The Little Consort

The Little Consort
Eps. 65: Buku


Sejak menjadi Permaisuri Bangsawan, hari-hari menyenangkan tidak lagi Li Anlan miliki. Setiap selesai bertugas, datang lagi tugas yang lain. Beberapa hari ini, dia sibuk membantu Long Ji Man menginterogasi para bandit. Hasilnya tidak cukup memuaskan karena para bandit itu tidak mengetahui siapa nama asli tuan mereka. Sepanjang hari, Li Anlan selalu berada di penjara Departemen Keadilan Istana bersama Long Ji Man.


Baru hari ini dia mendapatkan jatah libur. Proses interogasi sudah selesai dan hukuman untuk para bandit sudah dijatuhkan. Li Anlan tidak ingin tahu hukuman apa yang mereka terima, tapi yang jelas mereka pasti dihukum seberat-beratnya. Long Ji Man bukanlah orang yang berbelas kasih terhadap penjahat. Dia seorang raja yang berhati dingin pada musuhnya.


Suasana tenang di Istana Xingyue membuat Li Anlan lebih rileks. Dia melakukan kebiasaannya, yakni berjemur di bawah matahari pagi sambil menikmati pemandangan Gunung Feiyun yang indah di penghujung musim semi. Gunung Feiyun, membuat dia teringat akan hari-hari menyenangkannya saat mendaki gunung. Entah kapan ia bisa berpetualang lagi. Sampai saat ini, Long Ji Man belum memberinya izin untuk naik ke gunung tersebut.


Betapa menyenangkannya jika ia bisa mendaki Gunung Feiyun yang legendaris di Kerajaan Dongling. Pemandangan di sana pasti sangat indah. Dari puncaknya mungkin Li Anlan dapat melihat seluruh wilayah Istana Dongling yang besar, karena letak istana ini tepat di bawah Gunung Feiyun. Dia juga bisa melihat ke utara, ke daratan luas yang menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Dongling yang agung. Jika malam, bintang-bintang di sana pasti terasa lebih dekat dan lebih indah dipandang.


Li Anlan menghidupkan ponselnya. Sudah hampir satu bulan lebih dia tidak bermain-main dengan benda tersebut. Baterainya masih penuh. Li Anlan menekan aplikasi galeri, kemudian dia melihat banyak sekali foto-foto yang ia ambil. Selain wajah para penjahat yang mengejarnya saat pertama kali, di sana juga terdapat foto Xie Roulan, para kasim, para penjaga, dan juga Long Ji Man yang ia ambil secara diam-diam.


Agar mempunyai sesuatu yang bisa dirayakan, Li Anlan menuliskan semua yang terjadi dan semua yang ia alami sejak datang ke tempat ini di aplikasi notes yang ada di ponselnya. Rincian setiap kejadian juga ia catat sejelas mungkin. Bahkan nama-nama orang yang ia temui juga ia tuliskan, termasuk nama Xu Lingshu, Duanmu Shui, Da Lixia, Han Jinxi, dan kekasih kakaknya yang menjadi istri orang lain.


Jarang-jarang dia menulis sebanyak ini. Jika diceritakan dan diketik di komputer, ceritanya bisa mencapai ratusan halaman. Setelah melalui proses pengeditan, mungkin kisahnya bisa terbit sebagai buku bergenre fantasi time travel. Dia bisa jadi penulis terkenal dan dikagumi banyak orang. Bukunya mungkin bisa diadaptasi ke dalam bentuk komik dan film.


Ah, itu hanya angan-angan saja. Dia terjebak di zaman kuno dan belum tahu cara untuk kembali. Selain itu, di dunia ini, Li Anlan juga belum menemukan sesuatu yang sangat berkesan, yang bisa menjadi pusat atau inti ceritanya. Lebih baik Li Anlan menikmati hidup barunya di sini.


Tiba-tiba, dia teringat sesuatu. Mengapa dia tidak melakukan yang sebaliknya saja? Li Anlan bisa menjadi penulis novel fantasi di dunia ini. Orang dari masa depan beserta segala yang ada di sana, pasti menjadi suatu topik yang menarik banyak perhatian. Orang-orang pasti penasaran terhadap semua yang ada di masa depan, di dunia lain yang tidak diketahui orang-orang di zaman kuno ini.


Pundi-pundi uang akan datang kepadanya bertubi-tubi. Menurut drama di televisi, para dayang dan kasim istana cenderung orang yang tertutup dari dunia luar. Kebanyakan hanya bisa keluar istana sekali dalam setahun. Jadi, mereka membutuhkan bahan bacaan yang bisa memuaskan hasrat mereka dan mengurangi rasa jenuh saat bekerja. Orang akan bersedia membayar mahal untuk sebuah buku yang bisa menyenangkan hati.


