
Permaisuri Jin, atas perbuatan jahatnya, dicabut gelar dan status permaisurinya. Dia secara langsung diceraikan oleh raja dan sekarang resmi menjadi janda sekaligus tahanan istana. Selama dua minggu penyelidikan, diketahui bahwa Permaisuri Jin telah membeli racun secara illegal dari luar istana. Racun tersebut dia berikan diam-diam kepada lima selir yang dieksekusi sebulan lalu karena telah meracuni apel Permaisuri Bangsawan.
Kejahatannya yang lain juga satu persatu terungkap. Lebih dulu diketahui bahwa dia mengutus beberapa pembunuh untuk menghabisi Li Anlan saat wanita itu masih menjadi selir terbuang. Motifnya adalah karena Li Anlan sudah menarik perhatian Yang Mulia Raja, yang kemudian belakangan diketahui bahwa alasan sebenarnya ialah karena Li Anlan menolong Yang Mulia Raja dan mengobati luka-lukanya saat terjadi serangan di taman Danau Houchi. Itu berarti, Han Jinxi tidak hanya menyerang Li Anlan, tetapi juga mencoba membunuh raja secara terang-terangan.
Kemudian, percobaan pembunuhan saat Li Anlan dan Long Ji Man kembali dari perjalanan setelah meresmikan panti asuhan juga ulahnya. Targetnya lagi-lagi Li Anlan. Han Jinxi saat itu mulai merasakan bahwa Li Anlan yang terbuang mulai terikat dengan raja. Itu tentu saja dianggap sebagai ancaman. Rupanya, sejak Li Anlan datang ke istana sebagai selir dua tahun lalu, Han Jinxi selalu mengawasinya secara diam-diam lewat mata-mata yang dikirimkannya.
Selain itu, diketahui juga bahwa surat cuka apel yang Li Anlan dapatkan dari seekor burung merpati yang tidak sengaja dia panah juga berasal dari istana Han Jinxi. Hal tersebut terbukti dengan ditemukannya berbagai barang terkait di dalam istana Han Jinxi yang digeledah Biro Keadilan Istana beberapa waktu yang lalu.
Kejahatannya yang sangat berat ini tentu tidak akan mendapat pengampunan. Kabar mengenai semua perbuatannya tersiar begitu cepat ke seluruh penjuru Kerajaan Dongling. Banyak rakyat yang berdemo agar Han Jinxi si mantan Permaisuri Utama dihukum mati di pertengahan musim gugur. Para pejabat yang semula berpihak padanya juga mulai berbalik dan memalingkan wajah, berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Han Jinxi sudah mengecewakan Ibu Suri. Wanita itu mengkhianati kepercayaannya. Selama ini, Ibu Suri selalu menyayanginya, selalu memanjakannya dan selalu melindunginya. Karena selain sebagai menantu, Han Jinxi adalah sepupu jauhnya. Han Jinxi adalah keluarganya. Maka saat Ibu Suri Han Yuemei mengetahui bahwa pelaku pembunuhan Permaisuri Bangsawan adalah Permaisuri Jin, dia sangat terkejut. Ibu Suri Han Yuemei bahkan sempat tak sadarkan diri.
Untung saja Long Ji Man bisa menenangkannya. Ibu Suri Han Yuemei sedikit pun tidak pernah menyangka jika menantu sekaligus sepupu jauhnya adalah orang yang bermuka dua. Selama ini dia dibutakan oleh kelembutan dan keanggunan Han Jinxi yang membuat wanita itu tampak seperti wanita mulia.
Li Anlan memaksa Long Ji Man untuk membawanya ke ruang tahanan Biro Keadilan Istana, karena Han Jinxi sudah dipindahkan dari Istana Harem ke penjara. Kini, penjagaannya tidak hanya dijaga oleh prajurit penjara, tetapi juga prajurit rahasia raja. Li Anlan ingin melihat seperti apa tampilan orang yang sudah membunuhnya dan hampir membunuh Yang Mulia Raja setelah menginjak lantai penjara.
Seorang wanita berbaju tahanan tampak sedang duduk santai di atas jerami yang menutupi lantai sel. Wajah dan kulit wanita itu sangat lusuh dan kusam. Rambut yang biasanya selalu rapi kini hanya diikat ala kadarnya saja. Sekilas, wanita yang biasa tampil mewah dan elegan itu tampak seperti gelandangan. Orang tidak akan tahu kalau sosok itu adalah mantan Permaisuri Utama Raja jika tidak melihat wajahnya dengan baik.
“Apa yang membuat orang mulia seperti Permaisuri Bangsawan datang jauh-jauh ke sel orang hina sepertiku?” tanya Han Jinxi setengah mencibir.
“Aku berbaik hati menjengukmu. Haish, air susu dibalas air tuba.”
