
Langit musim gugur di Kerajaan Dongling tak lagi menampilkan semu yang sama dengan hari-hari sebelumnya. Matahari hangat yang biasa menyapa setiap pagi, kini bahkan hanya memberikan sedikit kehangatan yang hanya berlangsung beberapa saat. Langit dan bumi seolah menangis, ikut meratapi nasib nahas yang menimpa seorang wanita istimewa kesayangan raja.
Sudah hampir satu minggu ini tubuh Li Anlan terbujur kaku di tempat tidurnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang menunjukan bahwa jiwa wanita itu masih ada di dalam tubuhnya. Wajah semakin pias, bibir semakin membiru, suhu tubuh semakin dingin, mungkin hanya tinggal menunggu satu atau dua hari lagi untuk memutuskan apakah tubuh wanita itu akan dikuburkan atau tidak.
Li Afan tinggal di Istana Xingyue atas permintaan Long Ji Man. Pria cantik itu diminta tetap berada di sisi Li Anlan saat dirinya menyelesaikan urusan dan tidak berada di sisinya. Dia tahu bahwa Long Ji Man adalah seorang raja yang tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya. Jika hanya duduk di samping Li Anlan tanpa melakukan apapun, maka itu sama saja dengan membunuh seluruh rakyat Kerajaan Dongling.
Selama waktunya di istana ini, Li Afan banyak mengeluh. Dia mengeluhkan wilayah istana yang sempit, ruang belajar yang kecil, halaman yang tidak luas, dan ruang tamu yang kecil. Dia lupa bahwa adiknya dulunya hanya seorang selir terbuang yang hidup di istana ini saja sudah sangat beruntung.
Terkait pengumpulan informasi dan penyelidikan yang diminta Li Anlan tempo hari, Li Afan sudah mengatur orang-orangnya untuk mencari tahu. Jika tidak ada hambatan, mungkin sekitar dua atau tiga hari lagi akan ada laporan yang masuk. Sampai hari itu tiba, dia sangat berharap kalau adiknya sudah sadar seperti sedia kala.
Li Afan mendapat informasi dari pelayan pribadi adiknya bahwa dalam kurun waktu tiga hari setelah Li Anlan ditemukan di dasar danau, Long Ji Man sudah menahan empat pelayan pembawa apel yang saat itu digunakan Li Anlan untuk bermain panahan. Ketika diinterogasi, mereka tiba-tiba menjadi bisu. Empat pelayan tersebut hanya bisa menjawab setiap pertanyaan petugas khusus dengan isyarat tangan dan tulisan. Hasilnya, jawaban mereka merujuk pada lambang bunga, yang menandakan bahwa itu adalah wanita. Istana Harem yang semula memang sudah dikunci, saat itu juga langsung diberikan penjagaan super ketat dari prajurit rahasia Raja yang memiliki otoritas khusus.
“Hasil kerja adik iparku lumayan juga,” puji Li Afan tanpa sadar.
“Anlan, kalau kau mendengarnya di dunia sana, kau seharusnya bergembira. Lihat, suamimu ternyata begitu peduli padamu.”
Li Afan mengompres adiknya dengan air hangat. Perapian di dalam kamar tidur Istana Xingyue menyala setiap saat, bahkan nyala apinya melebihi nyala api tungku pada musim dingin. Tao Zhun bilang, mereka harus menjaga suhu udara agar tetap hangat. Satu jam sekali, Xie Roulan menyuruh dua kasim Istana Xingyue untuk mengganti kayu bakar.
Melihat wajah adiknya layu, Li Afan kembali bersedih. Dia teringat pada ayah dan ibunya, Tuan Bangsawan Li Han dan Nyonya Bangsawan Li yang sudah lebih dulu meninggal beberapa tahun yang lalu. Li Afan pernah berjanji kalau dia akan melindungi dan menyayangi adiknya dengan segenap jiwa. Tetapi, bahkan dia tidak mampu mengetahui situasi pasti yang dialami adiknya sendiri. Jangankan melindungi, untuk bertemu saja susahnya minta ampun.
