
Di dalam Istana Hongwu, Long Ji Man tampak sedang berdiskusi dengan dirinya sendiri. Pria itu asyik merenung, sesekali keningnya mengernyit, lalu merenung lagi. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu itu tumbuh dari sebuah biji kecil menjadi sebuah pohon rambat bernama kepenasaran yang menjalar ke seluruh tubuhnya, melingkupi hati dan pikirannya.
Long Ji Man mulai memikirkan Li Anlan. Sejak pertemuan pertamanya di Danau Houchi malam itu, dan sejak mendengar kabar kalau Li Anlan tenggelam pada hari itu, semua yang berkaitan dengan Li Anlan terasa aneh dan tidak wajar. Semua perilakunya sangat jauh berbeda dari wanita kebanyakan.
Li Anlan memiliki emosi yang buruk dengan tempramen yang keras kepala. Wanita itu mencintai uang. Keberaniannya lebih dari segudang. Terkadang bersikap bodoh, terkadang bersikap bijak seperti seorang wanita bangsawan terpandang. Dia pemarah dan pendendam, tapi cenderung bersikap acuh tak acuh dan tidak peduli pada lingkungan di sekitarnya. Li Anlan lebih suka bermalas-malasan dan bermain-main di istananya ketimbang mengejar perhatian Long Ji Man. Tapi, dia juga bukan orang yang anti sosial.
Li Anlan seorang wanita, tapi Long Ji Man tidak bisa memandangnya sebagai seorang wanita. Ada yang aneh dengan Li Anlan. Segala sesuatu tentang Li Anlan cukup mencurigakan. Membicarakan wanita ini sama saja berbicara dengan kemustahilan yang tidak berujung. Li Anlan tidak berada dalam batas yang bisa dijangkau oleh pemikiran dan logika Long Ji Man.
Eksentrik. Li Anlan adalah wanita paling eksentrik yang pernah Long Ji Man jumpai sepanjang hidupnya dan sepanjang karirnya menjadi Raja Dongling. Wanita tidak terduga seperti Li Anlan sangat jarang ditemui di kerajaan ini, terutama di istana haremnya sendiri. Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, kebanyakan wanita yang menjadi selir Long Ji Man selalu berusaha menarik perhatiannya. Mereka bermanja-manja dan penggoda ulung. Tapi, berbeda dengan Li Anlan. Wanita itu sama sekali tidak tertarik dengan persaingan dan memilih hidup damai seperti orang mati sebagai selir terbuang. Tidak ada masalah, tidak ada protes, tidak ada keluhan.
Li Anlan bukan seorang pesolek. Wajahnya cantik alami. Wanita ini sepertinya benar-benar tidak memiliki ambisi sama sekali.
Sebelumnya, dia tidak mengetahui keberadaan Li Anlan. Orang-orang di istana ini juga mengatakan kalau Li Anlan adalah wanita bodoh yang tidak memiliki bakat dan kecerdasan apapun. Tapi, berdasarkan sikap dan keputusan yang diambilnya, Long Ji Man menjadi ragu. Jika memang Li Anlan adalah wanita bodoh yang tidak berbakat dan tidak cerdas, dari mana datangnya temperamen buruk dan keberanian melawan sebesar itu? Juga, dari mana datangnya kemampuan yang sarat pengetahuan saat wanita itu ‘mengajar’ di Akademi Kerajaan?
Orang bodoh tidak memiliki empati. Long Ji Man ingat, beberapa minggu lalu Li Anlan membawanya ke sebuah rumah tua berisi anak-anak terlantar, dan menyuruhnya untuk bertanggung jawab atas kehidupan anak-anak itu. Jika Li Anlan memang orang bodoh, dia tidak akan memiliki kepedulian dan pasti memilih untuk menutup mata dan telinganya.
Long Ji Man juga selalu penasaran, dari mana Li Anlan mendapatkan barang-barang aneh yang tidak bisa ditemukan di wilayah manapun di Kerajaan Dongling ini. Benda-benda aneh itu pasti bukan benda-benda biasa. Apalagi, ponsel milik Li Anlan bisa melukis wajah seseorang sama persis, lengkap dengan warna dan bentuknya dalam waktu sekejap mata. Lalu, ransel dan benda-benda dengan bentuk aneh lainnya.
“Tianshi!”
“Hamba, Yang Mulia.”
“Selidiki seluruh latar belakang Li Anlan!”
“Yang Mulia, kau mencurigainya?”
“Aku hanya berjaga-jaga.”
Long Ji Man sebenarnya tidak ingin berburuk sangka. Tetapi, sebagai seorang raja yang dituntut untuk selalu waspada, Long Ji Man tidak bisa selamanya menutup mata. Jika orang misterius seperti Li Anlan ternyata memiliki niat jahat, maka akan sangat berbahaya. Long Ji Man khawatir jika Li Anlan selama ini hanya bersembunyi, dan sewaktu-waktu menunjukkan wajah asli.
