
Sebagai seorang wanita berharga yang tidak banyak dipandang oleh suami yang kedudukannya seorang raja, tidak banyak tuntutan yang bisa Li Anlan berikan pada manusia batu itu. Li Anlan hanya ingin barang-barang modern yang mencakup alat-alat pendakian dan ponsel kesayangannya kembali, serta ingin hidup tenang tanpa gangguan. Tetapi, karena dia sudah terjalin dalam berbagai situasi dengan pria itu, sepertinya akan sulit melepaskan diri.
Sebelumnya, Li Anlan sudah bertekad akan membuat sistem dan tujuan hidupnya sendiri di dunia ini. Mungkin, berada di dekat Long Ji Man akan menjadi tujuan hidupnya. Siapa tahu, dengan begitu dia bisa mendapatkan sesuatu yang berharga yang tidak pernah ia dapatkan di kehidupan modern. Tapi, Li Anlan juga tidak sepenuhnya percaya diri.
Permainan kehidupan di dalam istana terlalu kompleks dan pelik, terlalu runyam dan terlalu berbelit-belit. Akan lebih baik jika dia tidak pernah memunculkan diri ke publik tetapi tetap berhubungan baik dengan Long Ji Man. Artinya, lingkup kehidupannya akan berjalan hanya antara Istana Xingyue dan Istana Hongwu yang dihubungkan oleh Danau Houchi. Lingkup sederhana seperti itu tidak akan banyak menarik perhatian orang.
Beberapa hari ini, Li Anlan bolak-balik pulang dan pergi dari dan ke Istana Xingyue menuju Istana Hongwu untuk bermain-main. Li Anlan sedang melatih dirinya dalam keahlian memanahnya. Busur hasil sitaan dari Long Ji Man, jika tidak digunakan maka akan berjamur dan lapuk.
Istana Xingyue tidak memiliki halaman yang luas untuk bermain panahan. Sebaliknya, Istana Hongwu justru memiliki lapangan panahan pribadi. Karena itulah, dia sengaja menggunakan lapangan panahan Istana Hongwu. Tidak ada satu orang pun yang bisa melarangnya. Mereka yang sudah familiar dengan Li Anlan, selalu membiarkan wanita itu masuk dan bersenang-senang sesuai kata hatinya sendiri.
Seperti yang ia lakukan hari ini. Di lapangan panahan, Li Anlan mengumpulkan beberapa pelayan wanita dan kasim yang bertugas di Istana Hongwu untuk dijadikan sasaran. Mereka didandani dengan riasan tebal oleh Li Anlan hingga wajah mereka tampak sangat berbeda dari wajah aslinya. Li Anlan menghabiskan sekotak pemerah bibir, sekotak bedak, dan sepuluh batang pensil alis kecil untuk merias wajah para kasim dan pelayan. Mereka juga diberi tanda berupa rompi kain putih di punggung mereka. Rompi itu berisi tulisan dengan nama masing-masing dan angka yang menunjukkan nilai mereka.
Li Anlan lalu memerintahkan mereka untuk berpencar, namun tidak boleh keluar dari lapangan ini. Wanita itu sedang mengadakan permainan berburu. Ada sepuluh buah anak panah tumpul yang ujungnya diikat dengan kain berbentuk bundar, lalu diberi pewarna merah hingga saat mengenai sesuatu, bulatan itu akan meninggalkan bekas. Siapapun yang sudah terkena, akan otomatis gugur dan keluar dari permainan. Siapa yang dapat bertahan hingga akhir akan menjadi pemenang dan jika tidak terkena panah Li Anlan, maka akan diberi hadiah.
Lapangan panahan yang semula sepi menjadi ramai oleh suara langkah kaki para pelayan dan kasim yang berlarian ke sana kemari, bersembunyi dan melarikan diri dari pesatan panah bulat Li Anlan. Beberapa di antara mereka ada yang bersembunyi di bawah pohon, di balik papan sasaran, bahkan ada yang bersembunyi di belakang tempat Li Anlan berdiri.
