangan posisinya sebagai selir utama. Bagaimana mungkin dia yang hanya seorang selir paling rendah tingkatannya, dan baru menampakkan diri ke publik pertama kali malah menyandang status yang begitu tinggi?


Li Anlan tidak peduli jika orang-orang bergosip tentang dirinya di belakang. Dia hanya perlu menutup telinganya agar ocehan-ocehan menyebalkan itu tidak sampai terdengar oleh dirinya. Li Anlan tidak peduli perkataan orang tentang dirinya. Dia hanya peduli pada kebebasannya, pada banyaknya waktu luang yang ia miliki di istana ini.


Seperti yang ia lakukan malam ini. Wanita itu terus berguling ke sana kemari di tempat tidurnya. Tidak bisa, dia tidak bisa diam lagi. Li Anlan harus bertanya pada Long Ji Man perihal maksud dan tujuan mengangkatnya menjadi Permaisuri Bangsawan. Li Anlan harus menanyakan mengapa Long Ji Man memilihnya untuk menyandang gelar istimewa tersebut dari ratusan kandidat wanita yang ada di Istana Harem.


"Tidak bisa! Aku harus bertanya sendiri!"


Li Anlan tiba-tiba bangkit dari tempat tidurnya. Wanita itu kemudian mengambil hanfunya secara asal dan mengenakannya secara sembarang. Xie Roulan yang sedang tertidur di dekatnya ikut terbangun karena gerakan majikannya yang tiba-tiba. Setelah Li Anlan selesai berpakaian, dia langsung berlari menuju pintu keluar.


"Nyonya, kau mau ke mana?"


"Istana Hongwu."


"Tengah malam begini? Nyonya, bukankah ini terlalu tidak sopan?"


"Persetan dengan kesopanan! Aku harus menyelamatkan hidupku!"


"Nyonya, bagaimana jika Yang Mulia marah?"


"Marah ya marah saja. Aku tidak peduli."


Keras kepala, memang. Wanita itu berjalan menyusuri pekarangan Istana Xingyue, lalu keluar dari pintu gerbang utama. Para penjaga hendak mencegat, namun cara berjalan Li Anlan yang terlalu cepat membuat mereka tidak bisa mengejarnya.


Sambil mengangkat rok hanfunya tinggi-tinggi, Li Anlan menapaki bebatuan di jembatan Danau Houchi yang airnya menggelap. Hanya ada cahaya bulan yang terang yang memberikan penerangan redup pada jalan yang dijejakinya.


Cahaya di Istana Hongwu yang terang benderang menandakan bahwa penghuni istana itu masih terjaga. Li Anlan dengan cepat memasuki pekarangan, mengabaikan permohonan para penjaga Istana Hongwu yang memintanya untuk kembali esok hari dan tidak mengganggu waktu istirahat raja. Tapi, bukan Li Anlan namanya jika dia menuruti perkataan para penjaga.


"Di mana Yang Mulia?" tanya Li Anlan pada Xiao Biqi, yang kebetulan sedang berjaga di depan pintu. Kasim muda itu terlihat linglung karena merasa dibangunkan.


"Selir An, ada apa?"


"Aku ingin bertemu Yang Mulia!"


"Yang Mulia sedang beristirahat. Kembalilah esok hari."


"Tidak ada besok atau lusa. Aku ingin bertemu dengannya sekarang!"


"Selir An, ini sudah malam. Tidak baik jika kau mengganggu Yang Mulia," ucap Xiao Biqi.


"Aku ini istrinya. Apa yang kau sebut tidak pantas? Bahkan jika aku mengganggunya saat ia sedang mandi pun, semuanya sah! Minggir!"


"Selir An, tolong jangan mempersulitku," ujar Xiao Biqi memohon.


Karena tidak siaga secara fisik, Xiao Biqi tidak bisa menghentikan Li Anlan yang langsung menerobos mendobrak pintu. Saat ia sampai di ruangan itu, dia melihat rajanya sedang bersiap untuk tidur. Long Ji Man sempat terpekik kaget karena seseorang tiba-tiba masuk ke dalam istananya.


Tanpa menunggu pria itu selesai berganti baju, Li Anlan langsung menghampirinya. Wanita itu duduk di tepian tempat tidur Long Ji Man, sambil meletakkan kedua tangannya di dada. Wajahnya terlihat kesal dan marah.


"Apa kau tidak punya sopan santun?"


"Sopan santun tidak berguna dalam hidupku. Yang Mulia, sebenarnya apa yang kau inginkan?"


"Apa yang kau bicarakan?"


"Aku tidak ingin menjadi Permaisuri Bangsawan. Yang Mulia, cabut lagi dekretmu!"


