The Little Consort

The Little Consort
Eps. 29: Surat Rahasia


Long Ji Man yang kelelahan setelah memarahi sepuluh pejabat sampai habis-habisan, langsung membaringkan tubuh di atas tempat tidurnya. Emosi dan tenaganya terkuras habis untuk mendebat para pejabat yang keras kepala.


Hari ini, dia tidak hanya memotong gaji Menteri Perekonomian, tapi juga Menteri Administrasi, Menteri Pembangunan, dan dua menteri lain. Mereka bernasib sama dengan Menteri Pertanian karena kelalaian dan ketidaktelitian mereka dalam mengurus rakyat.


Mereka yang menentang pemotongan gaji ini juga dikenai sanksi. Para penentang itu dipotong gajinya selama tiga bulan sebagai bentuk teguran dan refleksi. Jika dipikir-pikir, hari ini Long Ji Man sudah banyak memotong gaji pejabat.


Pria yang baru saja memejamkan matanya sejenak itu terganggu karena keributan kecil di teras depan Istana Hongwu. Entah karena terlalu lelah atau memang karena ia malas bangkit, Long Ji Man memilih untuk tetap merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Sementara itu, di luar, Li Anlan beradu mulut dengan Xiao Biqi. Dia memaksa ingin menemui Long Ji Man, tetapi dihalangi Xiao Biqi karena rajanya itu baru saja tiba dari pengadilan. Sebelumnya, Long Ji Man berpesan agar tidak ada seorang pun yang masuk atau mengganggunya. Xiao Biqi tidak bisa membiarkan selir ini mengganggu waktu istirahat rajanya. Karena itulah, meskipun Li Anlan memaksa, dia tetap tidak akan membiarkannya masuk.


"Selir An, tolong jangan mempersulitku!"


"Kasim kecil, siapa aku?"


"Selir Yang Mulia."


"Bukan, sejak kemarin, siapa aku?"


Xiao Biqi tampak berpikir.


"Pelayan Yang Mulia."


"Apa aku tidak boleh menemuinya?"


"Boleh, tapi tidak untuk saat ini."


Lama kelamaan Li Anlan geram sendiri. Beradu mulut dengan kasim bodoh ini hanya akan membuang waktu dan tenaganya. Ada suatu hal yang lebih penting yang harus segera ia beritahukan, perihal surat kosong beraroma apel yang ia dapat dari seekor burung.


Li Anlan menendang tulang kering kaki Xiao Biqi sekuat tenaga hingga kasim muda itu meloncat-loncat menahan sakit. Saat posisi tubuh Xiao Biqi sedikit menjauh dari pintu, Li Anlan mendorong pintu dan menerobos masuk. Dia berlari menuju tempat tidur Long Ji Man. Namun, sayang, karena kurang berhati-hati, bagian bawah pakaian pelayan yang dikenakannya terinjak kakinya sendiri, hingga tubuh Li Anlan oleng ke depan. Akibat kehilangan keseimbangan, Li Anlan jatuh tengkurap di hadapan tempat tidur Long Ji Man.


Melihat selirnya tengkurap, Long Ji Man langsung tertawa terbahak-bahak. Wanita itu menatap Long Ji Man sambil cemberut. Inilah akibat dari mengganggu istirahatnya. Dalam hatinya, Long Ji Man berkata, "Li Anlan, karma itu nyata!"


Li Anlan buru-buru bangkit. Dahinya sedikit benjol akibat benturan dengan lantai. Saat melihat Long Ji Man masih berbaring, Li Anlan langsung menghampiri pria itu, menarik tangannya agar dia segera bangun.


"Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu!"


Tenaga Li Anlan sebanding dengan tenaga Long Ji Man. Alhasil, tubuh pria yang kekar itu tertarik bangkit. Posisinya menjadi duduk. Li Anlan dan Long Ji Man saling berhadapan.


"Lihat!"


Li Anlan menyodorkan kertas beraroma apel kepada pria itu. Long Ji Man mengernyitkan dahi.


"Cuka apel?"


Li Anlan mengangguk. Wanita itu mengambil sebuah lilin, lalu membakar sumbunya. Di hadapan Long Ji Man, dia meletakkan kertas itu di atas api hingga kertas yang semula kosong menjadi penuh dengan tulisan.


"Yang Mulia bisa membacanya? Aku tidak mengenal huruf-huruf ini."


Setiap huruf yang tertera dalam kertas itu dibaca Long Ji Man dengan teliti. Pantas saja Li Anlan tidak memahaminya, karena huruf-huruf ini adalah aksara kuno yang digunakan tiga dinasti sebelumnya. Jika ingin mengetahui isinya, maka seseorang harus membuka pustaka dan daftar lambang untuk mengetahui karakter yang terbentuk. Cara membacanya pun tidak mudah. Makna kata-katanya disembunyikan dalam bentuk kiasan.


Selain itu, kertas ini juga dibubuhi beberapa simbol di antara huruf-hurufnya. Berdasarkan pustaka, simbol-simbol tersebut digunakan untuk menandai setiap satu suku kata dari kalimat yang terbentuk. Isi kertas itu sangat rumit. Perlu seseorang dengan kecerdasan tinggi untuk memecahkan isinya.


Tapi, bagi Long Ji Man yang latar belakangnya adalah terpelajar dan seorang raja, membaca huruf-huruf seperti ini sama saja dengan membaca laporan biasa. Tingkat kesulitan yang dialaminya tidak terlalu tinggi.