Li Anlan berpikir bahwa wanita di hadapannya rumit. Sudah seperti ini, tetapi nada bicaranya tetap angkuh dan sombong. Tidak ada raut bersalah sedikitpun di wajah yang lusuh itu. Sosok Han Jinxi memang memiliki ketegaran yang kuat, tetapi cara yang digunakannya sangat salah.
“Huang An, sebaiknya kita pergi,” ajak Long Ji Man kepada Li Anlan.
“Tidak, Yang Mulia. Tidak mudah mendapat kesempatan untuk berbicara dengannya,” tolak Li Anlan dengan tegas. Wanita itu kemudian berjongkok, lalu meraih tangan Han Jinxi yang kotor dipenuhi debu.
“Han Jinxi, maukah kau bercerita apa yang membuatmu marah padaku?” pinta Li Anlan dengan lembut, berharap Han Jinxi mau mendengarkannya.
Han Jinxi menepis cengkraman tangan Li Anlan. Dia tertawa, namun suara tawanya terdengar sangat mengerikan. Seisi ruangan penjara berubah menjadi mencekam. Bulu kuduk Li Anlan merinding, tetapi tekad dan keberaniannya tidak surut. Dia harus mendapat informasi hari ini apapun caranya.
“Kau ingin tahu? Kau percaya pada kata-kata orang sepertiku?”
“Aku percaya.”
“Hahahaha. Permaisuri Bangsawan, kau sangat lucu! Mengapa kau tidak langsung membunuhku saja?”
“Kau pikir membunuh orang itu gampang? Kau pikir nyawa manusia itu mainan? Han Jinxi, kapan kau akan sadar?” tanya Li Anlan bertubi-tubi. Dia sudah sangat tidak sabar.
“Bukankah rajamu yang begitu menyayangimu sudah memberitahumu?”
Li Anlan menoleh sesaat pada Long Ji Man yang berwajah dingin.
“Aku ingin mendengar alasan lain dari mulutmu secara langsung.”
Han Jinxi menghela napas. Kedatangan Li Anlan ke penjara ini mengganggu harinya.
“Apa yang bisa diceritakan dari sesuatu yang bersumber dari masalah hati?” tanya Han Jinxi kemudian.
“Maksudmu?”
“Aku tidak pernah bermimpi menjadi permaisuri. Seumur hidup, aku hanya ingin menemani Long Ji Yan, sayang dia mati meninggalkanku seorang diri. Sepupu jauhku malah menikahkanku dengan putranya. Bagaimana bisa aku hidup dalam keadaan seperti itu? Li Anlan, kuberitahukan padamu satu hal. Aku tidak pernah mempunyai ambisi besar. Tetapi, melihat banyak wanita datang ke istana dan menjadi selir raja, siapa yang bisa tahan?”
“Kau menyukai Yang Mulia?”
“Aku hanya ingin mengamankan posisiku. Mereka wanita lemah, aku tidak pernah perhitungan dengan mereka. Tapi kau, Li Anlan, seorang yatim piatu dan selir terbuang malah datang kepada Yang Mulia!”
Han Jinxi menghela napas lagi. Ada rasa sakit yang menjalar dari ulu hatinya.
“Aku mungkin wanita yang bodoh. Aku bukan wanita bebas sepertimu. Awalnya aku baik-baik saja melihatmu bersama Yang Mulia. Tapi apa? Hatinya perlahan bergerak ke arahmu dan langkahnya selalu teratah ke tempatmu! Aku ini istri sah, mengapa dia sama sekali tidak pernah memandangku?”
Li Anlan terdiam sesaat. Jadi, wanita ini ketakutan posisinya dicuri hanya karena dia perlahan naik ke status yang lebih tinggi dan Yang Mulia Raja selalu berada di pihaknya? Secara tidak langsung, Han Jinxi cemburu kepadanya. Dia cemburu karena Li Anlan meraih posisi tinggi, dia cemburu karena Long Ji Man selalu berada di sisinya sepanjang waktu.
“Han Jinxi, kau bisa menyatakan perang terhadapku secara terang-terangan. Mengapa kau memilih jalan belakang yang sukar dan terjal?”
“Jalan mana yang kupilih, tidak perlu kau tentukan. Pergi!”
Ada satu hal yang masih mengganjal hati Li Anlan. Dia belum menemukan alasan mengapa Han Jinxi saat itu mengirim pembunuh untuk menyerang raja dan membuatnya terluka hingga Li Anlan harus menjahitnya.
Han Jinxi menatap tajam Li Anlan.
“Jangan pernah penasaran terhadap sesuatu yang bisa membunuhmu!”
Li Anlan semakin penasaran.
“Siapa orang di belakangmu?” tanya Li Anlan. Dia ingin memprovokasi Han Jinxi yang sedang dipenuhi kemarahan.
“Cukup!”
“Han Jinxi, siapa yang sudah menyuruhmu melakukannya?”
