The Little Consort

The Little Consort
Eps. 46: Tangan yang Ternoda


Kecepatan pemulihan tubuh Long Ji Man terbilang sangat cepat. Dalam waktu kurang dari dua kali dua puluh empat jam, tenaga pria itu sudah kembali dan seluruh organ tubuhnya berfungsi dengan normal. Long Ji Man bahkan sudah mampu berjalan tegak layaknya seseorang yang tidak sedang terluka.


Sekembalinya dari Paviliun Lanxin, Long Ji Man langsung dihadapkan pada tumpukan dokumen kenegaraan yang harus ia periksa. Long Ji Man kembali menjalankan tugasnya sebagai seroang raja meski tubuhnya belum benar-benar pulih. Sesekali ia masih meringis saat sikutnya tidak sengaja menyentuh luka di perutnya.


Meskipun sedang memeriksa dokumen kenegaraan, pikiran Long Ji Man berkelana. Dia tidak bisa fokus pada pemeriksaannya. Long Ji Man memikirkan seorang wanita tidak terduga yang sudah melalui situasi hidup dan mati bersamanya hari itu.


Long Ji Man melihat dengan jelas, bagaimana Li Anlan melesatkan belasan anak panah ke arah para pembunuh tanpa takut. Long Ji Man melihat dengan jelas kilatan amarah yang besar di mata wanita itu. Li Anlan berdiri tegak menantang bahaya meskipun dirinya tidak bisa bela diri, dan hanya mengandalkan anak panah untuk melawan.


Dalam keadaan setengah sadarnya, Long Ji Man masih menangkap dengan jelas suara wanita itu. Dia mendengar dengan jelas perdebatan antara Li Anlan dengan Wang Tianshi, juga perdebatan wanita itu dengan seorang tabib di Paviliun Lanxin. Dia ingat dengan jelas bagaimana Li Anlan mendorong si tabib yang bodoh dan menggantikan tugasnya, menjahit luka dan membalutnya hingga tertutup.


Li Anlan sudah dua kali menyelamatkan nyawanya. Wanita itu sudah dua kali menjahit luka-lukanya. Sungguh, wanita tidak terduga yang sangat luar biasa! Long Ji Man tidak bisa berhenti memikirkan semua kejadian yang sudah ia alami bersama wanita itu.


"Biqi!"


"Ya, Yang Mulia."


"Ada kabar dari Istana Xingyue?"


"Lapor, Yang Mulia. Sejak Yang Mulia dan Selir An kembali, dia tidak pernah menginjakkan kaki di luar gerbang Istana Xingyue."


Aneh. Ini tidak seperti sifat yang biasa ditunjukkan wanita itu. Biasanya, Li Anlan akan datang ke Istana Hongwu untuk membuat perhitungan dan mencari keributan dengannya setiap kali sesuatu terjadi. Setelah melewati situasi hidup dan mati, wanita itu justru malah mengurung diri dan tidak pergi menemuinya sama sekali.


Berbagai pertanyaan aneh mulai muncul di kepala Long Ji Man. Apakah wanita itu terluka? Ataukah dia menyesal sudah menyelamatkan nyawanya? Mungkinkah Li Anlan marah karena menempatkannya pada situasi yang sangat berbahaya?


Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu di kepalanya tidak akan tersedia jika ia tidak pergi ke Istana Xingyue. Long Ji Man harus memastikan keadaan Li Anlan dengan mata kepalanya sendiri. Wanita itu mungkin akan melalukan sesuatu yang bodoh jika Long Ji Man tidak berinisiatif menemuinya terlebih dahulu.


"Yang Mulia, kau mau ke mana?"


"Istana Xingyue."


"Yang Mulia, tubuhmu belum pulih. Biar aku saja yang pergi menemui Selir An," cegah Xiao Biqi. Kasim muda itu sudah berulang kali memperingatkan agar rajanya selalu berhati-hati. Sekarang, akibat dari tidak mendengarkannya, Long Ji Man terluka.


"Diam! Biqi, sejak kapan kau jadi banyak bicara seperti perempuan?"


