The Little Consort

The Little Consort
Eps. 37: Berkunjung ke Akademi Kerajaan


Li Anlan tidak bisa terus diam tanpa melakukan sesuatu. Jika dia terus berdiam diri, maka lambat laun dia akan kehilangan jati dirinya sebagai manusia modern yang tersesat ke zaman kuno. Untuk itulah, dia melakukan segala cara agar dia tidak melupakan asal-usulnya, bahwa dia adalah seorang wanita modern pecinta kebebasan yang tidak sengaja menjelajah waktu.


Menjadi seorang selir terbuang yang barang-barang kesayangannya dirampas oleh raja merupakan sebuah takdir yang buruk untuk Li Anlan. Tidak ada takdir yang lebih nahas dari ini. Li Anlan harus memikirkan sesuatu agar barang-barang modernnya bisa kembali. Tapi, itu pasti sebuah hal yang sulit mengingat lawan yang ia hadapi adalah raja, suami sekaligus pemimpin negeri Dongling yang kuat.


Li Anlan menggali kembali harta yang ia kubur di bawah pohon persik di halaman Istana Xingyue. Dia berencana menyelinap keluar istana lagi, menemui kakaknya dan menanyakan perkembangan bisnisnya yang beberapa waktu lalu ditinggalkan akibat kedatangan Long Ji Man yang tiba-tiba. Untung saja, gedung itu ditulis atas nama Li Afan, bukan atas namanya sendiri. Jika sampai Long Ji Man tahu gedung itu miliknya, maka habislah dia.


Harta yang dikubur Li Anlan masih utuh. Jumlahnya masih sama dengan sebelumnya. Itu berarti tidak ada orang yang tahu mengenai keberadaannya. Bagus, dengan begitu, Li Anlan tidak perlu khawatir seseorang merampoknya. Wanita itu mengambil kotak harta yang dipenuhi tanah, lalu membawanya ke dalam Istana Xingyue untuk dibersihkan dan digabungkan dengan yang lainnya.


Xie Roulan baru saja kembali dari dapur kerajaan saat Li Anlan mulai membersihkan uangnya. Gadis pelayan itu terkejut melihat tangan majikannya berlumur tanah dan noda. Dia segera menghampirinya, lalu ikut membantu Li Anlan membersihkan emas-emasnya yang terkena kotoran tanah.


“Apa kakakku mengirimkan surat?”


“Tidak ada, Nyonya.”


Li Anlan sedikit kecewa. Apakah Li Afan melupakannya? Atau pria cantik itu justru sedang sibuk mengelola bisnis keluarga hingga tidak punya waktu untuk mengunjunginya seperti sebelumnya? Ah, Li Anlan tidak mau berpikir negatif. Mungkin, Li Afan memang benar-benar sedang sibuk.


“Oh ya, Kasim Bi menitipkan pesan dari Yang Mulia,” seloroh Xie Roulan sambil menyodorkan sebuah amplop bermotif naga dan berstempel merah.


Li Anlan hendak melemparkannya ke tempat sampah karena ia tahu surat itu pasti berasal dari Istana Hongwu. Namun, Xie Roulan mencegahnya dengan mengatakan bahwa isi surat tersebut sangat penting, menyangkut hidup dan mati Li Anlan di istana ini. Mendengar kata hidup dan mati, Li Anlan jadi mengurungkan niatnya. Long Ji Man biasanya tidak main-main dengan ancamannya.


Surat itu lalu ia baca. Sejenak kemudian, Li Anlan menghela napas lelah. Apanya yang penting? Surat tersebut isinya hanya pemberitahuan bahwa Li Anlan harus datang ke Istana Hongwu hari ini juga, dengan membawa pakaian ganti yang tidak terlalu sederhana dan tidak terlalu mewah. Dalam surat juga disebutkan bahwa Li Anlan harus datang seorang diri, tidak boleh membawa pelayan pribadinya.


“Carikan aku pakaian yang sesuai dengan ketentuan di surat ini!” perintah Li Anlan pada Xie Roulan.


“Baik, Nyonya.”


Saat Xie Roulan menyerahkan pakaian yang dimaksud, Li Anlan langsung bergegas pergi ke Istana Hongwu. Kaki kecilnya yang lincah menapaki bebatuan yang menjadi pijakan di sepanjang jalan dari taman Danau Houchi menuju Istana Hongwu yang megah dan berkilau. Di depan pintu gerbang istana itu, beberapa penjaga menunduk memberi hormat padanya.


“Nyonya, silakan. Yang Mulia sudah menunggumu di dalam,” sambut Xiao Biqi sambil membukakan pintu utama bangunan Istana Hongwu.


