
Dua hari kemudian, Istana Hongwu dibuat sibuk pagi-pagi karena kejadian luar biasa yang terjadi di kediaman pribadi raja tersebut. Saat Long Ji Man membuka mata, dia menyadari bahwa orang yang berbaring di sampingnya sejak beberapa hari lalu sudah tidak ada di tempatnya.
Long Ji Man sempat panik. Tetapi, dia kemudian menyadari bahwa jika orang itu tidak ada di sampingnya, itu artinya orang tersebut sudah sadar dan sudah bangun lebih dulu.
"Yang Mulia, kau sudah sadar?"
Sebuah suara bernada tanda tanya mengalihkan atensi Long Ji Man. Saat ia menoleh ke asal suara, dia melihat seorang wanita yang selalu dirindukannya baru datang dari arah belakang sambil membawa setumpuk pakaian. Warna-warna pakaian itu sangat familiar.
"Mengapa tidak ada satupun yang pas? Yang Mulia, apa tubuhmu memang sebesar dan selebar ini?"
Long Ji Man seketika bangkit dari tempat tidurnya. Hanya dengan memakai baju dalam berwarna emas dari satin, dia melompat turun dan langsung memeluk Li Anlan dengan erat. Dia sangat bahagia karena istri tercintanya kembali membuka mata.
"Huang An, kau sudah sadar!"
"Yang Mulia, bisa kau lepaskan dulu pelukanmu? Aku sesak," pinta Li Anlan.
"Tidak, aku tidak ingin kau pergi lagi."
"Siapa yang akan pergi? Yang Mulia, jika kau terus menerus memelukku, aku benar-benar akan mati."
"Ah, ya, maaf."
Dia melepaskan pelukannya. Li Anlan baru bisa bernapas dengan bebas. Long Ji Man membawanya duduk di kursi. Keduanya berhadapan, layaknya suami istri yang saling menyapa di pagi hari.
"Huang An, kau tahu betapa khawatirnya aku saat kau tidak sadarkan diri?"
"Aku tahu."
"Ke mana kau pergi kali ini?"
Li Anlan tahu bahwa kata 'pergi' merujuk pada perjalanan jiwanya yang melayang entah ke mana. Dulu, saat dia tenggelam, dia kembali ke masa depan. Kemudian, dia kembali lagi ke dunia ini.
"Pak tua itu menyuruhku kembali. Jadi, aku kembali saja."
"Pak tua?"
"Ya. Orang tua yang datang ke mimpiku. Ah sudahlah, itu tidak penting."
"Huang An, apa kau ketakutan?"
"Aku? Takut? Hal apa yang harus kutakuti?"
"Aku pikir kau begitu terkejut hingga kau pergi dan tidak kembali."
"Sejak kapan Yang Muliaku punya prasangka seperti ini pada Permaisuri Bangsawannya?"
"Aku hanya takut."
Li Anlan menatap penuh arti kepada Long Ji Man. Mata kejoranya berpendar seperti cahaya bintang timur di pagi hari. Hatinya kembali menghangat mengetahui betapa khawatirnya pria di depannya ini. Dia sudah pernah pergi sekali dan pria ini hampir saja gila. Jika dia tidak kembali, Long Ji Man mungkin akan benar-benar gila.
Pertarungan tempo hari memang mengguncang jiwanya. Dia memang terkejut karena seumur hidupnya, dia menyaksikan puluhan orang bertarung seperti binatang yang memperebutkan wilayah kekuasaan di depannya. Tapi, seperti yang pernah ia alami sebelum ini, dia harus terbiasa karena beginilah kehidupan di negeri kuno yang tidak tercatat dalam sejarah.
Li Anlan menangkup wajah Long Ji Man dengan kedua tangannya. Dia menatap dalam manik mata cokelat yang selalu menatap tajam seperti elang dengan saksama. Tatapan itu sangat lembut dan terasa sangat menyentuh.
"Yang Mulia, bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak punya tempat untuk pergi lagi? Ke mana aku bisa pergi saat aku tidak punya tempat tujuan selain tempatmu?"