“Perlukah aku memata-matainya lagi?”
“Tidak. Selidiki saja latar belakangnya!”
Saat Wang Tianshi melompat pergi lewat jendela, dan Long Ji Man hendak memikirkan kembali segala kemungkinan yang terjadi, Li Anlan tiba-tiba masuk ke dalam Istana Hongwu dengan terburu-buru.
Setelah mendobrak pintu dengan kakinya, Li Anlan berteriak memanggil Long Ji Man dengan suara keras hingga terdengar beberapa meter ke luar Istana Hongwu. Si Pemilik Istana Hongwu mengembalikkan ekspresinya menjadi datar dan dingin layaknya es batu seperti biasanya.
Saat wanita itu berada pada ranah sepuluh meter darinya, Long Ji Man buru-buru mengambil sebuah dokumen, berpura-pura membaca laporan.
“Yang Mulia, kembalikan ponselku!” seru Li Anlan sambil menjulurkan tangannya, seperti seorang anak kecil yang meminta permen pada temannya.
“Tidak.”
“Yang Mulia, aku sudah mati kebosanan!”
“Kulihat kau masih bernapas.”
“Yang Mulia, kau tidak percaya kalau aku akan mati?”
“Kurasa keberanianmu belum sampai pada tahap bunuh diri.”
“Daripada marah-marah, lebih baik kau siapkan air hangat untukku.”
“Tidak.”
“Ingat, kau masih pelayanku!”
“Aku tidak peduli.”
“Aku yakin tekanan darahmu tinggi.”
“Masa bodo!”
“Sungguh tidak ingin melayaniku?”
“Tidak.”
“Kalau begitu silakan pergi.”
Long Ji Man menahan tangan Li Anlan yang hendak mengambil pembatas buku yang hendak dilemparkan wanita itu. Wajahnya yang datar beradu ekspresi dengan wajah kesal Li Anlan. Pipi wanita itu sudah mulai memerah dan tatapannya berubah seperti tatapan iblis yang kejam.
“Jangan merusak barang-barangku!” seru Long Ji Man.
Tangan Li Anlan ditarik paksa oleh pemiliknya. Long Ji Man kembali melanjutkan aktivitas berpura-pura membaca dokumen. Sudut matanya menangkap setiap pergerakan Li Anlan. Wanita itu berjalan ke sebuah pojok, lalu mengambil dua buah benda yang sangat mahal dan berharga.
“Karena kau tidak mau mengembalikan ponselku, maka busur ini akan menjadi jaminanmu!”
“Letakkan kembali di tempatnya!”
“Tidak. Kembalikan dulu ponsel atau kameraku!”
“Tidak.”
“Yang Mulia, kau tidak menjualnya ke tukang rongsokan kan?”
“Kau pikir aku ini apa?”
Wanita itu langsung keluar sambil memeluk busur dan anak panah kesayangan Long Ji Man. Wanita tidak terduga itu merampas benda kesayangannya. Mulutnya tidak berhenti melontarkan sumpah serapah yang ditujukan untuk Long Ji Man. Umpatan kasar terlontar seperti sebuah bola yang ditendang ke gawang. Samar-samar, Long Ji Man dapat mendengar kalau Li Anlan menyebutnya: Wajah es, pria menyebalkan, raja serakah, pelanggar janji, bahkan menyebutnya si wajah batu.
Wajah batu?
Long Ji Man menatap cermin. Dia memperhatikan dengan jelas seluruh pahatan wajahnya yang tampan dan mulus. Tangannya meraba-raba kulit wajah itu, merasakan apakah ada sesuatu yang aneh atau tidak. Semuanya baik-baik saja. Long Ji Man tidak buruk rupa. Dia adalah raja tertampan dalam dinasti ini.
“Apa wajahku sekaku itu?”
Pria itu kembali ke tempat duduknya. Berbicara soal busur dan panah yang dirampas Li Anlan, Long Ji Man tiba-tiba teringat pada surat cuka apel yang diserahkan oleh wanita itu tempo hari. Mata-mata di istana ini belum ia selidiki. Long Ji Man terlalu sibuk mengurusi urusan pengadilan dan mengurusi Li Anlan hingga ia lupa bahwa masih ada mata-mata yang mengawasi pergerakannya selama ini.
Dia juga teringat akan penyerangan malam hari saat dirinya dalam penyamaran menjadi kasim. Bisa jadi, dalang di balik semua insiden ini adalah orang yang sama. Mata-mata itu sepertinya hanya memiliki satu tuan. Baiklah, biarkan mata-mata itu bermain-main terlebih dahulu di istana milik Long Ji Man. Biarkan dia puas sebelum Long Ji Man melahapnya hingga habis.
...***...