Xiao Biqi menutup mulutnya. Rajanya keras kepala, sama seperti selirnya. Sudahlah, mungkin akan lebih baik jika rajanya pergi ke sana. Setidaknya, suasana hatinya mungkin akan sedikit lebih baik.


Long Ji Man berjalan tergesa menuju Istana Xingyue. Langit membiru, awan bergerak semu. Pantulan cahaya matahari musim semi membuat Danau Houchi terlihat bersinar menawan. Teratai-teratai dan lotus bermekaran, begitu juga magnolia yang tumbuh di pinggir danau.


Angin yang berhembus menerbangkan kelopak bunga persik ke tanah. Kelopak-kelopak itu terhampar begitu saja. Long Ji Man seperti berjalan di atas permadani persik yang indah dan wangi.


Saat tiba di gerbang Istana Xingyue, Long Ji Man disuguhi pemandangan berupa pintu yang tertutup dengan papan tulisan yang berisi perkataan yang sama dengan beberapa waktu lalu. Para penjaga menunduk memberi hormat atas kedatangan raja mereka. Para penjaga itu tidak lagi menghalangi Long Ji Man.


Di pekarangan Istana Xingyue yang tidak terlalu luas, Long Ji Man melihat seorang wanita sedang merenung di bawah pohon persik yang sedang berbuah dan berbunga. Wajahnya murung. Kedua tangannya memeluk lutut. Wanita itu seperti sedang berada di dunia lain. Kedatangan raja pun sampai tidak disadarinya.


"Anlan, apa yang terjadi?"


Li Anlan menoleh sejenak kepada Long Ji Man, lalu merenung kembali. Bibirnya terkunci rapat. Pandangan matanya kosong, tidak seperti biasanya. Binar cerah di mata kejora itu juga hilang.


"Yang Mulia, apa aku sudah menjadi pembunuh?"


"Apa maksudmu?"


"Kau lihat, bagaimana mereka mati oleh anak panahku."


"Tidak, kau melakukan hal yang benar."


"Yang Mulia, tanganku ini sudah ternoda. Lihat, bahkan bercak darah dan baunya masih ada!"


Kejadian malam lalu sepertinya masih membekas di dalam hati Li Anlan. Bisa dimaklumi kalau wanita itu seperti ini. Dia pasti masih terkejut atas apa yang terjadi. Ini mungkin pertama kalinya dia menggunakan anak panah untuk membunuh orang, bukan untuk membelah apel atau membunuh burung yang terbang.


Long Ji Man jongkok di hadapan Li Anlan. Lukanya terasa sedikit sakit lagi. Tapi, menghibur wanita ini lebih penting dari rasa sakit yang ia alami. Li Anlan harus ceria kembali, tidak boleh layu seperti bunga yang kehilangan kesegarannya seperti ini.


"Anlan, kau bukan pembunuh. Kau adalah pahlawan."


"Benarkah?"


"Orang yang menyelamatkan raja adalah pahlawan."


"Kalau begitu, kau harus memberiku kompensasi!"


"Apa yang kau inginkan?"


"Bolehkah aku tidak pergi ke perjamuan Ibu Suri?"


Ekspresi Long Ji Man berubah datar. Memang sudah menjadi dasar sifat wanita ini yang suka menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Bisa-bisanya dia menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri.


"Tidak bisa!"


"Yang Mulia, aku tidak ingin pergi!"


"Tunggu! Yang Mulia, apa yang akan kau lakukan?" tanya Li Anlan.


"Menyanderamu di Istana Hongwu untuk memastikan agar kau tidak melarikan diri dari perjamuan Ibu Suri!"


Li Anlan membelalak. Apa otak Long Ji Man sudah rusak akibat penyerangan malam itu? Ataukah dia menjadi bodoh karena kehilangan banyak darah dan tenaga? Atau mungkin Li Anlan salah memberikan obat luka hingga mengacaukan syaraf otak Long Ji Man?


"Mana ada penculik yang mengungkapkan niat di depan korbannya! Yang Mulia, kau tidak masuk akal!"


"Selama aku menjadi raja, semuanya masuk akal!"