Pintu utama Istana Xingyue tiba-tiba terbuka. Long Ji Man dan kasimnya datang dengan langkah tegap, namun wajahnya tidak setegas aura yang dipancarkan. Pemandangan biasa yang selalu terlihat setiap kali Raja Dongling tersebut kembali dari pekerjaannya setelah hari yang panjang. Raut wajah itu hanya bisa melembut saat mata si pemilik bertemu dengan mata wanita istimewa yang terpejam rapat.
“Kau sudah kembali?” tanya Li Afan.
“Em. Kita akan beraksi malam ini.”
“Mala mini? Aksi? Aksi apa?” Li Afan kebingungan.
“Afan, kau lupa? Malam ini kita akan menyerang Istana Harem!”
“Ah, ya, ya. Aku baru ingat. Malam ini ya?”
Long Ji Man tidak menjawab pertanyaan terkahir dari kakak iparnya. Tubuhnya terlalu lelah setelah bertengkar dengan para pejabat di pengadilan Istana Taiji. Mereka terus mendesak Long Ji Man untuk segera mengadakan perburuan musim gugur. Mereka sungguh tidak tahu kalau hati raja mereka sedang kalut dan tidak baik-baik saja. Kejadian tenggelamnya Permaisuri Bangsawan, meskipun sudah tersebar luas, tetapi tidak ada satu orang pun yang berani menyinggungnya.
Tidak menyinggung Permaisuri Bangsawan, mereka malah menyinggung hal yang lain yang membuat kepala dan tubuh Long Ji Man ingin meledak saat itu juga.
Tidak bisakah para pejabat dan menterinya pengertian sedikit?
Persetan dengan itu semua. Malam ini, rencana penyerangan untuk menyergap Istana Harem harus terlaksana dengan baik apapun caranya. Itu mungkin bisa menjadi petunjuk yang membawa Long Ji Man dan Li Afan menemukan pelaku pembunuh Li Anlan yang sebenarnya. Posisi Permaisuri Bangsawan yang istimewa adalah sesuatu yang sangat pantas diirikan oleh wanita istana. Mungkin saja kejadian ini terhubung dengan hal tersebut.
“Apa ini?” tanya Li Afan sambil menunjuk seonggok pakaian yang baru saja diletakkan Xiao Biqi di atas meja.
“Itu adalah pakaian yang harus kau pakai saat kita beraksi nanti.”
“Ini? Yang Mulia, kau berencana membuatku menjadi perempuan?”
Sebelum Long Ji Man menjawab, pria itu terlebih dahulu menarik napasnya.
“Kau, kau memiliki wajah yang mirip dengan Huang An. Rambutmu juga panjang dan sepertinya sangat halus. Hanya dengan sedikit polesan, mungkin kau akan menjadi serupa dengan adikmu.”
“Apa? Kau benar-benar ingin aku melakukan itu?”
“Demi menangkap pelaku pembunuh Huang An.”
Li Afan mendesah pasrah. Pakaian menjijikan itu dia ambil. Tanpa berkata apapun lagi, dia pergi ke ruang ganti.
Sementara itu, setelah mengecup kening Li Anlan sekali, Long Ji Man langsung memerintahkan Xiao Biqi untuk menyebar berita ke Istana Harem. Long Ji Man juga meminta Xiao Biqi agar berita tersebut hanya tersebar di Istana Harem saja, dan kasim itu harus memastikan terjadi perubahan suasana sebelum tengah malam tiba.
“Yang Mulia, berita apa yang harus kukabarkan ke Istana Harem?” tanya Xiao Biqi sebelum pergi. Sejak tadi, dia hanya mengiyakan tanpa tahu berita apa yang harus dia siarkan.
“Umumkan kematian Permaisuri Bangsawan. Pastikan hanya Istana Harem saja yang mendengarnya!”
“Baik, Yang Mulia.”