Wanita itu mulai menarik tali busurnya, lalu mengarahkan anak panahnya ke arah mereka yang sedang kalang kabut. Satu persatu panahnya melesat. Sebagian ada yang kena sasaran, sebagian lagi meleset dan malah mengenai para penjaga kerajaan yang berdiri di sekitar lapangan.
“Sial! Tanganku licin dan tergelincir!”
Li Anlan memarahi tangannya sendiri yang tidak bisa konsisten dalam membagi tenaga.
“Kalau kau tidak bisa diajak kerja sama, aku tidak akan merawatmu lagi!”
Li Anlan melanjutkan aktivitas memanahnya. Kali ini, dia lebih berkonsentrasi. Pikirannya terpusat pada sasaran yang akan ia bidik. Dan, kena! Seorang kasim yang di punggungnya tertera angka delapan tumbang! Dari tempatnya berdiri, Li Anlan berteriak, “Kau, gugur! Keluar dari permainan!”
Dua jam sudah berlalu. Sepuluh orang pelayan wanita dan lima orang kasim dinyatakan gugur dan kalah dari permainan. Sisanya diberi hadiah berupa tiga koin tael perak perorang. Bosan dengan permainan itu, Li Anlan memulai permainan lain. Kali ini, dia memakai panah dengan mata besi sungguhan. Sepertinya, ini akan sedikit lebih menantang.
Para pelayan dan kasim yang menang dalam permainan lalu diminta menyiapkan sejumlah apel dan buah-buahan. Mereka diminta untuk melemparkan apel itu ke udara satu persatu saat Li Anlan memberikan instruksi. Saat itulah, Li Anlan akan melesatkan anak panahnya untuk menembak apel-apel itu.
Satu persatu, apel-apel melayang di udara. Satu persatu pula, panah Li Anlan, tidak, panah hasil rampasan dari Long Ji Man melesat membelah apel-apel itu. Li Anlan bersorak puas. Apel-apel itu lalu jatuh ke tanah, sebagian ada yang menimpa pelayan yang melemparnya.
Di kejauhan, dari teras belakang Istana Hongwu yang terhubung langsung dengan lapangan panahan, Long Ji Man berdiri bersama Xiao Biqi, memandang lurus ke arah lapangan panahan. Sesekali Long Ji Man menggelengkan kepalanya, heran dengan perilaku liar Li Anlan.
“Mengapa wanita itu terus berada di sana?”
“Yang Mulia, Selir An sudah berada di sana sepanjang hari.”
“Bermain dengan panah dan para pelayan itu?”
Xiao Biqi mengangguk.
Rupanya, perkataan Li Anlan bahwa dia bisa memanah tempo hari memang benar. Wanita itu memang bisa memanah. Bahkan teknik memanahnya tidak buruk tapi tidak lebih baik dari kemampuan Long Ji Man. Bagaimanapun, tetap raja-lah yang paling hebat dalam hal apapun.
Mata Long Ji Man memicing saat melihat benda yang berjatuhan terkena panah. Sesaat kemudian, raut wajahnya berubah kesal. Dia mengalihkan pandangan pada Xiao Biqi, lalu bertanya,
“Apa dia menggunakan busurku untuk memanah apel-apel itu?”
“Emm… Sepertinya, begitu, Yang Mulia,” jawab Xiao Biqi, ragu-ragu.
Xiao Biqi tidak berani menjawab. Kasim muda itu memilih untuk menutup mulut lalu menundukkan kepalanya. Long Ji Man menghela napas lelah. Sungguh, harga dan nilai panah kesayangannya sudah turun sangat drastis. Panah-panah itu sebelumnya hanya mengenal kulit dan daging hewan sebagai sasaran, bukan getah dan aroma buah-buahan, atau bau pewarna pakaian!
Sementara itu, di tengah lapangan panahan, Li Anlan terus menerus melesatkan anak panah ke udara. Tangannya sudah sedikit lecet dan berdarah. Tapi, Li Anlan sepertinya belum berniat untuk berhenti.
