The Little Consort

The Little Consort
Eps. 23: Menanti Hari Baik


Li Anlan baru kembali ke Istana Xingyue tepat pada pukul sembilan malam. Saat dia sampai di halaman belakang, seluruh bagian dalam istananya gelap. Sepertinya, Xie Roulan sengaja tidak menyalakan lilin agar para kasim dan para penjaga itu mengira kalau pemilik istana ini sudah tidur.


Dia baru bisa kembali ke sini karena waktunya habis di perjalanan. Selama beberapa jam, Li Anlan sempat tersesat dan berputar-putar di area hutan tempat Si Pencuri dan anak-anak lusuh tinggal. Ingatan Li Anlan dalam mengenali jalan sangatlah buruk. Dia baru bisa kembali ke jalan utama di pusat kota saat matahari hampir terbenam. Untung saja, selama perjalanannya, dia tidak bertemu penjahat atau pencuri lain.


Saat Li Anlan sampai di Paviliun Lanxin, Li Afan langsung berlari memeluknya. Pria itu sangat khawatir terjadi apa-apa pada adik semata wayangnya. Li Afan juga menyesal telah membiarkan Li Anlan pergi seorang diri mengejar pencuri itu. Seharusnya, dia tidak menuruti perkataan Li Anlan. Baguslah adiknya itu pulang tanpa cedera.


“Kakak, aku harus segera kembali.”


“Kau tidak ingin menginap di sini?”


“Kalau aku ketahuan, Yang Mulia pasti akan mengurungku lagi.”


Li Afan tidak bisa menolak alasan Li Anlan. Ya, Li Anlan keluar diam-diam dalam masa hukumannya. Seorang selir yang tidak patuh dan melanggar aturan, jika ketahuan, hukumannya akan berkali lipat. Li Anlan akan dianggap sebagai seorang wanita pemberontak yang merusak citra baik istana raja. Li Afan tidak bisa membiarkan adiknya dihukum lagi.


Begitu Li Anlan hendak pergi, dia menahannya sebentar, mengatakan bahwa Li Anlan harus mengganti bajunya dengan baju yang ia pakai sebelumnya. Akan sangat aneh jika Li Anlan kembali dengan pakaian wanita bangsawan. Jika nasib buruk menimpanya saat ia kembali ke Istana Xingyue, Li Anlan tidak akan bisa menyelamatkan diri saat ia berpakaian seperti itu. Maka, untuk sekadar berjaga-jaga, Li Anlan harus kembali mengenakan pakaian kasim.


Saat adiknya selesai berganti pakaian, Li Afan langsung membawanya kembali ke Istana Xingyue. Sebelum meningalkannya, Li Afan melemparkan sebuah kantong berwarna hijau berukir bunga azalea. Kantong itu berisi uang lima ratus tael perak, sebagai ganti karena kantong uang sebelumnya diambil pencuri. Li Anlan melompat kegirangan karena uangnya diganti dengan jumlah yang lebih banyak. Saat ia menoleh ke atas, Li Afan sudah pergi.


Xie Roulan yang sedang tertidur di pinggir ranjang terusik dengan suara pintu yang dibuka perlahan. Telinga pelayan itu masih cukup tajam meskipun masih setengah sadar. Xie Roulan memicingkan mata untuk memastikan siapakah yang datang di tengah-tengah kegelapan. Cahaya bulan yang masuk melalui celah pintu dan jendela membantu Xie Roulan untuk melihat orang itu. Gadis pelayan itu langsung berhambur memeluk Li Anlan.


“Nyonya! Aku senang kau kembali!”


Memiliki seseorang yang menanti dan menyambut kepulangannya, hati Li Anlan kembali menghangat. Di kehidupan modern, setiap kali ia pulang kuliah atau bekerja, atau selepas bermain bersama teman-temannya, dia tidak punya siapapun yang setia menunggunya di rumah atau di unit apartemennya. Saat ia membuka pintu, hanya kegelapan dan udara dingin dari AC yang menyapanya. Li Anlan tidak memiliki siapapun yang bisa ia pinta kesediaannya untuk melepaskan penat dan lelah. Di sini, meskipun Xie Roulan hanya seorang pelayan, hatinya selalu tulus mendampingi dan menemaninya di setiap saat.


Li Anlan hendak menangis. Tapi, dia kemudian ingat bahwa meskipun ia terharu, tersentuh, atau sedih, dia tidak pernah meneteskan air mata. Li Anlan selalu menjadi tegar untuk dirinya sendiri. Dengan begitu, dia tidak akan mudah kehilangan keceriaan dan tidak akan mudah patah hatinya.


“Dia tidak ke sini kan?”


