The Little Consort

The Little Consort
Eps. 22: Pencuri


Aksi kejar-kejaran antara Li Anlan dan Si Pencuri berlangsung cukup lama. Li Anlan berkali-kali berteriak, tetapi orang-orang di sekitarnya tidak ada yang datang membantunya. Tidak satupun dari mereka menghalangi atau mencegat pencuri itu. Penduduk kota ini seolah tuli dan buta. Mereka bisa melihat, mendengar dan merasa, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


Jalanan besar dan gang-gang kecil dilalui Li Anlan. Untung saja fisiknya masih kuat. Jika tidak, Li Anlan mungkin sudah mati kelelahan. Pencuri itu berlari sangat kencang dan gerakannya sangat gesit. Jika Li Anlan lengah dan tidak fokus sesaat saja, dia akan kehilangan jejak orang itu.


Sampai di sebuah jalanan kecil yang sepi, Li Anlan berhenti sesaat. Pencuri itu juga berhenti, hanya saja jaraknya agak jauh beberapa meter di depan Li Anlan.


“Kakak pencuri, kau bisa berhenti dulu? Aku sangat lelah!”


Li Anlan membungkukan badan, menahan rasa lelah dan menstabilkan napasnya yang ngos-ngosan. Baju cantiknya dibasahi keringat dan keningnya basah. Kedua tangannya bertumpu pada lutut.


“Nona, aku juga lelah!”


Pencuri itu juga melakukan hal yang sama. Tangannya masih memegang erat kantong uang yang ia curi dari Li Anlan.


“Kalau begitu, kita istirahat sebentar, baru dilanjutkan lagi.”


Pencuri berbadan tegap itu mengangguk setuju. Dia juga sudah sangat lelah. Dia kira wanita ini tidak akan mengejarnya sampai sini. Pencuri itu terlalu meremehkan kekuatan Li Anlan.


“Nona, kenapa kau mengerjarku?”


“Kau masih bertanya? Kau mengambil semua uangku!”


“Bukan pencuri namanya jika tidak mengambil uang orang lain!”


Alih-alih menghajarnya, Li Anlan justru malah beradu mulut dengan pencuri itu. Setiap pertanyaan dan pernyataan yang ia lontarkan selalu dilawan oleh pencuri itu. Jiwa-jiwa kompetisi Li Anlan terpancing. Jika dia kalah omongan dengan pencuri itu, titel juara debatnya saat SMA akan hilang begitu saja. Di dunia ini, tidak boleh ada dua juara pertama. Li Anlan harus tetap menjadi juara pertamanya, bukan orang lain!


“Kalau kau mengambil semuanya, aku akan jatuh miskin!”


“Lalu apa hubungannya denganku?”


“Kakak pencuri, kau tidak mungkin membiarkan gadis lemah sepertiku menjadi jelek dan mati kelaparan bukan?”


Pencuri bodoh itu tampak berpikir. Perkataan wanita di depannya memang benar dan masuk akal.


“Lalu apa yang harus kita lakukan?”


“Berikan kantong itu, biarkan aku mengambil beberapa!”


Pencuri itu menimbang-nimbang, apakah ia harus menyerahkan kantong uang di tangannya atau tidak. Jika dia menyerahkannya, dia takut wanita di depannya akan merampasnya kembali. Tapi, jika dia tidak memberikannya, wanita ini akan jatuh miskin dan mati. Hidup di ibukota sudah sulit, dia tidak mau wanita ini merasakan kesulitan juga. Di sisi lain, pencuri ini juga khawatir kalau wanita di hadapannya hanya sedang berusaha mengulur waktu dan menipunya.


“Kau tidak akan mengambil semuanya?”


“Aku selalu memegang perkataanku!”


Setelah berpikir panjang, pencuri itu akhirnya memberikan kantong uang kepada Li Anlan. Matanya menatap waspada, tangannya sudah siaga jika wanita di hadapannya tiba-tiba melarikan diri. Tapi, jauh di luar dugaan, Li Anlan justru mengembalikan kantong uang itu kepadanya setelah wanita itu mengambil lima tael perak.