Long Ji Man tampak sedang duduk sambil menyantap makanan. Di mejanya, beberapa makanan mewah tersaji, masih hangat hingga aromanya menusuk hidung Li Anlan. Wanita itu berdiri di samping Long Ji Man, menatap makanan enak yang membuat air liurnya menetes. Tanpa disuruh, Li Anlan langsung duduk di kursi yang terletak di depan Long Ji Man, dan mulai menyantap makanan di meja dengan lahap. Long Ji Man hanya melongo melihat tingkah laku selirnya yang masih kurang ajar. Anehnya, dia tidak merasa kesal atau marah sedikitpun. Jika yang duduk di hadapannya adalah orang lain, Long Ji Man sudah pasti marah dan mengusirnya.


“Cepat ganti bajumu! Ikut aku ke Akademi Kerajaan!”


Li Anlan hampir saja tersedak karena terkejut.


“Akademi Kerajaan?”


Long Ji Man mengangguk.


“Cepatlah!”


Li Anlan segera menyelesaikan makan pagi mendadaknya. Setelah itu, dia segera berganti baju dengan pakaian yang ia bawa dari Istana Xingyue. Jadi, inilah alasan mengapa Long Ji Man menyuruhnya membawa baju ganti, karena pria itu hendak melakukan kunjungan pribadi ke Akademi Kerajaan hari ini. Tapi, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Long Ji Man mengajaknya? Bukankah lebih baik jika pria itu mengajak Xu Lingshu atau Ibu Suri Han Yuemei? Mengapa harus dirinya?


Ah, mungkin Long Ji Man sedang berbaik hati. Ini adalah kesempatan bagus. Li Anlan bisa menikmati waktu di luar istana secara legal dan tidak sembunyi-sembunyi, tidak seperti sebelumnya. Melakukan kunjungan ke Akademi Kerajaan juga sepertinya bukan hal yang buruk. Kebetulan, Li Anlan juga ingin mengetahui seperti apa potret pendidikan di zaman kuno ini.


Li Anlan dan Long Ji Man naik kereta kuda mewah yang khusus digunakan oleh raja. Di belakang kereta itu, ada beberapa orang berpakaian khusus dan berkuda mengikuti, sepertinya pasukan pengawal kerajaan. Di depan kereta juga ada dua orang berpakaian khusus yang sedikit berbeda dari pasukan di belakang. Sepertinya mereka juga pengawal kerajaan, hanya saja mungkin pangkatnya lebih tinggi dari yang di belakang. Xiao Biqi duduk di pinggir kusir, sedangkan Wang Tianshi berada di pinggir kereta, menunggang seekor kuda yang posturnya lebih tinggi dan lebih gagah dari kuda-kuda yang lain.


“Yang Mulia, istrimu yang lain tidak ada yang mengetahui ini kan?” tanya Li Anlan.


“Tenanglah. Aku tidak seribut itu.”


Li Anlan hanya khawatir kalau kepergiannya bersama raja ke Akademi Kerajaan diketahui oleh selir lain. Li Anlan tidak bisa membayangkan betapa marah dan kesalnya mereka jika tahu raja yang selama ini mereka kejar justru bepergian bersama selir terbuang yang bahkan tidak pernah bertemu dengannya selama dua tahun sejak memasuki istana. Para selir kurang kasih sayang itu akan terus menerus mencari masalah dengan Li Anlan tanpa henti.


Li Anlan sebenarnya penasaran mengapa Long Ji Man bertingkah seperti ini. Namun, Li Anlan memilih untuk tidak menanyakan alasannya. Terlalu banyak bicara dan terlalu banyak bertanya terkadang bukanlah sesuatu yang baik. Li Anlan harus belajar menahan diri. Mungkin, Long Ji Man mempunyai alasan lain yang tidak bisa dikatakan kepadanya atau kepada siapapun.


Sekitar hitungan satu jam dalam waktu modern, parade pengantar raja sampai di depan gerbang Akademi Kerajaan. Long Ji Man dan Li Anlan langsung disambut oleh Wakil Kepala Akademi Kerajaan dan Sekretaris Akademi Kerajaan. Dua-duanya laki-laki, umurnya mungkin sepuluh tahun lebih tua dari Long Ji Man.


“Yang Mulia, siapa wanita ini?” tanya Wakil Kepala Akademi Kerajaan.


“Dia pelayanku.”


“Kau ingin aku mengungkapkan identitasmu sebagai salah satu selirku?”


“Tapi, tidak dengan pelayan juga kan?”


“Kau ingin hidup damaimu berakhir? Mereka kerabat dekat istri-istriku.”


Long Ji Man dan Li Anlan dibawa masuk ke dalam Akademi Kerajaan. Akademi Kerajaan ini terdiri dari beberapa bangunan besar dengan berbagai ukuran. Saat Li Anlan masuk, dia melihat beberapa siswa berumuran lima belas tahun sedang belajar di bawah pohon persik bersama seorang guru. Tangan mereka memegang alat musik. Mungkin, ini adalah kelas seni.