“Cukup! Pergi!”
Sebelum Han Jinxi mengamuk dan membuat kekacauan, Long Ji Man menarik tangan Li Anlan dan membawanya pergi. Sudah cukup, dia tidak ingin mendengar apapun lagi. Han Jinxi yang buta tidak akan pernah mau memberitahukan siapa dalang yang ada di belakangnya. Biarkan seperti itu, suatu saat waktu akan datang untuk mengungkapkan segalanya.
Long Ji Man membawa Li Anlan ke Istana Hongwu. Sekarang, istana itu sudah diperbaiki dan seluruh isinya sudah ditata kembali. Mahakarya Li Anlan yang luar biasa memerlukan waktu dua hari untuk dibereskan. Seluruh barang mahal yang pecah dibuang dan diganti dengan yang baru.
Li Anlan bersandar di meja kerja Long Ji Man. Menginterogasi Han Jinxi cukup menguras tenaga. Orang bilang mungkin dia gila karena menemui musuhnya dengan baik-baik. Persetan dengan perkataan orang, yang dia inginkan hanyalah kebenaran dari penuturan wanita itu. Sampai saat ini, belum diketahui siapa orang di balik Han Jinxi yang mengendalikannya.
“Li Huang An,” panggil Long Ji Man lembut.
“Ya?”
“Aku tidak akan mengizinkamu bertemu dengannya lagi.”
“Mengapa?”
“Dia sangat berbahaya. Kau mungkin bisa terluka.”
“Yang Mulia, kau sedang mengkhawatirkan aku?”
Long Ji Man tidak menjawab. Sungguh, dia sangat tidak nyaman saat berada di penjara Biro Keadilan Istana. Hatinya tidak tenang saat dia melihat Li Anlan berbicara dengan Han Jinxi.
“Kau sudah tahu jawabannya.”
“Uh, Yang Mulia, mengapa kau begitu posesif?” heran Li Anlan.
“Siapa yang kau maksud?”
“Siapa lagi kalau bukan bayi besar yang berdiri di hadapanku?”
“Kau bilang aku bayi besar? Li Huang An, kau ingin aku membuktikan kalau aku bukan bayi besar?”
Li Anlan menjulurkan lidahnya sambil menjulingkan matanya. Sosok Long Ji Man yang khawatir memang benar-benar lucu.
Long Ji Man melangkah maju hingga jarak antara dia dengan Li Anlan hanya beberapa sentimeter saja. Li Anlan langsung bersiaga. Alarm tanda bahaya dalam tubuhnya berbunyi dengan nyaring. Long Ji Man mencondongkan tubuhnya, sementara Li Anlan memundurkan tubuhnya. Sayang, dia lupa kalau di belakangnya adalah meja kerja Long Ji Man.
Long Ji Man meraih dagu Li Anlan dengan tangannya kemudian sedikit mengangkatnya. Matanya bertemu dengan mata seindah kejora yang bersinar walau di siang hari. Perlahan, wajahnya didekatkan pada wajah Li Anlan.
Cup.
Pria itu mengecup bibir Li Anlan dengan lembut. Singkat, tetapi begitu membekas. Hangat, sehangat matahari musim gugur. Li Anlan masih terpaku. Seluruh kesadarannya belum terkumpul. Wanita itu mengedipkan matanya berkali-kali, mencoba mengendalikan gejolak di dalam dadanya. Dia menatap mata Long Ji Man. Sesaat kemudian, Li Anlan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Posisinya beralih ke samping, sambil menatap Long Ji Man dengan waspada.
“Bagaimana? Apakah kau masih berani menyebutku bayi besar?” tanya Long Ji Man dengan wajah jahilnya.
“Kau! Ji Man, kau pria besar yang sangat nakal!”
Li Anlan berlari keluar dari Istana Hongwu sambil menutup mulut, meninggalkan Long Ji Man yang tertawa di belakangnya. Wajah Li Anlan memerah. Bisa-bisanya pria itu menciumnya di saat seperti ini! Malu, Li Anlan sangat malu!
Xiao Biqi yang melihat Permaisuri Bangsawan keluar dengan wajah merah sambil menutup mulut tersenyum kecil. Sepasang kekasih ini begitu menggemaskan. Dia menghela napas lega. Syukurlah, semuanya sudah berjalan ke arah yang lebih baik. Kemarin adalah hari-hari mencekam. Wajah raja suram, wajah Permaisuri Bangsawan juga kaku. Sekarang, keduanya sudah berinteraksi dan bertengkar seperti hari-hari biasa.
Long Ji Man menatap kepergian Li Anlan dengan senyuman. Wajah merah dan salah tingkahnya membuat hati pria itu menghangat. Li Anlan sudah membuat semua kerumitan di dalam hatinya menghilang meski hanya sesaat. Long Ji Man semakin jatuh cinta pada wanita eksentrik itu.
...***...