Perilaku Li Anlan mengundang beragam pemikiran aneh di dalam otak Si Pencuri. Wanita ini bodoh? Atau dungu? Jika sudah mendapatkan kembali uangnya, mengapa tidak lari? Bahkan berani mengembalikannya kepada dia.


“Kakak pencuri, kenapa kau mencuri?”


“Itu memang pekerjaanku!”


“Tapi aku tidak mau bertemu denganmu dan kejar-kejaran lagi suatu hari nanti!”


“Aku juga tidak mau bertemu kembali dengan Nona!”


Li Anlan tampak hendak menyela. Tapi, suara di belakangnya membuat wanita itu terkejut dan semua kata yang hendak dilontarkannya menghilang seperti udara.


“Anlan!”


Si Pencuri tampak panik. Apalagi, di belakang Li Anlan, seorang pria yang mirip dengan wanita itu sedang bergegas menghampiri sambil membawa beberapa orang. Dia ingin lari, tapi kakinya seolah terpaku di tempat.


“Cepat lari!” seru Li Anlan.


“Apa?”


“Kau ingin kakakku menangkapmu?”


Tanpa berpikir apapun lagi, Si Pencuri langsung berlari sekencang-kencangnya. Tidak lama setelah itu, Li Afan datang bersama beberapa orang laki-laki berseragam prajurit. Sepertinya mereka adalah para petugas keamanan kota.


“Anlan, kau tidak apa-apa?”


“Aku baik-baik saja.”


“Cepat! Kejar pencuri itu!” perintah Li Afan pada orang-orang berseragam prajurit.


“Tunggu! Kakak, biar aku saja yang mengejarnya!”


“Apa maksudmu?”


“Tapi-“


“Aku akan kembali ke Paviliun Lanxin setelah menemukan pencuri itu.”


Meskipun keberatan, Li Afan terpaksa membawa kembali petugas keamanan kota ke pusat keramaian. Sementara itu, Li Anlan justru celingukan, mencari keberadaan Si Pencuri. Dia yakin pencuri itu belum berlari jauh. Dia pasti bersembunyi di dalam tong kayu atau tumpukan jerami yang ada di sekitar sana.


Sebenarnya, alasan Li Anlan kembali mencari pencuri itu adalah untuk menyelesaikan perdebatannya. Tadi, sesi adu mulutnya terpotong karena kedatangan Li Afan, dan kalimat terakhir pembicaraan mereka ada pada Si Pencuri. Jadi, Li Anlan tidak mau itu berakhir pada Si Pencuri, tapi pada dirinya. Kalimat terakhir dalam perdebatan harus berhenti pada kalimatnya, tidak boleh ada bantahan atau lanjutan.


“Kenapa kau masih mengejarku?”


Pencuri itu muncul dari sebuah gang sempit yang ditumpuki jerami kering.


“Perdebatan kita belum selesai!”


“Apa?”


“Kalimat terakhir harus ada padaku, tidak boleh ada padamu!”


Si Pencuri semakin kebingungan. Wanita yang ia rampok benar-benar aneh. Di mata wanita itu, Si Pencuri dapat melihat kesungguhan dan keberanian yang jujur, bukan sebuah kebohongan yang mengandung taktik. Sepertinya, wanita itu benar-benar polos.


“Nona, aku sedang terburu-buru!”


“Aku juga sedang terburu-buru!”


“Nona, berhentilah mengikutiku!”


“Aku harus menang darimu!”


Si Pencuri itu segera berlari menjauh. Li Anlan mengejarnya. Di tengah perjalanan, lari Si Pencuri melambat, hingga benar-benar menjadi langkah berjalan seperti biasa. Di belakangnya, Li Anlan juga melakukan hal yang sama. Wanita itu masih belum puas dengan perdebatannya. Selama dia belum berhasil, dia akan tetap mengikuti Si Pencuri.