Long Ji Man menghela napas. Sebelumnya, dia sudah memprediksi bahwa Li Anlan akan datang padanya untuk bertanya. Tapi, dia tidak menyangka kalau Li Anlan datang pada waktu seperti ini, di tengah malam saat ia hendak beristirahat setelah seharian mengurus pemerintahan. Long Ji Man lupa kalau Li Anlan bisa melakukan apa saja sesuai kata hatinya.


"Apa ada yang salah?"


"Tentu saja itu sebuah kesalahan. Yang Mulia, mengapa kau memilihku?"


"Karena aku ingin."


"Kau tidak bisa berbuat sesuka hati hanya karena kau ingin!"


Long Ji Man menatap tajam Li Anlan. Tapi kemudian, tatapan matanya berubah. Muncul kilatan jahil di bola matanya yang hitam dan cantik. Long Ji Man membungkukkan tubuhnya, wajahnya ia dekatkan pada wajah Li Anlan. Li Anlan bersiaga, bersikap waspada pada apa yang akan dilakukan Long Ji Man setelah ini.


"Berbuat sesuka hati hanya karena aku ingin? Lalu apa yang kau lakukan hari ini, di tengah malam, di istanaku? Kau datang mendobrak pintu lalu duduk di tempat tidurku. Li Anlan, apa kau sudah tahu batasanmu?"


"Batasan apa? Sejak aku datang ke tempat ini, aku sudah tidak mengenal batasan apapun. Selama aku bebas, maka batasan itu tidak ada."


Long Ji Man semakin membungkukkan tubuhnya. Kedua tanganyya bertumpu di samping Li Anlan dan jarak antar keduanya semakin merapat. Li Anlan memposisikan tubuhnya ke belakang, hingga ia setengah telentang. Wajah Long Ji Man yang terlalu dekat membuat jantung Li Anlan berdebar kencang. Bahkan, hembusan napas pria itu terasa pelan menyapu wajahnya.


"Kau yakin aku tidak bisa melakukan sesuatu padamu?"


"A-asal Yang Mulia mengatakan alasannya, aku mungkin bisa mempertimbangkannya," ucap Li Anlan, semata-mata hanya agar Long Ji Man sedikit menjauh dan dia bisa menyelamatkan jantungnya yang berdebar kencang.


Cara ini berhasil. Long Ji Man menegakkan tubuhnya. Posisi dia dan posisi Li Anlan kini saling berhadapan. Li Anlan duduk di tepian tempat tidur, Long Ji Man berdiri di hadapan Li Anlan dengan tenang.


"Baik, karena kau sangat penasaran, aku akan mengatakannya. Aku menunjukmu sebagai Permaisuri Bangsawan karena kau sudah menyelamatkan nyawaku. Kau juga sudah membuatku membuka mata bahwa tidak semua rakyatku hidup sejahtera."


"Hanya karena itu?"


Tidak juga, ucap Long Ji Man dalam hatinya.


"Kupikir hanya kau yang pantas dengan posisi itu."


Bohong jika Long Ji Man jujur mengatakan semua alasannya. Dia hanya mengatakan sebagian, sebagiannya lagi tetap ia pendam dalam hatinya. Mengangkat Li Anlan sebagai Permaisuri Bangsawan bukan tanpa alasan, karena Long Ji Man sudah melakukan berbagai pemeriksaan dan pertimbangan yang panjang dan melelahkan.


Setelah Wang Tianshi menyerahkan bukti identitas dan hasil pemeriksaan terhadap jati diri Li Anlan, Long Ji Man bisa menghembuskan napas lega. Wanita itu memang putri kandung Bangsawan Li Han, putri kesayangan dan tidak punya teman. Li Anlan tidak punya siapapun dan tidak terhubung dengan kekuatan manapun. Saat itulah ia terpikir untuk memberikan keduduka Permaisuri Bangsawan yang sudah kosong selama seratus tahun kepada Li Anlan.


Ditambah dengan sifat dan kepribadian Li Anlan, Long Ji Man yakin bahwa wanita itu tidak akan terpengaruh oleh siapapun. Seorang Permaisuri Bangsawan harus memiliki pendirian dan hati yang kuat, agar segala urusan yang diserahkan padanya dapat diselesaikan dengan baik. Li Anlan tidak berambisi menjadi orang yang kuat dan berposisi, dia juga tidak mengejar gelar dan kehormatan. Selain uang, Li Anlan hanya peduli pada kesenangan dan kedamaian hidupnya.