Tiba-tiba, sebuah burung besar melintas. Tanpa persiapan apapun, Li Anlan langsung melesatkan anak panahnya. Ujung runcing mata panah itu mengenai sayap kiri si burung besar. Burung itu terjatuh, beberapa bulunya copot dan terbang terbawa angin. Li Anlan turun dari panggung kecil tempatnya berdiri, lalu bergegas menghampiri burung besar yang sedang terluka.
“Oh, burung besar yang malang. Aku sungguh tidak sengaja memanahmu!”
Li Anlan membawa burung besar yang terluka itu ke pangkuannya, seperti seorang ibu yang sedang memangku bayinya. Bulu lembut si burung besar itu diusap, seolah bisa meringankan rasa sakit yang diderita si burung besar. Para kasim dan pelayan yang melihat kejadian itu langsung kabur, lari kalang kabut seolah akan ada bencana badai besar yang datang dan menghancurkan lapangan panahan.
“LI ANLAN! APA YANG KAU LAKUKAN PADA ELANG COKELAT MILIKKU?”
Seluruh tubuh Li Anlan terasa membeku saat mendengar suara teriakan yang menggelegar melebihi suara gemuruh guntur di belakangnya. Seluruh darahnya seperti berhenti mengalir dan paru-parunya seperti berhenti berkontaksi-berelaksasi. Alarm tanda bahaya berbunyi berkali-kali.
“Hehehe… Yang Mulia, burungmu menghalangi apelku.”
“Masih berani berkelit?”
“K-Kalau aku mengatakan bahwa tanganku tergelincir, apa kau akan percaya?”
“Menurutmu?”
“Kau tidak akan percaya, ya?”
“Kalau sudah tahu, mengapa masih bertanya?”
Gawat! Li Anlan malah memanah elang kesayangan Long Ji Man. Tunggu, ini bukan kesalahannya. Li Anlan sungguh tidak tahu kalau burung itu adalah milik rajanya. Namanya juga burung, terbang ke manapun dan pasti akan menghadapi bahaya apapun. Tentu saja insiden ini adalah musibah. Salahkan si burung yang terbang dengan tidak hati-hati. Kalau si burung tidak terbang di atas lapangan panahan, pasti tidak aka nada kejadian seperti ini.
Satu-satunya jalan yang harus ditempuh Li Anlan sekarang adalah melarikan diri. Dia harus menghindar saat Long Ji Man marah. Jika tidak, Li Anlan akan kembali kehilangan sesuatu yang berharga miliknya lagi.
“Yang Mulia, lihat! Ibu Suri datang!” seru Li Anlan sambil menunjuk ke belakang Long Ji Man. Pria itu sontak menoleh. Saat dia tahu tidak ada siapapun di belakang sana, Li Anlan sudah berlari meninggalkan lapangan panahan sambil memeluk busur dan beberapa anak panah yang tersisa.
“Yang Mulia, aku akan menyuruh orang untuk memanggil si dukun Tao Zhun agar bisa mengobati burungmu yang terluka!” teriak Li Anlan sambil berlari.
Sial. Long Ji Man ditipu wanita kecil itu. Bisa-bisanya dia percaya pada omongan Li Anlan. Pada akhirnya, panah itu tetap mengenali kulit dan daging hewan sebagai sasarannya, ya, hewan kesayangan tuannya sendiri!
“Yang Mulia, lalu bagaimana dengan elangmu?” tanya Xiao Biqi.
“Bagaimana lagi? Kuburkan saja!”
Xiao Biqi lantas memanggil beberapa penjaga, lalu menyuruh mereka untuk menguburkan si burung malang yang sudah tidak bernyawa di bawah pohon yang ada di lapangan panahan.
Sungguh, burung yang sangat malang!
...***...
Wah wah wah, kasihan si burung! Li Anlan benar-benar luar biasa! Nah, buat kalian yang penasaran kapan Li Anlan akan menjadi "consort" atau permaisuri, sabar ya! Li Anlan harus paham dulu situasi di sana dan Long Ji Man harus percaya sepenuhnya dulu sama Li Anlan. Stay tune terus ya! Sampai jumpa di episode berikutnya!