Bisnis baru, pikir Li Anlan.


Dia memanggil Xie Roulan untuk membawakan beberapa kertas dan kuas. Kertas itu dibentangkan di atas meja belajar. Xie Roulan menggiling tinta sambil bertanya-tanya dalam hati. Tidak biasanya majikannya menulis di atas kertas. Setahu dia, tulisan Li Anlan sangat jelek. Bahkan Li Anlan sendiri pun membenci tulisannya sendiri.


“Nyonya, apa yang kau tulis?”


“Kau tahu? Genre fantasi masa depan adalah peluang terbesar untuk menghasilkan uang.”


“Genre? Fantasi? Masa depan? Apa maksudnya?”


“Fantasi adalah genre yang disenangi banyak orang. J.K Rowling mampu menjadi penulis hebat atas fantasi dunia sihirnya bersama Harry Potter. Bahkan salah satu bagian dari Condor Trilogy, The Legend of Condor Heroes karya Jin Young saja sudah difilmkan.”


Xie Roulan benar-benar tidak mengerti apa yang diucapkan oleh majikannya. Kata-katanya begitu asing di telinga. Li Anlan tidak begitu mempedulikan apakah Xie Roulan mengerti atau tidak. Fokusnya hanya tertuju pada cerita dunia masa depan yang akan ia tulis. Li Anlan mulai menggerakkan kuasnya.


Dua jam kemudian….


Li Anlan berteriak kesal. Sudah dua jam, tetapi hanya ada dua kata yang tertulis di kertas yang lebar. Xie Roulan sudah mengantuk sejak dia tahu kalau majikannya lebih banyak diam daripada menulis. Majikannya sama sekali tidak berbakat menjadi seorang pengarang. Dua jam waktu berharga terbuang sia-sia.


Li Anlan menggulung kertas lalu melemparkannya secara asal. Tidak berguna! Teriaknya dalam hati. Mengapa menulis cerita sesulit ini? Padahal, di otaknya, Li Anlan sudah mengumpulkan puluhan ribu kata yang hendak dia tuliskan, tetapi saat berhadapan dengan tinta dan kertas, semua kata-kata itu hilang seketika.


Mungkin inilah yang dinamakan writer’s block yang sering dialami para penulis terkenal! Li Anlan bahkan mengalami writer’s block bahkan sebelum dia menuliskan banyak cerita.


Benar-benar menjengkelkan!


Suara di luar Istana Xingyue tiba-tiba memecah keheningan. Xiao Biqi masuk bersama beberapa kasim yang membawa berbagai tumpukan buku. Saat kasim itu melihat Li Anlan yang seperti algojo, dia ragu. Tetapi, tugas dari rajanya lebih penting daripada keraguan di hatinya. Xiao Biqi memberanikan diri untuk mendekat.


“Kenapa kau menggangguku, kasim kecil?” tanya Li Anlan geram.


“Nyonya, Yang Mulia memintamu untuk mempelajari buku-buku ini.”


“Untuk apa?”


“Yang Mulia ingin Nyonya yang membuat dan menyusun pertanyaan untuk Ujian Kerajaan satu bulan lagi.”


“Tidak bisakah rajamu membiarkanku istirahat sehari saja? Apa? Aku yang harus membuat soal untuk ujian? Hahahaha…..”


“Dia pikir aku seorang guru atau kepala sekolah?” tanya Li Anlan pada dirinya sendiri.


“Nyonya, sebaiknya Nyonya menerima perintah Yang Mulia saja, daripada terus membuang tenaga dengan menulis seperti ini,” usul Xie Roulan.


Mungkin usulan Li Anlan dapat diterima. Daripada dia terus berkutat dengan tulisan yang tak kunjung jadi, lebih baik dia membaca buku dan membuat soal. Li Anlan sekali lagi ingin menguji dirinya sendiri, apakah masih pintar atau tidak. Sudah lebih dari setengah tahun dia tidak belajar di kampus dan hanya bermalas-malasan di dunia ini.


Li Anlan kemudian menyuruh bawahan Xiao Biqi untuk menyimpan buku-buku yang dibawa dari Perpustakaan Kerajaan di sebuah meja yang berada tak jauh dari sana. Buku-buku tebal itu berjumlah sepuluh buah dengan jenis dan isi yang berbeda. Ada yang membahas ketatanegaraan, militer, politik, hukum, ekonomi, administrasi, kepegawaian, dan lain-lain.