Seulas senyum manis tersungging di bibir merah muda itu.
"Bagaimana dengan Han Jinxi dan Long Ji Yu?"
"Mereka sudah dihukum. Paman akan dihukum mati di penghujung musim gugur. Hari ini hari keberangkatan para pesakitan yang dihukum menjadi budak dan rakyat jelata ke pulau buangan."
"Mereka sudah menerima hukuman atas perbuatan mereka. Apa yang mereka tanam, itulah yang mereka tuai. Tuhan tidak akan salah menghukum orang. Tapi Yang Mulia, mengapa wajahmu terlihat tidak tenang?"
Sebelum menjawab, Long Ji Man menghela napas panjang.
"Para pejabat dan Ibunda mendesak untuk mengangkat Permaisuri baru," ucap Long Ji Man sambil mengeluh.
"Di saat seperti ini?"
"Em."
"Wah, mereka benar-benar bergerak cepat. Apa mereka belum tahu kalau luka lama belum kering?"
"Bagaimana jika kau saja yang jadi Permaisuri?"
Apa? Menjadi Permaisuri Utama? Dia? Li Anlan tidak habis pikir. Dengan menjadi Permaisuri, artinya dia akan berurusan dengan banyak wanita istana yang mulutnya sangat berbisa dan licin seperti ular. Li Anlan membenci wanita istana yang lembut di luar tetapi dalamnya sangat kusut.
Long Ji Man tahu kalau wanita ini pasti akan menolaknya mentah-mentah. Karena itulah, dia sudah menyiapkan rencana agar wanita yang dicintainya itu mau menerima posisi Permaisuri dengan senang hati.
"Kau adalah wanita yang aku cintai. Tidak ada kandidat yang lebih cocok dibandingkan kamu. Huang An, aku akan menuruti keinginanmu selama kau mau menjadi Permaisuri Utamaku."
Li Anlan memicingkan mata. Dia tampak menimbang-nimbang. Dia tidak mungkin kembali ke dunia modern. Dia akan hidup di sini sampai akhir hayat. Posisi Permaisuri Bangsawan sudah sangat cocok untuknya. Tetapi, melihat kesungguhan hati dan raut memohon suaminya, dia tidak tega.
Li Anlan sudah melalui kesulitan hidup yang banyak di sini. Dia sudah mengalami situasi hidup dan mati berkali-kali bersama pria ini. Pria ini adalah pria pertama yang membuat hatinya tergetar dan bisa membuatnya mengambil keputusan dengan mengorbankan dunia asalnya. Jika ini bukan takdir, Li Anlan tidak mungkin kembali dan dunia yang dia tinggali pasti hanyalah mimpi.
Jadi, apa yang harus dia ragukan lagi? Apa yang membuatnya begitu sulit mengatakan isi hati?
"Kau tidak harus turun dari posisi Permaisuri Bangsawan. Gelar itu istimewa, maka pemberlakuannya juga istimewa. Huang An, kau tetap bisa menjadi Permaisuri Bangsawan sekaligus menjadi Permaisuri utamaku."
Perkataan Long Ji Man membuat Li Anlan mendesah. Jika memang perannya semudah itu, dia akan menerimanya. Tetapi, dia memiliki ketakutan lain. Dia takut dirinya harus berhadapan dengan banyak wanita.
"Yang Mulia, bolehkah aku bertanya?"
"Katakanlah."
"Bisakah kau menceraikan semua selirmu, dan menjadikanku satu-satunya?" tanya Li Anlan dalam mode serius.
"Aku bisa," jawab Long Ji Man dengan yakin.
"Jika aku menjadi Permaisuri, apakah kau tidak akan menikah lagi?"
"Aku tidak akan menikah lagi. Huang An, hanya kau satu-satunya."
"Bagaimana jika ada pernikahan untuk perdamaian?"
"Ada banyak cara menciptakan perdamaian tanpa harus melalui pernikahan."
"Benarkah? Bagaimana jika tetap tidak bisa?"
"Aku yakin kau akan membantuku."