Dari ratusan wanita yang ada di Istana Harem dan ribuan gadis yang ada di tanah Dongling, Li Anlan adalah kandidat yang tepat untuk menduduki posisi istimewa tersebut. Entah kenapa, Long Ji Man mempunyai kepercayaan diri yang besar dan keyakinan yang kuat bahwa pilihannya sudah tepat. Selain itu, dia juga punya tujuan lain. Dia ingin Li Anlan membantunya menemukan sesuatu dan mengungkap sebuah kebenaran.


"Kau wanita yang berbeda dari yang lain. Karena itulah aku memilihmu."


"Wah, Yang Mulia, kau memiliki penglihatan yang bagus terhadap orang! Tapi, apa hidupku akan aman jika aku menduduki posisi ini?"


"Aku yang menjamin semuanya."


"Aku bisa menerima posisi ini tapi dengan beberapa syarat."


"Katakan saja."


"Pertama, kau harus mengembalikan semua barang-barangku yang kau ambil tempo hari. Kedua, naikkan gajiku dan bayarkan tepat waktu tanpa boleh memotongnya. Ketiga, aku tidak mau seorang pun menggangguku di Istana Xingue, termasuk para pejabat. Keempat, aku hanya akan menjalankan tugas ketika aku menyetujuinya. Kelima, kau harus mengabulkan semua syarat yang aku berikan. Jika tidak, aku akan melarikan diri dan bersembunyi dengan sangat baik hingga kau tidak akan bisa menemukanku."


"Kau sedang mengancamku?"


"Tidak. Aku sedang bernegosiasi denganmu."


"Aku sudah membebaskanmu dari urusan harem, tapi kau malah mengajukan begitu banyak permintaan?"


"Itu adalah harga yang pantas untuk posisi Permaisuri Bangsawan."


"Baik. Aku menyetujuinya."


Li Anlan bersorak. Dengan begini, dia masih dapat bersantai di tengah-tengah tugasnya. Long Ji Man sungguh orang yang tidak dapat ditebak. Dia tampak seperti seorang raja yang dingin dan tegas serta berpendirian kuat, tapi terkadang dapat berbalik seratus delapan puluh derajat dalam waktu sekejap.


Long Ji Man berpikir kalau wanita itu akan segera pergi setelah mengucapkan semua isi hatinya. Tapi tidak disangka, Li Anlan malah berbaring telentang di tempat tidurnya dengan tenang.


"Mengapa kau masih di sini?"


"Yang Mulia, aku sudah lelah karena berjalan jauh. Lagipula, sekarang sudah tengah malam. Tidak baik bagi seorang wanita berjalan sendiri."


"Aku akan meminta Xiao Biqi untuk mengantarmu. Menyingkirlah dari tempat tidurku!"


"Xiao Biqi? Kasim kecil itu, meskipun sudah dikebiri, dia tetap seorang pria. Yang Mulia, bagaimana jika tiba-tiba dia menculikku?"


Entah harus dengan cara apa yang harus Long Ji Man gunakan agar Li Anlan segera pergi dari tempat tidurnya.


"Anlan, apa maumu?"


"Aku ingin tidur di sini saja. Yang Mulia, aku yakin kau tidak akan tega menendangku dari kasur yang empuk ini."


Berdebat dengan wanita ini tidak akan ada habisnya. Ini sudah tengah malam, jika dilanjutkan, maka Long Ji Man hanya akan membuang waktu berharganya.


"Geser!"


Li Anlan bergeser ke samping, menyisakan bagian untuk Long Ji Man. Long Ji Man membaringkan tubuhnya di samping wanita itu, menarik selimut lalu memejamkan mata. Jantungnya berdegup kencang, tapi hatinya justru merasa senang saat Li Anlan terbaring di sisinya.


"Yang Mulia, apa kau merasa canggung?" tanya Li Anlan.


Tidak ada jawaban.


"Jangan berpura-pura tertidur. Kita sudah pernah tidur bersama. Yang Mulia tidak perlu begitu gugup."


"Diam atau aku akan benar-benar menerkammu!" ucap Long Ji Man tegas. Li Anlan menutup mulutnya, lalu membalikkan tubuhnya hingga posisinya menyamping, membelakangi Long Ji Man.


Sementara itu, Long Ji Man tersenyum tipis ketika wanita itu membalikkan tubuhnya.


...***...


...Cie, ada yang tidur bareng lagi. Permintaan Li Anlan banyak banget, lebih banyak dari mahar sebuah pernikahan ya! Author mau ngucapin selamat bersibuk-sibuk buat Li Anlan, dan Author juga mau ngucapin makasih buat para pembaca yang udah nyimak dan mengikuti cerita Li Anlan sampai sejauh ini. Stay tune terus ya! Sampai jumpa di episode berikutnya! ...