Li Anlan mendengus. Long Ji Man ini datang untuk menghiburnya atau menindasnya? Pria itu malah berdebat dengannya. Li Anlan harus memikirkan cara agar Long Ji Man tidak menyanderanya di Istana Hongwu. Untuk saat ini, dia perlu melarikan diri.


"Yang Mulia, lihat! Seseorang memanggilmu!"


"Di mana?"


"Di depan gerbang! Kau tidak mendengarnya?"


Long Ji Man mengalihkan pandangan ke gerbang Istana Xingyue, mencari orang yang disebut Li Anlan. Tapi, yang ia dapati hanyalah para penjaga yang sedang berdiri. Saat dia menoleh kembali, Li Anlan sudah tidak ada di tempatnya.


Tiba-tiba, beberapa cangkang persik jatuh di depan Long Ji Man. Pria itu menengadah. Dia mendapati seorang wanita sedang duduk diantara ranting-ranting pohon sambil memakan persik yang matang dan manis!


"Anlan, turun!"


"Tidak, sebelum kau mencabut perintahmu!"


"Kenapa kau begitu keras kepala?"


"Ckck... Maling teriak maling."


Li Anlan memetik sebuah persik, lalu melemparkannya ke bawah, berharap mengenai kepala Long Ji Man. Tapi, persik itu ditangkap oleh tangan Long Ji Man. Pria itu lalu menggigitnya. Rasanya manis.


"Kenapa kau seperti kera?"


Wanita itu mulai kesal. Tidak bisakah Long Ji Man pergi saja dari sini? Suasana hati Li Anlan sedang kurang baik. Dia tidak mau diganggu siapapun. Dia ingin menyendiri, menenangkan otak dan hatinya.


"Cih... Adik dan kakak tidak ada bedanya!"


Long Ji Man yang mengatainya seperti kera membuat Li Anlan teringat pada adik pria itu, Pangeran Ding atau Long Ji Mu. Bocah kecil itu juga menyebutnya seekor kera, dan menangkap persik yang dilemparkan Li Anlan lalu memakannya. Bedanya, bocah yang ini adalah bocah besar yang menyebalkan.


"Kubilang turun atau kau akan terjatuh!"


"Pergi ke perjamuan Ibu Suri lebih menakutkan daripada jatuh dari sebuah pohon!"


Tampaknya, wanita itu sudah tidak murung lagi. Baguslah, jika begini Long Ji Man jadi sedikit lebih tenang. Sekarang, wanita itu sudah bisa berdebat kembali dengannya, yang menandakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Untuk kali ini, Long Ji Man akan mengalah. Biarkan suasana hati wanita itu membaik terlebih dahulu, lalu membicarakan hal-hal penting di lain waktu.


"Kau tidak akan turun?"


"Tidak."


"Kalau begitu, aku saja yang naik!"


"Jangan!"


"Mengapa?"


"Pohon ini terlalu rapuh jika dinaiki dua orang!"


"Aku tidak peduli!"


Long Ji Man menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk terbang. Dia melompat, lalu meraih sebuah ranting pohon persik. Saat berat tubuhnya hendak ia pindahkan ke atas, ranting itu tiba-tiba patah. Long Ji Man belum sempat mempersiapkan diri. Alhasil, tubuhnya jatuh di atas rerumputan halaman Istana Xingyue.


"Pppffttt.... Hahahaha... Yang Mulia, sudah kubilang kalau pohon ini terlalu rapuh!"


"Diam!"


"Kau sendiri yang tidak mau mendengarkanku!"


Long Ji Man bangkit dibantu Xiao Biqi. Martabatnya sebagai raja habis sudah jika berhadapan dengan wanita ini. Long Ji Man jarang bisa menang. Hari ini, dia malah kehilangan harga diri karena terjatuh bahkan sebelum ia sempat sampai di dahan pohon.


"Bravo! Skor sementara 1-0!”


Pasangan raja-selir itu tidak menyadari, seseorang yang sedang bersembunyi mengawasi mereka sedari tadi. Orang itu lalu pergi tanpa meninggalkan jejak seperti hantu. Orang itu hendak melaporkan sesuatu pada seseorang yang menjadi tuannya.


...***...