
Li Anlan menghitung hari-hari yang tersisa menuju perjamuan Ibu Suri Han Yuemei. Perjamuan penting itu hanya tinggal dua hari lagi. Li Anlan hanya punya waktu dua kali dua puluh empat jam untuk menyiapkan fisik dan mentalnya.
Dia sempat melupakan perjamuan itu karena terlalu sibuk berurusan dengan Long Ji Man. Waktunya habis digunakan dalam upaya perebutan kembali barang-barang berharga dan hak gajinya, karena Long Ji Man bukan hanya melanggar janji, tapi juga menindas Li Anlan secara pribadi.
Li Anlan tidak ingin tampil di depan publik. Dia tahu, jika dia muncul ke publik, maka suasana di istana harem akan semakin panas. Apalagi jika mereka tahu kalau Li Anlan terlibat banyak kontak dengan Long Ji Man.
Di halaman Istana Xingyue yang lengang, Li Anlan berayun di atas ayunan kain pengganti hammock sambil berpikir. Dia harus punya cara untuk melarikan diri, dan menghindari bertemu dengan Long Ji Man agar pria itu lupa pada perintahnya. Tapi, rasanya sungguh mustahil. Perkataan seorang raja itu seperti perkataan Dewa, yang harus dituruti.
"Apa aku harus meminta bantuan kakakku?" tanya Li Anlan pada dirinya sendiri. Xie Roulan yang duduk di samping, sambil mengipasi, hanya terdiam menyaksikan majikannya bermonolog dengan diri sendiri.
Setidaknya, jika dia meminta bantuan Li Afan, mungkin akan ada secercah harapan. Meskipun itu cara yang konyol sekalipun, asal Li Anlan bisa melarikan diri atau setidaknya tidak menarik perhatian banyak orang, maka dia tidak akan keberatan melalukannya.
Baru saja ia hendak menuliskan surat, Xiao Biqi tiba-tiba berteriak dari teras depan. Kasim muda pelayan raja itu mengatakan bahwa Long Ji Man meminta kehadiran Li Anlan di Istana Hongwu segera. Xiao Biqi juga mengatakan kalau Li Anlan harus datang dengan memakai pakaian yang sudah ia siapkan di depan pintu. Setelah menyampaikan pesan tanpa menunggu jawaban, kasim muda itu pergi.
Awalnya, Li Anlan tidak berniat menuruti perintah suaminya. Tapi, mengingat bahwa beberapa hari lalu dia membuat kesalahan dengan membunuh burung kesayangan raja, maka Li Anlan memutuskan untuk pergi meskipun setengah hati. Setidaknya, dia tidak boleh membuat pria itu marah kembali.
Lima belas menit kemudian, Li Anlan sudah sampai di Istana Hongwu. Pakaian yang dimaksud Xiao Biqi adalah pakaian pelayan yang setingkat dengan Xie Roulan. Apa ini? Apa Long Ji Man akan mengajaknya keluar istana? Jika tidak, tidak mungkin pria itu mengutus Xiao Biqi dan memintanya datang dalam penyamaran.
Long Ji Man juga sudah bersiap dengan pakaian bangsawan, seperti pakaian para tuan muda di keluarga-keluarga besar. Rambutnya diikat setengah, setengah lagi dibiarkan terurai. Ada sebuah gantungan giok hijau yang indah menggantung di sisi kiri ikat pinggangnya.
"Wah, Tuan Muda Long ternyata cukup tampan!" puji Li Anlan tanpa sadar. Ada guratan bersemu merah di kedua pipi Long Ji Man saat Li Anlan mengatakan itu, namun segera tersamarkan oleh ekspresi datar andalannya.
"Ayo. Jangan menunda waktu."
Long Ji Man membawa Li Anlan ke arah belakang Istana Hongwu. Di ujung lapangan panahan yang sebagian besar ditumbuhi pepohonan, terdapat sebuah pintu gerbang sederhana yang berdiri dengan kokoh. Saat gerbang itu terbuka, Wang Tianshi sudah bersiap dengan pakaian sederhana khas pelayan laki-laki. Tidak jauh dari saja, ada sebuah kereta kuda yang sama sederhananya, beserta seorang kusir.