Li Anlan juga melihat beberapa siswa berumur delapan belas tahunan sedang bermain catur di depan sebuah bangunan yang besar. Mereka terlihat lebih santai dari siswa yang dilihat Li Anlan sebelum ini. Mungkin, sedang dalam jam istirahat atau sedang jam kosong.


Wakil Kepala Akademi dan Sekretaris Akademi membawa Long Ji Man dan Li Anlan ke sebuah ruangan kelas yang dipenuhi anak kecil. Suasana di dalam kelas itu sangat ribut hingga seorang guru yang sedang mengajar di depan pun terlihat lelah dan pasrah. Wakil Kepala dan Sekretaris Akademi mengumumkan kedatangan Long Ji Man, dan kelas seketika menjadi hening.


“Ayo beri hormat pada Yang Mulia Raja!” seru Sekretaris Akademi Kerajaan. Semua siswa menunduk memberi hormat. Namun, ada satu siswa yang tidak menunduk, yang berdiri di paling pojok.


“Bukankah itu si bocah ingusan yang kurang ajar?” gumam Li Anlan. Sayangnya, gumaman kecilnya terdengar oleh Long Ji Man.


“Kau pernah bertemu dengannya?”


Li Anlan mengangguk.


“Beberapa waktu lalu dia menyebutku seekor kera.”


Li Anlan berjalan menghampiri bocah itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Pangeran Ding, Long Ji Mu. Rupanya, anak ini memang sudah masuk ke Akademi Kerajaan. Pantas saja dia tidak mau memberi hormat, karena yang datang adalah kakaknya sendiri.


“Hei, bocah, kau masih mengenaliku kan?” tanya Li Anlan.


“Oh, kakak ipar,” jawab Long Ji Mu singkat.


Melihat interaksi antara Li Anlan dengan Pangeran Ding, Wakil Kepala Akademi Kerajaan menjadi penasaran. Dia mendekat ke arah Long Ji Man, lalu berbisik,


“Yang Mulia, pelayan itu…”


“Tidak apa-apa.”


Long Ji Man mengisyaratkan agar Wakil Kepala Akademi dan Sekretaris Akademi diam. Dia ingin melihat apa yang akan dilakukan Li Anlan pada bocah keras kepala itu.


“Guru Akademi, mengapa tadi ribut sekali?” tanya Li Anlan pada seorang guru yang tadi tampak kelelahan.


Orang itu belum menjawab. Dia memandang sekilas ke arah Li Anlan, lalu beralih pada raja dan atasannya. Setelah mendapat persetujuan berupa anggukan kepala, orang itu barulah berani menjawab,


“Anak-anak ini tidak mau belajar sastra.”


“Sastra?”


Orang itu mengangguk. Pantas saja anak-anak ini ribut. Pelajaran yang diberikan tentu saja tidak sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan serta pertumbuhan mereka. Sastra? Yang benar saja! Di dunia modern, anak berumur tujuh tahun itu baru diajari menulis dan membaca, bukan belajar sastra! Tidak heran jika anak-anak ini ribut dan tidak mau belajar.


Mengubah sistem pembelajaran di zaman kuno pasti bukan perkara yang mudah. Orang-orang ini didominasi oleh pemikiran yang kolot dan tertutup. Mereka masih berpegang teguh pada tradisi. Li Anlan harus mencari cara agar anak-anak ini mau belajar tanpa harus ribut-ribut atau menghilangkan atau mengubah tradisi pembelajaran di sini. Otaknya berputar.


Meskipun dia bukan mahasiswa pendidikan, tapi karena teman-temannya sangat heterogen dan berasal dari berbagai latar belakang disiplin ilmu yang berbeda, maka Li Anlan sedikit banyak tahu tentang pendidikan. Dia punya beberapa teman yang menjadi asisten dosen pendidikan dan peneliti serta pemerhati pendidikan.


Jalan satu-satunya adalah mencari alternatif lain yang membuat anak-anak ini senang dengan pembelajaran sastra namun melalui cara yang sederhana dan menyenangkan. Jika sastra diajarkan secara langsung bersama teorinya, pasti akan sangan memusingkan. Apalagi, umur mereka baru berkisar tujuh sampai delapan tahun. Anak-anak seusia mereka seharusnya bermain dan menghabiskan waktu dengan teman-teman sebayanya.


“Yang Mulia, kau percaya padaku?” tanya Li Anlan, dengan wajah serius.


“Ya. Aku percaya padamu.”


...***...


^^^Halo, para pembaca kesayangan Author! Ada yang tahu nggak, apa yang bakal dilakuin Li Anlan sama anak-anak nakal itu? Kalau ada yang tahu atau mau berpendapat, komen di bawah ya! Jangan lupa juga, kirimkan kritik dan saran buat Author! Stay tune terus ya, sampai jumpa di episode berikutnya! ^^^