Jawaban yang diutarakan Long Ji Man begitu mantap dan yakin. Tidak ada sedikitpun keraguan dalam nada bicaranya. Li Anlan tahu bahwa pria itu bersungguh-sungguh. Dia sangat tahu hati Long Ji Man.
"Baiklah. Aku ingin membuat MoU."
"Apa itu?"
"Semacam perjanjian. Yang Mulia, jawaban dari pertanyaanku tadi adalah syarat mutlak yang harus kau penuhi jika kau ingin aku menyetujui pengangkatan Permaisuri. Selain itu, masih ada syarat lain yang harus kau penuhi."
Li Anlan kemudian memberitahu suaminya syarat-syarat lain yang harus dipenuhi. Selain tidak boleh menikah lagi, Long Ji Man dilarang melirik wanita manapun. Li Anlan tidak mau menjadi istri dari seorang pria yang hatinya bercabang pada wanita lain.
Long Ji Man juga harus membayarkan gajinya tepat waktu. Hal-hal lain yang belum diutarakan olehnya akan dikatakan ketika wanita itu ingat. Intinya, Long Ji Man akan memenuhi semua keinginan Li Anlan.
Ada satu hal yang sangat unik dari semua persyaratan yang disebutkan Li Anlan. Sebelum pengangkatan, dia ingin Long Ji Man menikahinya secara resmi. Selain untuk mengesahkan status pernikahannya, dia ingin merasakan momen berharga yang hanya berlangsung sekali seumur hidup. Dia datang sebagai selir, ikatan pernikahannya tidak kuat. Li Anlan ingin merasakan sebuah pernikahan yang sakral.
Li Anlan tidak meminta pernikahan yang mewah. Dia hanya ingin sebuah pernikahan sederhana yang khidmat dan sakral. Biarlah dikatakan bahwa dia seorang calon permaisuri raja yang tidak tahu adat istana. Baginya, pernikahan mewah hanya membuang waktu, uang, dan tenaga. Jika esensinya sama, mengapa tidak melakukan yang sederhana saja?
"Huang An, kau sebenarnya jatuh cinta padaku juga kan?" tanya Long Ji Man dengan kilat mata jahil.
"Siapa bilang?"
"Benarkah? Lalu mengapa wajahmu mengatakan hal sebaliknya?"
"Memangnya ada apa dengan wajahku?"
"Di wajahmu tertulis dengan jelas: Long Ji Man Raja Tampan kesayanganku."
"Yang Mulia, jika kau menggodaku lagi, aku akan membatalkan perjanjian kita."
"Baiklah, aku hanya bercanda. Huang An, meskipun kau tidak mengatakannya, aku yakin di hatimu jelas ada aku."
Li Anlan tidak menjawab. Dia lebih memilih memalingkan wajah ke samping, menyembunyikan semu merah yang muncul di pipinya. Semu itu bahkan sampai ke telinganya. Long Ji Man menggodanya secara terang-terangan, siapa yang bisa tahan!
Hari itu juga, pada saat matahari setinggi bambu, Long Ji Man mengumumkan bahwa Permaisuri Bangsawan akan diangkat menjadi Permaisuri Utama sekaligus Ratu Kerajaan Dongling yang pertama tanpa mencabut status Permaisuri Bangsawannya. Berita tersebut langsung tersebar ke seluruh penjuru Kerajaan Dongling dengan cepat.
Para pejabat tidak lagi mendebat atau menentang. Mereka secara sadar mendukung penuh penobatan Li Anlan sebagai Permaisuri Utama dan Ratu Kerajaan Dongling. Mereka menyadari peran besar dan jasa Li Anlan dalam menangkap pengkhianat Long Ji Yu dan Han Jinxi, menstabilkan pemerintahan dan meloloskan kader-kader pejabat pilihan lewat Ujian Akademi Kerajaan.
Sekarang, pandangan mereka benar-benar terbuka. Hati mereka sudah tidak sesempit dulu. Kini mereka tidak sabar menanti penobatan Permaisuri baru dan pengangkatan Ratu Kerajaan Dongling pertama.
...***...