Lama kelamaan, dua orang itu sampai di sebuah rumah yang tua dan kotor. Kayu-kayunya sudah rapuh dan atapnya bolong-bolong. Jika hujan, air pasti akan langsung masuk menggenangi seisi rumah. Rumah itu sangat terpencil. Jalan menuju rumah itu ditumbuhi pepohonan yang rindang di musim semi. Tanahnya sedikit becek dan ada beberapa bekas pijakan kaki yang terbentuk di tanah yang agak kering. Li Anlan menghirup udara segar yang dihasilkan pepohonan itu tanpa menghentikan langkahnya. Si Pencuri juga tidak bicara apapun. Biarlah wanita gila ini mengikutinya sesuka hati.


Saat rumah tua itu terbuka, beberapa orang anak kecil keluar dengan gembira. Anak-anak itu berpakaian lusuh dengan robekan di beberapa bagian. Juga, baju mereka dipenuhi dengan kain beda warna, seperti sebuah kain penambal. Si Pencuri itu lalu dikerumuni anak-anak itu, persis seperti gula yang dikelilingi semut.


Melihat raut wajah kegirangan anak-anak lusuh itu, Li Anlan merasakan sebuah kehangatan yang menjalar di hatinya. Senyuman anak-anak itu tampak polos dan jujur. Binar mata mereka yang jernih, meskipun tertutup wajah yang sedikit hitam, menunjukkan sebuah pengharapan yang tiada batasnya. Siapakah sebenarnya anak-anak lusuh itu? Mengapa mereka tinggal di tempat terpencil ini? Apakah mereka tidur di dalam rumah tua yang lebih pantas disebut gubuk itu?


“Jadi, inikah alasanmu?”


Mendengar suara seorang wanita, Si Pencuri menoleh. Li Anlan tanpa izin langsung masuk ke halaman rumah tua itu. Anak-anak lusuh itu juga ikut-ikutan menoleh.


“Nona, sudah kubilang jangan mengikutiku!”


“Siapa mereka?”


Si Pencuri merasa malas untuk menjelaskan. Hari ini, waktu dan penghasilannya berkurang banyak karena Li Anlan terus mengganggunya.


“Kakak, siapa kakak cantik itu?” tanya seorang anak yang bertubuh agak gemuk.


“Orang yang aku curi uangnya,” jawab Si Pencuri dengan lantang, tidak merasa malu atau bersalah sama sekali.


“Kenapa dia di sini?” tanya bocah perempuan yang bertubuh kurus.


“Apa dia datang untuk menangkapmu?”


“Tidak.”


“Aku datang untuk menyelesaikan perdebatanmu dengan orang itu!” seru Li Anlan sambil menunjuk wajah Si Pencuri. Reaksi yang diperlihatkan oleh anak-anak lusuh itu malah membuat Li Anlan kebingungan. Ekspresi mereka sama, ya, sama seperti seorang wajah yang sedang malas!


Interaksi antara Si Pencuri dengan anak-anak lusuh itu tidak biasa. Mereka seperti sudah saling mengenal. Hal itu membuat Li Anlan semakin penasaran. Dia ingin tahu lebih banyak mengenai anak-anak lusuh itu, serta penyebab mengapa mereka ada di tempat ini. Apalagi, mereka tidak menyangkal dan tidak menolak bahwa orang yang mereka kerumuni adalah pencuri.


“Tampaknya, uang itu memang untukmu!”


Si Pencuri tidak merespon.


“Sebaiknya aku pergi.”


“Nona, silakan. Kita jangan bertemu lagi.”


“Tentu saja tidak akan.”


Li Anlan melangkahkan kakinya ke luar halaman rumah tua. Setelah lima langkah, dia tiba-tiba berbalik.


“Tunggu, jalan mana yang harus kulalui agar bisa kembali ke pusat kota?”


...***...