“Tidak, Nyonya. Yang Mulia tidak pernah datang ke Istana Xingyue kita.”


Xie Roulan mulai menyalakan lilin. Tak berselang lama, ruangan dalam Istana Xingyue yang semula gelap gulita menjadi terang. Sekarang, Li Anlan dapat melihat seluruh objek di dalam sini dengan jelas. Dia juga bisa melihat wajah lelah Xie Roulan yang mungkin sudah menunggunya sejak siang tadi.


Li Anlan meletakkan kantong uang pemberian Li Afan di bawah bantalnya. Dia berencana akan memasukkan uang itu ke dalam peti dan menguburnya di bawah pohon persik, persis seperti apa yang dia lakukan beberapa minggu lalu pada hadiah-hadiah kematian pemberian raja. Dengan begitu, para pencuri yang hendak mengincarnya tidak akan menyangka kalau harta si pemilik istana ini terkubur di suatu tempat.


“Aku kira Selir An sudah tidur.”


Suara khas yang mengandung arogansi dan sindiran itu mengusik telinga Li Anlan. Dia buru-buru berdiri menyambut si pemilik suara dengan malas. Long Ji Man berdiri di hadapannya dengan posisi tegap, tangannya saling bertaut di belakang pinggang. Jubah hitam khas raja yang dikenakannya menjuntai ke bawah. Mahkota Raja yang dikenakan di kepalanya bergoyang sedikit, tanda bahwa tubuh itu baru saja bergerak.


“Li Anlan, ada apa dengan pakaianmu?”


Li Anlan melirik pakaian yang menempel di tubuhnya. Celaka, dia masih berpakaian kasim dan belum sempat berganti baju. Li Anlan terlalu tenang hingga ia lupa pada hal sepenting ini. Saat Li Anlan menengadahkan kepala, dia melihat tatapan menyelidik yang menakutkan tersirat di wajah Long Ji Man. Jika pria ini bertanya lebih jauh, Li Anlan khawatir tidak bisa mengelak lagi.


“Aku, aku sedang melakukan cosplay! Benar, cosplay!”


Dahi Long Ji Man mengkerut, dia menatap curiga pada selirnya.


“Cos-play?”


“Pesta kostum.


Long Ji Man masih tidak yakin.


“Sendirian?”


“Ah, itu… Roulan belum sempat berganti baju karena Yang Mulia datang secara tiba-tiba.”


Long Ji Man tidak bertanya lagi. Dia kemudian duduk di sisi ranjang Li Anlan. Suasana menjadi hening. Xiao Biqi hanya menunduk, tidak ingin menyaksikan apa yang akan dilakukan rajanya pada selir terbuangnya. Sedangkan Xie Roulan, pelayan itu langsung pergi ke dapur istana untuk mengambil air.


“Yang Mulia, tidak mungkin kan-”


“Apa yang kau pikirkan?”


“Tidak, tidak ada. Kalau boleh tahu, untuk apa Yang Mulia datang kemari?”


“Ini, terlalu aneh. Yang Mulia, mengapa tidak kembali saja ke Istana Hongwu?”


Long Ji Man menatap Li Anlan dengan lekat. Aneh, mengapa wanita ini berbicara cukup sopan padanya kali ini? Biasanya setiap kali ia berjumpa dengannya, Li Anlan akan meninggikan suara dan berdebat sengit dengannya. Kali ini, wanita itu bahkan lebih banyak menunduk daripada menengadahkan kepala.


Apakah otaknya terbentur sesuatu? Atau ia salah makan dan syarafnya rusak? Atau mungkin wanita itu sedang mendalami karakternya sebagai kasim untuk merayakan pesta kostumnya?


Long Ji Man lalu teringat tujuannya datang kemari. Awalnya, dia ingin mengambil kembali ponsel Li Anlan sekaligus memastikan keadaan Istana Xingyue, terutama keadaan si pemiliknya, apakah patuh menjalani hukumannya atau malah melarikan diri. Karena terkejut dengan pakaian Li Anlan, waktunya jadi tertunda selama beberapa saat.


“Berikan benda persegi panjang yang berbunyi itu!”


Li Anlan langsung tahu kalau benda yang dimaksud suami arogannya ini adalah ponselnya.


“Untuk apa?”


“Berikan saja!”


Tidak ingin berdebat lebih banyak, Li Anlan lebih memilih menyerah. Wanita itu membuka ransel gunungnya, lalu mengeluarkan ponselnya yang sudah ia isi baterainya hingga penuh. Keberatan dengan penyitaan ponselnya, Li Anlan memegang erat ponsel itu saat ia memberikannya pada Long Ji Man. Dia tidak rela benda kesayangannya diambil lagi. Tarik menarik ponsel antara Li Anlan dan Long Ji Man membuat Xiao Biqi tersenyum kecil. Kasim muda itu kembali menundukkan kepala.