Satu persatu buku-buku tebal itu dibuka dan dibaca. Sebelum membaca lebih jauh, Li Anlan mencari kacamata baca yang kebetulan terselip di perlengkapan naik gunungnya terlebih dahulu. Entah sejak kapan dia memasukkan kacamata bacanya ke dalam tasnya. Seingatnya, kacamata itu terakhir kali digunakan satu tahun lalu saat dia masih sering datang ke kampus.


Li Anlan sama sekali tidak menyadari kalau sejak tadi, Long Ji Man sudah berdiri di depan pintu Istana Xingyue sambil menatap lekat dirinya yang sedang fokus membaca. Long Ji Man sebenarnya datang bersama Xiao Biqi, hanya saja menunggu di luar agar Li Anlan tidak berdebat dengannya, sekalian melihat reaksi wanita itu saat diberikan tugas seperti ini. Tapi, Long Ji Man tidak tahan untuk tidak melihat Permaisuri Bangsawannya. Jadi, saat Xiao Biqi selesai menjalankan tugasnya, Long Ji Man menyuruhnya kembali ke Istana Xingyue bersama para bawahannya.


Sosok Li Anlan yang sedang membaca buku sambil mengenakan kacamata membuat wanita itu tampak seperti jenius kolosal dari dunia lain. Perpaduan antara busana, hiasan rambut, serta gaya tradisional dengan kacamata modern terlihat begitu sempurna dan memberi kesan yang berbeda. Siapapun yang melihatnya pasti akan tenggelam oleh pesona yang sangat berbeda.


“Huang An,” panggil Long Ji Man.


Li Anlan seketika terkejut, sama sekali tidak menyangka kalau raja ada di istananya. Long Ji Man lantas menghampirinya, kemudian berdiri di sampingnya.


“Yang Mulia, kau di sini?”


“Aku kebetulan lewat.”


Sepertinya, julukan raja yang paling pandai berdalih sangat cocok untuk Long Ji Man. Alasan klise seperti itu sudah Li Anlan saksikan di berbagai drama dan film kerajaan. Bilang hanya lewat, nyatanya selalu menatap lekat. Apa yang diucapkan oleh mulut lebih banyak bertentangan dengan apa yang ada di dalam hati.


“Tema apa yang kau inginkan untuk ujian kali ini?” tanya Li Anlan.


“Memangnya harus pakai tema?”


“Ya meskipun tidak wajib. Opsional saja.”


“Kau saja yang tentukan. Asalkan topik utamanya tidak lepas dari sepuluh isi buku ini.”


“Yang Mulia, aku bukan seorang professor atau Guru Besar. Aku tidak bisa menyelesaikannya sendiri,” keluh Li Anlan. Membaca sepuluh buku tebal berisi pengajaran klasik dengan huruf kuno tidak bisa dilakukan oleh seorang manusia biasa seperti Li Anlan. Mungkin, para filolog dunia pun tidak bisa menyelesaikannya tanpa tim.


“Coba kau tuliskan satu pertanyaan di kertas ini.”


Li Anlan menerima kertas yang disodorkan Long Ji Man. Ia menggerakkan kuasnya, lalu mulai menuliskan pertanyaan berdasarkan apa yang sudah ia baca tadi. Long Ji Man, yang berdiri di samping Li Anlan terbatuk-batuk saat melihat hasil tulisan istrinya. Dia tidak tahu kalau tulisan Li Anlan seburuk itu. Untuk ukuran orang dewasa, itu adalah tulisan yang paling jelek yang pernah Long Ji Man lihat.


“Ehm… K-kau tidak bisa menulis dengan baik?”


“Aku tidak biasa menulis dengan tinta dan kuas. Aku lebih suka mengetik dan menggunakan ballpoint.”


Dia mengucapkan kata yang aneh lagi. Long Ji Man meraih tangan Li Anlan, lalu digerakannya tangannya membentuk sebuah tulisan kecil yang rapi. Tangan Li Anlan ikut bergerak mengikuti arah gerakan tangan Long Ji Man. Sentuhannya lembut dan halus. Tinta yang tergores tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis.


“Yang Mulia, kau pandai dalam kaligrafi ya? Tulisanmu sangat bagus!”


“Seorang raja tidak boleh memiliki kekurangan, bahkan dalam hal tulisan.


“Kau memang raja yang perfeksionis.”


Long Ji Man tidak menjawab. Pria itu kemudian duduk di depan Li Anlan. Long Ji Man meraih sebuah buku bertema militer, lalu membacanya perlahan. Buku itu sudah puluhan kali ia baca, jadi isinya sebenarnya sudah dihafal di luar kepala. Tujuannya hanya sekadar ingin melihat sejauh mana Li Anlan dapat bertahan bersama buku-buku tebal tersebut, sekalian menghabiskan waktu luangnya setelah pulang dari pengadilan istana tadi pagi.


...***...