Setelah mendapatkan perintah, Xiao Biqi langsung pergi. Tidak lama setelah itu, Li Afan keluar dari ruang ganti dengan hanfu putih panjang yang sangat lembut. Rambut pria itu terurai panjang menutupi punggung. Warna kulit yang senada berpadu lembut dengan warna kain hanfunya. Sayang, wajah si pemakai hanfu putih sangat tidak sesuai dengan karakter yang harus dimainkannya.
Long Ji Man kemudian memanggil Xie Roulan dan memintanya untuk mendandani Li Afan dengan riasan wajah yang bisa membuatnya tampak serupa dengan Li Anlan. Long Ji Man tahu kalau Li Anlan sering mengajari pelayan pribadinya menggunakan riasan wajah. Dia sangat yakin kalau hasil karya murid tidak langsung dari sekolah kecantikan Li Anlan tidak akan begitu mengecewakan.
“Roulan, jangan terlalu tebal!”
“Tuan Muda, maafkan aku. Yang Mulia ingin kau terlihat persis seperti Nyonya.”
“Tapi wajahku ini tidak bisa menerima banyak riasan!”
“Tuan Muda, bisakah kau diam sebentar? Ini tidak akan lama dan tidak akan menyakitimu sama sekali.”
Memang, itu memang tidak menyakiti fisik. Tetapi, itu sangat menyakiti secara mental. Bagaimana bisa seorang Li Afan, pebisnis muda penerus rahasia Keluarga Bangsawan Li Han menjadi wanita yang bahkan tidak bisa melawan?
“Baiklah, demi pembalasan dendam adikku!”
Li Afan melirik wajahnya di cermin. Luar biasa! Dengan sedikit polesan make up, wajahnya sudah hampir serupa dengan wajah adiknya! Tangan Xie Roulan yang terampil pasti bibit yang ditanamkan Li Anlan setiap hari. Bahkan, ini lebih spektakuler dari operasi plastik!
Malam hari, saat Xiao Biqi melaporkan situasi berada di dalam kendali, Long Ji Man membawa Li Afan yang bercosplay menjadi Li Anlan jadi-jadian masuk ke dalam istana Harem. Lampu-lampu di setiap istananya masih menyala dengan terang, hanya saja tidak ada satu pelayan atau selir pun yang terlihat berada di luar. Mereka sepertinya benar-benar ketakutan atas berita yang disebarkan Xiao Biqi.
“Afan, kau bisa meniru suara Huang An?”
“Sedikit.”
“Kalau begitu, ayo kita mulai!”
Dalam keheningan malam, Li Afan dan Long Ji Man mengetuk pintu setiap istana selir secara bergantian sambil bersuara. Si penghuni menampilkan respon terkejut yang hampir sama. Tadi mereka mendapat kabar kalau Permaisuri Bangsawan telah meninggal dan kini seseorang malah mengetuk pintu istana dan bersuara pada mereka. Adegan berubah dari adegan biasa menjadi adegan horror yang dipenuhi dengan terror. Ini adalah kali pertama mereka mengalami malam yang mengerikan sejak mereka lahir dan besar hingga menjadi seperti sekarang.
Tersisa lima istana yang keributan penghuninya melebihi keributan penghuni di istana lain. Aksi kemudian difokuskan pada kelima istana tersebut. Ketukan pintu dan raungan suara tiruan Li Anlan berkali-kali membuat penghuni kelima istana berteriak ketakutan. Tidak lama setelah itu, satu persatu penghuninya keluar dari istana dan berkumpul di halaman depan.
Long Ji Man bersembunyi di balik rumpun bunga yang tidak terkena cahaya. Matanya menatap tajam ke arah lima wanita yang berdiri sambil membelakangi. Dia juga menajamkan pendengarannya untuk menangkap setiap suara dan kata yang mungkin akan terlontar dari mulut mereka. Sementara itu, Li Afan yang menyamar menjadi Li Analn berjalan perlahan dari arah belakang istana. Hanfunya yang panjang membuat pria itu tampak seperti berjalan di udara karena kakinya tidak terlihat menapak di atas permukaan tanah.