“Lepaskan.”


Nada dingin itu entah kenapa menjalar dari telinga Li Anlan ke seluruh tubuhnya. Refleks, dia langsung melepaskan cekalan tangannya dari ponsel itu. Long Ji Man langsung memasukannya ke dalam celah baju di bagian dadanya. Merasa tujuannya sudah tercapai, pria itu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata.


“Selir An, hukuman kurunganmu sudah berakhir hari ini,” ucap Xiao Biqi. Setelah itu, dia pergi menyusul Long Ji Man keluar dari Istana Xingyue.


Li Anlan harus berkorban. Ia mendapatkan kembali kebebasannya untuk bermain di luar Istana Xingyue dengan mengorbankan ponsel mahal kesayangannya. Dia haru kehilangan benda canggih itu. Li Anlan yakin, Long Ji Man tidak akan datang dalam waktu dekat untuk mengisi baterainya, karena isi baterai ponselnya yang sedang full dapat bertahan hingga sepuluh hari lamanya, selama tidak mengaktifkan data atau wifi. Ya, sepertinya itu akan benar-benar terwujud.


Xie Roulan, yang baru kembali dari dapur istana membawa nampan berisi air, tidak bisa menahan rasa penasarannya saat melihat Li Anlan duduk lesu seperti telah kehilangan sesuatu.


“Yang Mulia sudah pergi?”


Li Anlan mengangguk malas.


Xie Roulan membantu Li Anlan berganti baju. Pakaian kasim yang baru digunakannya dibawa pergi ke bagian belakang, tempat yang biasa digunakan untuk mencuci. Karena letak Istana Xingyue terlalu jauh dengan Balai Pencucian Pakaian Kerajaan, seluruh pakaian kotor yang habis digunakan terpaksa dicuci sendiri di istana ini. Selain itu, pihak Balai Pencucian Pakaian Kerajaan juga tidak pernah mengirimkan orang untuk bertanya atau mengambil baju kotor untuk dicuci bersama pakaian keluarga kerajaan lainnya.


Jika harus pergi sendiri ke sana, Li Anlan tidak tega. Xie Roulan sudah cukup direpotkan karena harus bolak-balik ke dapur istana untuk mengambil makanan dan air. Daripada membuang banyak waktu dan tenaga, lebih baik mencucinya di sini. Di manapun pakaian ini dicuci dan dijemur, hasilnya akan sama saja karena matahari bersinar dari sumber yang sama.


“Menurutmu, jika aku berbisnis, apakah aku akan berhasil?” tanya Li Anlan saat Xie Roulan kembali.


“Itu tergantung keberuntungan Nyonya.”


“Tidak. Sukses itu 70% usaha dan 30% keberuntungan.”


Xie Roulan membantu menyisir rambut majikannya. Tidak terbersit sama sekali di benaknya kalau majikannya ini memiliki keinginan untuk memulai usaha.


“Tapi, seorang selir tidak boleh melakukan itu. Itu akan dianggap sebagai penghinaan bagi keluarga kerajaan.”


“Siapa bilang aku akan mengelolanya secara langsung?”


“Jadi, apa yang akan nyonya lakukan?”


“Aku akan menuliskannya atas nama orang lain. Keuntungannya akan dibagi dua dengan sistem bagi hasil yang adil.”


Pundi-pundi uang yang banyak dan besar membayangi otak Li Anlan. Jika ia membuka toko atau restoran, dia akan mendapat keuntungan. Li Anlan akan menggunakan semua uang yang ia dapat sebagai modal untuk membeli atau menyewa tempat dan membayar gaji. Otak bisnis peninggalan orang tuanya seharusnya masih bersisa di dalam dirinya.


Dia sengaja tidak meminta bantuan atau membicarakan ini telebih dahulu dengan Li Afan. Li Anlan ingin menjadi mandiri dan tidak mau selamanya bergantung pada kakaknya atau uang pemberian raja. Ya, meskipun jika mendesak, Li Anlan juga akan mempertebal mukanya untuk meminta tambahan modal pada Li Afan. Lagipula, tanpa diminta pun, kakaknya itu sudah pasti akan memberinya uang.


Li Anlan menantikan hari baik ketika ia membuka bisnisnya kelak. Li Anlan menantikan hari baik ketika dirinya bisa keluar dari istana lagi dan melihat keramaian di pusat kota. Li Anlan menantikan hari baik ketika dia tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi.


...**"...