"Yang Mulia, berhati-hatilah," pesan Xiao Biqi, sambil menutup kembali pintu gerbang.
"Yang Mulia, kasim kecil itu tidak ikut?"
"Tidak."
"Mengapa?"
"Tidak ada alasan khusus."
Kereta mulai berjalan meninggalkan gerbang belakang Istana Hongwu. Kali ini, raja pergi secara diam-diam dalam penyamaran. Pasti ada sesuatu yang penting yang hendak dilakukan. Sesuatu yang sangat penting hingga tidak boleh ada yang tahu.
Li Anlan menduga kalau Long Ji Man akan melakukan pertemuan rahasia dengan beberapa orang penting, seperti yang sering Li Anlan saksikan di drama kolosal dan web series. Orang-orang itu adalah orang-orang berkemampuan yang dididik raja atau kaisar secara rahasia, sebagai alat untuk berjaga-jaga jika suatu saat terjadi bahaya atau pengkhianatan yang mengancam takhta dan keselamatan raja.
Memikirkan hal ini, Li Anlan jadi tertarik. Apakah dia bisa berkontribusi dan ikut bergabung bersama mereka? Apakah dia juga bisa berjasa? Entahlah, jawabannya akan tertera saat mereka sampai di tempat tujuan nanti.
"Saat di luar, panggil aku Tuan Muda."
"Yang Mulia, mengapa aku harus tetap menjadi pelayanmu?"
"Karena aku ingin."
"Yang Mulia, kau tidak masuk akal."
"Kau lebih tidak masuk akal."
"Yang Mulia, kau tidak berencana menjadikanku pelayan seumur hidupku kan?"
"Sudah kubilang, pangil aku Tuan Muda."
"Cih... Mana ada Tuan Muda yang begitu menyebalkan seperti ini."
"Kau bilang apa?"
"Tidak ada."
Long Ji Man melebarkan kipas putihnya, lalu mengipasi dirinya sendiri. Dia seperti seorang pemuda yang sedang salah tingkah, dan berusaha menenangkan diri dengan mengipasi diri sendiri. Ya, siapapun tidak akan bisa menahan emosi saat berhadapan dengan wanita seperti Li Anlan. Bahkan jika Long Ji Man punya seribu nyawa pun, dia akan tetap mati berkali-kali karena stress dan emosi.
Kereta kuda membelah jalanan ibukota yang ramai oleh pedagang, muda-mudi, dan orang-orang yang sedang berbelanja dan bermain. Lampion-lampion menggantung di sana-sini dalam berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang berbentuk bulat, lonjong, berbentuk bunga teratai, ada juga yang berbentuk kelinci.
Ah, lampion dan musim semi adalah dua hal yang saling berkaitan. Lampion sebanyak itu pasti akan digunakan setiap malam di musim semi, untuk menerangi dan memperindah tata kota. Di malam hari, jalanan biasanya lebih ramai dari siang hari, karena berbagai pertunjukan dan atraksi seru akan menarik banyak perhatian orang.
"Mengapa wajahmu muram?" tanya Long Ji Man setelah melihat Li Anlan yang semula begitu riang berubah menjadi pendiam, seperti sedang terpikirkan sesuatu.
"Yang-Tuan Muda, bisakah kau sedikit memberiku waktu untuk berpikir?"
"Kau tidak ingin hadir di perjamuan Ibu Suri?"
Li Anlan pemain payah. Dia tidak pandai menyembunyikan emosi dan mengubah ekspresi. Wanita itu tidak pandai berakting. Pemikiran yang membuatnya gelisah bisa begitu mudah ditebak Long Ji Man. Kata 'perjamuan' benar-benar membuat Li Anlan tertekan.