“Aaaaa…. Ha…Hantu!”
“Hantu! Permaisuri Bangsawan sudah menjadi hantu!”
“Tolong! Kami tidak bersalah!”
“Jangan membalas dendam pada kami!”
“Tidak! Kami hanya menemukan sebuah bingkisan kecil beserta sebuah surat! Kami sungguh tidak tahu kalau air untuk mencuci apelnya sudah kami racuni!”
Long Ji Man melompat dari rumpun bunga ke depan para wanita. Mereka langsung menunduk memohon ampun saat mengetahui kalau raja mereka ternyata sedang mengintip di balik rumpun bunga. Tubuh mereka bergetar hebat. Celaka, Yang Mulia Raja telah mendengar semua perkataan mereka!
“Jadi, kalian menggunakan bubuk dalam bingkisan untuk mencuci apel Permaisuri Bangsawan?”
“A..Ampuni kami Yang Mulia!”
“Ha…Hantu Permaisuri Bangsawan ingin membalas dendam pada kami. Yang Mulia, tolong bantu kami!”
Li Anlan menepis setiap tangan wanita yang berusaha meraih jubahnya. Dia marah, dia benar-benar marah sekarang. Beraninya selir-selir kecil ini meracuni Permaisuri Bangsawan? Sebegitu benci dan irikah mereka kepadanya hingga tega melakukan hal yang sangat berbahaya seperti itu?
“Pengawal!”
“Ya, Yang Mulia.”
“Bawa kelima wanita sialan ini ke penjara sekarang juga! Pastikan mereka dieksekusi lima hari dari sekarang!”
“Man’er, ada apa ini?” Ibu Suri Han Yuemei tiba-tiba keluar bersama Permaisuri Jin. Mereka sengaja mencari tahu keributan apa yang sedang terjadi di luar malam-malam begini.
“Ibunda. Kelima selir ini mencuci apel Permaisuri Bangsawan dengan air beracun atas perintah seseorang,” terang Long Ji Man, sambil menatap mata Permaisuri Jin.
“Apa? Mereka berani meracuni menantuku? Kurang ajar!”
“Ibunda tenang saja. Mereka yang berani mencelakai Permaisuri Bangsawan tentu akan diberi hukuman berat. Bukan begitu, Permaisuri Jin?”
Sungguh, nada bicara Long Ji Man sangat-sangat sinis.
Permaisuri Jin tersenyum lembut sambil mengangguk dengan anggun.
“Berani sekali mereka mencelakai Anlan-ku yang berharga!” celetuk Li Afan dalam suara aslinya.
“Putraku, siapa wanita ini? Mengapa wajahnya sangat mirip dengan menantuku?” tanya Ibu Suri Han Yuemei.
Long Ji Man dan Li Afan saling pandang. Mereka lupa kalau identitas Li Anlan adalah yatim piatu. Ibu Suri Han Yuemei sama sekali tidak tahu kalau Li Anlan memiliki seorang kakak laki-laki.
“Ini saudara kembar Permaisuri Bangsawan! Ya, saudara kembar!”
“Saudara kembar? Sejak kapan dia punya saudara kembar?”
“Aku baru saja menemukannya. Orang bilang keduanya terpisah sejak lahir.”
“Oh begitu. Pantas saja wajahnya sangat mirip. Hanya suara saja yang berbeda.”
“Ya, sesama saudara bukankah memang memiliki perbedaan? Ibunda, sebaiknya kau kembali ke dalam. Udara sangat dingin. Aku dan saudari Li akan menyelesaikan urusan terlebih dahulu.”
“Baiklah. Permaisuri, ayo kembali.”
Dua wanita itu kemudian masuk kembali ke dalam istana. Li Afan dan Long Ji Man menghela napas lega. Satu jenis pelaku sudah ditemukan. Kini, mereka hanya perlu menunggu si pelaku utama bereaksi karena tangan yang dia pinjam untuk membunuh Permaisuri Bangsawan sudah tidak bisa digunakan lagi.
...***...