"Dari mana kau dapatkan ini?"


"Dari seekor burung yang kupanah."


"Kau bisa memanah?"


Li Anlan mengangguk ringan.


"Yang Mulia, apa isinya?"


"Surat pemberitahuan."


"Wah, si penulis benar-benar hebat!"


"Memangnya apa isinya?"


"Kabar mengenai kejadian di pengadilan hari ini."


Long Ji Man mulai memikirkan berbagai spekulasi. Surat yang ditulis dengan cuka apel, memang sudah sering ia jumpai. Tapi, jika hurufnya ditulis menggunakan aksara kuno dan lambang, ini baru pertama kali ia jumpai. Si penulis surat pasti tidak ingin orang lain mengetahui isi suratnya. Sekilas, jika orang yang tidak berkepentingan menemukan surat ini, orang itu pasti akan membuangnya karena berpikir surat kosong ini hanya surat yang dibuat oleh orang yang kurang kerjaan. Jika si penemu surat berhasil memunculkan huruf pun, akan sulit memahami artinya jika tidak pandai dan tidak menguasai aksara kuno dari tiga dinasti sebelumnya.


Pertanyaan terbesarnya adalah, mengapa burung pengantar surat ini melintas di sekitar istananya? Burung itu tidak mungkin keliru dalam rutenya, kecuali jika ada sesuatu yang memikatnya untuk terbang di atas Istana Hongwu.


"Apa di istanamu ada makhluk hidup?" tanya Long Ji Man.


"Tentu saja. Aku, Xie Roulan, dua kasim, dan enam penjaga serta tumbuh-tumbuhan dan ikan-ikan kecil di kolam."


"Maksudku, burung."


"Oh. Aku memelihara seekor merpati betina."


"Pantas saja."


Jadi, yang menyebabkan burung pembawa surat ini salah mengambil rute adalah karena ada burung lain di Istana Xingyue yang berhasil memikatnya. Jika dipikir-pikir, letak Istana Xingyue yang terpencil berada di seberang Danau Houchi. Jika burung itu terbiasa terbang lurus, maka dapat dipastikan bahwa arah datangnya dari komplek istana sekitar istana pusat. Kalau burung itu terbang melintasi Istana Hongwu pun, maka arah terbangnya akan menuju gerbang utama, bukan halaman belakang Istana Hongwu yang arahnya berdekatan dengan bagian depan Istana Xingyue.


Long Ji Man menyeringai. Akhirnya, dia tahu bahwa di dalam istana ini memang ada mata-mata yang mengawasi seluruh pergerakannya. Jika tidak, mana mungkin dirinya diserang saat dia sedang menyamar, dan kejadian di pengadilan tadi bisa diketahui. Itu berarti si mata-mata memang ada di sekitar sini, namun terlalu pandai bersembunyi.


"Di mana burung itu?"


"Kusuruh Wang Tianshi membawanya pada Tao Zhun."


"Kau gila?"


"Aku masih waras."


"Tao Zhun itu tabib manusia, mana bisa mengobati burung?"


"Dia harus bisa. Seorang tabib harus multitalenta."


Long Ji Man memalingkan wajahnya ke samping, menghindari wajah polos Li Anlan yang selalu berkata-kata tanpa beban. Rasa lelahnya menghilang entah ke mana. Tingkah ceroboh wanita di depannya sedikit banyak telah membuat dirinya terhibur.


"Yang Mulia, apa ini artinya ada mata-mata?"


"Dari mana kau punya pemikiran seperti ini?"


"Dari novel yang kubaca dan drama kolosal yang kutonton."


"Drama kolosal? Novel? Siapa penulis yang begitu berani mengisahkan kebohongan seperti itu?"


"Asal kau tahu, kisah seperti ini akan jadi legenda dalam lima ratus tahun ke depan."


Ucapan Li Anlan semakin hari semakin aneh. Banyak sekali perkataannya yang tidak dimengerti Long Ji Man. Mungkin, otak Li Anlan mengalami kerusakan parah dari hari ke hari, hingga wanita itu mulai melantur.


"Sebaiknya kau jangan ikut campur."


"Aku harus terlibat. Yang Mulia, bagaimana jika kau dalam bahaya? Bagaimana jika kau mati? Jika kau mati, siapa yang akan memberiku gaji?"


"Sembarangan!"


Sadar akan perkataannya, Li Anlan langsung menutup mulutnya. Dia langsung berlari keluar sebelum Long Ji Man memarahinya. Li Anlan juga menghindari Xiao Biqi, khawatir kalau kasim muda itu menuntut balas padanya.


Sementara itu, di kamar tidurnya, Long Ji Man melipat kertas surat rahasia, lalu menyimpannya di bawah bantal. Pria itu memukul keras tempat tidurnya hingga berbunyi. Tangannya terkepal.


Dia pasti akan menemukan si keparat itu!


...***...


Halo, pembaca kesayangan Author! Author mau tanya, kira-kira ada yang tahu gak siapa mata-matanya? Kalau kalian ada yang tahu atau ada yang bisa dicurigai, tulis di kolom komentar ya! Stay tune terus sama ceritanya, karena setelah ini Li Anlan akan benar-benar mulai menunjukkan dirinya. Sampai jumpa di episode berikutnya!