Seolah tahu itu adalah jawaban wajah muram Li Anlan, Long Ji Man menghela napas. Keputusan untuk membuat Li Anlan tampil di depan publik sudah bulat. Perjamuan Ibu Suri Han Yuemei adalah kesempatan yang tepat untuk membuat orang mengenal Li Anlan.
"Apapapun alasannya, kau tetap tidak bisa menghindar."
"Aku tahu menolak hanya membuang tenaga. Tapi, Tuan Muda, mengapa kau sangat ingin aku muncul di depan publik? Bukankah seperti ini saja sudah baik?"
"Akan lebih baik jika aku bersembunyi lebih lama."
Long Ji Man geram sendiri. Tidak mau ya tidak mau, jangan terus berbicara dan mengatakan omong kosong dengannya. Bagaimanapun, dia tetap pada keputusan awalnya. Li Anlan tetap harus hadir di perjamuan itu.
Dua orang di dalam sana merasakan kalau pergerakan kereta berhenti. Entah keributan apa yang terjadi di luar sana. Long Ji Man mengintip lewat jendela, lalu bertanya pada pengawal pribadinya.
"Tianshi, ada apa?"
"Tuan Muda, jalan kita terhambat kerumunan."
"Bubarkan."
"Tidak bisa, Tuan Muda."
"Mengapa?"
"Di depan ada seorang wanita hamil tersenggol gerobak sayur."
Li Anlan ikut mengintip. Benar, di depan sana, beberapa orang berkerumun hingga menutup jalan.
"Hanya wanita hamil, bukan?"
"Ya, Tuan Muda."
"Bantu dia dan bubarkan kerumunannya."
"Tapi..."
"Tapi apa?"
"Sepertinya wanita hamil itu hendak melahirkan!"
Wah, sesuatu yang menarik sedang terjadi di jalan ibukota ini. Sayang jika dilewatkan begitu saja. Li Anlan hendak melompat turun, tapi pergelangan tangannya dicekal Long Ji Man hingga ia tertahan di dalam.
"Kau mau apa?"
"Tuan Muda, wanita hamil itu butuh pertolongan."
"Tidak. Biarkan orang lain yang membantunya."
Li Anlan bedecak. Oh, Tuan Muda yang menyebalkan.
"Tuan Muda, siapa kau?"
"Raja Dongling."
"Wanita hamil itu siapa?"
"Salah satu rakyatku."
"Apa menolongnya adalah melanggar hukum?"
"Tidak."
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Kita harus segera menolongnya!"
"Tapi, Anlan-"
"Tidak ada waktu lagi. Nyawa dua orang sedang dipertaruhkan!"
Li Anlan menghempaskan cekalan tangan Long Ji Man. Wanita itu keluar dari kereta tanpa tangga, lalu segera berlari menuju kerumunan yang menghalangi jalan. Di tengah kerumunan itu, seorang wanita muda berperut buncit sedang menahan sakit. Kening wanita itu dipenuhi keringat.
"Cepat, bawa ke klinik terdekat!" seru Li Anlan pada orang-orang itu.
"Klinik?" tanya salah seorang laki-laki.
"Ah... Em, rumah tempat orang sakit, rumah pengobatan!"
Semua orang yang ada di sana mengangguk. Tapi, tidak ada satu orang pun yang maju untuk menolong. Reaksi mereka sangat lamban. Li Anlan lama-lama geram. Apa orang-orang ini tidak punya mata dan hati?
"Dasar dungu!" umpat seseorang dari belakang. Orang itu menerobos masuk kerumunan, lalu membantu si wanita hamil berdiri.
"Y-Tuan Muda?" tanya Li Anlan tak percaya.
"Ayo, bantu selamatkan wanita ini dulu."
Li Anlan bersama Long Ji Man, bahu membahu membantu wanita hamil yang sedang kesakitan berjalan menuju klinik atau Balai Kesehatan terdekat. Sesekali wanita hamil itu mengaduh, namun Li Anlan terus berusaha menguatkannya. Sungguh, Li Anlan dan Long Ji Man berharap wanita ini bisa segera mengeluarkan bayi dari perutnya dan selamat.
...***...